
Catalina baru saja menghabiskan mie instannya dan akan pergi mandi ketika ponselnya berdering. Ia mendengus sebelum bergerak menuju ponselnya untuk melihat siapa yang memanggil malam-malam begini. Jika pria itu lagi, demi apapun ia akan membencinya sampai mati.
Saat melihatnya, itu adalah Nick.
"Nick?" Sebelah alisnya terangkat melihat nama pria itu tertera di layar ponselnya. Malam-malam begini, untuk apa bajingan itu menghubunginya? Apa mungkin terjadi sesuatu yang mendesak?
Tanpa membuang waktu, Catalina segera menerima panggilannya. "Halo," ucapnya.
"Halo."
Mendengar suara asing dari balik panggilan, dahi Catalina menyernyit. Ia melihat nomor ponselnya dan.. benar, itu memang nomor Nick. Tapi, siapa itu? Siapa orang di balik panggilan? Kenapa dia menggunakan ponsel Nick? Belum sempat ia memikirkan lebih jauh, suara pria itu kembali terdengar.
"Maaf, bisakah Anda menjemput pria ini? Dia mabuk. Dan dia perlu seseorang untuk membawanya pulang." Ia adalah pelayan club. Ia menghubungi seseorang yang berada di daftar panggilan Nick. Dan itu adalah nomor Catalina.
"Apa?" Catalina tersentak. Nick, pria itu, mabuk?
"Dia mabuk. Bisakah Anda datang untuk menjemput?" Pelayan club kembali mengulang perkataannya.
Catalina menaikan sebelah alisnya. "Aku?" Ia menunjuk dirinya sendiri. Nick mabuk, lalu apa hubungannya dengan dirinya? Ia tidak tahu apapun, oke? Nick pergi sendiri, tidak bersamanya. Jadi kenapa ia harus repot?
"Nona?"
"Tidak bisakah kau melemparnya ke jalanan?"
"Kami tidak bisa melakukannya."
"Kalau begitu, biarkan dia di sana sampai besok."
"Nona, tolong jangan mempersulit saya. Saya hanya pelayan. Saya tidak tahu apapun. Bisakah Anda datang?"
Catalina menjadi geram. Pria itu, kenapa sangat merepotkan? Kemana dia pergi, apa yang dia lakukan, tidak ada hubungannya dengannya, tidak ada urusannya dengannya. Jadi, kenapa harus ia yang repot saat dia membuat masalah? Benar-benar menyebalkan.
"Nona?"
Catalina mendengus. "Ya, katakan, dimana dia. Aku akan datang."
Pelayan club segera memberikan alamat kemana Catalina harus datang. Setelah mengingat alamatnya dengan jelas, panggilan terputus.
Catalina yang belum mandi memutuskan untuk tidak mengganti pakaiannya. Ia hanya mengambil jaket di lemari lalu memakainya. Lalu mengambil tas punggung kecil dan mengisinya dengan ponsel dan dompet. Kemudian ia memakai masker, topi dan sepatu sebelum keluar dari kondomiumnya.
Cukup lama menunggu dan tidak kunjung mendapatkan taksi, Catalina berjalan menyusuri trotoar. Sambil melihat rute di layar ponselnya, setelah setengah jalan, baru ada taksi. Ia naik taksi dan segera taksi membawanya pergi ke club malam. Tidak lupa ia menelepon pelayan yang tadi meneleponnya menggunakan nomor Nick agar menunggunya di depan club malam.
__ADS_1
Catalina tidak pernah datang ke club malam setelah menetap di sini. Menggunakan nama Tatiana, ia harus menjaga citra serta martabatnya. Jadi, Nick mewanti-wanti agar ia tidak pergi ke tempat seperti itu jika tidak ada hal mendesak. Namun apa kabar malam ini?
Nick yang mengingatkan, akhirnya pria itu juga yang membuatnya datang ke tempat seperti itu.
Beberapa saat kemudian taksi berhenti dan Catalina segera turun setelah menyodorkan sejumlah uang. Menghampiri pelayan yang sudah menunggu, Catalina di antar ke lantai dua dimana Nick berada.
Saat pintu terbuka, sesosok pria yang sedang meracau segera tertangkap indera penglihatan. Setelah mempersilahkan pelayan untuk pergi, Catalina masuk dan melepas maskernya. Segera aroma alkohol yang kuat menusuk hidungnya. Ia tidak tahu jenis alkohol apa yang Nick minum. Namun aromanya sangat kuat dan mungkin harganya sangat mahal.
Sebagai gadis yang tumbuh dengan perekonomian lemah, Catalina jarang pergi ke tempat seperti ini. Bukan berarti di Valdes tidak ada. Di sana ada, banyak. Hanya saja, club malam yang sesekali ia datangi, berbeda jauh dengan club malam ini. Harga minuman di sana sangat murah. Sangat-sangat murah. Dan ya, tempatnya juga sangat buruk.
