Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 89 • RGSA - Pelaku Di Balik Ini


__ADS_3

Langit berubah gelap.


Sisa-sisa terang direnggut sepenuhnya oleh malam.


Catalina berjalan menuju jendela dengan gelas ditangannya. Ia membuka jendelanya lebar-lebar lalu melihat langit malam yang indah. Tidak lupa ia menyesap sedikit air di dalam gelasnya dan mulai memikirkan sesuatu.


Kabar tentang kecelakaan yang terjadi padanya, tidak diketahui oleh siapapun. Bahkan kru serta pemain yang membintangi serial yang sama, tidak ada satu pun yang tahu.


Mereka hanya tahu sebuah mobil jatuh ke jurang sementara pengemudi dan satu penumpang baik-baik saja. Mereka tidak tahu bahwa pengemudinya adalah Stacey dan penumpangnya adalah ia.


Entah ulah Nick atau ulah Sehan, Catalina tidak tahu dan ia juga enggan memikirkannya. Bagus jika mereka tidak tahu. Setidaknya, kejadian itu tidak akan menimbulkan kegemparan. Lagipula, ia baik-baik saja. Ia tidak mati, juga tidak koma seperti Tatiana. Ia masih hidup dan ya.. ia memiliki banyak peluang di masa depan untuk mencari tahu kebenarannya.


Meski sejujurnya ia sudah memikirkan satu kemungkinan paling mungkin yang bisa terjadi, namun itu hanya ada dalam benaknya. Pelaku dari kecelakaan itu, orang sial yang sudah menargetkannya, ah sial, berani sekali dia memiliki pikiran untuk melenyapkannya? Apa dia tidak tahu ia memiliki sembilan nyawa?


Terserap ke dalam pikirannya, Catalina gagal menyadari kedatangan seseorang.


"Hai, apa yang kau lakukan di sana?" Nick yang memiliki akses penuh atas kondominium ini, masuk tanpa menekan bel. Ia berjalan menghampiri Catalina dan menaikkan sebelah alisnya ketika melihat gelas wine di tangan gadis itu berisi air putih. "Apa kau kehilangan kewarasanmu karena kecelakaan itu? Tidak. Maksudku, kau tidak gila, kan?"


Catalina tersentak. Ia menoleh dan melihat Nick berdiri di samping kanannya. Pria itu, sudah cukup lama ia tidak melihatnya. Namun, ya, pria itu masih sama. Masih menyebalkan.


"Sudah lama aku menjadi gila," jawab Catalina.


"Lalu?"


Catalina menunjukkan gelas winenya dengan bangga. "Agar terlihat keren," jawabnya.


Nick memutar bola matanya. "Apakah itu penting? Kau di rumah dan sendirian. Tidak ada yang melihatmu." Intinya, tanpa memegang gelas pun tidak apa-apa. Itu tidak akan membuatnya tidak keren karena tidak akan ada yang melihatnya.


"Kau tidak tahu bagaimana film menggambarkan kekuatan alkohol? Mereka sangat keren hanya dengan memegang gelasnya. Siapa peduli tentang isinya? Juga siapa yang peduli apakah ada yang melihat atau tidak? Gelasnya sudah cukup memberikan chemistry." Dan Catalina terobsesi untuk terlihat keren tidak peduli apakah ia sendirian atau tidak. Lagipula jika tidak sendirian, memang dengan siapa? Ia tidak memiliki siapapun selain beberapa pria menyebalkan yang hanya memperburuk suasana hati.


"Tetapi kau tidak bisa menggunakan wine asli karena obat-obatan itu?"


Catalina menjentikkan jarinya. "Tepat sekali."


Nick kehilangan semua kata-katanya. Persetan dengan air putih atau wine. Gadis itu semakin gila. "Aku tidak tahu harus menyebutmu bodoh atau terbelakang," ucapnya kemudian, mengganti kata 'gila' dengan 'bodoh' dan 'terbelakang'.

__ADS_1


Catalina mengangkat bahu. "Kau bisa menyebutku dua-duanya jika kau mau." Ia tidak keberatan dipanggil bodoh atau terbelakang. Hanya sebutan, baginya tidak terlalu penting.


Keadaan menjadi hening untuk sementara waktu sampai suara Catalina memecah keheningan. "Jadi?" Dan suaranya memasuki mode serius. Benar-benar serius. Ekspresinya pun sama seriusnya.


Tahu apa maksud Catalina, Nick menjawab, "Seperti yang sudah-sudah, mereka tidak bisa diandalkan." 'Mereka' yang Nick maksud adalah para petugas yang bertugas meninjau serta memperdalam kasus kecelakaan itu.


Namun hanya karena sering terjadi kecelakaan di daerah itu, mereka menganggap kasus yang terjadi pada Catalina sebagai kasus yang sama.


Catalina tidak terkejut dengan jawaban Nick. Seperti yang ia duga, hal ini tidak akan mudah. Namun bukan Catalina namanya jika menyerah begitu saja. Ia akan menangkap pelakunya dan menghukumnya dengan caranya sendiri.


"Lalu apa yang mereka katakan?" tanya Catalina kemudian.


"Keteledoran, kelalaian."


"Bagaimana dengan Stacey?"


"Aku sudah mengirim Stacey ke luar negeri untuk melakukan pekerjaan lain. Kau tidak perlu cemas." Karena terlalu beresiko untuknya tinggal di sini, Nick mengirim Stacey ke luar negeri untuk melakukan misi yang lain, sekaligus untuk menyembuhkan patah di tangannya.


