
Dua hari kemudian, Catalina sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Meski sebenarnya dokter belum mengizinkan, namun karena sudah tidak tahan tinggal di rumah sakit walau untuk satu hari lagi, dengan alasan demi terjaga kesehatan mentalnya, Catalina merengek minta pulang.
Sehan yang lelah mendengarkan rengekan Catalina, terpaksa menyetujui permintaan itu. Asal dengan satu syarat, dia harus meminum rutin obatnya.
Hanya meminum obat, Catalina bukan orang yang tidak masuk akal.
Ia setuju untuk melakukannya.
Daripada tinggal di sini, bahkan jika ia harus meminum banyak obat, ia bisa melakukannya. Lagipula, meminum obat juga untuk kebaikannya dan yang akan mendapatkan manfaat juga dirinya. Jadi, ia tidak akan rewel karena sesuatu yang jelas baik untuknya.
Tidak ingin membuang waktu, juga tidak ingin merepotkan Sehan lebih banyak lagi, mereka segera kembali ke London begitu ada penerbangan.
Ketika pesawat mendarat di London dan Kenny menjemput di bandara,
Catalina segera masuk ke dalam mobil. Sehan mengikuti di belakangnya dan duduk di sampingnya. Tidak lama kemudian mobil segera melaju meninggalkan bandara bergabung dengan arus mobil.
"Merasa lebih baik?" tanya Sehan. Suaranya yang lembut memecah kesunyian. Melihat Catalina tampak senang, ia menjadi lega. Namun saat melihat luka serta memar di sekujur tubuh gadis itu, kelegaannya berubah menjadi kesedihan.
Catalina melepaskan kacamata hitam serta masker yang menutupi wajahnya kemudian menyimpannya di dalam tas. "Tentu saja. Semua berkat dirimu." Itu lah untungnya punya pacar kaya. Ingin pulang, bisa langsung pulang. Tidak ada yang perlu di khawatirkan karena apapun boleh, semuanya bisa.
Sehan meraih tangan Catalina lalu menggenggamnya erat. "Jadi, kau sedang memuji? Sangat bersyukur memiliki pacar seperti aku?"
"Mm.." Catalina berpikir sejenak. "Kau bisa menganggapnya seperti itu." Pria seperti Sehan, siapa sangka dapat merawat orang sakit dengan baik? Ia sendiri pun di kejutkan oleh penampilan Sehan yang perhatian serta sabar dalam merawatnya.
Pria itu tidak hanya tidak bekerja. Dia bahkan selalu berada di sisinya. Membantunya ke toilet, menyuapinya makan, mengajaknya jalan-jalan dan memegang infusnya. Gadis mana pun, jika dihadapkan pada ketampanan serta di perlakukan seperti itu, pasti luluh dan tidak sabar untuk menikahinya.
Ia pun sama.
Ia pun sangat ingin menikahinya dan menjadikannya miliknya.
Namun, ia menyadari pikiran seperti itu terlalu konyol dan tidak realistis. Tidak cocok untuk dirinya. Jadi, ia segera menghilangkan gagasan itu dari pikirannya.
__ADS_1
"Aku senang mendengarnya," ucap Sehan. "Jadi, haruskah kita tinggal bersama?" tanyanya kemudian.
Catalina tercengang. Tinggal bersama? Itu bukan ide yang buruk. Ia pun sempat memikirkan gagasan ini beberapa saat yang lalu. Tinggal bersama Sehan, ya, sejujurnya ia sangat menginginkannya. Namun masalahnya, ia yakin akan sangat sibuk setelah ini.
Kecelakaan itu, terlalu tidak masuk akal.
Mobil yang awalnya baik-baik saja, tidak mungkin tiba-tiba menjadi rusak. Seseorang pasti sudah merekayasanya. Seseorang pasti memanipulasinya. Seseorang pasti ingin mencelakainya. Atau bahkan.. membunuhnya.
Seperti kecelakaan yang terjadi pada Tatiana.
Ia merasa percobaan yang sama kali ini juga terjadi padanya.
Itu sebabnya ia tidak boleh berdiam diri setelah semua yang terjadi. Ia harus mencari tahu siapa otak di balik ini. Harus.
"Hei, apa yang kau pikirkan, eh?" tanya Sehan ketika melihat Catalina bukannya menjawab justru melamun.
Catalina menata pikirannya dan tersenyum kecil. "Kau sudah meninggalkan pekerjaanmu selama beberapa hari. Jika kita tinggal bersama, kau akan kesulitan."
"Aku tidak pernah merasa kesulitan. Dari awal sampai detik ini, tidak sekalipun," Sehan menimpali.
