Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 76 • RGSA - Kau Mengikutiku?


__ADS_3

Sedang bingung dengan jawaban apa yang akan Catalina berikan jika Sehan menanyakan perihal kegadisannya, suara tenang Sehan tertangkap indera pendengarannya.


"Saya pikir bukan hanya faktor itu saja yang mempengaruhi perubahan seekor kucing. Banyak hal bisa terjadi. Mungkin ada sesuatu yang di lewatkan oleh pemiliknya hingga kucing itu bertindak kasar dan tidak mematuhinya," ujar Sehan. Tidak peduli apa yang Trent katakan, semua itu tidak berpengaruh untuknya.


Lalu kenapa jika ia pria pencemburu?


Toh gadis yang Trent maksud bukan wanitanya. Tidak ada alasan untuknya cemburu.


Catalina yang belum sepenuhnya menerima kenyataan, dipaksa bangkit dari keterkejutan. Ia tidak menduga Sehan akan mengatakan ini. Apa mungkin Sehan tidak tahu maksud perkataan Trent yang menargetkan tunangannya -Tatiana-?


Mustahil.


Sehan terlalu pintar. Ia memiliki IQ di atas orang normal. Hal sesederhana itu, tidak mungkin Sehan tidak mengetahuinya. Lalu kenapa dia masih setenang itu? Kenapa? Apa alasannya?


"Lalu, bisakah Anda memberitahukan apa alasannya?" desak Trent. Ia juga merupakan orang yang tenang. Ia pria yang tidak mudah terprovokasi. Mungkin usia dan pengalaman yang sudah membuatnya menjadi seperti ini. Itu sebabnya ia tidak pernah memiliki sedikit pun niat untuk memprovokasi Sehan. Ia hanya ingin tahu, sejauh mana toleransi pria itu bisa bertahan.


"Daripada kucing, saya lebih menyukai harimau. Lebih tepatnya harimau betina. Jadi maaf, saya tidak bisa menjawabnya." Sehan menolak menjawab pertanyaan Trent. Bukan karena ia tidak tahu, ia tahu namun tidak mau. Baginya pembahasan semacam ini sangat membosankan. Membuatnya mengantuk.


Trent terkekeh. "Baiklah, tidak apa-apa. Mari kita bersulang sebagai penutup perjumpaan kita." Dengan begitu Trent mendorong sedikit gelas cocktailnya.


"Baiklah." Sehan mengambil gelas wine dari nampan seorang pelayan lalu menyodorkannya ke gelas Trent. Setelah bunyi denting terdengar, masing-masing dari mereka meminum sedikit minumannya.


Tanpa basa-basi, Trent pamit untuk menemui teman-temannya. Menyisakan Sehan dan Catalina yang berada dalam kecanggungan. Lebih tepatnya hanya Catalina yang merasa canggung. Sehan tampak baik-baik saja. Sangat baik.


Tetapi 'baik-baik' tidak berlaku untuk Catalina.


Selain kekhawatiran, tidak ada lagi yang ia rasakan.


"Sehan, aku harus pergi ke toilet," celetuk Catalina sambil menahan rasa ketidaknyamanan di hatinya. Ia tidak tahu kenapa harus pergi ke toilet, namun ia merasa harus menjauhi Sehan untuk sementara waktu. Ia belum siap jika tiba-tiba pria itu bertanya tentang kegadisannya.


"Perlu ku antar?" tanya Sehan.


Catalina menggeleng. "Tidak perlu. Aku bisa sendiri."


"Kau yakin?" Sehan menyentuh pipi Catalina lalu mengusapnya perlahan. "Kau tampak pucat."

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Sungguh. Aku hanya perlu ke toilet," jawabnya.


Sehan ragu untuk sejenak sebelum melepaskannya. "Baiklah, kalau begitu, hati-hati."


Catalina mengangguk lalu melangkah pergi. Tidak lupa ia menanyakan keberadaan toilet kepada seorang pelayan dan pelayan menunjukkan letak toilet kepadanya. Setelah ia mengucapkan terima kasih, pelayan undur diri.


Catalina mengulurkan tangan hendak membuka pintu toilet ketika tangan seseorang mendarat di pergelangan tangannya. Tersentak, ia menoleh ke samping.


Berdiri di sebelah kanannya adalah pria yang tadi membicarakan kucing liar bersama Sehan.


Benar, pria itu adalah Trent. Trent Chatsfield. Pria sialan yang mempersulit hidupnya yang sudah sulit ini. Bajingan tercela yang entah kenapa terus bergentayangan di sekitarnya. Jika ada julukan yang tepat untuk menggambarkannya, maka dia adalah iblis kedua sementara peringkat untuk iblis pertama diduduki oleh Sehan.


"Kau mengikutiku?" desis Catalina. Tidak tahu apa maunya iblis ini, namun itu jelas bukan sesuatu yang baik. Ia bahkan dapat mencium aroma bahaya yang terpancar dari pria ini. Namun ia tidak bisa melepaskan pegangan tangannya di pergelangan tangannya. Pria ini cukup kuat. Tidak. Pria ini sangat kuat.


Catalina yakin satu pukulan yang Trent layangkan padanya bisa membuat tulangnya bergeser. Itu sebabnya ia sedikit takut. Takut pria ini akan menghabisinya di sini.