Bagaimanapun, tempat yang ia datangi adalah club malam dengan anggaran kecil. Jadi jangan harap tempatnya bagus. Tidak ada prostitusi di depannya saja sudah untung.
Catalina berjalan menghampiri Nick dan duduk di sampingnya. Ia menghela napas panjang saat melihat pria itu bertingkah aneh seperti orang yang kehilangan kewarasannya. Saat tangan Nick bergerak hendak mengambil minuman lagi, Catalina segera menghentikannya. "Sudah, jangan minum lagi," ujarnya.
Namun Nick mengabaikan perkataannya. Ia bersikeras mengambil gelasnya dan Catalina menangkap pergelangan tangannya. "Aku akan mencekik lehermu jika kau tidak mendengarkan aku," geramnya. Sudah cukup bagus ia tidak menjambak dan menyeretnya keluar dari sini. Tapi pria itu masih berani berulah. Tunggu sampai ia melakukan apa yang ia katakan baru tahu rasa.
Nick menarik tangannya lagi dan kembali duduk dengan tenang. Namun hanya tubuhnya yang tenang, bibirnya terus saja meludahkan omong kosong.
Kesal, Catalina mengambil gelas bersih di atas meja kemudian mengisinya dengan wine yang tadi Nick minum. Mencium aromanya, itu sangat pekat. Melihat label merk di botol, ia menduga Nick menghabiskan banyak uang untuk satu botolnya.
Ia menggelengkan kepala. "Kau benar-benar tahu cara menikmati hidup," gumamnya. Kemudian ia menepuk lengan Nick. "Setidaknya, jika aku tidak bisa membawamu kembali dengan selamat, aku akan mati dengan tenang jika sudah mencobanya." Wine mahal, yang sering ia baca di novel-novel, ia belum pernah mencobanya. Bahkan setelah menjadi Tatiana, Nick tidak pernah memberikan minuman seperti itu. Pria itu bilang, ia tidak boleh minum minuman beralkohol apapun alasannya kecuali dalam keadaan terdesak, pun jika bersamanya. Jika tidak bersamanya, jangan berani mencobanya.
Karena sekarang ada kesempatan, Catalina tidak akan melewatkan kesempatan sebagus ini untuk mencicipinya sedikit.
Ia mendekatkan gelas ke mulutnya dan begitu air berwarna merah transparan itu masuk ke mulutnya dan turun ke tenggorokannya, rasa pahit membuatnya mengeluarkan ekspresi aneh. "Wah." Catalina tidak bisa menahan diri dari kekaguman. Rasanya benar-benar berbeda dengan yang ia minum di Valdes. Dari segi rasa, perbandingannya seperti langit dan kerak bumi. Sejauh itu. Benar-benar jauh.
Tergoda untuk minum sedikit lagi, ia menolak godaan itu dengan tegas. Nick sudah cukup merepotkan, jika bertambah satu orang lagi, dirinya, siapa yang akan mengurus mereka berdua? Bisa-bisa, mereka benar-benar dibuang ke selokan dan menjadi topik utama keesokan harinya.
Catalina menggelengkan kepala. Lupakan tentang minum. Ini bukan waktu yang tepat.
Ia memakai masker lalu bangkit dari duduknya. "Ayo kita pergi." Ia membantu Nick bangun kemudian membawanya keluar dari ruangan dengan susah payah. Perlu banyak waktu, usaha serta kerja keras hanya untuk mencapai pintu. Setelah berhasil keluar, Catalina mengeluh. "Kau ini berat sekali. Berapa banyak sebenarnya dosa yang sudah kau perbuat, huh? Berapa banyak gadis muda yang kau tipu?"
Bukannya menjawab, Nick justru hampir jatuh dan membawa Catalina jatuh bersamanya.
"Sial." Catalina mengumpat. Andai ia tidak bergerak cepat menyeimbangkan diri, ia pasti jatuh di lantai menindih Nick. "Kau, ini, bisa tidak jalan yang benar? Kau hampir membuatku jatuh," gerutunya. "Pegang aku begini." Ia melingkarkan tangan Nick di bahunya. "Sekarang, ayo kita pergi."
Mereka kembali melanjutkan langkah.
Namun tidak seperti yang di harapkan, tidak semudah yang dibayangkan. Tubuh Nick yang tinggi ditambah tangannya yang panjang menyenggol kemana-mana. "Jangan sentuh dadaku, Nick." Catalina mengomeli Nick karena tangannya menyenggol dadanya. Meski tahu Nick tidak sengaja, mustahil ia tidak marah. Ia gadis perawan, oke? Di senggol oleh pria, keperawanannya bisa hilang.
Dan itu terjadi sekali lagi. "Hei, sekali lagi kau menyentuh dadaku, akan ku potong tanganmu." Catalina setengah mengancam. Persetan dengan Nick yang mabuk. Pria itu brengsek bahkan saat sedang mabuk.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, pintu salah satu ruang terbuka dan sesosok pria keluar dari pintu. Dia hampir menabrak Catalina yang sedang kesulitan memapah Nick.
