Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 87 • RGSA - Baik-baik Saja


__ADS_3

Mendengar suara Catalina, Sehan segera bangkit dan berlari menghampirinya. Kemudian ia memeluknya erat. "Akhirnya kau bangun. Syukurlah. Aku sangat mengkhawatirkan mu," ucapnya, bersemangat. "Sekarang katakan, apa kau baik-baik saja? Bagian mana yang sakit? Bagian mana yang terasa tidak nyaman?" Ia melonggarkan pelukannya dan memeriksa tubuh Catalina dengan hati-hati. Kemudian ia kembali memeluknya.


Sudah dua puluh empat jam gadis itu tidak sadarkan diri. Dari sore hingga sore lagi. Namun untungnya sekarang dia sudah bangun. Membuatnya merasa lega.


"Dimana Stacey?" Mengabaikan deretan pertanyaan Sehan, Catalina mengajukan pertanyaan lain. Daripada dirinya, ia lebih mengkhawatirkan Stacey. Dan daripada bertanya bagaimana ia bisa selamat, bagaimana mereka menemukannya, atau bagaimana ia masih hidup, ia benar-benar tidak ingin mengetahui apapun tentang dirinya sendiri.


Hanya satu yang ingin ia ketahui, keadaan Stacey.


Gadis itu, jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, demi apapun ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri


Tiba-tiba setetes bening jatuh di pipinya.


Ia ingat bagaimana Stacey berusaha menenangkan nya pada detik-detik terakhir kecelakaan. Gadis itu berusaha untuk tidak membuatnya takut dan melindunginya dengan sangat baik. Ia tidak ingin mendengar berita buruk tentangnya. Benar-benar tidak ingin.


Merasakan luapan emosi Catalina, Sehan mengusap punggungnya pelan. "Dia baik-baik saja. Sungguh." Ia melonggarkan pelukannya dan menatapnya dengan tatapan lembut kemudian membantunya mengusap air matanya.


Tidak percaya, Catalina berkata, "Lalu, dimana dia?" Jangan harap ia akan percaya hanya dengan beberapa patah kata seperti 'dia baik-baik saja'.


"Dia baik-baik saja. Sungguh," ulangnya.


"Dimana ponselku?" Tiba-tiba Catalina ingat untuk menghubungi Nick. Karena Sehan bersamanya, mungkin Nick bersama Stacey.


Meski tidak yakin dengan pemikiran itu, ia hanya sedang berusaha untuk tidak panik. Seperti yang semua orang tahu, kepanikan hanya menambah masalah.


"Ponselmu sudah rusak. Kau tidak bisa memakainya lagi," jawab Sehan. Semua barang yang ada di mobil tidak satu pun yang bisa digunakan lagi. Semua rusak parah. Dan ia tidak berbohong tentang hal ini. Dia dan Stacey masih hidup saja sudah untung. "Sekarang, berhenti mencemaskan orang lain, berhenti mencemaskan apapun. Kau sendiri tidak sedang baik-baik saja. Kau terluka dimana-mana. Bisakah kau lebih memperdulikan dirimu?"


Tubuh Catalina merosot di ranjang, namun.. "Ah, sial. Tubuhku sakit sekali," keluhnya ketika merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Rasanya seperti baru saja di lindas sesuatu. Tidak hanya sakit, tetapi juga perih dimana-mana. Ia menduga tubuhnya hancur lebur.


"Sudah ku bilang kau tidak baik-baik saja," ucap Sehan sambil membantu membetulkan posisi tidur Catalina agar gadis itu merasa lebih nyaman.


"Aku mau duduk," Catalina berkata dengan manja. Namanya sakit, mau seperti apa bentuknya, mau duduk, telentang, tengkurap, atau apapun, tetap saja sakit. Bahkan ketika berbaring, rasa sakitnya semakin terasa. Itu sebabnya ia tidak mau berbaring.


"Mm." Sehan membantu menata bantal untuk punggungnya lalu membantunya duduk.


Setelah berada di posisi yang lebih nyaman, Catalina mengulurkan tangannya. "Berikan ponselmu. Aku harus menghubungi seseorang."


"Ada infus di tanganmu," jawab Sehan, enggan memberikan ponselnya.

__ADS_1


"Yang diinfus punggung tangan sebelah kiri. Tangan kanan ku masih bisa menggunakan ponsel." Catalina menunjukkan tangan kanannya yang bebas dan menggerak-gerakkannya dengan santai. Lagipula, rasa sakit jika terus di rasa, akan semakin sakit. Bukan kah bagus jika mengalihkan fokusnya pada hal lain agar tidak terlalu meresapi rasa sakit itu?


Hal sesederhana itu, bagaimana mungkin Sehan tidak tahu?


Sehan mengambil ponselnya dan menyerahkannya kepada Catalina dengan tidak senang. Namun Catalina tidak punya waktu untuk memperdulikan ketidaksenangan Sehan. Ia menerima ponselnya dengan senang hati dan segera menekan nomor Nick.


Tahu siapa yang akan Catalina hubungi, Sehan bertanya, "Kau hafal nomor ponselnya?"


