Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 18 • RGSA - Pasrah Boleh, Menyerah Jangan ^^


__ADS_3

Ketika tinggal di Valdes, Catalina selalu menjadi dirinya sendiri. Saat tinggal di London, ia juga melakukan hal yang sama. Ia tidak peduli dengan perasaan orang lain dan tidak peduli apakah yang ia katakan melukai hati mereka atau tidak. Baginya, memikirkan perasaan orang lain sangat melelahkan. Sama seperti jika terus mendengarkan apa kata orang. Sama melelahkan nya. Dan baginya, itu tidak banyak membantu.


Satu-satunya cara adalah mengabaikan mereka. Abaikan apa yang mereka katakan, abaikan apa yang orang lain pikir tentang kita. Mereka tidak tahu apapun. Mereka tidak tahu apa yang kita jalani, tidak tahu bagaimana kita berjuang, tidak tahu sesusah apa, mereka tidak akan peduli. Jadi, menutup mata dan telinga adalah pilihan terbaik yang bisa dipilih agar bisa menjalani hidup dengan tenang.


"Kau tidak marah?" tanya Julie. Ia ingat kapan terakhir kali bertemu Tatiana. Saat mereka menjadi model sampul bersama Lexus. Mereka bertiga dipercaya untuk mengisi sampul majalah dengan tema 'kebersamaan'. Dan itu menjadi kerja sama terakhir mereka karena beberapa minggu kemudian Tatiana kecelakaan dan koma.


Suara Julie memecah lamunan Catalina. Ia mengedikkan bahu. "Kenapa aku harus marah?" Tidak ada salahnya bicara jujur. Baginya, itu bahkan seribu kali lebih baik daripada penuh kepalsuan. Bertingkah baik namun di belakang menusuk, memuji namun di belakang mencemooh, bukanlah perilaku laknat seperti itu lebih buruk dari binatang?


Julie tertawa kecil. "Untuk beberapa alasan, aku merasa kau berbeda," ujarnya.


Eh? Catalina tercengang.


Melihat perubahan ekspresi Catalina, Julie buru-buru menjelaskan. "Maksudku, kau lebih berani dan percaya diri. Juga, kau sedikit dingin dan acuh. Aku tidak tahu apa kau merasakan perubahan itu atau tidak. Tapi, sejujurnya aku menyukai dirimu yang sekarang." Meski acuh dan tidak ramah, setidaknya ia tidak lagi melihat kenaifan Tatiana yang menjijikan. Terlalu polos, juga tidak bagus. Ya, semua harus sesuai takarannya agar seimbang. Jika kurang atau lebih, bisa merusak segalanya.


Catalina tersenyum samar. Ia tidak menyangka Julie berpikir begitu tentang Tatiana. Namun tidak ada yang bisa ia sangkal. Itu kenyataannya. Tatiana, dia manis dan naif. Ia bahkan bisa membayangkan Tatiana berlari di taman bunga dengan senyum lebar seperti anak kecil dengan gaun pendek motif bunga yang berkibar di tiup angin.


"Hei, kau melamun?" tanya Julie. Ia memiringkan sedikit kepalanya, menunggu jawaban.


Catalina tersentak, kemudian menggeleng. "Seseorang bisa berubah, Julie," jawabnya, menanggapi pertanyaan Julie tentang perubahannya. Padahal, ya, ia bukan Tatiana. Perbedaan mereka jelas sangat jauh. Namun ia tidak akan membuat perbedaan itu terlalu jelas. Ia akan menyamarkannya sesamar mungkin dan membuat orang-orang berpikir perubahan Tatiana masuk akal.


Ketika Julie hendak mengatakan sesuatu, managernya sudah melambaikan tangan, meminta ia datang. Ia mengangguk sebelum menoleh ke arah Catalina. "Kupikir, aku harus pergi sekarang."


Catalina mengangguk. "Uh huh. Semoga berhasil."


Julie tersenyum. "Kau juga." Kemudian ia melangkah pergi.