"Kau belum meminta maaf." Mengabaikan pertanyaan Catalina, Trent berujar santai. Suaranya pelan dan pembawaannya tenang. Ia adalah jenis pria yang tidak akan menunjukkan emosinya bahkan jika ada orang mati di depannya. Kecuali ketika ia menjadi korban kekerasan yang dilakukan Catalina.


"Apa?" Catalina tersentak. "Minta maaf?"


Trent mengangguk. "Kebetulan aku orang yang perhitungan. Apa yang kau lakukan padaku terakhir kali, aku ingin kau membayarnya. Jadi jangan harap aku akan melepaskanmu." Cengkeraman tangannya semakin erat seiring kata yang terlontar.


Trent menekan lututnya di antara paha Catalina, dan tangan yang lain bersandar ke dinding. Ia memperhatikan gadis di depannya lalu berkata, "Dengar, aku tidak mau di campakkan oleh gadis yang sudah ku hidupi selama ini. Kau pikir darimana datangnya kehidupan mewahmu? Setidaknya kau harus tahu terima kasih walau hanya sedikit." Trent menegaskan perkataannya. Meski sudah berkata bahwa ia tidak kekurangan stok wanita, namun saat melihat Catalina sendirian seperti ini, tekadnya sedikit goyah.


Pada akhirnya ia terpaksa mengungkit apa yang sudah ia berikan berharap gadis itu mempertimbangkan untuk memikirkannya walau hanya sedikit.


Catalina terdiam. Ia tahu apa yang Trent katakan mungkin benar.


Meski Nick berkata Tatiana bekerja keras selama ini, tanpa pendukung yang kuat, mustahil dia bisa mencapai kesuksesan dalam usia muda. Seratus persen ia yakin Trent adalah sumber uang Tatiana dan apa yang dia berikan jelas tidak sedikit.


"Kau diam? Sekarang kau ingat?" Trent mencibir.


Catalina menaikan wajahnya. "Aku tidak ingat apapun," sahutnya. Daripada memperpanjang masalah, akan sangat merepotkan jika Trent terus mengungkit hal-hal yang terjadi di masa lalu. Ia tidak ingin mendengarkan omong kosong memuakkan itu lagi. Lagipula ia bukan Tatiana, ia tidak akan tersentuh tidak peduli sebanyak apa Trent berbicara.


Trent menaikan sebelah alisnya. "Tidak ingat apapun?" Memperhatikan mata jernih Catalina, ia seperti terserap ke dalamnya. Dia tidak bohong. Ia dapat menangkap kejujuran di sana. Dan ia tidak mungkin menindas orang yang jujur. Ia bisa mendapat karma jika melakukannya.

__ADS_1


"Sekarang lepaskan aku!" Catalina berkata dengan suara rendah. Jika tidak bisa melawan pria ini dengan kekuatan, maka ia akan melawannya dengan cara yang sebaliknya.


Trent menatap Catalina cukup lama sebelum menghela nafas panjang. "Kau tidak ingat atau tidak ingin mengingatnya?"


"Terserah kau mau menganggapnya apa," sahutnya. "Tapi kau harus ingat, aku wanita milik Sehan. Kau tidak boleh memperlakukan ku seperti ini di masa depan. Kau tidak takut Sehan akan menargetkan mu? Melihat bagaimana kalian berinteraksi, aku yakin hubungan kalian tidak dekat."


"Kau mengkhawatirkan ku?"


"Tidak."


"Jadi sekarang boleh?"


Catalina tercengang. "Apa?"


"Aku hanya tidak boleh melakukannya di masa depan, kan?"


"Hah?"


"Apa sekarang aku boleh menciummu? Apa kita bisa tidur bersama untuk terakhir kalinya? Kau tahu, aku sangat merindukanmu. Kau koma selama beberapa bulan. Ah tidak, aku rasa dua bulan. Aku merindukan keganasanmu di ranjang. Maksudku, kau adalah milikku. Hanya aku, satu-satunya pria yang kau tiduri. Kau tidak boleh tidur dengan pria lain, oke? Bukan kah begitu perjanjiannya?"


Catalina yang semula tercengang, sekarang semakin tercengang. 'Satu-satunya pria yang Tatiana tiduri', 'perjanjian'? Sebenarnya apa yang Trent maksud dengan semua itu?


Pikiran Catalina berputar dan kepalanya menjadi pusing.


Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Benar-benar tidak tahu.


Jika Trent adalah satu-satunya yang tidur dengan Tatiana, mungkin kah selama ini ia salah memahami sesuatu? Mungkin kah apa yang ia simpulkan adalah sebuah kesalahan? Mungkin kah apa yang ia pikirkan bukan kenyataannya?


Jika semua itu benar, kenyataan bahwa Tatiana hanya tidur dengan Trent, bukan kah dia sebenarnya bukan kupu-kupu malam? Karena dia hanya tidur dengan satu pria, bukankah julukan itu terlalu kejam?


Sial.


Rupanya ada banyak hal yang sudah ia lewatkan.


Catalina memejamkan mata dan kepalanya tertunduk perlahan. Rupanya, apa yang ia simpulkan selama ini merupakan hasil dari sudut pandang ia melihat. Ia tidak tahu apapun, tidak tahu apa yang terjadi namun berani menyebut Tatiana sebagai gadis murahan.

__ADS_1


Betapa hinanya ia karena berpikir buruk tentang Tatiana?


Ia juga berhubungan intim. Hanya dengan Sehan. Bukankah mereka berdua sama saja? Kenapa ia menganggap Tatiana kotor dan lupa bercermin bahwa ia jauh lebih kotor?


__ADS_2