
Catalina tidak tahu alasan kenapa ia menjadi begitu emosional, kenapa ia menjadi sangat sedih. Ia hanya merasa harus benar-benar menjauhi pria itu. Tidak. Ia memang sudah menjauhinya. Namun tiba-tiba dia datang dan mengganggunya.
Keberadaannya yang tiba-tiba membuatnya terusik.
Ia bukan Tatiana. Ia adalah Catalina.
Fakta itu yang membuatnya semakin merasa tidak nyaman.
Bagaimana jika Tatiana tahu apa yang Sehan lakukan padanya? Mengetahui pria yang disukai menyentuh dan mencium gadis lain, bagaimana perasaannya?
Ia tidak bisa menanggung beban kesedihan jika Tatiana menderita karena dirinya. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Ia tidak akan mengampuni dirinya sendiri.
Betapa bodohnya karena teledor hingga memberikan celah kepada pria itu. Sekarang ia menyesalinya.
Catalina bangkit dan mengusap air mata yang tersisa di pipi. Hanya sebentar, dan sekarang ia sudah baik-baik saja. Begitu air mata terhapus dengan sempurna, ia tersenyum seolah yang tadi menangis bukan dirinya.
Sekuat itu.
Ya. Gadis yang tidak punya siapapun, jika tidak kuat, bagaimana ia bisa menjalani hidup? Bagaimana ia bisa bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Bagaimana ia mampu menghadapi para bajingan seperti Sehan?
Tidak di Valdes, tidak di sini, ada saja pria mesum yang hanya tahu cara menindas wanita. Manusia-manusia seperti itu, harusnya ditenggelamkan di samudra Atlantik. Buat mereka menyesal dan mati secara menyakitkan.
Getar ponsel yang terdengar membuyarkan lamunannya. Catalina mengambil ponselnya dan memeriksanya dengan seksama. Untungnya ponselnya tidak apa-apa. Layarnya tidak retak dan tidak ada masalah apapun. Hanya sedikit lecet di salah satu ujungnya, tapi tidak masalah, ia akan menutupnya dengan memasang pelindung ponsel.
Setelah memastikan tidak ada masalah, ia baru melihat pesan yang masuk. Itu adalah pesan dari operator seluler. Pesan yang sangat tidak penting. Namun berkat pesan itu, ia tidak melupakan keberadaan ponselnya.
Catalina berjalan menuju kamar tidurnya dengan helaan napas panjang. Malam ini sudah pasti akan menjadi malam tanpa tidur, lagi.
***
Hari berikutnya.
Pagi menjelang, Catalina menggeliat dalam tidurnya terusik dengan cahaya matahari yang sedikit masuk dari sela-sela tirai. Ia sedikit mendekat dan memeluk boneka beruang yang ada di sampingnya.
Merupakan boneka beruang milik Tatiana.
Ia tidak tahu bagaimana Tatiana memiliki barang imut ini. Namun itu sesuai dengan kepribadiannya. Dan ia merasa nyaman tiap kali memeluknya karena ia merasa seolah itu adalah Tatiana.
Catalina tidak peduli apakah ini masih pagi atau sudah siang, ia ingin tidur sebentar lagi. Tidak. Hanya lima menit.
Ia tidak bisa tidur tadi malam karena memikirkan banyak hal. Salah satunya adalah apa yang dilakukan keparat itu. Bajingan itu menciumnya. Lagi dan lagi. Tidak hanya itu, dia bahkan menyentuh dan memeluknya dengan tidak tahu malunya.
Memang dadanya cukup besar dan menggoda. Tubuhnya juga cukup enak di peluk. Namun ia tidak mengharapkan tunangan adiknya menyentuhnya seperti hewan yang sedang birahi.
Memang dia pikir dia siapa?
__ADS_1
Ah, sial. Memikirkan pria busuk itu kantuknya mendadak hilang. Padahal ia jelas hanya tidur selama beberapa saat. Sekarang kepalanya bahkan berdenyut nyeri.
Ia mengangkat tangannya dan menghalau cahaya yang masuk sebelum membuka matanya. "Sepertinya aku harus mencari obat untuk kepalaku," gumamnya pada dirinya sendiri.
Catalina memaksa tubuhnya untuk duduk lalu tangannya meraih gelas di meja. Meneguk isinya hingga tandas, yang ia lakukan selanjutnya adalah menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
Sambil mengusap wajah dengan handuk, Catalina membuka tirai lebar-lebar. Matanya menyipit sejenak sebelum kembali duduk di ranjang. Kepalanya semakin sakit saat melihat cahaya. Tetapi ia harus tetap keluar. Ia harus membeli obat di apotek untuk meredakan sakit kepalanya.
