
Duduk di sofa, tatapan Catalina tidak berpindah sedikitpun dari sosok kurus yang terbaring di ranjang. Gadis itu diam dengan mata terpejam. Tidak ada tanda-tanda dia akan bangun. Bahkan jika tidak ada alat bantu pernapasan dan lain-lain, Catalina cukup yakin akan sulit untuknya bertahan hidup.
Tetapi, gadis secantik itu, bagaimana mungkin menjadi begitu tidak berdaya? Kenapa? Apa masalahnya?
Memikirkannya, ia menjadi sedih.
Banyak hal yang ia lewatkan. Banyak sekali. Dan ia menyesal karena tidak menjadi satu bagian pun dalam perjalanan hidupnya selama tiga belas tahun terakhir.
Andai ia di sana dan menemaninya, akankah masa depan berubah? Mungkinkah hal-hal buruk tidak akan terjadi? Mungkinkah Tatiana-nya masih ceria dan sebahagia dulu? Mungkinkah Tatiana tidak terjerumus ke lembah dosa dan menggunakan obat-obatan terlarang?
Sedepresi apa dia?
Seburuk apa kehidupannya?
"Catalina." Suara serak Nick memecah kesunyian.
"Em?" Catalina tersentak dari lamunannya. Ia menoleh dan menatap Nick. Matanya berkedip cepat selama beberapa saat sebelum sepenuhnya menata pikirannya. "Ada apa?" tanyanya.
"Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?" Nick menelan kembali kata-kata yang ingin ia ucapkan. Sebaliknya, ia menanyakan pertanyaan ini.
Catalina mengangguk. "Uh huh. Ada banyak yang ku pikirkan," jawabnya. Itu sangat banyak dan memenuhi semua ruang di kepalanya. Nyaris tidak ada tempat kosong untuk memikirkan dirinya sendiri. Semua terisi penuh oleh Tatiana.
Nick segera mengerti apa artinya itu. Ia mengangguk pelan dan tatapannya mendarat pada sosok gadis yang terbaring di ranjang.
Ruang tempat Tatiana di rawat tidak dekat dengan ruangan lain. Letaknya jauh dan tersembunyi. Sangat jarang orang sampai ke tempat ini. Kecuali memang datang untuk menjenguk Tatiana.
Ruangan ini memiliki desain yang sedikit berbeda. Meski ada set sofa dan lain-lain, namun seperti ruang perawatan intensif pada umumnya, tempat ini memiliki peralatan medis lengkap. Itu yang membuat tempat ini sedikit menyeramkan. Belum lagi bunyi "BEP BEP" yang terdengar, membuat aura kematian semakin pekat.
Padahal seorang pasien yang terbaring di ruang perawatan intensif belum tentu akan mati. Namun melihat bagaimana kondisi Tatiana sekarang, sejujurnya Nick kehilangan kepercayaan dirinya.
Nick tidak yakin Tatiana akan bangun.
__ADS_1
Kecelakaan fatal itu melukai kepalanya. Bahkan Dokter pun tidak yakin tentang kesembuhannya. Kalaupun bangun, takutnya gadis itu menjadi lumpuh.
"Jadi, apa rencananya?" tanya Catalina kemudian, berkata langsung ke intinya. Ia bukan orang yang suka berbasa-basi dan membuang waktu untuk membahas sesuatu yang tidak penting. Apa yang dibicarakan, harus langsung ke pokok permasalahannya.
Nick tersentak. Ia ragu untuk sesaat sebelum balik bertanya. "Kau yakin tidak tahu?" Catalina bukan gadis bodoh. Membawanya ke sini, tidak mungkin dia tidak tahu apa motifnya. Ia juga bukan orang yang bisa dibodohi, pertanyaan seperti itu, untuk apa ia menjawabnya?