Di kursi depan, Kenny mengangguk samar. Ia sangat setuju dengan ucapan Catalina. Ia memang kesulitan. Sangat, sangat, sangat kesulitan. Mengurus pekerjaan Sehan selama beberapa hari, ia bahkan hanya tidur selama dua jam setiap harinya.
Namun, Sehan mana mengerti?
Pria itu hanya peduli untuk menjaga kekasihnya dan melimpahkan segala permasalahan untuk ia tangani. Untung saja Catalina masih memikirkannya. Membuatnya bersyukur memiliki bos wanita yang memikirkan kelangsungan hidup bawahannya.
Sehan terkekeh. "Rupanya kau sangat memperdulikan asisten ku, ya?"
Catalina tercengang. Meski terkekeh, namun ia dapat merasakan emosi yang tersembunyi di balik kekehan itu. Tidak ingin Sehan marah, ia berkata, "Tentu saja. Dia adalah asistenmu dan dia banyak membantumu, eh? Kau tidak mungkin perhitungan dengan orang yang sudah menggantikan pekerjaanmu saat kau sibuk menjagaku, kan?"
Sehan menjepit dagu Catalina lalu mencium sekilas bibirnya. "Baiklah, baiklah, aku mengerti," jawabnya. "Jadi, haruskah aku mengantarmu ke kondominium?"
Catalina mengangguk cepat. "Tentu," jawabnya.
__ADS_1
"Lihat, kau sangat bersemangat, bukan?" Sehan mencibir.
Catalina meringis, menunjukkan deretan giginya yang putih dan bersih. Lalu menggaruk tengkuknya, merasa sudah berlebihan menunjukkan antusiasme nya. "Aku tidak bersemangat. Sama sekali tidak. Aku hanya sangat lelah dan ingin istirahat di kondominium. Maksudku, kau tahu, rumah adalah tempat terbaik." Catalina berusaha menjelaskan dengan suara lembut menggunakan bahasa yang baik dan benar untuk menghindari Sehan berpikir ia senang berpisah darinya.
Sehan menghela nafas panjang. "Kau sedang menjelaskan atau sedang beralasan?"
"Aku tidak beralasan. Aku mengatakan yang sebenarnya," sahut Catalina. "Aku memang merindukan kasurku, merindukan kamarku, ah.. aku benar-benar merindukan mereka semua." Syuting selama setengah bulan, belum lagi beberapa hari di rumah sakit, ia sudah tidak tahan untuk pulang ke kondominiumnya dan menikmati hari-harinya yang indah.
Ia ingin begadang sambil merokok. Menikmati malam yang panjang dengan memikirkan banyak hal. Lalu membaca novel BL, GL, inses, romantis, atau apapun itu. Ia merindukan buku-bukunya yang sudah lama tidak terjamah.
Sial.
Sudah berapa lama ia tidak melakukan hal-hal yang biasanya selalu ia lakukan?
Mobil berhenti di depan gedung kondominium dan Catalina menolak Sehan mengantarnya naik ke atas. Ia bukan gadis manja. Juga ia hanya mengalami luka gores dan memar. Ia tidak patah tulang, ia juga tidak gagar otak. Ia baik-baik saja hanya sakit di luar, tidak ada masalah dengan organ dalamnya. Jadi hanya untuk berjalan, ia bisa melakukannya meski terkadang masih terasa sakit.
Setelah mencium Sehan sekilas, Catalina turun dari mobil.
Ia memperhatikan mobil itu dan ketika mobil menjauh dan menghilang di ujung jalan, Catalina baru naik ke atas.
Begitu masuk ke unitnya, ia menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan hati-hati dan menghela nafas lega.
Sakit di tubuhnya sudah sedikit berkurang. Berkat meminum obatnya secara rutin, sekarang ia merasa jauh lebih baik. Setidaknya, ia bisa tidur dengan nyenyak di malam hari dan tidak perlu tinggal di rumah sakit lagi.
Dari banyaknya hal, itu adalah hal yang paling ia syukuri.
Catalina bangkit lalu berjalan ke kamarnya dan membuka komputernya.
Karena sudah berada di London, ia merasa perlu untuk menghubungi Nick. Itu sebabnya ia masuk ke aplikasi chatting dan mengiriminya pesan.
Cukup lama menunggu namun masih tidak ada balasan.
Bahkan setelah ia melihat-lihat ponsel di situs belanja online dan memutuskan untuk membeli salah satunya, pria itu masih belum membuka pesannya.
__ADS_1
"Kemana perginya pria itu?" gumamnya. Tidak biasanya dia seperti ini. Apa yang terjadi?