Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 28 • RGSA - Kau Merokok?


__ADS_3

Catalina melipat kakinya dan menyembunyikan wajahnya.


Ia merenung untuk waktu yang lama.


Tidak merasa lebih baik, ia mengambil rokok dan menyalakannya.


Siapa yang menduga akhirnya akan seperti ini? Beberapa saat yang lalu, ia dan Nick masih mencurigai Sehan. Namun sekarang ia justru mencurigai Nick. Sebuah pembalikan keadaan yang membuatnya sangat-sangat tidak tenang.


Ia cukup yakin Nick tidak memiliki niat jahat.


Ia dapat merasakannya.


Lalu ia juga berpikir Sehan tidak sejahat itu.


Bukan karena uang yang Sehan berikan, bukan juga karena ciuman cabul itu. Ia hanya merasa Sehan cukup tulus kepada Tatiana. Meski sedikit terlambat, mungkin karena komunikasi yang tidak terlalu baik, jadi mereka memiliki banyak kesalahpahaman.


Sekarang setelah memikirkannya kembali, baik Sehan atau Nick, keduanya cukup peduli pada Tatiana. Meski mereka menunjukkan kepedulian mereka dengan cara yang berbeda, namun ia tahu mereka tidak seburuk itu.


Nick hanya terlalu banyak bicara, sedangkan Sehan terlalu kasar.


Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keduanya memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan rasa peduli mereka. Dan ia berpikir kedua pria itu tidak terlalu buruk untuk Tatiana. Ya, tentu saja Tatiana harus memilih salah satu di antara mereka.


Tetapi ia juga tidak mau menyimpulkan begitu saja.


Seperti yang sudah-sudah, ia takut menilai dari sudut pandang yang salah. Ia takut menyimpulkan sesuatu yang tidak sesuai fakta. Jadi ia tidak boleh gegabah dan harus lebih jeli dan memastikan kevalidan suatu hal secara mendalam.


Lagipula, ini bukan waktu yang tepat untuk mempercayai siapapun, untuk mencurigai siapapun. Entah itu Nick atau Sehan, keduanya bisa saja menjadi pelaku namun keduanya sama sekali tidak pantas dipercaya namun juga tidak layak dicurigai.


Mungkin sekarang saatnya untuk bersikap netral.


Percayai apa yang dilihat.


Yakini apa yang ada di dalam hati.


Sementara Catalina sibuk berpikir, Sehan sibuk mencari sesuatu di dapur. Melihat tidak ada apapun selain mie instan dan telur, ia menduga Catalina bukan gadis yang suka memasak, atau lebih tepatnya, tidak mau repot.


Buku resep yang tergeletak di atas meja, membuktikan gadis itu bisa memasak. Terlepas dari seperti apa hasil masakannya, apakah itu enak atau tidak, apakah itu baik atau buruk, setidaknya gadis itu dapat menyalakan kompor dan memasukan loyang ke oven.


Meski tidak ada bahan masakan apapun, ia cukup kagum dengan interior dapurnya. Jika itu Tatiana, ia yakin semuanya berwarna pink bahkan untuk api yang menyala. Tetapi karena gadis itu bukan Tatiana, interiornya jauh lebih hangat dan menyenangkan dengan warna lembut yang tidak menyakiti mata.


Setelah mengambil mie instan dan telur, ia segera merebusnya. Sembari merebus, ia mendidihkan air di dalam teko. Setelah air mendidih, ia membiarkannya selama enam detik sebelum mengangkat dan menuangnya ke dalam cangkir yang sudah berisi kantung teh.


Sembari memasak mienya, setelah tiga menit berlalu, ia mengangkat kantung teh dan memasukkan madu sebagai pengganti gula. Bersamaan dengan itu, mie sudah matang dan siap di tuang ke dalam mangkuk.

__ADS_1


Gayanya yang santai namun cekatan, membuatnya semakin berkharisma. Ditambah perawakannya yang sempurna dan wajahnya yang tampan, menambah nilai makanan itu.


Meski hanya mie instan, suatu kehormatan dan cukup beruntung orang yang bisa mencicipi masakannya. Dan orang pertama sekaligus satu-satunya yang beruntung itu adalah Catalina.


Saat Sehan masuk ke ruang tamu dengan dua cangkir teh di tangannya, ia melihat gadis itu melipat kedua kakinya dengan asap rokok yang mengepul di udara. Ia menaikkan sebelah alisnya. gadis itu merokok?


Meski melihat asbak yang penuh puntung rokok, juga beberapa bungkus rokok, ia pikir Nick yang meninggalkannya di sini. Ia tidak berpikir rokok itu milik Catalina atau gadis itu merokok.


Sehan memperhatikan sosok itu lekat tanpa kedip selama beberapa saat.


