
Sehan baru saja keluar dari perusahaan. Ia duduk di kursi penumpang dan mobil melaju pergi bergabung dengan arus kendaraan di jalan raya.
Ia menatap ke luar jendela memandang gemerlap malam kota London.
Ini adalah kota tempat ia di lahirkan. Di sini pula base utama bisnis keluarga Geffrey. Selama dua puluh delapan tahun ia hidup, banyak hal terjadi. Dari yang dangkal hingga yang hambar, dari yang kecil hingga yang besar, dari yang biasa saja hingga yang tidak berguna.
Namun baru-baru ini, rasa hampa yang sebelumnya selalu ia rasakan perlahan mulai ada rasanya. Entah apa yang membuatnya menarik, entah apa yang membuatnya begitu menyenangkan, namun segalanya tentu tidak begitu saja terjadi.
Ada awal mula, ada penyebab, ada yang mempelopori.
Namun apakah itu, atau siapakah itu?
Jawabannya sudah sangat jelas.
Pandangannya tanpa sengaja menangkap sosok seorang gadis yang sangat ia kenal. "Hentikan mobilnya," ucapnya pada pengemudi.
Pengemudi adalah orang yang sangat profesional, meski penasaran dengan keinginan bosnya yang tiba-tiba, ia tidak berkata apapun dan segera menepikan mobilnya.
Ia mengintip melalui spion dan melihat bosnya tampak fokus memperhatikan sesuatu di luar. Ia mengikuti arah pandanganya secara diam-diam dan melihat seorang gadis duduk di halte bus. Dari wajahnya, ia tahu dia adalah gadis yang tempo hari berbicara sangat akrab dengan bosnya di dalam mobil. Tidak heran, bosnya segera mengenalinya walau hanya sekilas lihat. Ternyata.. hehe. Ia tersenyum di dalam hati.
Sehan memperhatikan sosok itu lekat.
Tidak salah lagi. Itu Catalina.
Benar. Dia memang Catalina, gadis yang duduk di halte bus.
Tapi apa yang dia lakukan di sana? Sendirian?
Sejak tahu gadis itu bukan Tatiana, ia tidak lagi meminta orang untuk mengawasinya, begitu juga dengan Nick. Ia percaya tidak ada yang aneh dengan mereka. Jadi ia tidak tahu dimana dan kemana Catalina pergi dalam kesehariannya.
Siapa yang menyangka ia akan melihatnya di sini?
Dengan rokok yang terselip di antara jemarinya, juga penampilan yang tampak menawan, apa yang sedang dia lakukan? Tanpa masker? Tanpa topi? Dan tanpa kacamata? Apa gadis itu tidak takut seseorang mengenalinya?
Ia sedikit marah, namun saat memperhatikannya dengan lebih teliti, gadis itu tampak tidak sedang baik-baik saja.
__ADS_1
Apa ada sesuatu yang terjadi?
Ia melepas sabuk pengaman lalu turun dari mobil dan menghampiri gadis itu.
Meski tampak nakal dengan rokok di antara jemarinya, namun ia tahu Catalina gadis baik-baik. Dia bukan pecandu obat-obatan terlarang. Dia bukan kupu-kupu malam. Dia sangat bersih. Tidak hanya tubuhnya, tapi juga hatinya.
Melihat seseorang berhenti di depannya, Catalina mendongak dan menyadari jika itu adalah Sehan. Ia menyernyit, kenapa pria itu ada di sini?
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sehan. Melihat Catalina melipat kakinya, gadis itu tampak sangat menyedihkan. Selain lelah dan lesu, pakaiannya juga sedikit berantakan. Ada lecet di tangan dan di kakinya. Dan ia segera tahu sesuatu memang sudah terjadi.
Untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, ia menyesal karena tidak mengawasinya. Jika ia tidak menghentikan pengawasan, hal-hal seperti ini tidak akan terjadi. Pada akhirnya ia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada gadis itu.
"Jangan pedulikan, ini bukan urusanmu, " jawab Catalina, acuh.
Sehan mendudukkan diri di samping Catalina lalu mengambil rokok yang terselip di jemarinya dan membuangnya. "Jangan merokok," ucapnya. "Tidak baik untuk kesehatanmu," imbuhnya.
Catalina tercengang, namun tidak mengatakan apapun.
Sehan menarik tangan Catalina dan memeriksanya. "Apa yang terjadi?" Luka lecet itu benar-benar parah. Dan itu ada di keduanya tangannya.
"Sakit," ucapnya. Matanya secara alami memerah, dan air mata benar-benar jatuh. Ia merasa dirugikan. Ia dianiaya. Meski bukan Sehan yang menyebabkan rasa sakit, dan tentu saja rasa sakit itu tidak seberapa, namun hatinya sungguh sangat sakit.
Sehan terkejut. Mungkin ia sendiri tidak menyangka bahwa hanya menyentuh tangannya akan membuatnya menangis karena dianiaya. Ia bahkan belum melakukan apapun.
Namun, ia sebenarnya terluka oleh tatapan ini. Ia tidak tahan. Lelucon macam apa ini? Ia tidak tahan terutama dengan sepasang mata yang cantik dan basah itu.
