Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 20 • RGSA - Memasukkan Nomornya Ke Daftar Hitam


__ADS_3

Catalina turun dari mobil sambil mengusap lehernya yang terasa kaku. Ia melangkah pelan menuju lift dan begitu pintu lift terbuka, ia masuk tanpa ragu. Segera lift bergerak naik membawanya ke unit kondominiumnya.


Mengemudi adalah sesuatu yang menyenangkan. Namun di satu sisi juga cukup melelahkan.


Ketika tinggal di Valdes, ia tidak punya uang untuk kursus mengemudi. Biayanya sangat mahal dan ia tidak bisa membayarnya. Selain itu ia juga merasa tidak terlalu membutuhkan keterampilan itu. Jadi, ia melepas keinginannya untuk belajar mengemudi.


Ia hanya bisa naik sepeda motor. Itu pun hasil meminjam dari seseorang. Tetangga yang menempati kamar di dekat kamarnya, sangat baik dan tidak segan mengajarinya naik sepeda motor. Dan ya, meski tidak punya dan hanya meminjam, ia bisa mengendarainya dengan cukup baik.


Sekarang karena harus menjadi Tatiana yang berprofesi sebagai aktris, ia dituntut untuk menjadi serba bisa. Jangankan hal-hal dasar seperti mengemudi dan berenang, ia bahkan harus pandai berhitung dan berbahasa.


Sedari kecil, Catalina tinggal di Alaska. Itu adalah kampung halamannya. Tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Jadi ia terbiasa menggunakan bahasa Inggris Amerika. Dan karena sekarang tinggal di London, ia harus bisa menggunakan bahasa Inggris Britania. Secara pelafalan, bahasa Inggris Amerika dan bahasa Inggris Britania sedikit berbeda. Dan ia perlu banyak berlatih sebelum menjadi fasih. Pun terkadang ia masih tidak bisa mengatakannya dengan benar.


Nick adalah orang yang paling sering memarahinya karena aksen yang salah. Dan ia harus mengulang-ulang kata-kata itu sebelum pelafalannya baik di telinga Nick. Untungnya ia cukup pintar dalam hal belajar. Hanya perlu beberapa waktu sebelum ia menjadi fasih.


Membayangkan betapa sulit hidupnya saat ini, ini masih tidak seberapa. Ia sudah mengalami yang lebih buruk dari ini, seribu kali lebih buruk. Dan ia selalu bisa melewatinya. Tidak peduli bagaimana caranya, yang penting hasilnya. Dan hasilnya ia masih hidup sampai sekarang. Yang itu berarti, ia bisa menghadapi semua jenis kesulitan bahkan yang terburuk sekalipun.


Ketika pintu lift terbuka, Catalina bergegas keluar dan pergi ke kondomiumnya. Begitu menempelkan kartu akses, pintu terbuka dan ia segera masuk ke dalam tanpa ragu.


Setelah melemparkan tasnya secara asal, ia menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ia menghela nafas selama beberapa saat, sekedar untuk menghilangkan rasa lelah sebelum bergerak mengambil rokoknya dan menyalakannya.


Sambil mendengarkan musik klasik, Catalina menghisap rokoknya perlahan. Ia memejamkan mata dan menikmati betapa indahnya mendengarkan musik sambil merokok.


Jika sekarang ia bisa tidur, mungkin ia akan bermimpi indah.


Namun sayangnya, ini bukan waktu yang tepat untuk tidur. Ia masih punya banyak pekerjaan dan ia tidak boleh bersantai-santai seolah ia adalah anak orang kaya yang hanya tahu cara bersenang-senang.


Ia orang miskin.


Jika tidak mengandalkan dirinya sendiri untuk bertahan hidup, siapa yang bisa di andalkan? Ia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali tersenyum bahagia. Ia merasa kebahagiaan tidak cocok untuknya.


Setelah beberapa hisapan, Catalina menjejalkan rokoknya ke asbak sebelum beranjak dan melepaskan pakaiannya. Menyisakan sport bra dan celana pendek ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh indahnya.


Yang ia lakukan selanjutnya adalah mengikat rambutnya tinggi ke belakang dan mengganti musik klasik menjadi musik yang penuh semangat dan menggebu-gebu. Setelah siap dengan peralatan tempur, Catalina mulai membersihkan rumah.


