
Catalina frustasi.
Ia tidak menduga akhirnya akan seperti ini. Padahal sudah jelas ia tidak boleh dekat bahkan harus menjauhi pria itu. Tapi entahlah, ia benar-benar tidak mengerti bagaimana takdir terus mempertemukan mereka.
Menurut psikologi, selalu ada alasan mengapa kita bertemu seseorang. Entah karena kita membutuhkan mereka untuk mengubah hidup kita atau kita yang akan mengubah hidup mereka. Tetapi, alasan apa yang membuatnya terus-menerus bertemu Sehan? Tidak mungkin mereka terikat pada takdir yang sama, kan?
Mustahil.
Bahkan sebanyak apapun ia memikirkan, ia selalu merasa baik Tatiana ataupun dirinya, tidak ada yang terikat takdir dengan pria dari keluarga Geffrey itu.
"Apa yang kau pikirkan? Kau tidak senang?" Sehan berkata sambil mendudukkan dirinya di sofa. Ia menepuk sofa di sampingnya. "Duduk!" perintahnya, meminta Catalina duduk
Catalina melipat tangannya di dada. "Kau tahu aku tidak senang, dan kau tahu apa alasannya?"
Sehan mengabaikannya. Ia kembali menepuk sofa di sampingnya. "Kemari dan duduk!" ulangnya.
Catalina memalingkan wajah, tidak menuruti perintah Sehan.
"Aku lebih suka gadis penurut. Jadi datang ke sini. Jangan biarkan aku mengulanginya lagi." Ini adalah batas toleransi yang ia berikan pada Catalina. Jika gadis itu menolaknya sekali lagi, dia harus siap menanggung apa yang di sebut menyulut api di lahan kering.
"Sayang sekali, aku bukan tipe menurut," ucap Catalina, berani. Ia tidak memiliki hubungan apapun dengan pria itu, jadi ia merasa tidak harus menuruti semua perkataannya.
Sehan tersenyum miring. "Kau beruntung karena aku tipe pemaksa." Ia mengulurkan tangan lalu menariknya paksa hingga jatuh di pangkuannya. "Bagaimana? Apakah ini adalah trik barumu untuk menggodaku?" Sehan berbisik di telinga Catalina. Ia bahkan menyempatkan diri untuk menjilat daun telinganya.
Catalina tercengang. Tubuhnya membeku.
Menggodanya?
Sebenarnya, siapa yang menggoda siapa?
Bajingan ini benar-benar tidak tahu malu.
"Jangan khawatir, kau berhasil melakukannya." Sehan kembali berbisik di telinga Catalina. Ia memang tergoda. Tidak. Ia sudah tergoda. Dan rasanya menyenangkan bisa melakukan ini dengan gadis yang tiba-tiba berubah menjadi pendiam.
Biasanya dia seperti harimau betina yang siap menyerang. Dan diamnya dia, mungkin dia takut memprovokasinya, bukan secara harfiah, lebih tepatnya memprovokasinya secara seksual.
Merasakan milik pria itu benar-benar menonjol, Catalina yang tidak siap dengan serangan ini, berusaha menjauh namun pria itu menariknya kembali, tidak membiarkannya pergi. Tidak hanya membuatnya duduk di pangkuannya, posisi mereka bahkan semakin intim.
__ADS_1
Catalina merinding. Posisi ini, seperti deja vu.
Wajahnya memerah tanpa sadar
Ia ingat pernah berada di posisi ini saat Sehan datang ke kondominiumnya. Sama seperti malam itu, pria itu juga terangsang dan sesuatu juga mengencang di bawahnya. Ia bisa merasakannya dengan jelas. Ia heran, kenapa hal-hal seperti ini terulang untuk kedua kalinya?
