Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 8 • RGSA - Susahnya Menjadi Orang Miskin


__ADS_3

Bukannya marah, Catalina justru termenung.


Nick, bajingan itu, tidak memberinya petunjuk sama sekali. Ia di suruh menebak-nebak sendiri. Jadi, tidak ada salahnya waspada terhadap semua orang. Dan sepertinya para sampah ini bisa menjadi titik awal ia untuk memulai. Siapa tahu salah satu di antara mereka adalah pelakunya? Atau justru mereka semua?


"Jangan sembarangan bicara, Viona." Yoana membalas perkataan Viona, setengah membentak. Kemudian pandangannya kembali pada Catalina. "Tatiana, jangan ambil hati perkataan Viona. Dia memang seperti itu."


Catalina bingung bagaimana harus menanggapi drama keluarga di depannya. Mereka terlihat sangat palsu. Tidak ada satu pun dari mereka yang tampak meyakinkan.


"Tapi benar, kan, Mom? Dia memang orang kampung. Dia anak pungut yang kau ambil dari tempat kotor. " Viona tidak berhenti menghina Catalina meski Yoana jelas-jelas sudah melarangnya. Ia hendak bicara lagi namun suara dingin yang datang dari sampingnya membuatnya menelan kembali perkataannya.


"Tatiana baru saja bangun, tidak bisakah kau jangan membuat ulah?" Kali ini Edgar angkat suara. Ia melotot dan nyali Viona ciut seketika.


Viona cemberut. "Maaf, Dad." Viona meminta maaf dengan terpaksa. Karena ayahnya ada di sini dan membela anak pungut itu, tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengalah. Namun ia tidak akan membiarkan ini berakhir begitu saja.


"Mm. Jangan ulangi," jawab Edgar. Tatapannya beralih. "Jangan ambil hati perkataan Viona, Tatiana. Dia masih belum dewasa." Ia menambahkan.


Catalina tersenyum miring. Memaklumi perilakunya yang belum dewasa? Lucu sekali. Seingatnya, Viona dua tahun lebih muda darinya. Yang artinya usianya sudah delapan belas tahun. Jika informasi yang Nick berikan padanya adalah benar, seharusnya gadis itu bukannya tidak dewasa, tetapi arogan dan.. menyebalkan.


"Tatiana." Yoana menggenggam jemari Catalina.


Catalina mengangguk. "Mm. Aku mengerti," jawabnya, singkat.


Yoana merapikan helaian rambut Catalina lalu mengumpulkan di belakang telinganya. "Bagus. Kau memang anak yang baik," ujarnya. "Sekarang katakan, bagaimana keadaanmu? Aku jarang mengunjungimu karena ada banyak hal yang harus kulakukan. Kau tidak marah padaku, kan?" Kata-katanya setengah memaksa. Seolah meminta Catalina untuk tidak perhitungan karena mereka jarang berkunjung. Padahal kenyataannya mereka tidak pernah berkunjung. Orang koma, tidak mungkin mengetahuinya. Jadi mereka bisa santai tentang hal ini.


Catalina mengerutkan kening, sedikit terkejut. Ia menatap Yoana dan mencibir di dalam hati. Bertahun-tahun menjalani hidup yang keras, ia sudah melihat begitu banyak jenis manusia. Namun yang ia temui kali ini benar-benar lebih buruk dari sampah. Untungnya ia tidak berekspektasi tinggi pada Yoana. Sekarang setelah tahu seberapa busuknya wanita itu, ia tidak terlalu kecewa.


Untuk orang seperti Tatiana, mungkin tidak akan mengerti. Dia polos dan naif. Dia tidak mungkin menyadari bahwa wanita yang di anggap ibu olehnya adalah seekor rubah. Namun ia bukan Tatiana. Ia tidak bodoh. Ia tidak sepolos dan senaif itu, kebusukan mereka, tidak mungkin ia tidak menyadarinya. Dan tentu saja ia tidak akan membiarkan mereka pergi dengan mudah. Ia akan mengembalikan perilaku buruk mereka di masa depan.


"Bagaimana mungkin aku marah padamu?" Catalina berkata setelah cukup lama memikirkan. Ia marah. Sangat marah sampai rasanya ingin memukul wajah Yoana. Namun ia baru bangun dari koma. Akan mencurigakan jika mengayunkan tinjunya memukul seseorang. Untuk saat ini, ia hanya bisa menahan diri. Tunggu waktunya tiba, mereka akan menuai apa yang mereka tanam.


