
"Apa yang kau pikirkan, huh?" tanya Trent ketika melihat Catalina menundukkan kepala. Ia mencubit dagunya dan menaikkan sedikit wajahnya lalu mendekatkan wajahnya untuk mencium bibirnya.
Mengetahui apa yang akan Trent lakukan, Catalina memalingkan wajah. "Jangan lakukan itu. Sudah ku bilang aku milik Sehan," ucapnya dengan suara rendah. Ia tidak ingin melawan, selain tidak bisa, ia merasa hubungan Trent dan Tatiana tidak sesederhana itu.
Juga, Trent tidak seburuk yang ia pikir.
Berbicara dengannya cukup mudah. Seperti ia berbicara dengan manusia. Jadi ia tidak akan membuat keributan selagi pria itu belum menunjukkan sisi binatangnya.
Dan untungnya keadaan toilet sangat sunyi. Mungkin hanya ada ia dan Trent sehingga apa yang Trent lakukan tidak ada yang melihatnya. Kalau tidak, ia mungkin akan mati di tangan Sehan.
Trent menghentikan aksinya dan ia tidak sedikit pun marah dengan penolakan Catalina. Dengan santainya ia justru berujar, "Kalau begitu, aku akan memelukmu. Jangan larang aku, oke?" Tanpa menunggu persetujuan Catalina, Trent sudah memeluknya erat. Sangat erat.
Meski tidak mau, pada akhirnya Catalina tidak punya pilihan selain menerima pelukannya. Tidak hanya itu, ia bahkan membalas pelukannya dan mengusap punggungnya perlahan.
Untuk beberapa alasan, Catalina merasa Trent cukup tulus pada Tatiana. Terlepas dari seberapa brengseknya dia, ia dapat merasakan kepedulian pria ini. Dan ia sangat bersyukur karena ada beberapa orang yang peduli pada Tatiana selagi ia tidak di sisinya.
Jadi tentu saja ia tidak akan menyakiti perasaan Trent apalagi posisinya saat ini sebagai Tatiana. Lagipula pria ini tampak sangat peduli dan tidak terlalu kasar. Dia cukup lembut dan perhatian. Dia bahkan tidak marah meski ia menolak ciumannya. Dan semua itu, ia mengartikannya sebagai bentuk kasih sayang dari Trent untuk Tatiana.
"Aku merindukanmu, Tatiana. Kau tahu berapa banyak waktu yang ku habiskan untuk memikirkan mu?" ujar Trent tanpa sedikit pun mengendurkan pelukannya.
"Kau tidur dengan banyak wanita," sahut Catalina, menyuarakan suara hati Tatiana. Jika gadis itu berada di sini, mungkin kata-kata itu yang akan dia lontarkan. Namun ia cukup yakin gadis itu tidak akan berani mengatakannya. Karena sekarang ia di sini, ia akan mewakilkan Tatiana untuk mengungkapkan semua keluhan yang mungkin ditahan olehnya.
"Tapi hanya kau yang paling aku pedulikan."
"Tapi aku tetap salah satu dari mereka." Dan Catalina dapat merasakan rasa sakit Tatiana melalui percakapan ini. Trent melarangnya tidur dengan pria lain sementara dia sendiri tidur dengan banyak wanita.
Kecemburuan ini, kecemburuan yang ia rasakan saat ini adalah kecemburuan milik Tatiana. Sebagai saudara kembarnya, ia tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut. Ia tidak ingin Tatiana tersakiti lebih jauh lagi.
Trent melepaskan pelukannya. "Apa kau cemburu?" Ia menatap wajah Catalina dan tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya.
Namun lagi-lagi Catalina memalingkan wajah. "Jangan lakukan ini, oke? Kita bisa berbicara, tapi jangan lakukan lebih dari itu. Aku wanita milik pria lain dan kau tidak boleh melupakan fakta itu." Meski sekarang ia memerankan peran Tatiana, namun ia tetap Catalina. Ia tidak memiliki perasaan dengan pria ini. Jadi ia hanya akan memperlakukannya sebagai teman pria Tatiana.
"Baiklah." Trent menyerah.
"Sekarang lepaskan aku dan pergi dari hadapanku! Sehan akan tahu dan dia akan marah."
"Lalu kau ingin kita tetap seperti ini di belakangnya? Aku tidak keberatan jika itu yang kau inginkan," ucap Trent santai.
Catalina tercengang. Apa pria ini gila? Dia bahkan rela wanitanya bersama pria lain?
__ADS_1
"Tapi kau tidak boleh tidur dengannya," Trent menambahkan.
Bibir Catalina berkedut. Sudah ia duga. Pria tidak akan rela wanitanya tidur dengan pria lain sedangkan dia sendiri tidur dengan wanita lain.
Sangat tidak adil.
Karena tidak ingin memperpanjang masalah, Catalina mengangguk. "Uh huh. Baiklah. Jadi bisakah kau pergi sekarang?" Selain tidak ingin melihat Trent lagi, ia yakin ini adalah pertemuan terakhir mereka. Setelah ini, jangankan mendekatinya, mendekati Tatiana pun, ia tidak akan membiarkannya.
"Tunggu!"
