
"Tuan." Kenny masuk ke ruang kerja Sehan dengan terburu-buru. Ia menerobos masuk sampai tidak mengetuk pintu.
Sehan yang melihat ini mengerutkan kening. "Rapat masih setengah jam lagi. Kau tidak perlu berlarian seperti itu," ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen di tangannya.
Kenny menghentikan langkah di depan meja Sehan kemudian membungkukkan sedikit badannya. "Maaf, Tuan, ini bukan tentang rapat. Ini tentang Nona Catalina."
Mendengar nama Catalina, pergerakan Sehan berhenti. Ia menaikkan wajah, menatap Kenny. "Ada apa? Katakan!" Melihat bagaimana ekspresi Kenny, sesuatu yang buruk pasti terjadi. Firasatnya berkata seperti itu. Meski tentu saja ia berharap firasatnya tidak benar.
"Mobil yang membawa nona Catalina keluar dari lokasi syuting, mengalami kecelakaan," Kenny tergesa-gesa menjelaskannya. "Saya sudah memesan tiket pesawat untuk Anda. Supir sudah menunggu Anda di bawah. Saya akan mengurus pekerjaan Anda di sini." Saat menerima panggilan dari orang-orangnya di kota itu, Kenny langsung menyiapkan semuanya. Jadi ketika masuk ke ruang kerja Sehan, ia sudah siap mengatakan kalimat itu kepada pria itu.
Sehan tercengang. Catalina kecelakaan? Bagaimana mungkin? Tidak. Ini pasti salah. Gadisnya baik-baik saja. Lebih dari baik-baik saja.
Tahu apa yang Sehan pikirkan, Kenny kembali buka suara, "Saya tahu Anda sulit mempercayainya, namun saya harap Nona baik-baik saja. Jika Anda ingin pergi, Anda bisa pergi sekarang." Kenny mengulangi perkataannya.
Sehan bangkit dari kursinya dengan linglung.
Ia masih tidak percaya.
Bagaimana mungkin ia mempercayai sesuatu yang buruk menimpa gadisnya? Lima hari yang lalu, gadis itu baik-baik saja. Karena tahu dia akan menyelesaikan syutingnya hari ini dan mengejar penerbangan malam, ia yang seharusnya mengunjunginya, tidak melakukannya.
Melihat Sehan tampak kebingungan, sebagai asisten profesional, Kenny bergerak cepat mengambil jasnya lalu membantunya memakaikannya dan meraih ponselnya dan memasukannya ke dalam saku celananya. Gerakannya sangat cepat dan hanya perlu beberapa detik sampai Sehan siap untuk pergi.
"Tuan, sekarang!" ucap Kenny lagi.
Sehan mengangguk. Ia keluar dari ruangannya dan bergegas pergi ke bandara.
Ketika sampai di Newcastle upon Tyne setelah membatalkan dua rapat penting, Catalina sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.
Begitu melihat gadis itu terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan infus yang terpasang di punggung tangannya, Sehan menghela nafas lega. "Syukurlah." gumamnya. Meski tidak sadarkan diri, setidaknya dia tidak mengalami cedera serius. Hanya luka luar, tidak ada luka dalam. Itu yang dokter katakan.
Sehan berjalan menghampiri gadis itu dengan langkah lesu.
Melihat wajah lelahnya tertidur lelap, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Wajahnya yang cantik, wajah yang biasanya menunjukkan ekspresi senang saat melihatnya, kini terdapat luka gores serta memar yang cukup parah. Tidak hanya itu, perban juga melingkar di kepala dan tangannya.
__ADS_1
Ia tidak tahu apa yang terjadi. Namun melihat bagaimana luka bertebaran di tubuh gadis itu, ia tidak dapat membayangkan bagaimana takutnya dia ketika mobil yang dia tumpangi meluncur ke jurang.
Sehan mendudukkan diri di kursi yang terletak di samping ranjang dan tangannya menggenggam tangan Catalina erat. Ia menundukkan kepalanya, bingung.
Beberapa saat kemudian ia menaikkan wajah dan menatap Catalina dengan tatapan rumit. "Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan, Catalina?" Ia menjeda sebentar kalimatnya. "Aku tidak tahu lagi. Benar-benar tidak tahu."
***
Kegelapan menyelimuti sebelum perlahan berubah menjadi cahaya terang.
Catalina membuka matanya dan segera di butakan oleh cahaya yang menyilaukan.
Apakah ini mimpi?
Catalina bertanya-tanya ketika pandangannya menangkap sesosok gadis kecil yang sedang bermain di halaman. Dari wajahnya, Catalina dapat mengenalinya hanya dengan sekali lihat.
