Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 21 • RGSA - Tidak Pernah Jatuh Cinta


__ADS_3

Sehan memarkirkan mobilnya di tempat parkir VIP dan melangkah masuk ke club malam. Berderet di samping mobilnya adalah supercar berbagai warna dan model. Mobil yang setidaknya berharga di atas lima juta dolar itu milik para tuan muda kaya dari keluarga konglomerat.


Di sebuah ruang privat di lantai dua, mereka sudah menunggu kedatangan Sehan.


"Menurutmu, apa yang terjadi dengannya?" Yang pertama buka suara adalah Andreas, tuan muda dari keluarga Herold, Andreas Herold. Selain memiliki wajah yang tampan, Andreas juga kaya raya. Ia mewarisi bisnis perbankan milik orang tuanya dan hidup dengan bergelimang harta.


Menjadi anak semata wayang, Andreas tidak perlu bersaing dengan saudara-saudaranya untuk memperebutkan harta warisan. Ia hidup dengan damai sepanjang hidupnya dan hidup senang dari waktu ke waktu.


"Mana ku tahu." Kali ini, Daniel angkat suara. Pria berwajah tampan berambut pirang itu adalah tuan muda dari keluarga Albern, Daniel Albern.


Keluarga Albern terkenal sebagai keluarga militer secara turun temurun. Biasanya, mereka menikah dengan sesama tentara dan menghasilkan anak yang kemudian menjadi tentara juga. Itu sebabnya mereka memiliki kekuatan serta kekuasaan yang tidak mudah ditumbangkan.


Sekuat itu keluarga mereka hingga tidak ada orang yang berani mengganggu konsistensi mereka di negara ini.


"Dasar, bodoh!" Andreas memaki. "Kau ini, apa yang kau tahu?" Ajakan Sehan yang tiba-tiba agar mereka berkumpul saja sudah sangat aneh. Ditambah, ini sudah malam. Benar-benar membuat orang tidak bisa menahan diri untuk tidak curiga.


"Kau sendiri, apa yang kau tahu?" Daniel tidak mau kalah. Meski mereka berdua sama-sama pria, jika mereka sudah bertemu, mereka berbicara lebih banyak dari wanita. Jadi meski tidak ada wanita di sini, tidak ada sejarah keadaan menjadi sepi.


Sementara Andreas dan Daniel sibuk berdebat, Ethan, menyesap anggurnya dengan santai. Ia duduk di sofa dan tatapannya masih terkunci pada layar ponsel di tangannya.


Ethan adalah yang paling tenang di antara mereka. Ia jarang bicara, namun sekalinya bicara, biasanya menyakiti hati orang. Ketenangannya adalah warisan dari ayahnya yang berprofesi sebagai dokter. Sedangkan bakatnya dalam bidang non akademik, warisan dari ibunya yang merupakan seorang atlet. Itu sebabnya ia sangat pandai dalam olahraga. Apapun itu, ia hampir menguasai semuanya. Alasan itu pula yang membuat Ethan lebih memilih menjadi atlet daripada menjadi dokter.


Saat pintu di dorong dari luar, Sehan muncul dan percakapan seketika terhenti. Tatapan semua orang berpindah ke pintu dan terpaku saat melihat sosok yang datang.


"Ada apa?" Sehan melangkah masuk dan bertanya acuh saat mendapat tatapan aneh dari teman-temannya.


"Wah, lihat, bintang utama kita sudah datang." Andreas menimpali pertanyaan Sehan dengan jawaban yang tidak sesuai pertanyaan. "Duduk, duduk, duduk! Duduk dimanapun yang kau suka." Andreas bangkit dan menuang anggur ke dalam gelas, kemudian berjalan menuju Sehan dan menyerahkan gelas itu padanya. "Untukmu," ucapnya.


"Aku mengemudi." Sehan menyingkir dan terang-terangan menolak gelas anggur dari Andreas. Ia mendudukkan diri di sofa dan menghela nafas panjang.


Mendapat penolakan, ekspresi Andreas berubah masam. "Kau ini." Ia melakukan gerakan memukul. Namun saat mendapat pelototan tajam dari Sehan, ia berpura-pura menggaruk dahinya dan menahan kekesalannya sendiri.


Daniel yang melihat kejadian ini, terkekeh tanpa henti. Ia tampak sangat puas dengan penderitaan yang Andreas alami.


"Ada apa denganmu?" Ethan bertanya. Ia menyimpan ponselnya dan menoleh menatap pria tampan yang duduk di sampingnya. "Jarang sekali kau mengajak keluar. Apa sesuatu terjadi?"


Andreas dan Daniel memasang telinga baik-baik saat mendengar pertanyaan Ethan dan menunggu dengan tidak sabar.


Sehan menyentuh dagu. "Ada apa dengannya?" gumamnya. Ia benar-benar tidak mengerti. Sepanjang jalan menuju ke sini, hanya dia yang ia pikirkan. Bahkan setelah sampai di sini, masih dia yang ia pikirkan.


