
Dari jauh, Pamela menatap Catalina dengan penuh kebencian.
Niatnya datang ke sini adalah untuk bertemu Lexus. Namun siapa sangka ia justru bertemu gadis licik itu?
Kenapa dia tidak mati?
Bukan kah dia mengalami kecelakaan dan koma?
Pamela sepenuhnya dikuasai amarah. Bahkan ketika masuk ke ruang ganti Lexus, ia tidak meredupkan amarahnya. Namun ketika melihat Lexus duduk di kursinya, ia segera berubah menjadi anak kucing yang menggemaskan.
"Lexus, aku merindukanmu." Pamela melayang seperti kapas menghampiri Lexus. Gerakannya gesit namun lembut, seolah ia sudah terbiasa melakukannya.
Lexus yang melihat ini, segera menghentikan pergerakannya dengan menaikkan tangannya. "Jangan lakukan itu!" desisnya. "Duduk di sana, dan jangan ganggu aku!" Ia menambahkan sambil menunjuk kursi kosong yang terletak di dekat pintu.
Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba gadis itu muncul di hadapannya.
Ia jelas tidak senang. Sangat tidak senang.
Pamela terpaksa menghentikan pergerakannya dan wajahnya berubah menjadi sangat menyedihkan. "Tapi aku merindukanmu, Lexus. Aku sengaja datang hanya untukmu. Kau pikir untuk apa dan untuk siapa aku datang? Setidaknya, perlakukan aku sedikit lebih baik." Suaranya semakin rendah seiring kata yang terlontar dan air mata juga jatuh di ujung matanya seolah ia baru saja dianiaya. "Jika anak kita..."
"Stt. Diam!" Belum sempat Pamela menyelesaikan perkataannya, Lexus lebih dulu memotongnya. Matanya melotot. "Jaga mulutmu baik-baik." Ia memberikan isyarat agar semua orang pergi. Dan segera ruangan menjadi sunyi, menyisakan dirinya dan Pamela saja.
'Anak kita' adalah kata-kata yang paling Lexus benci.
Kata itu seperti kata kutukan yang bahkan anggota keluarga Geffrey tidak berani menyebutkannya. Tetapi gadis ini, dia selalu saja mengatakannya tiap kali bertemu dengannya seolah dia takut ia akan melupakannya.
Kehilangan seorang anak?
Siapa yang bisa melupakannya?
Namun caranya mengingatkan membuatnya kesal.
Tetapi meski kesal, ia selalu saja gagal memarahinya karena dia adalah teman masa kecilnya. Belum lagi kedekatan kedua keluarga. Ia seperti terjebak di suatu tempat yang sempit. Mau mundur tidak bisa, maju juga tidak bisa.
Sekarang ia bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Pamela menundukkan kepalanya dengan sedih. "Lexus, aku minta maaf. Aku terlalu emosional. Aku hanya sedih dengan kepergian anak kita. Jika dia masih hidup, mungkin dia sudah bisa berlarian dan memanggilku ibu." Ia kembali terisak.
Melihat Pamela menangis, Lexus menghela nafas panjang. Ia bangkit dari duduknya lalu menghampiri gadis itu dan memeluknya. "Baiklah. Aku tahu kau sangat sedih. Aku minta maaf." Ia mengusap punggungnya sebagai cara untuk menghibur.
Seperti yang ia katakan sebelumnya, ia tidak bisa memarahinya sekesal apapun ia. Ia hanya bisa menahan kekesalannya untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Pamela membalas pelukan Lexus. "Mm. Tapi lain kali jangan marah lagi, oke? Aku sangat sedih." Ia menyembunyikan wajahnya di leher Lexus masih dengan air mata yang terus mengalir.
Lexus mengangguk. "Mm. Aku janji."
Setelah cukup lama menangis, Lexus mengajak Pamela duduk dan memberinya sebotol air mineral. "Sudah merasa lebih baik?" tanyanya penuh perhatian.
Pamela mengangguk. Ia menerima botol air pemberian Lexus dan meminum isinya sedikit. Kemudian ia berkata, "Kenapa gadis itu ada di sini?" tanyanya dengan suara rendah.
'Gadis itu' yang Pamela bicarakan, Lexus segera mengerti siapa yang dia maksud. Ia menjawab, "Tentu saja dia di sini. Dia pemeran wanita kedua."
"Kau tidak mengatakan dia bermain di serial ini."