"Tatiana," gumamnya. Benar. Gadis kecil itu adalah Tatiana. Namun anehnya, kenapa tubuhnya tidak mengecil. Ia adalah dirinya yang sekarang. Sedangkan Tatiana, kenapa Tatiana yang ia lihat berubah menjadi kecil?
Tatiana menoleh ketika mendengar namanya di panggil. "Kakak, kau memanggilku?" Ia berlari kecil menghampiri Catalina dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya dan ia menghentikan langkah tepat di depan Catalina.
"Tentu saja, ini aku," jawab Tatiana. "Apa kau melupakanku?"
Catalina menggeleng. Air mata menggenang di matanya dan ia tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan Tatiana.
Wajah Tatiana, bagaimana mungkin ia melupakannya?
Wajah itu yang terus menghantuinya selama ia hidup. Menghantuinya seperti mimpi buruk tiap kali ia memejamkan mata. Mengganggu dan terus mengganggunya dari waktu ke waktu.
Ketika tiba-tiba melihat wajah kecil Tatiana, juga panti asuhan yang dulu mereka tinggali, ia menduga ini adalah bentuk penyiksaan lain yang Tatiana berikan.
Jadi, apakah ini penyiksaan yang terjadi di alam baka? Apakah ini akhirat yang sering di bicarakan oleh banyak orang? Apakah ia sudah mati? Benar-benar sudah mati?
"Kakak, kenapa kau di sini?" tanya Tatiana. Ia menatap Catalina dengan bingung.
__ADS_1
Pertanyaan Tatiana menyentak lamunan Catalina. Catalina mengulas senyum kecil. "Kenapa aku di sini? Entahlah. Aku juga tidak tahu. Mungkin karena aku merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu." Ia menarik tubuh kecil Tatiana lalu memeluknya erat.
Kapan terakhir kali ia memeluk Tatiana seperti ini?
Itu sudah sangat lama.
Namun ia tidak pernah melupakan rasanya. Kehangatannya, ia tidak pernah melupakannya.
"Kenapa kau tidak kembali?" tanya Tatiana lagi.
Catalina tercengang. Ia melonggarkan pelukannya. "Kembali kemana?"
"Kembali ke tempat dimana seharusnya kau tinggal."
Catalina tercengang sekali lagi. "Aku tidak bisa kembali," gumamnya. "Lagipula, aku datang untukmu. Aku tidak akan kembali tanpamu." Ia meraih tangan Tatiana lalu menggenggamnya. "Percayalah, kali ini aku tidak akan meninggalkan mu. Benar-benar tidak akan." Catalina sudah bersumpah di dalam hatinya, di masa depan, dimana pun ia berada, ia akan selalu bersama Tatiana. Tidak peduli apa, mereka tidak boleh berpisah lagi.
Sekarang, setelah bertemu dengan gadis itu dalam keadaan bangun, ia tidak mungkin melepaskannya. Bahkan jika tubuh Tatiana menjadi kecil dan kembali menjadi anak-anak, tidak ada masalah dengan itu. Ia selalu bisa menerimanya.
"Tapi, Kak, aku tidak bisa pergi denganmu. Ini tempat tinggalku, bukan tempat tinggalmu. Kau harus pergi tanpa aku. Aku akan menyusulmu nanti. Setelah semuanya selesai." Tatiana berkata dengan murung. Ia mendorong Catalina dan berlari menjauhinya.
"Tatiana," Catalina memanggil namanya namun gadis itu terus berlari meninggalkannya. "Tatiana, jangan tinggalkan aku. Ayo kita pergi bersama. Kembali ke tempat asalku, ke tempat asal kita." Namun sunyi. Tidak ada suara.
Dalam sekejap, cahaya perlahan menghilang, menyisakan kegelapan yang panjang sebelum Catalina membuka matanya dan merasa hampir dibutakan oleh cahaya redup yang lembut.
Butuh beberapa saat sebelum matanya berkedip dengan terbiasa.
Dimana ini?
Bingung, ia melihat sekeliling ruangan.
Ketika pandangannya menangkap sesosok pria yang sedang duduk di sofa, tampak sibuk dengan laptopnya, sebelah alisnya terangkat. Jadi, semua itu hanya mimpi? Pertemuannya dengan Tatiana? Perbincangannya dengan Tatiana?
Pantas tubuh Tatiana mengecil, ternyata semua itu hanya mimpi.
__ADS_1
Catalina berusaha menata pikirannya, dan ketika teringat sesuatu yang penting, ia terkejut dan matanya membulat. Stacey? Ia ingat mengalami kecelakaan mobil dengan gadis itu.
Tetapi ketika tidak melihat Stacey dimana pun, Catalina memaksa tubuhnya untuk bangun. Rasa sakit di tubuhnya bahkan ia abaikan. Ia menatap Sehan dengan tatapan rumit sebelum berkata dengan suara keras. "Stacey, dimana Stacey?"