"Aku perlu lebih detail," jawabnya. Catalina sudah tahu, namun ia perlu penjelasan lebih rinci. Kedatangannya ke sini, tidak mungkin hanya sekedar bertemu Tatiana dan menemaninya. Semua tidak sesederhana itu. Menggantikan posisinya, adalah yang terbersit dalam benaknya. Kemudian mencari informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi. Namun selain itu, apa?
Apa saja tugasnya?
Apa yang harus ia lakukan?
Haruskah ia menjadi semirip Tatiana? Haruskah ia menjadi duplikatnya? Menguasai semua kemampuannya, meniru tingkah lakunya, dan menjadi dia sepenuhnya?
"Untuk saat ini, kau hanya perlu tinggal di sini selama beberapa hari, tergantung kapan Dokter mengizinkan mu pulang," sahut Nick. Tatiana baru saja bangun dari koma, untuk orang koma pada umumnya, seharusnya membutuhkan setidaknya berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu untuk pemulihan bertahap. Namun karena Catalina memerankan peran itu, tiga atau empat hari seharusnya sudah cukup.
Dan ya, Nick akan membuat Dokter membuat alasan paling realistis tentang kondisi Tatiana agar tidak membuat satu pihak pun curiga, termasuk keluarga angkat Tatiana.
"Kau tenang saja, dia hanya akan dipindahkan ke ruangan lain. Dia masih akan dirawat di rumah sakit ini."
Catalina menghela nafas lega. "Syukurlah. Setidaknya kau tidak membuangnya." Meski itu mustahil, tidak ada salahnya berpikir begitu, kan? Lagipula, pemikiran orang sangat sulit ditebak. Dan kebiasaan manusia, mereka akan memuja sesuatu yang dapat menghasilkan uang kemudian membuangnya jika sudah tidak berguna.
Meski Catalina tidak berpikir Nick sekejam itu, ia lebih suka mengantisipasi daripada memperbaiki. Seperti kata pepatah, sedia payung sebelum hujan. Terlepas dari apakah nanti turun hujan atau tidak, setidaknya sudah mempersiapkan payung.
Nick melotot. "Kau pikir aku manusia macam apa? Apa aku sehina itu?" Ia tidak menyangka seburuk itu ia di mata Catalina. Namun ia tidak bisa mengubah persepsi orang lain tentang dirinnya. Mau bagaimana lagi, ia menyewa tentara bayaran untuk memburu Catalina, kemudian mereka melemahkan dengan memukulinya. Ia yang membangun citra buruk itu sendiri. Jika Catalina memiliki kesan buruk tentangnya, ia akan mengakui bahwa itu memang kesalahannya.
"Ya, kau baru menyadarinya?" Bukankah sejak awal Catalina sudah bilang jika Nick adalah psikopat? Memburu seorang gadis kemudian memukulinya, citra buruk apalagi yang pantas disematkan untuk Nick selain psikopat?
Nick mengibaskan tangan. "Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Semakin di bahas, akan semakin buruk aku di matamu." Intinya, sekarang ia sudah tidak melakukan hal seperti itu, ia sudah berubah. Masalah di masa lalu, tidak bisakah gadis itu melupakannya?
"Tanpa dibahas pun citramu memang sudah jelek dan jujur saja, kau akan sulit mengubah citra yang sudah kau bangun." Saat mendapat tatapan keraguan dari Nick, Catalina mengangguk pelan. "Percayalah, aku banyak belajar ilmu sosial." Meski belajar ilmu sosial namun yang sebenarnya ia pelajari adalah ekonomi, bukan psikologi. Jadi apa yang ia katakan hanyalah sesuatu yang ingin ia katakan. Entah itu berhubungan dengan psikologi manusia atau tidak, ia tidak tahu, dan.. ia tidak peduli.
__ADS_1
"Sudah ku bilang jangan di bahas lagi!" Suara Nick meninggi. "Kau benar-benar tidak mendengarkan aku." Ia benar-benar marah sekarang. Gadis sial ini, benar-benar tahu cara membuatnya kesal.