Dengan penampilan seperti itu, seharusnya menjadi penampilan terbaik Catalina. Dia elegan, menawan dan dewasa. Ditambah rokok yang terjepit di antara jemarinya, menambah kesan seksi dan menggoda yang tak terdeskripsikan.


Tetapi ekspresi suram gadis itu, juga tatapan kosong dengan pikiran yang entah sedang memikirkan apa, gadis itu justru terlihat menyedihkan. Dia kesepian dan juga tampak menderita.


Apa yang membuatnya begitu menderita?


Apa mungkin karena kehadirannya?


Sehan mendekat kemudian meletakan cangkir teh di atas meja. Ia buka suara. "Kau merokok?" tanyanya. Meski merokok bukan hal yang aneh, namun Tatiana tidak merokok. Apa gadis itu tidak takut penyamarannya terbongkar?


Betapa cerobohnya.


Juga merokok tidak baik untuk kesehatan. Apalagi, dia wanita. Dia akan hamil dan melahirkan. Jadi dia harus sehat secara fisik dan mental agar bayi yang dilahirkannya memiliki kualitas tinggi.


Tunggu?


Kapan ia setuju untuk memupuk perasaan dengan gadis itu?


Tidak, bukan, maksudnya, kapan ia menjadi begitu menginginkan gadis itu sampai memikirkan menghamilinya dan melahirkan putranya?


Matanya yang selalu dingin, rasional, terkendali dan bijaksana tampak bingung saat ini. Kemudian ia terkekeh dan memijit di antara alisnya. Benar-benar gila.


"Ah." Catalina terkejut. Melihat Sehan berdiri di depannya, jantungnya hampir saja jatuh. Jika jantungnya tidak cukup kuat, ia yakin sudah mati akibat ulah pria itu.


Melihat pria itu berdiri memandangnya, Catalina seperti melihat hantu. "Kau, kau, kau, kenapa kau di sini?" Sedetik kemudian ia menggelengkan kepala. "Tidak, bukan, kupikir kau sudah pergi?" Jelas-jelas ia melihat Sehan pergi. Tidak. Ia melihat Sehan berjalan menjauh. Ia pikir dia sudah pergi. Tapi, apa-apaan ini? Sebenarnya apa yang terjadi? Situasi macam apa ini?


"Aku membuat teh," jawab Sehan. Keterkejutan Catalina tampak alami. Dan untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, ia bersyukur karena bukan kehadirannya yang membuatnya menderita. Mungkin karena gadis itu sedang memikirkan hal lain.


"Kau berada di dapur? Selama ini?" Lagi-lagi Catalina terkejut. Sebanyak apa ia melamun sampai tidak menyadari pria itu masih di kondominiumnya, membuat teh? Apa ia tuli? Apa ia orang mati?


"Uh huh." Sehan mengangguk. "Kau tidak menyadarinya?" Jawabannya, tentu saja tidak. Gadis itu terus melamun dan menatap kosong setelah ciuman menggairahkan itu berakhir. Ia bahkan percaya diri Catalina menyukai ciumannya dan tidak bisa lepas dari pikiran mesum itu.


Catalina mengabaikan pertanyaannya. Jelas ia tidak menyadarinya, dan tidak mengharapkannya.

__ADS_1


Sehan menggelengkan kepala dan berjalan menuju dapur kemudian kembali dengan dua mangkuk mie di tangannya. Setelah meletakkan mangkuknya di atas meja, ia buka suara. "Sejak kapan kau merokok? Bukankah kau tidak merokok?" Ia menatap rokok di tangannya dengan tatapan penasaran. Setelah tertangkap basah, ia ingin tahu bagaimana gadis itu akan mengelak.


Catalina mengikuti arah pandang Sehan yang jatuh pada rokok yang terjepit di antara jemarinya dan terperanjat. Ia mencegah mulutnya yang hampir menganga. Sial. Ia terlalu ceroboh. Sekarang, apa yang harus ia lakukan? Alasan apa yang sekiranya masuk akal?


Sehan menunggu jawaban Catalina dengan sabar. Ia tahu Catalina sedang mencari alasan. Apakah alasannya masuk akal atau tidak, ia memutuskan untuk menilainya nanti.


Panik karena tidak kunjung menemukan alasan, Catalina segera membuang rokoknya dan berkata, "Ah, itu, sebenarnya aku harus mendalami karakter di serial itu. Kau tahu, aku perlu membiasakan diri agar totalitas." Catalina tidak memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan tapi tidak tahu kenapa ia merasa harus menjelaskannya.


Untuk beberapa alasan, Catalina merasa Sehan mencurigai sesuatu. Jika ia tidak menjelaskan sampai jelas, takutnya pria itu benar-benar mengetahui ia bukan Tatiana. Jika seperti itu, urusan akan semakin rumit.


