Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 73 • RGSA - Karena Kau Kekasihku ^^


__ADS_3

"Menungguku?" Catalina tersentak. "Kau yakin?" Ia merasa tidak memiliki orang lain yang kemungkinan datang untuknya. Maksudnya, ia benar-benar tidak memiliki seseorang yang mungkin menemuinya.


Sejauh ini hanya Nick dan Sehan yang ia kenal secara akrab. Selain mereka, ia tidak dekat dengan siapapun. Jadi siapa yang menunggunya, Sehan jelas bergurau.


"Kau bisa melihatnya sendiri," jawab Sehan sambil bangun dari ranjang kemudian memakai pakaiannya.


Pria yang biasanya berpenampilan rapi dengan kemeja dan jas, kali ini dia hanya mengenakan kemeja yang sedikit kusut dengan lengan kemeja yang dilipat nyaris siku. Celananya sedikit lusuh dan rambutnya yang biasanya rapi juga sedikit berantakan.


Mengabaikan perkataan Sehan, Catalina mengawasi pria itu lekat dan merasa pemandangan ini sedikit lucu.


Bahkan pria yang terlihat sempurna dan tanpa cela, ketika bangun dari ranjang, terlepas dari apakah dia tidur atau tidak, tetap saja dia acak-acakan. Sepertinya gadis di luar sana yang memiliki ekspektasi tinggi dan berpikir pria seperti ini tidak mungkin mengalami apa yang disebut kacau dan karut marut, mereka harus sedikit kecewa.


Namun ia masih tidak mengerti kenapa Sehan tidak mengenakan pakaian baru. Maksudnya, pakaian bersih, pakaian yang sedikit lebih rapi. Meski penampilan berantakan lebih cocok untuknya -menyesuaikan karakter brengseknya- namun tetap saja pria itu harus menjaga wibawanya sebagai seorang pemimpin perusahaan yang berdedikasi dan kompeten.


Catalina juga bangun dan turun dari ranjang. Kemudian ia masuk ke kamar mandi dan lima belas menit kemudian ia keluar dengan tubuh terbungkus handuk.


Mengawasi sekeliling, ia tidak melihat Sehan dimana pun.


Pria itu mungkin sudah keluar dan bekerja di ruangannya.


Catalina berjalan menuju lemari lalu membukanya. Dan seperti yang ia duga, Sehan sudah menyiapkan beberapa pakaian wanita di sana. Meski tidak banyak, namun itu sudah lebih dari cukup.


Catalina memilih salah satu kemudian memakainya.



Gaun biru muda berpotongan pendek dan sedikit terbuka itu berhasil menonjolkan sosoknya yang indah. Dari seberapa pendek gaun itu, ia menduga Sehan bukan pria pencemburu karena membiarkan ia mengenakan pakaian minim bahan. Kalau tidak, pria itu mungkin memang memiliki sindrom genit dan menyukai gadis yang berpakaian terbuka.


Dari dua kemungkinan itu, kemungkinan kedua adalah yang paling mungkin. Pria itu memang genit. Sangat genit. Jadi bukan hal aneh jika pakaian yang dia siapkan sedikit memprovokasi.


Setelah merias wajahnya, Catalina memakai sepatu kemudian berjalan keluar. Melihat Sehan duduk di kursinya, ia berjalan menghampirinya. "Jadi, 'seseorang yang menungguku' adalah dirimu?" tanyanya, sedikit mengejek. Ia tidak pernah berekspektasi tinggi tentang pria itu. Tidak pernah. Kenapa? Karena ia takut kecewa. Itu sebabnya ia selalu santai menghadapinya.


Sehan menilai penampilan Catalina sebentar sebelum berujar, "Kau salah memahami sesuatu, sayang," sahutnya. Penampilan Catalina sekarang sangat memuaskan. Tidak hanya cantik, dia juga seksi dan menggoda. Ia ingin melihatnya sedikit lebih lama, namun waktu melarangnya melakukan hal itu.

__ADS_1


Sebelah alis Catalina terangkat. Apa maksudnya?


"Bukan aku, tapi mereka," Sehan berkata sambil melirik ke arah sofa dengan ujung matanya.


Catalina mengikuti arah lirikan Sehan dan melihat sederet gaun tergantung di gantungan baju. Dua gadis juga berada di sana seolah siap membantunya untuk mengepaskannya.


Catalina menatap Sehan, kebingungan. "Ada apa ini? Apa yang terjadi?"


"Ada pesta amal nanti malam," jawabnya singkat.


"Lalu apa hubungannya dengan ku?" Catalina mencondongkan sedikit tubuhnya, tidak sabar dengan apa yang akan Sehan katakan. Firasatnya buruk akan hal ini. Dan meski sudah menepis prasangka buruk itu, mereka tetap tidak mau pergi. Yang itu berarti apa yang akan Sehan katakan selanjutnya mungkin benar-benar bencana.