Catalina melihat kepergian Julie hingga siluetnya menghilang di telan keramaian. Belum sempat memalingkan wajah, Nick sudah berdiri di sampingnya. Saat menoleh dan mendapati wajah pria itu sangat dekat dengan wajahnya, Catalina terkejut. "Astaga. Kau mengejutkan ku." Hampir saja ia memukul Nick karena refleks. Untungnya ia bisa menghentikan pergerakannya tepat waktu. Kalau tidak, takutnya sebelah mata Nick menghitam seperti panda.


"Apa yang kau lihat?" Mengabaikan perkataan Catalina, Nick menanyakan pertanyaan ini. Ia melihat ke arah Catalina memandang tadi. Namun ia tidak melihat sesuatu yang menarik.

__ADS_1


"Aku bertemu Julie," jawab Catalina, tidak menutupi apapun.


Kening Nick berkerut. "Julie?" Ada beberapa Julie yang ia kenal. Dan ada beberapa Julie pula yang ia sertakan ke dalam dokumen informasi yang ia berikan pada Catalina. Jadi ia tidak tahu Julie mana yang gadis itu maksud.


"Ya, Julie Purman." Memang ada beberapa Julie yang harus Catalina ingat. Namun, meski nama mereka sama-sama Julie, selain nama belakang, wajah dan sosok mereka jauh berbeda. Dan cukup mudah menghafalkan semua itu.


"Oh." Bibir Nick membentuk huruf O, tampak tidak tertarik.


Melihat Nick tidak memarahinya dan bahkan terkesan tidak peduli, Catalina sedikit terganggu. "Kau tidak melarangku dekat dengannya, kan?" Ia sengaja memasang sedikit umpan. Ingin melihat sejauh mana perbedaan Nick memperlakukan dirinya dan Tatiana.


Nick mengangkat bahu. "Kenapa aku harus?"


Catalina menaikan sebelah alisnya. "Bukankah kau melakukan itu pada.. Tatiana?" Ia berbisik saat menyebutkan nama 'Tatiana'. Bagaimanapun, ia berperan sebagai Tatiana, mustahil ia memanggil dirinya sendiri dengan namanya. Meski ia cukup yakin Tatiana melakukan hal itu, namun ia tidak ingin menjadi kekanak-kanakan dengan memanggil dirinya dengan namanya.


"Kau dan dia berbeda," Nick menjawab datar sambil melangkah pergi menuju ruang casting.


Catalina mengejar Nick dan mensejajarkan langkahnya. "Apanya yang berbeda? Kami sama-sama perempuan."


"Pokoknya kalian berdua berbeda." Nick enggan menjelaskan. Untuk beberapa alasan, ia merasa Catalina sedang memasang umpan dan menunggu ia salah bicara.


"Diam!" bentak Nick. Ia tidak tahan lagi dengan celotehan Catalina yang memenuhi telinganya. "Ambil nomor antrianmu dan duduk di sana dengan tenang." Nick menjejalkan nomor antriannya ke tangan Catalina kemudian menunjuk deretan kursi tempat menunggu nomor antrian di panggil. Setelah itu ia mendorong punggungnya.


"Hei, hei, hei, aku belum selesai bicara." Catalina menolak di dorong oleh Nick. "Ini namanya pemaksaan, tahu?" Ia hampir mendapatkan sesuatu. Jika semua berhenti di sini, ia tidak yakin akan menemukan saat seperti ini di masa depan.


"Ini bukan pemaksaan, ini perintah."


"Perintah apa? Sudah jelas ini pemaksaan."


"Terserah bagaimana kau mengartikannya."


"Kalau begitu, aku menolak," tegas Catalina.

__ADS_1


"Kau tidak diizinkan menolak." Nick juga menegaskan perkataannya. "Sudah, duduk, dan tunggu nomormu di panggil." Ia menekan bahu Catalina dan Catalina terduduk dengan marah. "Bagus. Jadilah baik." Kemudian Nick melangkah pergi, meninggalkan Catalina yang hampir meledak karena amarah. Namun gadis itu harus menahan diri karena ada banyak orang yang melihat.


