
"Apa?" Mendengar ini Lexus hampir terjungkal dari duduknya. Memanggil keamanan untuk menyeretnya? Apa Sehan sudah gila? Ia baru saja menerima sejumlah uang. Mungkinkah uang itu bukan suap melainkan hadiah untuk mengusirnya?
Sial.
Lexus menunjukkan ekspresi rumit saat memikirkan kemungkinan itu tanpa tahu bahwa uang yang Sehan berikan kepadanya merupakan tanda terima kasih karena sudah membuat Catalina bersembunyi di bawah meja.
Otak bersih Lexus mana mungkin bisa memikirkan itu?
Hanya orang cabul seperti Sehan yang bisa memikirkan hal kotor sampai sejauh itu.
"Kenapa? Kau keberatan?" Sehan bertanya santai. "Jika kau tidak ingin di seret seperti penjahat, pintunya ada di sebelah sana." Ia menunjuk pintu. "Kau bisa pergi atas keinginanmu sendiri," imbuhnya. Setelah berhasil mengeluarkan benih bayinya, Sehan merasa jauh lebih santai saat berbicara.
Sekarang ia penasaran apa yang sedang Catalina lakukan di bawah meja setelah berhasil menyelesaikan pekerjaannya. Ia sangat penasaran dan ingin melihat seberantakan apa dia sekarang. Itu sebabnya ia harus segera mengusir Lexus dari sini.
"Apa? Penjahat?" Bola mata Lexus hampir keluar karena terkejut. "Aku ini adikmu! Tidak. Apa aku masih adikmu?" Ia mengganti pernyataannya dengan pertanyaan. Ia merasa sudah dilecehkan secara psikis dan ia perlu ganti rugi yang sesuai untuk memperbaiki kondisi psikologisnya.
Belum sempat Sehan menimpali pertanyaan Lexus, Kenny sudah mendorong pintu dan masuk dengan dua pria berseragam berbadan kekar yang berjalan di belakangnya.
Mereka berjalan menuju Lexus kemudian membungkukkan badan ketika sudah mencapai pria itu. "Maaf, Tuan Muda, dengan sangat terpaksa, Anda harus pergi dari sini. Maaf atas ketidaknyamanannya." Selesai berkata, Kenny memberi instruksi kepada dua pria di belakangnya untuk segera membawa Lexus.
"Hei, hei, hei, apa-apaan ini? Jangan berani menyentuhku!" Lexus meraung ketika dua pria berotot meraih tubuhnya. Ia mencoba menghindari mereka. Namun percuma, ia yang hanya seorang diri, tidak mungkin bisa melawan dua orang yang lebih tinggi dan lebih besar darinya.
"Maaf, Tuan Muda." Dua pria meminta maaf secara serempak sebelum masing-masing dari mereka meraih lengan Lexus dan menyeretnya pergi.
"Sialan kalian semua. Kalian bukan manusia. Kalian iblis. Dan kau.. kau bukan kakakku!!" Lexus meraung dan raungannya semakin rendah seiring menjauhnya pria itu.
Ketika sosoknya menghilang sepenuhnya di balik pintu, Kenny membungkukkan sedikit badannya sebelum menyusul pergi. Tidak lupa ia mengunci pintunya dari luar begitu keluar dari pintu. "Jangan biarkan siapapun masuk bahkan jika Tuan Geffrey yang datang," ucapnya pada dua sekretaris yang duduk di balik meja sekretaris.
"Baik," Gabriella dan Nicole menjawab serempak tanpa menanyakan apapun.
Di dalam ruangan, setelah semua orang pergi, Catalina keluar dari kolong meja dan Sehan bergegas membantunya. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Sehan sembari meneliti keadaan Catalina dari atas ke bawah dengan khawatir.
__ADS_1
Catalina cemberut. "Apa aku terlihat baik-baik saja?" Mengingat apa yang baru saja ia lakukan, mustahil ia masih baik-baik saja. Tidak hanya penampilannya yang berantakan karena bersembunyi di bawah meja, tetapi riasannya juga berantakan karena cairan milik Sehan berhambur ke wajahnya.
Jika ia bisa melihat wajahnya sendiri, mungkin satu kata yang tepat untuk menggambarkannya adalah.. menyedihkan.
Sehan tersenyum kecil. "Percayalah, kau tampak seribu kali lebih baik dari sebelumnya," ucapnya sambil mengusap bibir Catalina dengan ibu jarinya.
Catalina semakin cemberut. Wajahnya yang memerah entah karena marah atau malu membuat Sehan ingin memanjakannya selamanya. Ia mencubit dagu Catalina dan menaikkannya sedikit. "Apa kau menelan semuanya?" tanyanya.