Catalina terkekeh. Mengusik sesuatu yang membuat Nick jengkel, ternyata cukup menyenangkan. Apalagi saat melihat wajah pria itu merah karena marah, ia benar-benar tidak tahan untuk tidak mencubit ginjalnya.
Catalina mengalihkan pandangannya, kembali menatap Tatiana. "Jadi, aku harus tinggal di sini dan tidur di sana?" Ditempat tidur Tatiana?
Nick mengikuti arah pandang Catalina, lalu menggeleng perlahan. "Kenapa tidur di sana? Kau sedang dalam masa pemulihan. Kau harus tinggal di ruang rawat inap." Itu masuk akal, kan? Tatiana sudah sadar, untuk apa terus berbaring di ruang perawatan intensif? Bukankah itu justru mencurigakan?
"Oh." Bibir Catalina membulat membentuk huruf O. "Syukurlah," ujarnya.
Nick mengedarkan pandangannya, melihat sekeliling. "Lagipula, apa menurutmu tidak masalah jika kau tinggal di sini? Maksudku, bukankah di sini sedikit mencekam? Aku tidak yakin kau berani tinggal di sini." Seperti itulah ruang perawatan intensif. Tempat yang diperuntukkan untuk pasien dengan keadaan serius itu memiliki peralatan medis lengkap dan baginya cukup menyeramkan. Meski tidak semenyeramkan rumor, namun tetap saja paradigma tentang ruang perawatan intensif cukup menakutkan.
Catalina tersenyum miring. "Apa di matamu, aku terlihat seperti penakut?" Jika ia seorang penakut, ia tidak mungkin tinggal di apartemen paling menyeramkan di distrik itu. Kebanyakan yang tinggal di sana adalah orang tua atau anak muda miskin seperti dirinya. Harga sewanya adalah yang paling murah karena konon kabarnya bangunan itu berhantu.
Banyak orang yang mati bunuh diri karena tidak sanggup lagi hidup dalam kemiskinan. Dan itu bukan hanya sekedar rumor. Wanita yang tinggal di samping kamarnya, melompat dari atap dan mati mengenaskan.
Catalina bahkan masih ingat bagaimana wanita itu mati. Itu sangat menyeramkan. Pada saat kejadian, ia baru enam belas tahun. Ia tidak bisa tidur selama beberapa hari dan terkadang menginap di tempatnya bekerja paruh waktu saking tidak beraninya pulang.
Namun itu hanya berlangsung sekitar tiga atau empat hari. Setelah itu kehidupannya kembali normal seolah tidak ada apapun yang terjadi. Seolah yang sebelumnya ketakutan bukan dirinya.
Dan lantai dua adalah yang paling sering orang melihat penampakan. Namun Catalina tinggal di lantai dua dan selama bertahun-tahun ia selalu pulang dan tidur larut malam. Ia sering mendengar suara wanita menangis, suara langkah kaki, barang-barang terjatuh, namun setelah berdamai dengan keadaan, ia tidak setakut saat bertemu orang jahat. Setidaknya, hantu tidak menggigit. Sedangkan manusia, mereka bisa membunuh dengan berbagai cara.
"Tidak. Kau tidak terlihat seperti penakut," jawab Nick. Penakut, pengecut, pecundang, sifat-sifat itu tidak ada pada Catalina. Selain mandiri, pemarah, kasar, dan menyebalkan, Catalina tidak sedikit pun memiliki karakter yang wajar dimiliki seorang gadis.
"Ya, memang, aku bukan seorang penakut." Suara Catalina melemah seiring kata yang terlontar. Namun itu dulu, lanjutnya di dalam hati. Sekarang ada sesuatu yang ia takutkan. Sesuatu yang lebih menakutkan dari apapun. Yaitu kehilangan Tatiana.
Namun Catalina segera menepis pemikiran itu.
Siapa bilang ia akan kehilangan Tatiana?
Ketakutan kehilangan Tatiana hanyalah imajinasinya. Kenyataannya, Tatiana akan terus hidup. Gadis itu tidak akan mati apapun yang terjadi.
__ADS_1