"Siapa?" Andreas menyahut cepat.


Sehan mengalihkan pandangannya, menatap ketiga temannya. "Gadis itu," jawabnya.

__ADS_1


"Gadis?" Andreas, Daniel dan Ethan bertanya secara serempak. Mereka terkejut dengan apa yang Sehan katakan. "Gadis yang mana?" Daniel menambahkan. Kemudian ia menggeleng. "Tidak. Bukan itu." Terlepas dari itu, yang paling penting adalah, "Kau dekat dengan seorang gadis?" Masalahnya Sehan tidak pernah dekat dengan siapapun. Jadi, gadis mana yang Sehan bicarakan?


Sehan diam, tidak menjawab. Ia adalah tipe orang yang tidak mungkin menjelaskan apapun kepada siapapun. Jadi ia tidak berkeinginan untuk mengatakan apapun tentang gadis sial itu kepada ketiga temannya. Namun apa yang ia lakukan justru membuat ketiga pria semakin penasaran dan sudah memantapkan tekad untuk mencari tahu.


Di atas meja, segala jenis minuman tersedia. Dan semua adalah jenis yang paling mahal. Ethan menuang yang paling rendah alkohol ke dalam gelas kemudian menyodorkannya kepada Sehan. "Minum sedikit. Ini akan membuatmu lebih baik."


Sehan menaikan sebelah alisnya. Menatap gelas di depannya tanpa minat sedikitpun. Ia tidak ingin minum. Ia hanya perlu pengalih perhatian agar tidak lagi kesal terhadap gadis itu. Dan entah kenapa ia merasa sudah datang ke tempat yang salah.


"Ini rendah alkohol. Tidak masalah dengan beberapa teguk." Ethan menjelaskan saat melihat keengganan Sehan.


"Tidak." Sehan kembali menolak tawaran untuk minum. Entah itu rendah alkohol atau tidak, ia tidak ingin menyentuh benda itu sekarang.


Ethan tidak memaksa. Ia meletakkan kembali gelasnya ke meja dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. "Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Juga apa masalahmu dengan gadis itu," ujarnya. "Tapi aku tidak berpikir kau bertingkah seperti ini hanya karena seorang gadis. Pasti ada alasan lain, kan?"


Sehan menyandarkan punggungnya dan menghela nafas panjang. "Jangan bicara lagi. Aku pusing." Kemudian ia memejamkan mata dan mengabaikan orang-orang di sekelilingnya.


Melihat perilaku aneh Sehan, ketiga pria hanya saling memandang dan mengangkat bahu. Mereka tidak tahu kenapa cassanova seperti Sehan bisa menjadi seperti ini. Sangat jarang melihatnya bertingkah seperti itu dan itu sedikit tidak masuk akal.


"Ehm," menghentikan keheningan, Ethan berdehem. "Belakangan ini, aku mengajari seorang gadis bela diri." Karena Sehan sudah mengangkat topik tentang seorang gadis, ia tidak ragu untuk menceritakan kisah dengan tema yang sama.


"Eh? Gadis?" Andreas mengerutkan kening. "Kenapa kalian semua berbicara tentang gadis malam ini? Aish.. sungguh menjengkelkan." Ia mengeluh. Pembicaraan tentang gadis adalah yang paling gila. Dan ia benci itu.


"Memang kenapa jika berbicara tentang gadis?" Daniel melotot. "Deritamu karena tidak punya pacar. Tapi jangan halangi orang lain yang ingin punya pacar." Berpindah dari Andreas ke Ethan, Daniel bertanya, "Siapa gadis itu? Katakan, apa dia cantik?" Sangat jarang di antara mereka membahas tentang gadis, dan pembahasan kali ini sangat menarik karena melampaui pembicaraan yang biasanya hanya tentang bisnis dan keuntungan.


"Dan kau menyukainya?" Daniel sedikit menggoda.


"Aku hanya bilang dia cantik. Aku tidak bilang aku menyukainya," jawab Ethan.


"Lambat laun kau akan menyukainya," sahut Daniel.


"Teori omong kosong macam apa itu?" Ethan tidak terima. Daniel berkata seolah cinta adalah sesuatu yang mudah. Padahal, ya, tentu saja cinta tidak semudah itu. Mungkin.


"Hei, Bung, apa kau tidak pernah dengar, cinta datang karena terbiasa?"


Ethan menggelengkan kepala. "Kau berkata seolah kau ahli dalam percintaan padahal aku tahu betul kau tidak pernah jatuh cinta." Ia menekankan kata-katanya dengan sangat jelas agar Daniel mengerti apa maksud ucapannya.


Lagipula, di antara mereka, memang ada yang pernah jatuh cinta?


Tidak.


Tidak ada satu pun di antara mereka yang pernah jatuh cinta.


Mereka adalah club pria narsis yang berpikir diri mereka sempurna dan tidak ada gadis yang berhak mendapatkan cinta, hati atau diri mereka yang berharga. Jadi, ya, seperti itulah alasan mereka enggan membicarakan para gadis saat mereka berkumpul, dan alasan kenapa mereka masih lajang di usia mereka yang sudah dua puluh delapan tahun. Mereka terlalu sempurna untuk dimiliki oleh gadis manapun.