Yoana tersenyum puas. "Kau benar. Aku yang paling menyayangimu. Ingat, aku satu-satunya orang yang sangat menyayangimu." Yoana menegaskan kata-katanya. Membujuk Tatiana adalah hal yang mudah. Ia bahkan bisa melakukannya dengan mata tertutup.

__ADS_1


"Aku akan mengingatnya." Catalina tidak tahu bahwa omong kosong seperti itu mampu menipu Tatiana. Ya, Tatiana sangat baik. Mendapat kebaikan dari orang lain, gadis itu akan membalasnya berkali-kali lipat. Namun gadis itu gagal menyadari bahwa orang-orang yang dia anggap keluarga adalah manusia-manusia tercela yang tidak seharusnya mendapat balasan kebaikan darinya.


Sungguh membuang waktu dan tenaga berurusan dengan para bedebah ini.


Ingat apa yang Nick katakan untuk mengusir mereka lebih awal, Catalina kembali buka suara, "Maaf, Mom, Dad, Viona, aku harus istirahat. Jika kalian tidak keberatan, tolong tinggalkan aku sendiri." Ini adalah perkataan paling buruk yang pernah Catalina ucapkan. Mom, Dad? Haish.. bisa-bisanya ia memanggil mereka dengan panggilan terhormat itu? Benar-benar tidak pantas. Mereka terlalu kotor untuk panggilan seperti itu.


"Baiklah." Yoana mengangguk. "Istirahatlah dengan baik. Ingat untuk pulang ke rumah jika kau keluar dari rumah sakit." Dengan begitu, ia keluar dari ruang rawat inap dengan Viona dan Edgar yang mengikuti di belakangnya.


Setelah kepergian mereka, Catalina menghela nafas panjang. Berakting menjadi Tatiana, sepertinya bukan hal yang sulit. Bahkan keluarga sampah itu, berhasil ia bodoh. Jika untuk mengelabuhi orang lain, seharusnya menjadi jauh lebih mudah, kan?


***


Tiga hari kemudian Catalina diizinkan pulang.


Merupakan kebebasan paling menyenangkan yang pernah Catalina rasakan. Bahkan jika ia terkurung di apartemen lamanya di Valdes, itu masih jauh lebih baik daripada harus tinggal di rumah sakit dan menghabiskan hari-harinya yang membosankan.


"Kau senang?" Melihat Catalina tidak berhenti tersenyum, Nick tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


Nick mengerutkan kening. "Apa tidak menyenangkan tinggal di sini?" tanyanya. "Kau tidur nyenyak dan makan enak. Kau tidak perlu melakukan apapun karena ada perawat yang melayanimu selama dua puluh empat jam. Semua itu, apa masih tidak membuatmu senang?" Ia pikir Catalina akan senang dengan pelayanan seperti itu. Namun sepertinya ia keliru.


"Aku pikir tinggal di Valdes masih jauh lebih baik daripada terjebak di tempat seperti ini." Masalahnya ia tidak bisa melakukan apapun dengan leluasa. Ia seperti tahanan yang diharuskan untuk berkelakuan baik dan diharuskan untuk menahan diri. Itu benar-benar sulit untuknya yang terbiasa hidup bebas.


Ia tidak bisa membayangkan sebosan apa Tatiana tinggal di sini selama dua bulan terakhir. Ia ingin melihat gadis itu sebelum pergi, namun Nick tidak mengizinkannya. Pria itu bilang waktu masih panjang. Mereka bisa mengunjungi Tatiana kapanpun di masa depan.


Setelah mencapai mobil, Nick segera membawa Catalina pergi meninggalkan rumah sakit. Beberapa wartawan biasanya menunggu di depan rumah sakit, itu sebabnya mereka sengaja pergi ketika matahari bahkan belum menunjukkan sinarnya.


Ini masih sangat pagi. Dan suasana tidak menjadi jauh lebih baik. Keheningan menghantui sepanjang perjalanan. Sudah dua puluh menit dan keadaan masih sama.


Sampai suara Catalina memecah kesunyian. "Jadi, apa rencana selanjutnya?" tanyanya. Pandangannya tidak berpindah dari luar jendela. Melihat jalanan London yang biasanya hanya ia saksikan di televisi, ternyata tidak seindah bayangannya. Namun bukan berarti tidak indah, ia hanya sedang dalam kondisi yang buruk untuk melihat keindahan. Maksudnya, ini bukan waktu yang tepat.


"Aku akan mengantarmu ke kondominium."