Jika tidak, takutnya akan semakin parah.
Catalina mengganti gaun tidurnya dan memakai pakaian seadaanya. Setelah memakai topi dan masker, ia keluar dari kondominium dan berlari kecil menuju apotek.
Ini adalah hari yang indah. Setiap hari adalah hari yang indah. Namun sakit di kepalanya membuatnya gagal mengagumi keindahan itu. Ia tidak punya waktu dan tidak punya banyak kesabaran untuk memperhatikan semua keindahan yang selama ini ada di sekitarnya.
Jika itu dulu, ia dengan senang hati akan menikmati setiap detailnya. Namun itu dulu. Banyak hal berubah dan beberapa kebiasaan sengaja di hapuskan. Ia bahkan mulai melupakan bagaimana kehidupannya di Valdes. Seolah tidak boleh terbelenggu dengan kebiasaan-kebiasaan di masa lalu, ia sengaja menutupinya dengan kebiasaan baru.
Kehidupan yang bahkan lebih keras dari batu yang biasa di pijak.
Untungnya jarak kondominium ke apotik tidak terlalu jauh. Hanya perlu beberapa blok sebelum ia tiba di bangunan sederhana dua lantai itu.
Catalina masuk dan pegawai apotek segera memberikan apa yang ia perlukan. Ia hendak meminum langsung obatnya namun pegawai apotek melarangnya. Dia dengan baik hati memberikan sepotong roti sebelum ia meminumnya. Hati kecilnya tidak tahan menerima kebaikan itu dan ia sangat tersentuh.
Catalina berterima kasih sangat banyak sebelum keluar dari apotek dan kembali ke kondominiumnya. Tidak lupa ia mengambil paket pakaiannya di resepsionis dan gadis resepsionis berkata, "Ada orang yang mencari Anda, Nona," ujarnya sembari menyerahkan paket yang baru saja datang kepada Catalina.
Catalina mengerutkan kening. "Mencari ku?" Ia menunjuk dirinya sendiri dengan heran. Pagi-pagi begini, siapa yang datang mencarinya?
Ia segera menggelengkan kepala. Tidak. Tidak mungkin itu Nick. Karena jika pria itu, dia akan langsung masuk tanpa perlu pergi ke resepsionis. Jadi sudah pasti bukan dia. Tapi kalau bukan dia, lalu siapa?
Tidak mungkin Sehan yang datang, kan?
Tiba-tiba Catalina merinding dan beberapa saat kemudian ia terkejut melihat orang yang berjalan menghampirinya. Ia menoleh ke arah gadis resepsionis dan gadis itu mengangguk tanpa ragu. Membenarkan bahwa orang yang mencarinya adalah orang ini.
Catalina menatapnya dan mendadak tidak bisa memikirkan apapun lagi.
Orang ini, mengapa dia datang ke sini?
***
Setelah sarapan, Sehan segera pergi ke perusahaan.
Ia menyibukkan diri dengan membaca materi pertemuan sambil mendengarkan penjelasan Kenny. Saat mengalihkan pandang dan melihat sebuah toko bunga di pinggir jalan, matanya menatapnya dan sesuatu terlintas di benaknya. "Bunga?" gumamnya.
Kenny buru-buru meminta supir menepikan mobilnya dan menoleh ke belakang sebelum bertanya, "Ada apa, Tuan?"
Sehan melihat ke toko bunga dan berkata, "Bunga apa yang paling tepat untuk mengungkapkan rasa penyesalan?" tanyanya. Ia merasa Catalina marah padanya. Tidak. Gadis kecil itu memang marah. Dan ia merasa harus memperbaikinya dengan memberikan sesuatu sebagai permintaan maaf. Kebetulan melihat toko bunga, ia pikir bunga bukan sesuatu yang berlebihan. Ia cukup yakin gadis itu bersedia menerimanya bahkan jika dia tidak menginginkannya.
__ADS_1
Kenny melemparkan tatapan aneh dan menjawab berdasarkan bagaimana ia meminta maaf kepada pacarnya. "Tulip putih atau anggrek putih," jawabnya. Kedua bunga itu merupakan simbol ketulusan, kemurnian, harapan dan pengampunan. Jadi kedua bunga itu sangat cocok dijadikan sebagai buket bunga yang melambangkan permintaan maaf.
Namun Kenny tidak tahu apa yang akan bosnya lakukan dengan bunga-bunga itu. Mungkinkah bosnya ingin meminta maaf dengan memberikan bunga kepada seseorang?
