
Mencintai seseorang yang bukan tunangannya, adalah seni luka yang indah. Indah namun sangat menyakitkan.
Terlepas dari apakah Raphael menyetujui hubungannya dengan Sehan atau tidak, terlepas dari siapa yang Sehan sukai, apakah ia atau Tatiana, para akhirnya tunangannya yang sebenarnya tetap Tatiana.
Catalina juga bukan orang yang tidak tahu diri.
Ia tidak mungkin mengambil sesuatu yang jelas bukan miliknya.
Ia hanya pengganti. Selagi bisa, ia akan menggenggamnya. Jika tidak bisa, ia akan melepaskannya. Semudah membeli sesuatu di toko. Jika bisa dibeli, maka ia akan membayarnya. Jika tidak, ia akan mengembalikannya ke tempat semua.
Ia tidak akan mengambil pusing untuk sesuatu yang hanya membebaninya.
Semudah itu ia menjalani hidup.
Hari keberangkatan ke Newcastle upon Tyne akhirnya tiba.
Catalina mengambil penerbangan malam dan lagi-lagi Stacey yang muncul dihadapannya. Entah apa yang Nick lakukan belakangan ini, entah apa yang dia sibukan. Namun kalau boleh menebak, mungkin kah ini berhubungan dengan keluarga Atkinson?
Ya, mungkin saja.
Nick cukup kompeten terlepas dari seberapa banyak sifat menyebalkan nya. Dia pria yang baik meski terkadang ia bertanya-tanya siapa sebenarnya dia, identitas apa yang dia miliki, juga bagaimana kehidupan pribadinya.
Ia selalu ingin tahu, namun Nick selalu menutup dirinya dengan rapat. Tidak membiarkan ia masuk untuk sekedar mengetahui dunianya walau hanya mengintip.
"Kemana Nick? Apakah dia sibuk?" tanya Catalina ketika tidak melihat Nick, justru melihat Stacey berdiri di depan pintu kondominiumnya. Ia menatapnya dengan heran. Bukan ia tidak menyukai Stacey, ia menyukainya. Hanya saja, ia sedikit mengkhawatirkan Nick.
Meskipun mereka hanya bertengkar ketika bertemu, namun ia sedikit merindukannya jika dia tidak ada. Salahnya karena pada saat itu tidak menerima panggilannya -bab 73-. Namun mau bagaimana lagi? Tidak mungkin ia menyesali susu yang tumpah.
"Saya tidak tahu, Nona," jawab Stacey.
Catalina mengangguk kecil. "Kalau begitu, masuklah!" ucapnya, mempersilahkan Stacey masuk.
Stacey masuk tanpa ragu. Catalina berjalan di belakangnya setelah terlebih dulu menutup pintu. "Stacey," panggilnya.
"Ya?"
"Bisakah kau tidak menggunakan bahasa formal saat berbicara denganku? Maksudku, secara alami kau akan menjadi managerku. Bukankah aneh jika kau terus menggunakan 'saya-Anda' ketika berbicara?"
Stacey berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk. "Baiklah."
__ADS_1
Catalina tersenyum kecil. Ia tidak menduga Stacey menerimanya dengan mudah. Ia pikir akan ada perdebatan yang terjadi. Ternyata, berbicara dengan gadis itu jauh lebih mudah dari yang ia bayangkan.
Selesai berkemas, satu jam kemudian, Catalina dan Stacey pergi ke bandara. Tidak lupa Catalina menghubungi Nick terlebih dahulu. "Nick," panggilnya begitu panggilan terhubung.
"Mm?" Di balik panggilan Nick menjawab malas.
"Kau tidak sibuk?"
"Aku sangat sibuk. Sangat, sangat, sangat sibuk. Jadi, berhenti menggangguku jika bukan untuk sesuatu yang penting." Selesai berkata, Nick menutup panggilan teleponnya.
Mendengar panggilan terputus, Catalina menjauhkan ponsel dari telinganya dan melihat layarnya dengan bingung. "Pria itu, ada apa dengannya?"
Di tempat lain, Nick menyimpan ponselnya dengan perasaan rumit. Ia tidak menduga berurusan dengan Tatiana dan saudara kembarnya akan membuatnya sangat kerepotan.
Hanya karena ingin membantu seorang gadis yang memiliki nama yang sama dengan nama adiknya yang sudah meninggal, ia harus terlibat dengan konspirasi keluarga kaya yang memuakkan.
Sungguh sial.
Nick berjongkok dan kegelapan di sekitarnya tidak menghalanginya melihat ke depan. Tangannya terulur meletakan seikat bunga mawar putih kemudian mengusap batu nisan.
Yang sedang terbaring di hadapan adalah gadis yang semasa hidupnya banyak menjalani kisah pilu. Diabaikan, disiksa, tidak diperlakukan layaknya manusia, tidak dianggap keberadaannya, semua itu adalah bukti betapa miris hidup yang dia jalani.