Dimulai dari kamar tidur, ia terlebih dulu mengurus pakaian kotor sebelum membersihkan kasur, karpet, melipat baju bersih dan menata lemarinya. Tidak lupa ia menyingkirkan pakaian imut Tatiana dan memilih beberapa pakaian yang lebih cocok untuk ia kenakan. Dan tanpa di duga, ia menghabiskan hampir dua jam hanya untuk kamar tidurnya.

__ADS_1


Catalina menjatuhkan tubuhnya di lantai dan hampir pingsan karena kelelahan. Ia tidak mempekerjakan siapapun untuk membersihkan rumah, jadi ia terpaksa mengerjakan segala hal seorang diri. Dan ia melakukannya secara bertahap. Hari ini untuk kamar tidur, besok kamar mandi, besoknya lagi dapur, besoknya lagi ruang tamu, dan seperti itu setiap harinya.


Ketika melihat waktu, ini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Pantas perutnya sudah meronta minta diisi, ternyata ia belum makan apapun sejak sore hari. Takut mati kelaparan, Catalina bangkit dan membuat mie di dapur.


Saat ponselnya berdering, Catalina sudah membawa mangkuk mienya untuk ia makan sambil menonton televisi.


Saat melihatnya, itu adalah nomor tak di kenal.


Sebelah matanya menyipit. "Nomor siapa ini?" gumamnya. Tidak banyak yang tahu nomor ponselnya. Bahkan sejauh ini hanya Nick yang tahu. Jadi, siapa yang meneleponnya malam-malam begini?


Berpikir ini hanya nomor tak dikenal yang mungkin salah sambung, Catalina memutuskan untuk mengabaikannya. Ketika panggilan berhenti dan panggilan baru datang lagi, Catalina menjadi geram dan memutuskan untuk memarahi orang menyebalkan di balik panggilan.


"Maaf, salah sambung," ucapnya dengan nada tinggi. Ia bersiap menutup panggilan, namun sebelum melakukannya, suara seorang pria yang familiar menghentikannya menekan tombol.


"Kau pemarah sekali." Di balik panggilan, Sehan terkekeh. Ia memegang ponsel dengan satu tangannya dan tangan yang lain membolak-balik dokumen.


Jam sepuluh malam, Sehan masih duduk di balik meja kerjanya. Dengan di temani secangkir teh, ia terbiasa lembur sampai waktu yang tidak ditentukan.


Dan untuk beberapa alasan ia merasa harus menghubungi Catalina untuk memastikan sesuatu. Ia belum sempat mengatakan apapun saat bertemu terakhir kali.


Catalina tercengang. "Apa?" Ia melihat nomor yang tertera di layar ponselnya dan dahinya mengernyit. Suara ini.. sialan. Darimana bajingan itu mendapatkan nomornya? Tidak. Bukan itu. Kenapa dia menghubunginya?


"Apa?"


"Pemarah? Aku?" Catalina mendadak ingat perkataan Sehan dan menjadi jengkel. Ia memasukkan mie ke dalam mulutnya dengan kesal dan menelannya dengan susah payah sebelum berbicara. "Kau yang pemarah. Itu kau." Ia meminum seteguk air karena kepedasan. Sialnya, meminum air dingin membuat lidahnya semakin terbakar.


Ia meletakan ponselnya di atas meja dan pergi menuang susu di dapur sebelum kembali duduk di tempatnya semula.


Jenis mie yang ia makan memiliki pedas level tujuh. Dan ia berkeringat sangat banyak hanya dengan satu suapan. Namun ia tidak akan berhenti hanya karena pedas. Ia justru semakin tertantang untuk menghabiskannya. Ia kembali menjejalkan mie ke dalam mulutnya meski kepedasan.


"Tidak, itu kau." Sehan berbicara ketika gadis itu kembali duduk setelah beberapa saat pergi. Dari suaranya, gadis itu terdengar kepedasan karena memakan sesuatu dan mungkin pergi untuk mengambil air minum.


"Lupakan!" Catalina menggeleng sambil menahan pedas. "Jika tidak ada yang penting, aku akan menutup panggilannya." Ia sudah siap mematikan teleponnya dan memasukan nomornya ke daftar hitam sebelum suara Sehan menghentikan pergerakannya.


"Kom-pen-sasi." Bersamaan dengan berakhirnya kata-kata Catalina, Sehan mengeja kata yang ia ucapkan.

__ADS_1


"Ah, apa? Kau bilang apa? Halo halo halo, maaf, aku tidak bisa mendengar suaramu. Sepertinya jaringanku bermasalah. Halo halo." Kemudian Catalina memutuskan sambungan teleponnya dan memasukkan nomornya ke daftar hitam.