"Apa kau merasa posisi ini tidak terlalu buruk?" Sehan sekarang memiliki hobi baru, yaitu menggoda Catalina. Rasanya menyenangkan melihat gadis itu marah namun menahannya bahkan tiba-tiba wajahnya memerah seolah malu dengan apa yang ia katakan. Ia menyeka rambut panjang Catalina dan menyelipkan di belakang telinganya. "Sepertinya kau mengingat sesuatu? Coba, katakan apa yang kau ingat? Apakah itu sesuatu yang mesum?"
Catalina menggeram, kemudian memalingkan wajahnya. Ia benar-benar tidak tahan lagi. Sejak kapan pria kejam ini menjadi begitu cabul? Apa pria itu bisa menjadi lebih tidak tahu malu lagi?
"Kau malu? Apa yang kau pikirkan sungguh-sungguh mesum?" ucap Sehan lagi. Ini bukan percakapan karena sedari tadi ia hanya bermonolog. Gadis di pangkuannya sudah sangat merah. Marah bercampur malu. Jadi dia tidak mengatakan satu kata pun.
Catalina menggertakan gigi. "Bajingan," gumamnya. Ia terlalu kesal pada Sehan.
Sehan tertawa. Sebenarnya ia merasa kata-kata itu tidak buruk. Ia bahkan selalu merindukan Catalina menyebutnya bajingan.
Melihat Sehan tertawa, Harrison yang baru saja datang dan berjalan ke arah mereka berusaha menyembunyikan senyum. Sangat jarang melihat Sehan tersenyum. Hanya senyum, itu pun benar-benar jarang bahkan nyaris tidak mungkin terjadi. Namun sebenarnya sekarang dia sedang tertawa. Ia tidak tahu mimpi apa ia semalam sampai melihat keajaiban ini.
Melihat kedatangan Harrison, Catalina memelototi Sehan. Sekarang saja ia sudah cukup malu. Ia benar-benar akan kehilangan mukanya jika orang lain sampai mendengarnya.
Harrison berdehem. Dengan kepala menunduk, ia berkata, "Kami sudah menyiapkan kamar tidurnya," ucapnya. "Nona bisa beristirahat sekarang," imbuhnya.
"Kau ikutlah dengannya. Dia akan menunjukkan dimana kamarmu. Kau pasti lelah," Sehan berkata dengan suara lembut.
Catalina menggelengkan kepala. "Aku tidak pergi."
Mendapati gadis ini begitu keras kepala, Sehan masih sangat sabar menghadapinya. "Kau ingin aku mengantarmu secara pribadi? Huh, katakan, kenapa sekarang kau semakin halus dan manis? Kau ingin selalu menempel padaku? Kau ingin selalu bersamaku? Kau tidak tahan berpisah denganku? Kalau begitu.."
"Hentikan!" Catalina memotong perkataan Sehan. Ia menatap Sehan dengan tajam sebelum bangkit dari pangkuannya. "Aku pergi," ucapnya kesal.
Sehan menggelengkan kepalanya. Harimau betinanya, memang menggemaskan.
Harrison menunjukkan jalan dan Catalina mengikutinya dengan patuh. Daripada terus bersama Sehan dengan pikiran mesumnya, lebih baik tinggal di kamar yang sudah di siapkan untuknya. Selain bisa mengambil nafas, ia juga bisa menikmati waktu untuk dirinya sendiri.
Setelah lepas dari Sehan, Catalina baru bisa mengawasi sekeliling. Bukan berarti tadi tidak bisa, ia bisa, hanya saja ia tidak sempat. Fokusnya di curi semua oleh Sehan. Jadi ia tidak sempat memikirkan atau memperhatikan hal lain.
Sekarang karena tidak ada pria itu, ia menjadi lebih fokus dengan hal-hal di sekelilingnya.
__ADS_1
Tidak seperti Sehan yang dingin dan arogan, mansion yang dia tinggali tidak menggunakan warna gelap seperti karakternya. Tetapi menggunakan warna lain yang jauh lebih lembut saat di lihat.
Ia mengawasi sekeliling dengan bingung. Dari luar, mansion ini tampak sangat besar dan mewah. Dan setelah masuk, bagian dalam tidak jauh berbeda dengan bagian luar.