Tetapi siapa 'seseorang' yang beruntung itu?
"Keluar dan beli tulip putih," ujar Sehan. Ia pasti mengejutkannya malam sebelumnya. Apalagi ia berulang kali menciumnya seperti orang mesum. Untuk gadis yang baru pertama kali berciuman, terlebih ciuman itu dilakukan oleh pria yang bukan kekasihnya, gadis itu pasti sedikit tertekan.
Kenny turun dari mobil dan pergi ke toko bunga lalu membeli seikat bunga tulip yang dikemas dengan sangat cantik. Saat ia kembali ke mobil dan hendak masuk, Sehan menurunkan kaca jendelanya. "Kirim bunga ini ke kondominium," ujarnya singkat sebelum menaikan kaca mobil dan mobil bergegas pergi.
Kenny menyaksikan mobil hitam itu bergabung dengan arus mobil dan sebelah alisnya terangkat. Kirim ke kondominium?
Perlu beberapa saat sebelum otaknya terkoneksi dan mengerti apa maksud Sehan. Jadi, dia ingin ia mengirim bunga tulip putih ini ke tempat nona Catalina?
Kenny menurunkan pandangannya ke buket bunga besar di tangannya dan perasaannya menjadi rumit. Untung saja ia selalu menyebut Catalina dengan menambahkan kata 'nona' di depannya. Mungkin karena firasatnya berkata bosnya menyukainya sehingga ia selalu menghormati gadis itu.
Sekarang setelah ia tahu bahwa bosnya benar-benar peduli padanya, ia tidak akan bertingkah tidak sopan atau gegabah lagi seperti bagaimana ia tidak hormat terhadap Tatiana.
Kenny mengikuti perintah dengan naik taksi pergi ke kondominium dan menjaga buket bunganya seperti menjaga anaknya sendiri. Bagaimanapun, ini adalah pertama kalinya bosnya mengirim seikat bunga untuk seorang gadis, dan itu adalah misi penting yang tidak boleh dikacaukan.
Hanya perlu beberapa saat sebelum taksi berhenti di depan gedung kondominium. Setelah turun dari mobil, ia pergi menuju resepsionis untuk bertanya apakah ia bisa bertemu Catalina atau tidak. Selain tidak memiliki akses, ia juga belum menghubungi orang dalam. Jadi dengan terpaksa ia harus mengikuti prosedur yang diterapkan di tempat ini.
"Nona sedang keluar namun mungkin akan kembali dalam waktu dekat," ujar gadis resepsionis dengan ramah.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu," jawab Kenny.
Hanya perlu beberapa menit sebelum Catalina datang. Melihat gadis itu menerima paket dari resepsionis, Kenny berjalan mendekat menghampirinya. "Selamat pagi, Nona." Kenny membungkukkan badan dengan hormat.
"Mengapa kau datang?" Catalina bertanya dengan tidak senang. Segala yang berhubungan dengan Sehan, ia membencinya. Sangat benci sampai rasanya ia ingin menghancurkannya.
"Tuan meminta saya untuk mengirimkan ini pada Anda."
Catalina melirik bunga tulip di tangan Kenny tanpa berniat menerimanya. Bunga tulip putih bisa dijadikan sebagai simbol permintaan maaf. Dan ia langsung mengerti. Jadi, Sehan meminta maaf padanya karena memaksakan dirinya kemarin malam, begitu?
Setelah sekian lama, Kenny meletakkan bunga di tangan Catalina dan memaksanya untuk menerimanya saat menyadari bahwa gadis itu tidak berencana untuk mengambilnya. "Nona, Tuan berharap Anda menyukainya.”
Catalina tidak mempermalukan Kenny dan tidak menolak bunganya. "Baiklah, kau bisa pergi," ujarnya.
Kenny membungkukkan badan dan setelah siluetnya menghilang, Catalina memberikan bunga di tangannya kepada gadis resepsionis. "Untukmu," ucapnya. "Semoga harimu menyenangkan."
Gadis resepsionis membungkukkan badan. "Terima kasih, Nona. Sebaliknya, semoga hari Anda juga menyenangkan."
Catalina mengangguk kecil sebelum naik ke unit kondominiumnya.
__ADS_1
Setelah membuka pintu dan masuk ke dalam, ia meletakan paketnya lalu membaringkan tubuhnya di ranjang. Obat yang ia minum menyebabkan kantuk. Belum lagi ia memang kurang tidur, lengkap sudah alasan matanya menjadi begitu lengket.
Tanpa melihat sudah jam berapa sekarang, Catalina memejamkan mata dan bergegas pergi ke alam mimpi.