Sehan membungkuk dan mengambil rokok yang Catalina jatuhkan. "Apa kau bodoh? Kau bisa membakar karpetnya," bentaknya. Itu sangat berbahaya. Jika karpet terbakar, api bisa merembet kemana-mana dan membakar apa saja yang ada.


Catalina segera menoleh ke arah ia membuang rokok dan melihat bekas terbakar kecil di sana. Ia hampir menangis mengingat betapa mahalnya harga karpet sutra ini. Ia bahkan berniat menyembunyikannya di lemari karena tidak tega menginjaknya. Namun, ia justru membakarnya dengan rokok sial itu.


"Ah, sial." Catalina memaki. "Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan?" Jika tidak ada Sehan, ia jelas sudah menangis keras di sudut ruangan. Namun karena ada Sehan di sini, ia tidak mungkin menangis hanya karena karpet yang terbakar. Itu akan menunjukkan betapa lemahnya ia dalam hal finansial.


"Sekarang kau menyesal?" ejek Sehan. Melihat wajah frustasi Catalina, ia berusaha menyembunyikan senyum. Apa karpet itu sangat berharga sampai dia menangis begitu? Apa bagusnya benda mati itu? Itu hanya karpet. Tidak bisa dipeluk, tidak bisa dicium.


Jika dipikir secara realistis, daripada frustasi karena karpet, bukankah seharusnya Catalina menjilatnya dan meminta ia untuk membelikan yang baru? Kenapa Catalina tidak menggunakan pilihan itu padahal kesempatan bagus ada di depan mata? Apa gadis itu bodoh? Apa gadis itu tidak tahu bagaimana cara memanfaatkan kesempatan?


Tanpa menjawab, ekspresi di wajah Catalina sudah menjawab segalanya. Membuat Sehan semakin bernafsu untuk menggodanya.


"Kau tahu menyesal tidak berguna, kan? Setidaknya, matikan dulu rokoknya sebelum membuangnya. Apa kau tidak tahu tata cara sederhana seperti itu?" Namun bukannya mematikan rokok dan membuangnya, Sehan justru mendekatkan ke mulutnya dan menghisapnya.


Catalina tercengang. Air mata yang hampir menetes di ujung matanya, masuk kembali ke matanya. Matanya terpana dan ia gagal mencegah mulutnya yang sudah menganga.


Pria itu, kenapa menghisap rokoknya?


Apa dia gila?


Catalina bangkit dan bergerak cepat merebut rokok dari tangan Sehan. "Apa kau sudah gila? Itu menjijikkan." Itu adalah bekasnya dan tentu saja itu kotor. Apa dia tidak merasa jijik menggunakan rokok yang sudah digunakan orang lain?


Catalina berjalan menuju asbak lalu menjejalkan rokoknya di sana.


Melihat apa yang Catalina lakukan, bibir Sehan melengkung membentuk sebuah senyum. "Tidak buruk," ujarnya.


"Dasar gila." Catalina kembali ke sofa dan mendudukan dirinya dengan kesal. Apa Sehan pikir itu keren? Membayangkannya membuatnya merinding. Seorang petinggi Geffrey, menghisap rokok bekas orang lain? Jika ada orang yang melihat, mereka pasti akan menertawakan dan mengejeknya sampai mati. Apa dia tidak tahu hal sekecil itu bisa berpengaruh pada harga saham perusahaan?


Bajingan ini.. haish..


Tahu apa yang Catalina pikirkan, tangan Sehan terulur dan mengusap puncak kepalanya. "Kau tidak perlu khawatir. Tidak akan ada orang yang tahu. Juga.. itu benar-benar tidak buruk," ucapnya. Ia terbiasa menggunakan rokok kualitas terbaik. Rokok milik Catalina jelas rokok biasa yang bisa dibeli di minimarket. Namun anehnya, ia tidak merasa itu buruk sama sekali. Sejujurnya itu justru terasa enak.


Mungkin karena ia menggunakan rokok yang sama dengan yang Catalina gunakan. Sehingga rasa enak Catalina berpindah secara otomatis ke mulutnya.

__ADS_1


Jika ia mengambil dan menggunakan rokok lain, ia yakin rasa enaknya tidak akan seperti ini.


Catalina menatap Sehan dan gurat keheranan memenuhi wajahnya. Jadi itu sungguh tidak buruk? Maksudnya bekas bibirnya?Mengingat bagaimana pria itu mengambil rokok di karpet sutranya yang berharga dan memasukkan ke mulutnya, wajahnya memerah secara alami. Terlepas dari apakah Sehan sengaja menggodanya atau tidak, sejujurnya ia sedikit tergoda.


__ADS_2