Catalina mengangguk. "Tentu saja." Ia hafal di luar kepala semua nomor yang ia simpan. Lagipula, hanya ada tiga nomor. Sehan, Nick dan Stacey. Jadi bagaimana mungkin ia tidak hafal?


Seberapa payah pun ingatannya, hanya untuk mengingat beberapa deret angka, ia bukan manusia jika tidak bisa mengingatnya.


Jawaban itu membuat ekspresi Sehan bertambah buruk.


Catalina memanggil nomor yang sudah ia ketik lalu menempelkan ponsel di telinganya.


Dengan sekali panggil, Nick mengangkatnya. "Halo."


"Apa Stacey bersamamu? Bagaimana keadaannya?" tanya Catalina begitu mendengar suara Nick dari balik panggilan.


"Sungguh? Kau tidak berbohong? Biarkan aku bicara dengannya."


Di balik panggilan, Nick menyerahkan ponselnya kepada Stacey.


"Halo, Nona, ini aku, Stacey," ucap Stacey.


Mendengar suara Stacey, ketegangan Catalina perlahan mengendur. "Astaga, kau membuatku ketakutan, Stacey. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu. Kau tahu, aku benar-benar takut. Sangat takut. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau merasa sangat buruk? Aku akan menemuimu jika kau tidak keberatan. Tolong izinkan aku melihatmu." Ia memberondong serangkaian perkataan yang membuat Stacey bingung harus menjawab apa.


"Maaf, Nona. Aku sudah di London, bersama Nick. Jika kau sudah merasa lebih baik, mari kita bertemu di London." Pada akhirnya hanya itu yang bisa Stacey jawab. Ia tidak ingin mengatakan keadaannya karena kondisinya saat ini tidak terlalu bagus. Ia mengalami patah tulang di tangannya, dan itu sedikit merepotkan.


Catalina tercengang. "Kau sudah di London?" Ia bertanya dengan tidak percaya.


"Uh huh." Stacey mengangguk meski tahu Catalina tidak mungkin bisa melihat anggukan kepalanya.


Catalina mengangguk kecil. "Baiklah, aku mengerti," ucapnya. Karena Stacey sudah kembali ke London, ia pikir keadaannya tidak terlalu buruk. Jadi ia meminta untuk berbicara dengan Nick setelah bertukar beberapa patah kata lagi dengan Stacey.


Nick menerima ponselnya lagi. "Apa lagi yang ingin kau bicarakan?" tanya Nick seolah tidak sabar ingin memutuskan panggilan.

__ADS_1


"Hei, apakah kau masih managerku? Kau tidak ingin bertanya bagaimana keadaan ku? Kau tidak ingin tahu apakah aku baik-baik saja atau tidak?" desisnya. Catalina tidak mengerti kenapa Nick justru membawa Stacey kembali. Maksudnya, ia adalah artisnya, oke?


Apakah dia sama sekali tidak mengkhawatirkannya?


Apakah dia tidak peduli dengan keadaannya?


Kalaupun membawa kembali, bukankah seharusnya dirinya?


Kenapa dia lebih mementingkan Stacey daripada dirinya?


Aneh, bukan?


Bukan karena ia merasa iri Nick lebih mengutamakan Stacey, namun mau di pikir sebanyak apapun, rasanya tetap tidak masuk akal jika Nick mengabaikannya seperti ini.


"Untuk apa bertanya keadaanmu? Kau sudah bisa mengomel, kau jelas baik-baik saja. Kenapa aku harus memikirkan orang yang masih hidup dan sehat? Ayolah, jangan bercanda."


Catalina menggertakan gigi. "Dasar kau.." Jika Nick berada di sini, sudah pasti pria itu akan habis di tangannya. Namun karena mereka terpisah ruang dan waktu, untuk saat ini ia akan menahan diri.


"Kalau sudah tidak ada yang lain, aku akan menutup panggilannya. Oke? Sampai jumpa." Dengan begitu panggilan berakhir.


Catalina menjauhkan ponselnya dan menatap layarnya dengan bingung. Pria itu, sebenarnya ada apa dengannya? Ia mengembalikan ponsel milik Sehan dengan bingung.


"Sudah ku katakan, dia baik-baik saja," ujar Sehan sambil menerima ponselnya.


Suaranya yang dingin menyentak lamunan Catalina. Catalina menoleh dan tersenyum kecil. "Aku lebih mempercayai apa yang ku lihat dan ku dengar dengan mata dan telingaku sendiri."


"Kau sangat keras kepala."


"Tapi kau menyukai gadis keras kepala ini, kan?" Entah kenapa Catalina tidak marah meski Sehan tampak serius dengan ucapannya. "Mendekatlah. Aku ingin memelukmu." Ia justru ingin memeluknya dan berterima kasih sebanyak-banyaknya.


Sehan bangun dari duduknya lalu mendekat dan Catalina segera memeluknya. "Terima kasih, Sehan. Terima kasih atas semuanya. Aku senang kau di sini. Aku senang kau bersamaku. Sangat senang."




__ADS_1


__ADS_2