Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 91 • RGSA - Tidak Menyukai Keluarga Addams


__ADS_3

Raphael tertegun. Sehan mengajaknya bermain catur?


Raphael menatap putranya dengan tidak percaya. Apakah ini mimpi? Seorang Sehan, mengajak bermain catur? Ini pasti tidak benar. Bagaimana mungkin orang seperti dia ingat untuk mengunjungi ayahnya dan bahkan mengajaknya bermain catur?


"Kau tidak mau?" Sehan kembali buka suara.


Raphael tersadar dari lamunannya dan baru menyadari jika ini bukan mimpi. "Ambil caturnya!" ucapnya kemudian. Kapan lagi Sehan mengajaknya bermain? Ada kesempatan bagus, ia tidak akan melewatkannya.


Sehan mengambil papan caturnya di lemari kemudian mendudukkan diri di kursi. Ia mulai menata bidak catur di atas papan. Warna putih untuk ayahnya dan warna hitam untuknya.


Duduk di hadapannya adalah Raphael yang tampak sangat serius. Raphael hanya memperhatikan ketika putranya menata bidak catur. Tidak berniat membantunya.


"Dadd, kau dulu!" ucap Sehan setelah selesai menata.


Raphael memulai langkah pertamanya dan berkata, "Apa ada masalah?" Putranya yang acuh dan jarang datang, ketika menjadi ramah dan tiba-tiba datang, ia merasa ada sesuatu yang terjadi. Mungkin ini yang dinamakan insting orang tua. Peka terhadap permasalahan anak-anaknya.


"Kau tidak turun? Bukankah ada keluarga Addams di bawah?" Mengabaikan pertanyaan ayahnya, Sehan mengajukan pertanyaan lain sambil memulai langkah pertamanya.


"Mereka adalah tamu ibumu," jawab Raphael. Meski ia tidak membenci keluarga Addams, namun bukan berarti ia menyukainya. Ia hanya tidak membencinya.


"Yang artinya mereka juga tamumu," Sehan menimpali. "Kau lupa, dia bertunangan dengan Lexus?" 'Dia' yang Sehan maksud adalah Pamela. Menantu yang sangat ibunya inginkan.


Namun, melihat bagaimana reaksi ayahnya, pria itu tampak tidak begitu menyukainya. Yang itu berarti, selain ibunya, tidak ada yang menyukainya. Kecuali Lexus. Karena Lexus bersedia menjadikan gadis itu sebagai tunangannya, mungkin Lexus menyukainya.


Raphael tersenyum kecil. "Aku hanya mengikuti apa yang ibumu inginkan," sahutnya. "Kau tahu, dia bisa bunuh diri jika aku mengganti menantu perempuan. Maksudku, calon istri Lexus. Tidak peduli apakah aku suka atau tidak, ibumu adalah yang terpenting. Dan aku menghormati pilihannya." Raphael adalah pria yang baik. Suami sekaligus ayah yang baik. Terlepas dari bagaimana ia tidak menemui keluarga Addams, namun jauh di lubuk hatinya, yang ia inginkan hanyalah kebahagiaan keluarganya. Terutama istrinya.


Sehan terkekeh. Mendengar jawaban ayahnya, ia semakin ragu untuk mengatakan apa yang sebenarnya ingin ia katakan. Kesehatan mental ibunya sangat buruk dan ya.. itu adalah hal yang ia takutkan. Jika ia mengungkapkan kebenarannya, ia takut kehilangan ibunya untuk selamanya.


"Kenapa kau tertawa? Apakah itu lucu?" tanya Raphael.


"Tidak." Sehan menggeleng. "Aku hanya berpikir, kau sangat mencintainya rupanya." Lucu sekali. Ia juga mencintai Catalina. Sangat mencintainya. Namun ia masih tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Antara ibunya yang depresi atau Catalina yang di celakai orang, ia takut menghancurkan keselarasan yang sekarang sudah membaik.

__ADS_1


"Kau pikir aku tidak?" Raphael tertawa. "Jika aku tidak mencintainya, kau tidak akan ada di dunia ini."


"Kau benar."


Melihat putranya bertingkah sangat aneh, Raphael semakin curiga. "Jangan bahas mereka. Ceritakan tentang dirimu." Ia menduga Sehan sedang berselisih dengan Catalina. Itu hanya dugaannya. Namun dari gerak-geriknya, sepertinya begitu.


"Apa yang harus diceritakan tentang diriku?"


"Apapun." Raphael menyentuh dagu. "Em.. bagaimana dengan kehidupan asmara mu? Apakah semuanya baik-baik saja?"


"Mm. Semuanya berjalan baik." Setidaknya sejauh ini semuanya masih baik-baik saja. Tidak ada masalah yang berarti. Belum ada masalah yang gagal ia tangani.


"Baguslah. Aku sempat khawatir kau tidak memperlakukannya dengan baik," sahut Raphael.


"Atas dasar apa kau menyimpulkan hal seperti itu?"


"Karena kau bukan orang yang romantis."


"Itu karena kau tidak tahu."


Sehan mengangguk. "Mm."