Nick terkekeh saat mengingat hari-hari di mana setiap detiknya seperti berada di neraka. Pada saat itu ia bukan siapa-siapa. Ia hanya anak kecil berusia sepuluh tahun yang tidak memiliki kuasa, yang tidak bisa melakukan apapun.
Gadis itu, benar, dia adalah adiknya.
Tatiana.
***
Satu jam lima belas menit kemudian pesawat mendarat di kota tujuan.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Catalina dan Stacey langsung menuju ke hotel dan kembali ke kamar yang sebelumnya mereka tempati.
Malam berlalu dengan damai dan keesokan harinya Catalina dan Stacey berangkat ke lokasi syuting. Mengemudikan mobil yang memang sudah dipersiapkan untuk mereka, Stacey mengemudikannya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
Ketika sampai di lokasi syuting, keadaan sudah ramai.
Catalina menyapa semua orang sebelum masuk ke ruang ganti. Setelah berganti pakaian menjadi seragam sekolah dengan riasan natural, Catalina keluar dari ruang ganti dan duduk di kursi, membaca naskahnya.
Tidak lama kemudian, Julie datang dan mendudukkan diri di samping Catalina. "Kau lihat keriuhan itu?" tanyanya. Di tangannya adalah naskah yang seharusnya ia hafalkan, namun ia tergoda untuk melihat keriuhan yang terjadi di pintu masuk lokasi syuting.
Catalina tersentak. Ia menaikkan wajahnya dan menatap Julie.
"Bukan di sini, lihat ke sana!" ucap Julie sambil meletakan telapak tangannya pada sisi kiri wajah Catalina dan mengarahkannya ke arah sumber keriuhan berada.
Mau tidak mau Catalina melihat ke arah keriuhan dan sebelah alisnya terangkat. "Apa terjadi sesuatu?" tanyanya. Ia tidak tahu mengapa lokasi syuting yang seharusnya damai dan tentram penuh dengan manusia. Apa yang mereka lakukan di sana? Apa yang mereka ributkan? Tidak bisakah seseorang mengusir mereka?
"Ku dengar seorang model terkenal datang ke lokasi syuting," jawab Julie, tidak keberatan untuk menjelaskan meski ia sendiri tidak begitu memahami bagaimana kronologisnya.
"Model?" Catalina menatap Julie dengan bingung. Seorang model datang ke sini? Apakah dia pemeran baru di serial ini? Tapi, kenapa ia tidak tahu.
Julie mengangguk. "Mm."
"Apakah dia pemain baru?" tanya Catalina lagi.
"Tidak. Tidak ada pemain baru. Jika ada, Fred pasti akan memberitahu kita di grup obrolan."
"Betul juga," sahut Catalina. "Lalu, kenapa dia datang dan membuat keributan? Jika tidak memiliki kepentingan apapun, seharusnya dia tetap menjaga profil rendahnya." Namun ia tidak lupa jika masing-masing orang memiliki cara mereka tersendiri untuk menaikkan popularitas.
Ada yang senang mencari keributan, ada yang bangga menjadi wanita penggoda, ada yang senang memamerkan barang-barang mewah, ada yang bangga bermain dengan banyak pria atau wanita, ada yang bahagia dengan kehidupan bebasnya, ada juga yang tetap menjaga profil rendahnya karena tidak ingin kehidupannya di ketahui publik.
Ia dan Julie adalah orang yang masuk ke kategori terakhir.
Kenapa ia begitu yakin?
Karena baik ia atau Julie, jarang sekali ada kabar tentang mereka berdua. Infotainment bahkan mungkin sudah melupakan keberadaan mereka. Seorang Julie yang katanya menjadi simpanan pria kaya pun tidak lagi muncul beritanya.
"Jangan naif! Beberapa orang diciptakan tanpa otak di kepala mereka. Mereka senang membuat sensasi dan mereka akan semakin terkenal. Kau mana tahu seberapa menyeramkan kekuatan media? Haish.. aku benar-benar tidak bisa membayangkan nya." Julie merinding di sekujur tubuhnya.
Catalina terkekeh. "Jadi, kau adalah salah satu yang tercipta tanpa otak di kepalamu?"
"Omong kosong. Aku adalah salah satu yang tidak akan membuat sensasi hanya demi popularitas." Julie tidak marah dengan apa yang Catalina tuduhkan. Ia justru bersemangat karena bisa menjelaskan tentang dirinya sendiri.
"Baguslah. Setidaknya kau punya akal pikiran," ucap Catalina sembari mengalihkan pandangannya melihat kerumunan. Namun entah kenapa ia merasa seperti ada seseorang yang mengawasinya.
__ADS_1
Ketika melihat ke sekeliling, segalanya terlihat sangat normal.
Ia mengangkat bahu. Entahlah. Mungkin hanya perasaannya saja. Ia membuang pikiran negatifnya dan kembali berbincang dengan Julie.