Sedang sulit ditambah menemui kesulitan lain, amarah Catalina kian memuncak. Tanpa melihat siapa dia, Catalina lebih dulu menyemburnya dengan omelan. "Hei, apa kau tidak punya mata? Orang sial mana yang tidak bisa melihat orang lain yang sedang kesulitan?" Ia menaikkan wajah setelah mendapatkan posisi yang nyaman untuk mendongak dan terkejut di detik berikutnya.
Sehan menaikan sebelah alisnya. Melihat siapa yang berdiri di depannya, ia sedikit terkejut. Gadis yang memasukkan nomornya ke daftar hitam dan menghapus pesannya, secara kebetulan berada di sini dan bertemu dengannya.
Apa ini nyata?
Ia memperhatikan gadis itu lekat.
Benar. Dia memang gadis itu. Gadis sial itu.
Seketika ia teringat apa yang dia katakan tentang menyentuh dadanya. Saat omelan datang dari gadis itu dan tertangkap indera pendengarannya, arah pandangnya justru jatuh di dada gadis itu. Mengenakan kain yang hanya menutupi dadanya, dan celana ketat super pendek, gadis itu berani keluar dengan pakaian seperti itu? Siapa yang ingin dia goda?
Catalina terkejut. Saking terkejutnya, pegangannya terhadap Nick melonggar dan seketika pria itu jatuh di lantai. "Ah, Nick, kau tidak apa-apa?" Melupakan tentang Sehan, Catalina bergegas membantu Nick. Ia tidak sengaja menjatuhkannya. Lagipula, siapa suruh bertemu Sehan di sini? Ia kan kaget.
"Aduh." Nick menyentuh pantatnya, setengah sadar. Rasa sakit memaksanya untuk membuka mata dan mencari tahu alasan rasa sakitnya.
"Maaf, Nick, aku tidak sengaja." Catalina membantu Nick bangun dan pada akhirnya berhasil membuatnya berdiri dan bersandar padanya.
"Apa-apaan ini? Dimana aku?" Nick sedikit linglung. Kepalanya berputar seperti komedi putar.
"Diam!" Catalina membentaknya. "Jika bicara lagi, demi apapun, aku akan meninggalkan mu di sini." Itu bukan sekedar ancaman. Catalina serius. Sangat serius.
Nick menutup mulutnya dengan patuh dan kembali memejamkan mata. Menyandarkan tubuhnya sepenuhnya pada Catalina tanpa tahu Catalina hampir mati menahan bobot tubuh Nick yang baginya tidak masuk akal.
"Nick, kenapa kau berat sekali? Dosa apa sebenarnya yang sudah kau lakukan?" Catalina kembali mengeluh. Melupakan tentang iblis, ia frustasi memikirkan Nick. Namun saat teringat iblis itu lagi, ia menghentikan keluhannya.
Bicara tentang iblis, bagaimana mungkin ia bertemu iblis itu di sini?
Catalina memutar otak, berusaha mencari jawaban. Jika bukan untuk bersenang-senang, seharusnya pria itu datang untuk urusan bisnis. Namun ini sudah sangat malam, bisnis apa yang perlu di bahas pada jam ini?
Pria itu, tidak datang untuk mengambil nyawanya, kan?
Catalina menundukkan kepala, tidak berani menatap wajahnya. Pria itu sangat mengerikan. Mengingat ia hanya seorang gadis kecil yang sendirian -Nick yang tidak berguna karena mabuk-, ia takut mati sia-sia di tangan pria itu.
Tetapi, mengingat ketidakakraban di antara Sehan dan Tatiana, seharusnya Sehan tidak mempersulit gadis yang tidak dia pedulikan, kan?
Ya, sepertinya begitu dan seharusnya memang begitu.
Bagaimanapun, Sehan membenci Tatiana, itu adalah fakta. Sebenci itu sampai pada kesimpulan Sehan tidak akan peduli dengan apa yang Tatiana lakukan dan apa yang terjadi padanya bahkan jika dia mati. Jadi, bertingkah layaknya orang asing adalah pilihan terbaik untuk mereka berdua yang notabenenya tidak saling menyukai.
__ADS_1
Sederhananya, orang yang membenci seseorang, tidak ingin melihat wajahnya. Jangankan melihat wajahnya, mendengar namanya pun enggan. Rasa ingin menghindar, rasa ingin menjauh, serta keinginan untuk tidak bertemu adalah yang di rasakan tiap kali memikirkan orang yang dibenci. Seperti yang ia rasakan terhadap Sehan. Seharusnya Sehan juga merasakan hal yang sama. Jadi, sudah pasti Sehan tidak ingin melihat wajahnya.
Sebelum Catalina atau Sehan mengucapkan sesuatu, Ethan membuka pintu dan keluar dari ruangan. Melihat Sehan masih di sana, tidak pergi kemanapun, sebelah alisnya terangkat. "Kenapa kau masih di sini? Aku pikir kau sudah pergi?"