"Baguslah. Setidaknya dia tidak akan mendapatkan masalah." Stacey hanya orang yang kebetulan lewat. Maksudnya, gadis itu tidak ada kaitannya dengan dirinya. Targetnya adalah ia. Jika gadis itu mendapat masalah hanya karena menggantikan Nick menjadi manajernya, itu keterlaluan.


"Ya. Aku juga berpikir begitu."


"Rem yang rusak, mobil yang hancur, sidik jari Stacey, sidik jarimu, dan selain itu mereka tidak menemukan apapun," jawab Nick.


Catalina mengerutkan kening. "Hanya itu?"


"Ya."


"Kau serius?"


Nick mengangguk. "Sangat serius."


Catalina terkekeh. "Yang benar saja? Apa mereka bercanda?"


"Semua yang mereka katakan, benar. Setidaknya mereka berpikir begitu." Lagipula bukan sekali dua kali hal semacam ini terjadi. Ketika adiknya meninggal, meskipun banyak luka di sekujur tubuhnya, mereka menetapkan dan menutup kasus itu sebagai kasus kecelakaan. Lalu selanjutnya adalah Tatiana dan sekarang Catalina. Semua kasus itu, entah bagaimana motifnya, mereka akan menutupnya sebagai kasus yang sama. Itu sebabnya ia tidak pernah berharap lebih kepada pihak berwajib. Karena ia tidak mempercayai mereka dan mereka tidak bisa dipercaya.

__ADS_1


"Sial," Catalina mengumpat. Ia tahu dimanapun, di negara manapun, ada oknum yang tidak jujur. Tetapi rasanya sangat menyakitkan ketika ia membutuhkan keadilan, namun pihak yang sudah menerima suap memberikan hasil yang berbeda. Jauh dari apa yang di harapkan.


Teringat sesuatu, Catalina mengajukan tanya, "Bagaimana dengan kamera pengawas?" Rem yang tiba-tiba rusak padahal saat mereka datang semuanya baik-baik saja, bukankah itu terlalu aneh? Apakah mereka tidak memikirkan hal semacam itu? Setidaknya jika ada rekaman kamera pengawas, mereka memiliki sesuatu sebagai bahan pembelaan.


"Tidak ada hal semacam itu di gunung." Bahkan di jalan raya pun, kamera pengawas hanya di letakkan di titik-titik tertentu. Apalagi di gunung? Jangan harap ada kemewahan semacam itu.


"Kau benar. Kalaupun ada bukti, seseorang pasti sudah menyingkirkan nya." Mereka, orang-orang yang terlatih untuk melakukan kejahatan, tidak mungkin meninggalkan jejak walau hanya sidik jari. Mereka melakukan semuanya dengan sangat bersih, penuh rencana, licik dan kejam.


Nick menyentuh dagunya. "Jelas. Namun, kemungkinan dilakukan oleh orang yang berbeda."


Catalina tersentak. "Maksudmu?"


"Kecelakaan yang menimpa Tatiana, dan kecelakaan yang menimpamu, mungkin dilakukan oleh orang yang sama namun ditutupi oleh orang yang berbeda."


Catalina tercengang. Ia menatap Nick dan benar-benar ingin menanyakan apa maksud ucapannya. Kecelakaan yang menimpanya dan kecelakaan yang menimpa Tatiana, dilakukan oleh orang yang sama namun ditutupi oleh orang yang berbeda?


'Dilakukan oleh orang yang sama', kurang lebih ia tahu siapa yang Nick maksud. Pelaku yang sama di balik kecelakaan lalu lintas yang menimpanya dan menimpa Tatiana. Namun 'ditutupi oleh orang yang berbeda', ia masih tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti.


Nick mengibaskan tangan. "Lupakan! Jangan memikirkan hal itu dulu." Hal semacam itu, tentang 'ditutupi oleh orang yang berbeda' akan di bahas setelah Tatiana bangun. Sebelum gadis itu bangun, ia akan membiarkan semua tetap seperti ini. Membiarkan Catalina memilih langkahnya sendiri. "Sekarang, katakan, apa kau memiliki gambaran atau mencurigai seseorang yang paling mungkin menjadi pelaku?"


Catalina mengangguk. "Ya, aku memilikinya."


Nick menaikkan sebelah alisnya. "Apakah yang ada di pikiranmu sama dengan yang ada di pikiranku?"


Catalina mengangkat bahu. "Mungkin." Namun ia cukup yakin mereka memikirkan hal yang sama.


Tahu bahwa 'pelaku' yang ada di benak Catalina sama dengan 'pelaku' yang ada di benaknya, Nick terkekeh. "Sudah kuduga, kau sangat cerdas." Beberapa hal terkadang jauh lebih mudah untuk di pahami dengan tanpa kata-kata. Jadi, tanpa Catalina mengatakannya, ia sudah bisa mengetahuinya.


"Terima kasih atas pujiannya," balas Catalina. Ia memang tahu siapa terduga pelaku. Tidak. Ia sangat yakin orang itu lah pelakunya. Hanya saja, ia masih tidak mengerti apa motifnya.


Kebencian yang orang itu tunjukkan secara terang-terangan, tatapan ganas, serta aura ingin membunuh, kenapa dia begitu membenci Tatiana dan ingin menyingkirkannya lagi dan lagi?


Haruskah ia menanyakan motif apa yang orang itu miliki kepada Nick? Apakah Nick tahu? Apakah Nick akan menjawabnya?


Entahlah.

__ADS_1


Ia tidak yakin akan hal itu.


Ia tidak yakin Nick mengetahui lebih banyak daripada dirinya.


__ADS_2