"Kau akan menjadi pasangan wanitaku."


Benar saja, ini memang bencana. Catalina terkejut sampai jantungnya hampir melompat dari tubuhnya. "Ap, apa kau bilang? Menjadi pasanganmu?" Ia tergagap. Ia tidak bisa menerima informasi mendadak ini. Otaknya belum terkoneksi secara sempurna.


Sehan ingin ia menjadi pasangan wanitanya?


Bisa saja ia salah dengar. Bisa saja telinganya terlalu rapuh dan tidak bisa menerima gelombang suara dengan baik dan benar. Jadi ia masih perlu konfirmasi, konfirmasi untuk mendapatkan jawaban yang lebih akurat.


"Ya, kau akan menjadi pasanganku," Sehan menjelaskan sekali lagi dengan sabar.


"Kenapa? Maksudku, kenapa harus aku?" Catalina tidak bisa menerima keputusan itu begitu saja. Menjadi pasangannya di pesta amal, bukankah itu terlalu berlebihan? Maksudnya akan ada banyak orang yang datang. Bagaimana jika ada yang melihat mereka datang berdua? Bukankah Sehan tidak ingin hubungan mereka terekspos?


"Karena kau kekasihku. Bukankah itu sudah jelas?" Sebelumnya Sehan tidak pernah membawa teman wanita untuk acara seperti itu. Bukan karena tidak ada yang mau pergi dengannya, namun ia merasa tidak perlu karena baginya wanita terlalu merepotkan. Namun Catalina berbeda, dia adalah wanitanya, segalanya untuknya.


Ia ingin menunjukkan kepada beberapa orang dan mengklaim hak kepemilikan tentang Catalina agar tidak ada pria nakal yang mencoba menggodanya lagi. Setidaknya, satu orang akan tahu bahwa Catalina bukan gadis yang bisa di perlakukan seperti bagaimana dia memperlakukan gadis lain.


Catalina terdiam. Karena ia kekasihnya?


Ya, alasan itu cukup masuk akal. Namun apakah tidak apa-apa jika ia pergi bersamanya?


"Kau tidak ingin aku mengajak gadis lain, kan? Kau tidak akan rela jika aku melakukannya," Sehan kembali buka suara. "Dan yang terpenting, aku tidak ingin kau sedih." Apapun alasannya. Untuk bagian ini ia tidak mengatakannya. Namun ia jelas tentang itu. Ia tidak ingin gadis itu sedih atau menangis. Apalagi jika alasan kesedihannya adalah dirinya.

__ADS_1


Catalina terkekeh. "Apa kau meremehkan ku? Aku bukan gadis cengeng yang mudah bersedih." Meski bibirnya berkata demikian, namun dalam hatinya ia sangat tersentuh.


Ada begitu banyak orang di dunia. Sangat banyak. Namun hanya ada satu pria yang peduli padanya. Bagaimana mungkin ia tersentuh? Bahkan jika ia sekeras batu, kerasnya akan terkikis juga.


Tahu gadisnya tersentuh dengan ucapannya, Sehan kembali berbicara, "Jadi pilih pakaianmu, buat dirimu nyaman. Aku tidak akan mengganggumu." Selesai berkata, Sehan kembali menenggelamkan diri dalam pekerjaannya.


Catalina terpaku. Jadi begitu cara mainnya?


Ia belum berkata setuju, namun Sehan sudah memutuskan?


Bagus. Sangat bagus.


***


Dalam sekejap langit berubah gelap.


Catalina hanya bisa pasrah saat beberapa orang datang merias wajahnya dan menata rambutnya. Selama beberapa jam ia duduk dan pantatnya seperti terbakar.


Jam delapan malam, baru semuanya selesai.


Semua orang pergi dan seketika hanya menyisakan Catalina dan Sehan di dalam ruangan. Sehan juga sudah mengganti pakaiannya namun ia kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya.


Melihat semua orang pergi, Catalina menghela nafas lega.


Akhirnya, hal-hal membosankan berakhir juga.


Ia bangun dari duduknya lalu melakukan perenggangan sederhana dan terkejut ketika ponselnya berdering. Ia meraih ponselnya dan ketika melihat nama yang tertera, ia menggertakan gigi. "Bajingan busuk ini masih berani menelepon?" gumamnya.


Ia masih ingat bagaimana bajingan itu membuatnya kesulitan hari ini. Dan ia tidak akan pernah melupakan itu. Ia adalah seorang pendendam dan jangan pernah mengharapkan maaf dari seorang pendendam.


Catalina menolak panggilannya dan mematikan ponselnya.


Ia tidak peduli apakah panggilan itu penting atau tidak. Ia hanya tidak ingin bicara dengannya. Benar-benar tidak ingin.

__ADS_1


__ADS_2