"Apa lagi?" Catalina mulai kehilangan kesabarannya. Seperti yang ia katakan, ia menghormati Trent karena pria itu tidak perhitungan. Bukan hanya tidak mengungkit insiden kekerasan yang ia lakukan, pria itu juga tampak tidak mempermasalahkan kedekatannya dengan Sehan.
Namun tentu saja ia tidak akan mendengarkan omong kosongnya.
Ia bukan Tatiana, oke?
Jadi terserah ia mau tidur dengan siapa, terserah ia mau dekat dengan siapa. Trent tidak memiliki hak untuk melarang atau menghentikannya.
"Ponsel dan dompetmu masih ada padaku. Apa kau ingin mengambilnya?" tanya Trent. Malam itu, dompet dan ponsel Catalina tertinggal di rumah Yoana. Karena ia terbakar amarah, ia mengambil barang-barang itu dan berpikir akan menggunakannya untuk mengancamnya.
Namun gadis itu terus mengabaikannya, membuatnya melupakannya. Sekarang setelah bertemu dan berbincang dengannya lagi, ia teringat barang-barang itu kembali.
Catalina tercengang. Ponsel dan dompet?
Ia sudah melaporkan kehilangan kartu bank dan melalui serangkaian prosedur untuk mendapatkan kartu barunya. Juga, Sehan sudah memberinya ponsel baru. Jadi barang-barang itu, ia tidak membutuhkannya lagi.
"Tidak perlu. Aku sudah memiliki yang baru," jawab Catalina.
Trent mengangguk. "Baiklah, kalau begitu aku akan pergi," ucapnya, tidak memaksa.
"Mm. Pergilah."
"Sampai bertemu lagi." Selesai berkata, Trent mencium dahi Catalina sekilas sebelum melangkah pergi. Karena Catalina tidak mengizinkannya mencium bibirnya, maka tidak masalah dengan dahinya, pikirnya.
Setelah kepergian Trent, tubuh Catalina luruh di lantai.
Lupakan tentang ciuman di dahinya, ia bahkan tidak memiliki waktu untuk memikirkannya. Satu orang yang ia pikirkan saat ini, bukan Sehan, bukan juga Trent, tetapi Tatiana.
Sebenarnya ada berapa banyak hal yang tidak ia ketahui?
__ADS_1
Jika bukan karena bertemu Trent hari ini, mungkin ia tidak akan pernah tahu kenyataan ini sampai mati. Benar-benar fakta yang membuat air matanya berontak ingin keluar.
***
Sudah sangat lama sejak Catalina pergi, dan gadis itu belum muncul juga. Khawatir, Sehan menyusulnya ke toilet. Namun ketika sampai di sana, ia melihat gadis itu terduduk di lantai, tampak tertekan.
Apa yang terjadi padanya?
Apa ada seseorang yang menindasnya?
Sehan mengambil ponselnya lalu menghubungi Kenny. "Berikan aku rekaman kamera pengawas di toilet wanita."
Di balik panggilan, Kenny mengiyakan. Dan beberapa menit kemudian Kenny mengirimkan hasil rekaman pengawasnya kepada Sehan.
Sehan melihat rekamannya dan sebelah alisnya terangkat. Trent? Bajingan itu, apa yang dia katakan pada Catalina? Tidak. Mungkinkah Trent mengatakan sesuatu yang menyakitinya? Melihat bagaimana perilaku Catalina saat ini, mungkin pria itu mengatakan sesuatu yang membuatnya sedih.
Mengabaikan pelukan dan ciuman Trent di dahi wanitanya, ia akan menghitungnya nanti. Sekarang ia harus menghibur Catalina terlebih dahulu.
Setelah menyimpan ponselnya, Sehan berjalan mendekat. "Apa yang sedang kau lakukan, em? Kenapa kau duduk di lantai?"
Catalina tersentak. Melihat Sehan berjalan mendekat ke arahnya, ia buru-buru berdiri. "Kenapa kau di sini?" Bukannya menjawab, ia justru membalikkan pertanyaannya.
Mengawasi ke sekeliling, di sekitar terlalu sunyi dan kesunyian yang berlebihan ini sedikit mencurigakan. Namun Catalina tidak punya waktu untuk memikirkannya.
"Menjemputmu," Sehan menjawab santai. Ia mendekat, menarik pinggangnya lalu membawa Catalina ke dalam pelukannya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya sembari menepuk ringan punggungnya.
Merasakan pelukan hangat Sehan, Catalina membalas pelukannya dan menyembunyikan wajahnya. Meski hanya hal sederhana, meski hanya pertanyaan biasa, namun bagi orang yang sedang tidak baik-baik saja, pertanyaan seperti 'kau baik-baik saja' rasanya seperti hatinya diremas oleh sesuatu.
Rasanya seperti ia ingin menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Sehan.
Ketakutan.
Kekhawatiran.
Kecemasan.
Semua rasa yang bercampur aduk dan tumpang tindih ia rasakan ingin ia lampiaskan dengan air mata dalam dekapan hangat Sehan.
Bohong jika ia berkata tidak tersentuh.
__ADS_1
Namun perasaan ini begitu menyesakan.
Ia benar-benar ingin menangis. Menangis karena banyak hal. Namun sayangnya, ia tidak bisa melakukannya. Lebih tepatnya, ia tidak boleh melakukannya.