Catalina mengangguk. "Uh huh, aku menelan semuanya." Itu karena ia tidak punya pilihan lain. Daripada cairan itu berhambur dan memenuhi wajahnya, ia pikir menelannya adalah pilihan terbaik pada saat itu.
Mendengar ini, kebahagiaan yang semula hanya berada di hati, perlahan mengalir melalui aliran darahnya dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Sehan tidak tahu kenapa hal seperti ini bisa sangat membahagiakan. Mungkin dulu ia tidak percaya, namun sekarang ia mempercayainya dengan segenap hatinya.
Sehan tidak bisa menyembunyikan senyum saat membayangkan wajah cantik Catalina ternoda oleh cairan kental miliknya. Bahkan sekarang dia terlihat semakin cantik dan seksi meski riasannya sedikit berantakan.
Ia mencintainya. Benar-benar mencintainya. Sangat mencintainya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sehan kemudian, sedikit menggoda.
Baru saja bibir Catalina menutup setelah selesai meluncurkan kata-kata itu, Sehan segera membungkamnya dengan ciuman. Karena Catalina tidak ragu untuk menelan semua miliknya dengan inisiatifnya sendiri tanpa ia minta, ia bertekad untuk memberikannya penghargaan dengan menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada gadis itu.
Sehan mengangkat tubuh Catalina lalu mendudukan nya di atas meja tanpa melepaskan ciumannya.
Karena Catalina ingin melakukannya di ruangannya dan melakukannya di meja kerjanya, ia tidak keberatan untuk membantunya mewujudkan mimpi sederhana itu.
***
Sore hari.
Catalina menggeliat dalam tidurnya.
Ia beringsut mendekat dan memeluk seseorang yang ada disampingnya. Tahu itu adalah Sehan, Catalina semakin mendekat kepada Sehan yang hangat dan kembali tidur.
__ADS_1
"Bangun pemalas," ucap Sehan sambil memilin ujung rambut Catalina.
Catalina membuka mata perlahan dan pemandangan tertama yang ia lihat adalah wajah tampan Sehan. Pria itu menopang kepalanya dengan telapak tangan dan siku yang dia letakan di bantal sambil menatapnya.
Catalina mengerucutkan bibirnya. "Pemalas? Siapa?"
Sehan terkekeh. "Jika bukan kau, kau pikir siapa? Memang ada orang lain di sini?"
"Haish," Catalina mendesis. "Sungguh menyebalkan." Pria itu memang menyebalkan. Sangat-sangat menyebalkan. Mengingat betapa bersemangat Sehan dalam menyiksanya, ia masih sedikit kesal. Tidak cukup hanya di meja, dia bahkan melakukannya di sofa dan di kamar mandi.
Namun itu bukan yang terburuk. Karena bagian paling buruk, puncak dari keburukan pria itu adalah pria itu menipunya lagi dan lagi.
Dia bilang tidak memiliki kamar pribadi di ruangannya. Dia berkata dengan sangat meyakinkan hingga ia terperdaya. Namun kenyataannya pria itu memilikinya. Hanya agar ia masuk ke bawah meja dan bermain dengan adik kecilnya, dia membohonginya sangat banyak.
"Terima kasih atas pujiannya," sahut Sehan.
Catalina menaikan sebelah alisnya. "Siapa yang memujimu? Dasar tidak tahu malu."
Sehan mengecup pelan dahinya. "Kau marah karena aku menipumu?"
"Bukankah itu sudah jelas?"
Sehan tersenyum tipis. Baguslah gadis itu kesal karena ia membohonginya, tidak kesal karena mereka melakukannya secara berulang dan juga tidak kesal karena ia memintanya menggunakan mulutnya. Bukankah itu artinya hal lain selain membohonginya, gadis itu tidak keberatan?
"Baiklah, aku minta maaf," ucap Sehan. "Karena itu masalahnya, aku bersedia melakukannya satu kali lagi denganmu. Aku berjanji akan melayanimu dengan sangat baik dan lembut." Ia melanjutkan dengan hati-hati.
Catalina menjauhkan sedikit kepalanya lalu menggigit lengannya. "Kenapa kau selalu memikirkan ini setiap saat? Apa kau pria cabul?"
"Karena aku menyukaimu setiap saat," Sehan menjawab pertanyaan Catalina dengan serius. Di masa lalu ia juga merasa bahwa keinginan bisa di kendalikan. Para pria yang memanjakan wanitanya karena mereka tidak memiliki kontrol diri yang kuat. Tetapi ia menyukai Catalina. Sangat menyukainya sehingga setiap kali ia memikirkannya, baik secara mental mau pun fisik, ia ingin memilikinya sepenuhnya.
"Jangan berani memikirkan itu!" bentak Catalina.
__ADS_1
"Baiklah, baiklah, aku hanya bercanda. Sekarang, kau harus bersiap-siap karena ada seseorang yang menunggumu."