Jika itu adalah Tatiana yang dulu, mereka tidak perlu melakukan casting yang merepotkan seperti ini. Tawaran datang dan ia hanya perlu memilih peran yang cocok. Namun karena Tatiana mengalami kecelakaan fatal dan baru bangun dari koma, banyak orang meragukan kemampuannya. Jadilah mereka melakukan casting untuk mendapatkan sebuah peran.


Namun untuk beberapa alasan, Nick merasa casting bukan masalah besar. Kalau mereka tidak melakukan casting, ia justru tidak berani melepaskan gadis itu tanpa melihat kemampuannya. Bagaimanapun dia bukan Tatiana. Dia adalah Catalina yang tidak tahu apapun tentang dunia peran. Jadi, casting adalah pilihan terbaik yang bisa dipilih untuk melihat sebagus apa keterampilannya.


***


Tiga puluh menit kemudian.


"Bagaimana?" tanya Nick begitu melihat Catalina keluar dari ruang casting. Meski ia yakin kemampuan gadis itu tidak buruk, namun sutradara yang akan menyutradarai serial ini adalah seorang pria tua yang perfeksionis. Pria itu selalu memperhatikan para pemeran dari segala sisi dan mencari celah untuk memarahinya.


Satu saja hal yang tidak tepat, dia bisa memarahi semua orang yang datang. Mengakibatkan seorang artis kehilangan kepercayaan dirinya.


Tatiana pernah membintangi serial yang di sutradarai oleh orang itu dua kali. Dan sejauh ini, Tatiana jarang mendapat masalah. Untuk awal-awal mungkin sulit, namun jika sudah terbiasa, itu tidak lagi menjadi kesulitan.


Melihat tampang lesu Catalina, Nick menduga semua tidak berjalan lancar. Ya, meskipun itu bukan kabar baik, namun ia tidak berniat untuk memarahinya. Ia justru akan menghiburnya jika gadis itu benar-benar gagal.


Catalina menaikan wajahnya perlahan. Kemudian ia tersenyum lebar. "Coba tebak?" Meski sutradaranya adalah orang yang galak dan perfeksionis, lalu kenapa? Toh pada akhirnya mereka harus bertepuk tangan saat melihat aktingnya yang luar biasa.


Nick menyentuh dadanya, menghela nafas lega. "Sialan. Kau membuatku takut. Aku tahu kau akan berhasil." Meski Catalina tidak mengatakan apapun, ia tahu gadis itu berhasil.


Senyum Catalina semakin lebar. "Oh ya? Kupikir kau meremehkan ku?" Melihat bagaimana Nick menatapnya tadi, ia tahu Nick berpikir ia gagal. Jika bukan meremehkan, lalu apa?


Nick mengibaskan tangan. "Lupakan! Yang penting kau berhasil," ucapnya. "Sekarang apa yang ingin kau lakukan? Kau ingin mengunjunginya?"


Catalina mengangguk. "Uh huh. Biarkan aku yang menyetir."


"Baiklah. Kau yang akan menyetir," Nick menyetujuinya dengan cepat. "Kau sudah punya SIM, jadi tidak masalah." Meski pemilik SIM yang sebenarnya adalah Tatiana, tetapi Catalina memerankan peran Tatiana. Kalaupun Catalina membuat SIM sendiri, dia tidak mungkin menggunakan namanya sendiri. Jadi, meminjam milik Tatiana, bukan masalah besar. Lagipula, keterampilan mengemudi Catalina tidak terlalu buruk.


"Setuju," jawab Catalina. "Tetapi sebelum itu, mereka ingin bertemu denganmu dan membicarakan kontrak."

__ADS_1


"Kalau begitu, tunggu aku di mobil." Dengan satu kalimat itu, Nick mengakhiri pembicaraan dan melangkah pergi.


Melihat kepergian Nick yang tergesa-gesa, Catalina menggelengkan kepala. "Pria itu, selalu bergerak cepat jika menyangkut uang."


__ADS_2