Sedang sibuk berbincang, tiba-tiba pintu di buka dari luar. Namun baik Raphael atau Sehan, tidak ada yang menoleh. Keduanya tetap sibuk dengan permainan mereka karena mereka sudah tahu siapa yang masuk tanpa mengetuk pintu.


"Kalian benar-benar mengabaikan keluarga Addams?" tanya Sarah sambil berjalan menuju Raphael. Pertanyaannya ia tujukan untuk dua pria yang sedang sibuk bermain catur.


Raphael dan Sehan saling memandang.


"Aku sudah bilang, aku tidak membenci mereka, namun jangan paksa aku untuk menyukainya." Raphael menanggapi perkataan Sarah.


"Aku juga," Sehan menyahut. Ia tidak berinisiatif memberi jawaban justru memilih untuk meniru jawaban Raphael.

__ADS_1


Raphael menatap Sehan dan sedikit mencibir. Namun ia merasa benar karena Sehan setuju dengan jawabannya. Masing-masing orang memiliki prinsipnya sendiri. Mereka memiliki apa yang mereka sukai dan tidak. Ia tidak menyukai keluarga Addams, tidak ada yang bisa mengubah itu.


Ia masih ingat bagaimana arogannya keluarga itu setelah putrinya berhasil menjadi tunangan Lexus. Dengan alasan bayi yang mati, mereka memanfaatkan Lexus untuk memenuhi keinginan mereka. Dibanding keluarga Atkinson, mereka tampak sedikit lebih baik. Namun jika diperhatikan lebih teliti, mereka tidak jauh berbeda.


"Baiklah, aku tidak akan mengatakan apapun lagi," ujar Sarah. "Namun kau harus ingat, dia melahirkan cucumu. Putra Lexus adalah cucu kita." Tidak lupa ia memperingatkan suaminya untuk tidak melupakan keberadaan bayi itu.


"Melahirkan cucuku? Cucu yang mana? Aku tidak merasa memiliki cucu." Raphael berkata dengan santai. Suaranya datar dan tenang. Namun makna yang tersirat cukup dalam dan tidak terukur. Lagipula janin itu sudah di kuburkan dan sekarang sudah tidak ada lagi. Ia tidak mengerti kenapa hal-hal yang sudah lama berlalu harus di ungkit lagi.


"Meski bayi itu sudah mati, namun bayi itu tetap memiliki darah keluarga kita, Raph."


Raphael menghela nafas gusar. Daripada memperpanjang masalah, ia memutuskan untuk diam. Pembahasan ini, selalu memuakkan. Ia bosan mendengar kata-kata ini tiap keluarga Addams datang berkunjung. Entah apa yang mereka katakan pada istrinya. Namun mungkin itu bukan sesuatu yang baik.


Melihat Raphael diam, Sarah berniat mengatakan sesuatu ketika suara Sehan tertangkap pendengarannya.


"Mom." Melihat perdebatan kecil ini, Sehan buka suara. Bukan untuk menghentikan perdebatan, tetapi ia ingin tahu bagaimana reaksi ibunya tentang satu hal yang cukup penting.


Sarah menelan kembali semua perkataannya. Sebagai gantinya, ia menoleh, menatap Sehan. "Iya, sayang?"


"Bagaimana pendapatmu jika dia tidak menjadi menantumu dan mereka tidak menjadi besanmu?" Sehan bertanya dengan hati-hati. Seperti yang ia katakan sebelumnya, kesehatan mental ibunya tidak terlalu baik. Ia takut pertanyaan ini akan mempengaruhinya.


Sarah tercengang sesaat sebelum berjalan menuju Sehan dan berbisik di telinganya. "Maka, kau akan melihat kematianku." Dengan begitu, ia berjalan menuju pintu dan keluar tanpa mengatakan apapun lagi.


Sehan menghela nafas panjang. Sudah ia duga jawaban seperti ini yang akan ia dapatkan jika bertanya pada ibunya. Namun meski sudah tahu hasilnya tidak akan berbeda, ia masih saja bertanya. Betapa bodohnya ia mengharapkan hasil yang berbeda padahal itu tidak mungkin.


"Jangan ambil hati apa yang ibumu katakan. Dia memang seperti itu," ujar Raphael ketika melihat putranya tampak tertekan. "Kau ingat saat kakek dan nenekmu meninggal?"


Sehan mengangguk. "Kau pernah menceritakannya."


"Saat itulah Sylvie datang dan menghiburnya. Sejak saat itu, ibumu menganggapnya seperti adiknya sendiri." Kejadian itu terjadi bertahun-tahun yang lalu ketika adik perempuannya di selingkuhi oleh suaminya.


Karena tidak bisa menahan rasa sakit karena di khianati, adik perempuan Sarah mati bunuh diri. Sejak saat itu, kondisi seluruh anggota keluarga tidak terlalu baik. Ayah dan ibu Sarah dilanda kesedihan dan mati secara bergantian. Menyisakan Sarah seorang diri.

__ADS_1


Pada saat itu, Sarah belum menikah dengannya.


Meski Sarah berhasil membalaskan dendam adik dan seluruh keluarganya, namun itu tidak merubah apapun. Yang mati tidak akan pernah kembali.


__ADS_2