__ADS_1


Berbeda dengan para pria yang biasanya menyombongkan wanitanya saat berkumpul. Tiap bertemu mereka berempat justru memamerkan pencapaian serta total kekayaan yang mereka miliki hingga kemudian muncul rasa iri dan mereka bersaing secara terbuka untuk meningkatkan keuntungan dan menghasilkan lebih banyak uang.


Daniel menyentuh dadanya. "Kau menusuk tepat di jantungku." Si lidah beracun, agaknya julukan itu memang sesuai untuk kekejaman Ethan dalam berbicara.


Andreas tertawa puas melihat Ethan menjatuhkan Daniel. Itu seperti ia berada di atas awan dan melihat burung yang jatuh karena kelelahan terbang. Ia benar-benar senang. Saking senangnya, ia bahkan berpikir untuk mengadakan pesta sebagai perayaan.


"Lanjutkan!" Sehan tiba-tiba buka suara. Membuat Ethan, Andreas dan Daniel tercengang.


"Apa?" Daniel kebingungan.


"Gadis yang kau ajari," jawab Sehan. Perkataannya merujuk pada Ethan agar melanjutkan ceritanya. Ia tidak tahu bagaimana para gadis menjalani hidup. Tidak. Sebenarnya ia ingin mengalihkan perhatiannya pada hal lain agar tidak menjadi kesal karena memikirkan gadis itu.


Emosinya selalu tinggi dan tidak terkendali jika mengingat bagaimana cara gadis itu memperlakukan dirinya. Dan ia perlu sesuatu sebagai pengalih perhatiannya. Contohnya seperti gadis yang Ethan ceritakan.


"Oh, itu." Ethan mengambil segelas anggur dan menyesapnya sedikit sebelum berdehem dan melanjutkan. "Jadi, gadis itu, dia cantik dan memiliki kemampuan yang lumayan. Aku datang ke kondomiumnya dua kali dalam seminggu untuk menjadi tutornya dan.."


"Tidak." Sehan memotong perkataan Ethan. "Bukan itu," lanjutnya.


"Apa?" Ethan menatap Sehan dengan tatapan rumit. Ia tidak tahu apa maksud Sehan dengan kata 'tidak, bukan itu'. Tadi Sehan sendiri yang berkata agar ia melanjutkan ceritanya tentang gadis itu. Lalu kenapa sekarang dia menghentikannya? Apa mungkin apa yang ia katakan bukan sesuatu yang ingin Sehan dengar?


Sehan mengusap dagu. "Kenapa seorang gadis bisa menjadi begitu berani?" Pada akhirnya titik fokusnya kembali pada Catalina lagi. Ia sendiri jelas tidak menginginkannya. Namun pikirannya benar-benar tidak bisa dihentikan.


"Dia tidak berani," jawab Ethan. "Dia gadis yang baik." Ethan pikir, Sehan berbicara tentang gadis yang ia ajari, itu sebabnya ia mengatakan apa yang ia pikirkan.


"Bukan gadis itu," sahut Sehan.


"Lalu gadis yang mana?" Ethan kebingungan.


Andreas dan Daniel yang menyimak pembicaraan ini sama bingungnya. Melihat wajah Ethan dan berpindah melihat Sehan, mereka saling memandang. Dengan apa yang terjadi, mereka tahu apa yang kedua pria itu bicarakan. Tentang seorang gadis. Ethan dengan gadisnya, Sehan dengan gadisnya. Jadi, mereka berdua benar-benar sudah punya gadis yang mereka suka?


Sehan tertegun. Melihat bagaimana Andreas dan Daniel menatapnya, ia tahu apa yang mereka berdua pikirkan. Jelas bukan sesuatu yang baik. Sebelum keadaan semakin buruk, ia mengibaskan tangan. "Lupakan. Aku harus pergi." Ia bangkit dari duduknya lalu bergegas pergi.


Melihat Sehan pergi, Andreas melambaikan tangan. "Hei, hei, hei, mau pergi kemana kau? Jangan melarikan diri tanpa menjelaskan apapun!" ucapnya dengan teriakan keras.


Namun Sehan tidak berhenti. Ia membuka pintu dan keluar tanpa menoleh ke belakang. Menyisakan ketiga pria dalam keheningan.


Tahu akan menjadi target selanjutnya, Ethan buru-buru pergi mengejar Sehan. "Sehan, tunggu! Ada sesuatu yang harus kukatakan." Ia melarikan diri dengan kecepatan cahaya dan menutup pintu dengan bantingan keras.


Melihat Ethan melarikan diri seperti pengecut, Andreas menoleh menatap Daniel. "Apa kita gagal mendapatkan informasi?"


Daniel mengangguk. "Ya."


"Ah, sialan." Andreas menepuk dahi. Frustasi.

__ADS_1


__ADS_2