Setelah itu ia mencibir. "Kompensasi? Heh, enak saja." Ia merasa tidak merugikan Sehan dari segi apapun. Ia bahkan sudah bekerja secara gratis ketika membahas dua perusahaan Rusia yang akan bekerja sama dengan perusahannya. Jadi untuk apa ia memberikan kompensasi lagi?


Catalina melanjutkan memakan mienya dengan tenang. Dan terkejut saat sebuah pesan masuk ke emailnya.


[Tulis nomor rekeningmu]


•••


Di perumahan mewah Golden, dahi Sehan berkerut saat nomornya masuk daftar hitam. Gadis sial itu benar-benar memblokirnya? Dia berani melakukannya?


Belum pernah ada orang yang keberaniannya melebihi gadis sial itu. Lebih tepatnya, belum pernah ada orang yang berani memblokir nomornya. Ini menjadi penghinaan paling hina dalam hidupnya. Pertama dalam sejarah dan ia benci di permalukan dengan cara seperti ini.


Keberanian gadis itu benar-benar di luar akal sehat bahkan mendekati gila. Tidak. Gadis itu sudah gila. Dan ia ingin tahu, siapa sebenarnya wujud asli orang gila yang berani memblokir nomornya? Tidak hanya memblokir nomornya, dia juga berani mengabaikan, melawan dan tidak segan berdebat dengannya.


Rasa penasaran di hatinya sudah berkembang menjadi berkali-kali lipat. Dan ia tidak sabar menunggu saat dimana ia mengetahui wajah asli yang tersembunyi di balik topeng Tatiana. Dimana Nick menemukan orang semirip itu, juga apa hubungan gadis sial itu dengan Tatiana. Semuanya, ia ingin tahu semuanya dan ia akan merobek kebohongan gadis itu dengan tangannya sendiri lalu membuatnya meminta maaf dengan mulutnya yang arogan itu.


Kesal, Sehan menulis pesan kemudian mengirimkannya melalui email. Ia yakin tidak ada orang yang berani menolak pesona luar biasa uang. Dan ia percaya diri gadis itu juga sama saja.


Selesai mengirim, Sehan bersandar di kursi kulitnya yang mahal dan menunggu dengan tenang. Namun satu menit berlalu tanpa balasan. Dua menit, tiga menit, tujuh menit, dan sepuluh menit berlalu tanpa hasil.


Satu menit pertama, ia berpikir gadis itu sedang menghabiskan makanannya. Menit kedua, ia pikir gadis itu sedang melakukan sesuatu. Namun setelah menit ke sepuluh dan masih tidak ada balasan, ia yakin gadis sial itu hanya membaca emailnya dan menghapusnya di detik berikutnya.


Tidak cukup memasukkan nomornya ke daftar hitam, dia bahkan berani menghapusnya, begitu?


Emosi Sehan melonjak dan ia hampir menghancurkan ponsel di tangannya. Namun ia menahan amarah itu dan memutuskan untuk mengambil kunci mobilnya dan pergi ke suatu tempat. Ia perlu sesuatu untuk meringankan emosinya. Jika terus tinggal di sini, ia yakin hasrat untuk melenyapkannya akan semakin besar.


Di kondomiumnya, Catalina mengklik tempat sampah dan menghapus email darinya dengan santai. Setelah kenyang, ia menjadi sangat bersemangat dan pikirannya menjadi jauh lebih jernih.


Memasukkan Sehan ke daftar hitam adalah pilihan terbaik.


Selain mengganggu, nomor pria itu hanya menjadi sampah yang mengotori ponselnya. Jika itu di bersihkan lebih awal, baik-baik saja maka. Tidak akan ada permasalahan karena ia yakin pria itu tidak akan perhitungan dengan orang yang tidak akrab dengannya.


Ia pikir semuanya akan baik-baik saja. Namun tanpa ia sadari, apa yang ia lakukan, bukannya membuat Sehan menjauh, justru membuatnya semakin penasaran. Jika ia tahu hasilnya akan seperti ini, ia tidak akan terang-terangan menunjukkan kebenciannya. Setidaknya ia akan membencinya secara diam-diam dan mengutuknya di belakang.

__ADS_1


Namun nasi sudah menjadi bubur.


Sehan sudah menerima tantangan dan ia sudah lebih dari siap untuk membuat Catalina menjadi orang yang paling menyesal karena sudah memprovokasinya.


__ADS_2