Sekilas lihat, orang langsung tahu jika tempat seperti ini hanya orang-orang kaya yang bisa menempatinya.
Melihat rumah Yoana saja, ia tidak bisa tidak mengaguminya. Padahal itu hanya rumah kecil jika dibandingkan dengan rumah orang kaya yang lain. Sedangkan rumah ini beberapa kali lipat lebih besar dan lebih mewah dari milik Yoana. Yang berarti, ini lah rumah orang kaya yang sebenarnya.
Meski sudah menutupi sifat miskinnya, di hadapkan hal semacam ini, Catalina tidak bisa menahannya lagi. Pada akhirnya ia tetap melihat sekeliling bahkan sampai detail tidak penting seperti tirai dan vas. Tentu saja ia hanya menggunakan pandangan sekilas untuk mencegah Harrison berpikir ia kampungan.
Setelah tiba di lantai dua, Harrison berhenti di depan sebuah pintu dan mempersilahkan Catalina masuk. "Silahkan masuk, Nona," ucapnya.
Catalina melangkah masuk dan Harrison kembali bersuara. "Apa Anda menyukainya? Jika ada yang tidak Anda suka, beri kami waktu, kami akan mengubahnya." Kepuasan Catalina adalah misi penting. Jadi mereka tidak boleh melakukan satu pun kesalahan.
"Tidak, tidak perlu," jawab Catalina. "Aku sangat menyukainya, terima kasih." Kamar tidur sebagus ini, bagaimana mungkin ia tidak suka? Ukurannya saja tiga kali lipat lebih besar dari kamar tidurnya di kondominium. Berpikir ia tidak menyukainya, Harrison pasti bercanda.
"Syukurlah jika Anda menyukainya." Senyum kepuasan tersungging secara alami di bibirnya. "Silahkan beristirahat. Jika makan malam sudah siap, saya akan memanggil Anda. Dan jika ada sesuatu yang Anda butuhkan, silahkan panggil saya," Harrison berkata sebelum pamit undur diri.
Catalina mengangguk seadanya dan setelah pintu tertutup, ia menghela nafas lega. Untuk orang yang terbiasa hidup sendiri dan mandiri, dilayani orang lain adalah sesuatu yang mengerikan. Dan kehidupan seperti ini, ia benar-benar tidak menginginkannya.
Catalina melihat sekeliling dengan sekilas pandang sebelum masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan diri.
Begitu luka-lukanya bersentuhan dengan air, rasa perih segera menyerang dan menumpulkan panca inderanya. Jika sebelumnya hanya sakit, sekarang timbul rasa perih yang luar biasa.
Ia memejamkan mata dan menghayati rasa sakit yang ada. Bukan ia senang dengan rasa sakit. Ia hanya merasa semakin sakit maka semakin hidup. Bagaimanapun, ia hampir mati. Dan setelah lepas dari ancaman kematian, ia memikirkan betapa pentingnya hidup bebas seperti yang sebelumnya ia jalani.
Meski Tatiana hidup berkecukupan, tinggal di rumah mewah, memakai pakaian mahal, makan enak, tetapi jika harus hinggap dari satu kumbang ke kumbang yang lain di bawah ancaman Yoana, betapa tidak bahagia hidupnya.
Ia bahkan cukup yakin Tatiana sangat tersiksa.
Ingin lepas namun tidak bisa.
Terjebak di tempat itu selamanya.
Terbelenggu dalam kubangan dosa untuk waktu yang tidak berujung.
Untuk beberapa alasan, ia bersyukur Tatiana mengalami kecelakaan dan koma. Meski itu tidak pantas, namun ia sungguh mensyukurinya. Karena jika tidak, ia takut tidak akan mengetahui kenyataan gila ini sampai ia mati. Ia takut Tatiana akan terjebak selamanya di kehidupan kelam itu.
__ADS_1