
Tidak bisa tidur, Lexus bangun dari tempat tidur dengan perasaan kacau. Tubuhnya yang kekar dengan otot perut yang terbentuk dengan sempurna, menjadi pemandangan indah ketika selimut yang semula membungkusnya terjatuh di ranjang.
Ia mengambil rokoknya lalu menyalakannya dengan santai.
Segera asap rokok berkumpul di sekitarnya.
Kemudian ia pergi ke jendela dan membukanya.
Udara dingin menyentaknya dari banyaknya pikiran yang tumpang tindih di kepalanya. Ia menghisap rokoknya dengan tenang dan membiarkan angin malam membawa asap yang ia hembuskan menjauh darinya.
Sudah dua tahun berlalu sejak insiden Pamela kehilangan bayinya.
Dua tahun, waktu yang cukup lama.
Namun ia masih tidak bisa melupakannya.
Kenangan pahit, entahlah, apakah ia harus menyebutnya sebagai kenangan pahit? Daripada kenangan pahit, ia lebih suka menyambutnya sebagai kenangan yang tidak membahagiakan.
Pasalnya, pada saat itu, ia tidak tahu harus berbuat apa.
Ia datang ke rumah sakit dengan orang tuanya dan Pamela terbaring di ranjang rumah sakit seperti orang gila. Rambutnya sangat berantakan, wajahnya pucat, air mata mengalir membasahi pipinya, penampilannya yang biasanya cantik, berubah seratus delapan puluh derajat.
Ia tidak dapat melupakan ekspresinya pada saat itu.
Bukan karena ia mencintainya. Bukan juga karena dia adalah tunangannya, Terlepas dari itu, hal yang paling sulit ia terima adalah saat menerima kenyataan bahwa bayi itu adalah miliknya.
Ia sangat terkejut. Sangat-sangat terkejut. Ia tidak siap menjadi seorang ayah. Tidak. Lebih tepatnya, ia tidak begitu percaya dengan apa yang mereka katakan.
Semua terlalu mendadak dan sulit baginya menerimanya.
Tiba-tiba memiliki anak, tetapi mati, tidak dapat digambarkan seperti apa perasaannya pada saat itu.
Seharusnya ia sedih dan menangis seperti apa yang Pamela lakukan. Itu adalah hal paling benar untuk dilakukan ketika kehilangan seseorang untuk selama-lamanya. Namun anehnya, ia tidak melakukannya. Tidak hanya tidak melakukannya, ia juga tidak sedih sama sekali. Jauh di lubuk hatinya, ia justru senang bayi itu tidak ada.
Mungkin ia sudah gila karena berpikir seperti itu.
Namun ia tidak mungkin membohongi dirinya sendiri bahwa ia tidak menginginkan anak itu. Lagipula, siapa yang menginginkan seorang anak ketika mabuk dan tidak sengaja tidur dengan teman masa kecilnya?
__ADS_1
Ketika bangun dan mendengar Pamela menangis di sisinya, juga noda darah di sprei, ia hanya menatapnya dengan bingung.
Mereka tidur bersama?
Tidak. Ia tidak ingat pernah tidur dengan Pamela. Ia tidak ingat pernah melakukannya. Lagipula ia bukan orang yang ceroboh. Kalaupun melakukan, ia pasti memakai pengaman.
Namun entah kenapa gadis itu hamil dan keguguran.
Sungguh sesuatu yang membingungkan.
Sangat membingungkan.
***
Beberapa hari berlalu dengan damai.
Tanpa terasa, sudah lima belas hari berlalu sejak Catalina datang ke Newcastle upon Tyne. Selama waktu itu, syuting berjalan lancar. Semuanya terkendali dengan baik bahkan berjalan jauh lebih cepat dari jadwal.
Meski serial ini hanya memiliki beberapa episode, namun pengerjaannya benar-benar serius hingga segalanya diatur sedemikian ketat.
Terhitung dua kali dalam lima belas hari terakhir. Pada hari kelima dan hari kesepuluh. Mereka akan menghabiskan malam bersama lalu Sehan pergi keesokan harinya, kembali ke London.
Seperti itu hari-hari berlalu.
Tidak bisa dikatakan indah, tetapi cukup menyenangkan.
Sebagai pemeran wanita kedua, sebagaimana hidup antagonis biasanya berakhir, peran yang Catalina mainkan mati lebih cepat daripada pemeran utama. Ketika ia menjatuhkan dirinya dari tebing, maka adegannya sudah berakhir.