__ADS_1


Catalina tersentak. "Kondominium?"


"Mm." Nick mengangguk. "Itu adalah properti milik Tatiana. Kau bisa menempatinya mulai sekarang. Aku sempat berpikir untuk menjualnya. Kau tahu, biaya rumah sakit sangat mahal dan sejujurnya kami mulai kehabisan uang. Namun karena kau ada di sini, aku berubah pikiran." Nick tertawa getir. Selain Tatiana, Nick tidak menerima aktris lain. Bahkan setelah kejatuhannya, ia masih setia menunggu gadis itu bangun. Kesetiaan apa lagi yang masih kurang darinya?


Catalina mengangguk kecil. "Aku mengerti." Meski benci, namun ia harus mengakui jika kesetiaan Nick memang luar biasa. Meski ia belum pernah bertemu dan bekerja dengannya sebelumnya, namun ia yakin Nick sangat bertanggung jawab dan dapat dipercaya.


"Aku sudah menyiapkan beberapa guru yang akan mengajarimu secara bergantian. Kau akan berlatih menari, akting, memasak, etika, berenang dan masih banyak lagi. Aku sudah membuat jadwal dan kau harus bisa menguasai semuanya dalam tiga minggu." Nick kembali buka suara setelah beberapa saat waktu yang terlewati diisi oleh keheningan.


"Apa?" Butuh beberapa waktu untuk Catalina terkejut. Dan itu adalah ekspresi terkejut paling tidak meyakinkan. Meski kurang meyakinkan, namun ia benar-benar terkejut. Hanya saja, ia tidak bisa mengekspresikan nya dengan benar lantaran pikirannya masih berkutat seputar Tatiana.


"Apa? Hah? Katakan, apa masalahnya?" Nick sudah tahu apa yang Catalina pikirkan dari ekspresinya. Jadi sebelum gadis itu marah, ia sudah mendahuluinya.


Pikirannya kini sepenuhnya tertata. "Kau memintaku berlatih semuanya dalam satu waktu? Ah, tidak, maksudku dalam satu hari aku harus mempelajari semuanya? Dan aku harus bisa menguasainya dalam tiga minggu?" Apa bajingan busuk ini waras? Ia manusia. Berlatih semuanya dalam satu hari, apa bajingan itu ingin membunuhnya? Ia menyesal sudah memujinya. Dan ia menarik kembali pujiannya. Bajingan tetaplah bajingan. Itu tidak akan berubah meski dia sangat setia terhadap Tatiana.


"Hei, kita miskin, Catalina. Kita harus segera mencari uang. Kau tidak ingin kita terlunta-lunta di jalan, kan?"


"Apa kau sedang mengancamku?" Memaksanya menjadi hebat dalam waktu tiga minggu, jika tidak mereka akan menjadi gelandangan, jika bukan mengancam, lalu apa?"


Nick menggeleng. "Tidak. Aku sedang mengingatkan mu."


"Lalu kenapa kau melakukan ini padaku?"


"Apa kau tahu, di dunia ini orang hidup membutuhkan uang. Jika punya uang kau akan punya kekuasaan, dengan uang kau punya kekuatan. Kau ingin tahu apa yang terjadi pada Tatiana, kau harus punya uang, kekuasaan dan kekuatan. Apa kau pernah mendengar kata pepatah? Jika menunggu matahari terbit, kau harus melewati malam. Jika kau ingin mendapatkan uang, kau harus bekerja. Dan untuk bekerja, kau harus punya keahlian. Dan setelah kau punya keahlian, baru kau bisa menghasilkan uang." Nick menjelaskannya dengan sangat jelas. "Kau mengerti?"


Catalina merenung sesaat dan sangat sulit baginya untuk mengerti. Tiga minggu, bukan waktu yang lama. Takutnya ia gagal menjadi seperti yang Nick inginkan.


"Catalina, kau mendengarkan ku atau tidak?" Suara Nick meninggi seiring kata yang terlontar. Ia tidak punya banyak sisa kesabaran. Jika Catalina terus mengusiknya, ia akan melemparnya keluar dari mobil.


Tahu niat jahat apa yang sedang Nick pikirkan, Catalina segera mengangguk. "Baik. Aku akan mendengarkan mu," jawabnya, pasrah. Masalahnya, ia tidak punya uang, jadi ia tidak punya pilihan.


Itulah susahnya menjadi orang miskin. Ingin bicara pun tidak punya suara. Benar-benar menyedihkan.

__ADS_1


__ADS_2