Bagaimana mereka memasuki hatinya dalam waktu sesingkat itu? Itu sedikit tidak masuk akal.
“Kenapa kau menangis? Aku tidak menyentuhmu dengan keras?" Sehan berbicara dengan sangat lembut. Setelah mengatakan ini, kekuatan di tangannya mengendur. Bahkan mungkin ia sendiri tidak menyadari bahwa toleransinya terhadap Catalina telah melampaui imajinasinya.
Catalina tidak menjawab. Ia menarik tangannya dan menghapus air mata di pipinya. Ia sudah menahan air matanya sejak masih di rumah itu, namun anehnya ia tidak lagi bisa menahannya setelah kedatangan Sehan. Ia pun tidak mengerti. Kenapa pria itu selalu memberikan perasaan aneh yang tidak dapat ia pahami?
Sehan menariknya ke dalam pelukannya. Kemudian ia mengusap punggungnya. "Sudah tidak apa-apa," ucapnya. "Ada aku di sini. Kau akan baik-baik saja."
Catalina tidak menolak. Pada saat ini ia bahkan tidak tahu sikap seperti apa yang ia miliki terhadap Sehan. Namun sangat jelas bahwa ia tidak menolak pria ini. Benar, ia tidak menolaknya. Ia tidak menolaknya sama sekali.
__ADS_1
Meskipun pria ini kejam, namun pria ini sangat baik terhadapnya,
Namun kebaikan itu pula yang membuatnya semakin merasa bersalah. Tatiana bukan gadis baik-baik. Dia tidur dengan semua pria. Dia kotor dan ternoda. Bagaimana mungkin ia membiarkan Sehan berhubungan dengannya?
Meski Sehan adalah iblis, namun Sehan tidak pernah menyiksanya. Dari awal hingga akhir, dia tidak pernah melakukan hal yang buruk kepadanya. Paling-paling dia hanya akan bersikap mesum dan cabul.
Jadi pada tahap ini, ia berpikir untuk menjauhkan Tatiana darinya. Yang itu berarti, ia akan menjauhinya. Semakin jauh semakin baik.
Sehan melonggarkan sedikit pelukannya. "Ini sudah malam. Masuk ke mobil." ucapnya. "Aku akan mengantarmu pulang."
"Terima kasih namun itu tidak perlu," jawab Catalina. Ia menjadi jauh lebih tegar setelah mengeluarkan beberapa tetes air mata. Apalagi setelah memiliki rencana dan tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya, ia tidak lagi kebingungan.
"Jangan pancing aku, Tatiana."
Mendengar nama Tatiana di sebutkan, sekali lagi Catalina terperangkap dalam imajinasinya. Nama itu, tidak pantas bagi Sehan untuk menyebutkannya.
Catalina menyingkirkan tangan Sehan. "Aku tidak memancingmu. Silahkan pergi! Semoga malammu menyenangkan." Catalina menempatkan sepatu di bawah kemudian memakainya. Setelah itu ia bangkit dan perlahan pergi.
Sehan menghela nafas berat. Gadis itu, apa yang terjadi padanya? Baru saja dia sangat bergantung padanya, kenapa dalam sekejap dia sudah membuangnya?
Catalina tidak lagi memikirkan Sehan. Namun tiba-tiba tubuhnya melayang dari tanah. Sehan menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam mobil. "Apa yang kau lakukan?!" Catalina sedikit panik saat Sehan memasukkannya secara paksa ke dalam mobil. Baru saja ia bertekad untuk menjauhi pria itu. Namun pria itu lagi-lagi memerangkapnya. Bagaimana ini?
Begitu Sehan masuk, pintu terkunci dan mobil segera melaju di jalan raya. "Ternyata aku bukan pria yang sabar." Sehan berkata mengomentari sikapnya sendiri yang tidak bisa sabar menghadapi keacuhan atau penolakan gadis itu.
Catalina menghela nafas kasar kemudian diam dan mengambil jarak sejauh yang dia bisa dari Sehan. Dia sudah bertekad untuk menjauhinya, jadi tidak ada yang bisa mengubah tekad itu.
Melihat ini Sehan menyernyit. "Tadi kau memelukku, sekarang kau mencampakkan ku? Kenapa kau kejam sekali kepada priamu sendiri, huh?"
Pengemudi yang sedang fokus dengan kemudinya terkejut. Apa bosnya baru saja mengatakan bahwa dia adalah prianya? Ia mengintip melalui spion. Ia tidak menyangka kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulut bosnya yang tidak memiliki hati. Benar-benar keberuntungannya karena melihat keajaiban seperti ini.
Bukan hanya pengemudi, Catalina tidak kalah terkejut. "Pri, priamu?" Catalina sedikit ketakutan. Darimana Sehan menemukan kosakata semacam itu?
"Kita bertunangan dan berciuman, kau lupa?" Sehan berkata tanpa mengedipkan mata.
Catalina terkejut sekali lagi. Apa-apaan orang itu? Sejak kapan dia menjadi prianya? Hanya karena bertunangan dan pernah berciuman, dia menganggap dirinya sendiri sebagai prianya, begitu?
__ADS_1
Catalina menggelengkan kepala. Pria itu sangat tidak masuk akal.