Dan karena sudah menyelesaikan semua adegannya, Catalina mengemas semua barang-barangnya dan mengucapkan selamat tinggal kepada semua orang. Baru kemudian ia meninggalkan lokasi syuting dengan Stacey.
Ini masih sore hari. Waktu baru menunjukkan pukul tiga. Dan mereka berencana untuk mengejar penerbangan malam agar malam ini juga mereka tiba di London.
Catalina masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi samping kemudi. Sementara Stacey, ia duduk di balik kemudi. Karena kursi belakang penuh dengan barang-barang, juga tidak nyaman jika duduk di belakang sendirian, Catalina memutuskan untuk menemani Stacey mengemudi.
Catalina mengaitkan sabuk pengaman dan Stacey segera melajukan mobilnya meninggalkan lokasi syuting.
Karena pengambilan gambar dilakukan di tebing, perjalanan yang harus di tempuh untuk mencapai hotel tidak terlalu bagus. Selain curam, jalanan juga berkelok-kelok, sempit dan memiliki tikungan yang cukup tajam. Ketika berpapasan dengan kendaraan lain, mobil harus minggir sedikit ke tepi.
__ADS_1
Dan awalnya, semuanya baik-baik saja.
Kendaraan melaju dengan mulus di jalanan tanpa ada hambatan.
Namun ketika mobil sudah memasuki seperempat perjalanan, Stacey yang awalnya santai dan tenang, tubuhnya perlahan menegang. Ia tidak tahu apa yang salah. Tidak. Ia mengetahui dengan jelas apa yang salah. Dan baginya, kesalahan ini sangat fatal.
Ia ingat sudah mengecek semuanya pagi ini. Dan semuanya baik-baik saja. Tapi, kenapa? Kenapa kesalahan sefatal ini bisa terjadi?
Stacey menoleh ke samping, menatap Catalina. "Nona, bagaimana ini?" tanyanya, sedikit cemas.
Melihat ekspresi panik Stacey, Catalina mengerutkan kening. "Apa yang terjadi?"
"Remnya, tidak berfungsi," Stacey menjawab dengan cepat dan lugas. Sudah berkali-kali ia menginjak rem, namun itu sama sekali tidak berguna. Remnya tetap tidak berfungsi sebanyak apapun ia menginjaknya. Sedangkan laju kendaraan, semakin lama semakin cepat dan semakin sulit dikendalikan.
"Apa?" Catalina terkejut. Mendengar ini, pandangannya menjadi gelap. Ia sudah menduga ada sesuatu yang tidak beres. Bukan mobilnya. Tidak. Bukan. Ia berpikir mobilnya baik-baik saja. Meski merasakan firasat buruk, namun ia berpikir cedera di kakinya yang ia dapatkan ketika syuting menjadi semakin parah.
Ia tidak pernah menduga firasat buruk itu tidak terjadi di kakinya, tetapi di mobilnya. Sesuatu yang tidak pernah ia sangka, sesuatu yang tidak pernah ia duga, namun sangat fatal.
Remnya tidak berfungsi.
Benar-benar tidak berfungsi.
Ia menatap Stacey dengan tatapan rumit. Melihat bagaimana gelagat Stacey, ia tahu Stacey tidak bercanda. Dan ia juga tahu tidak ada cara untuk kembali. Stacey tidak bisa memperbaikinya. Jangan kan memperbaiki, menghentikan pun pasti tidak bisa.
Karena sudah seperti ini, apa yang akan terjadi?
Apa mereka akan mati?
Tidak. Ia tidak boleh mati seperti ini.
Jika ia mati, bagaimana dengan Tatiana? Apa yang akan terjadi padanya?
Catalina berusaha menenangkan diri namun ia tidak berhasil sebanyak apapun ia melakukannya. Pada akhirnya hanya satu hal yang ia rasakan, ketakutan.
"Jangan panik, Nona. Aku akan menghentikan mobilnya di tempat yang aman. Kau hanya.." namun belum selesai Stacey berkata, ketika mobil yang ia kemudikan melewati tikungan tajam dan sialnya berpapasan dengan kendaraan lain, ia membanting setir dan akibatnya mobil langsung menabrak pembatas jalan kemudian terjun bebas ke jurang.
Catalina tidak merasakan apapun ketika kejadian itu terjadi. Ia hanya mendengar teriakan Stacey sebelum kesadarannya sepenuhnya direnggut oleh kegelapan.
__ADS_1