"Aku juga tidak tahu dia pemeran wanita kedua. Sutradara hanya menyebutkan lawan main ku adalah Julie." Lexus tidak keberatan untuk menjelaskan meski sejujurnya ia sangat enggan.
"Tapi.."
"Tapi apa?" Lexus memotongnya. "Memang kenapa jika dia? Sudah ku bilang, kami tidak memiliki hubungan apapun. Dari awal bukan kah aku sudah mengatakannya dengan sangat jelas? Juga, kau dan aku sudah bertunangan. Kenapa kau selalu mempermasalahkan orang yang bekerja dengan ku? Kau tidak percaya padaku?"
Tahu Lexus mulai emosional, Pamela segera menghentikan interogasinya. Ia tersenyum kecil. "Aku hanya bertanya. Aku tidak peduli siapa lawan mainmu. Aku tunanganmu dan kita akan segera menikah. Aku percaya padamu. Sangat." Ia mengatakannya dengan sangat meyakinkan. Kemudian ia segera menempel pada Lexus seperti gurita dan mencium bibirnya. "Aku minta maaf, oke?"
Melihat Pamela begitu bersemangat, Lexus segera membalas ciumannya. Melupakan kekesalannya dalam sekejap.
"Mau ku bantu membuka pakaianmu?" Pamela berkata di sela ciumannya. Suaranya menggoda seperti rubah betina. Tatapannya juga panas, penuh nafsu. Tangannya bergerilya melepaskan satu persatu kaitan seragam sekolah yang Lexus pakai. Gerakannya gesit dan sangat terlatih.
Gadis itu sudah berubah sangat banyak. Dan ia mendadak tidak mengenalinya lagi.
***
Syuting hari ini berjalan lancar.
Jam sembilan malam, semua orang meninggalkan lokasi syuting.
Catalina dan Stacey juga kembali ke hotel lalu masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Karena kelelahan, setelah selesai membersihkan diri, Catalina segera berbaring di atas ranjang. Matanya hendak terpejam ketika ponselnya tiba-tiba berdering.
Catalina menguap sebelum mengambil benda pipih itu dengan malas. Melihat nama si pemanggil, ia semakin malas untuk menerimanya. Ketika ia meletakan ponselnya dan panggilan berakhir, panggilan baru datang lagi. Dan itu terjadi secara berulang.
Terlalu berisik, Catalina menyerah. Ia menekan tombol hijau dan seketika panggilan terhubung. "Halo," ucapnya. Untuk menghilangkan rasa kantuk, ia mengambil rokoknya, lalu menyalakannya dengan hati-hati dan mulai merokok dengan santai.
__ADS_1
Di balik panggilan, Sehan menggeram. "Kenapa kau mengabaikan panggilan ku?"
"Aku sangat lelah dan mengantuk," jawabnya jujur.
"Apa kau tidak merindukanku?"
"Hei, meski merindukanmu, aku sangat mengantuk. Jadi, aku tetap akan tidur meski sangat merindukanmu." Catalina gadis yang cukup realistis. Tidak. Ia sangat realistis. Ia tidak akan meletakkan cinta di atas segalanya.
"Bicara sebentar denganku sebelum tidur."
"Tidak. Aku harus tidur sekarang."
"Aku akan membayarmu. Bagaimana?"
Catalina tersentak. Ketika mendengar kata 'bayar', kantuknya seketika hilang. Dibayar hanya untuk berbicara? Wow.. apakah dia serius?
Kembali ke akal sehatnya, Catalina bertanya, "Memang, berapa banyak yang akan kau bayar?" Semakin banyak maka semakin bagus. Namun ia menekan hatinya yang gelisah dan mencoba yang terbaik untuk terdengar kurang bersemangat.
"Sebutkan hargamu."
"Bagaimana dengan sepuluh pounds perdetik?" Catalina hanya bercanda. Lagipula, orang bodoh mana yang mau mengeluarkan sepuluh pounds perdetik hanya untuk berbicara dengan seseorang?
Jangan bercanda.
Bahkan wanita yang tidur dengan pria karena uang pun, mungkin tidak di hitung perdetik. Kalau pun di hitung perdetik, mungkin tidak sampai sepuluh pounds.
"Tidak masalah."
"Apa?" Catalina terkejut. Saking terkejutnya, rokoknya sampai jatuh di pahanya. Saat merasakan panas, ia mengambil rokoknya kemudian mengibaskan bara rokok yang tersisa di celananya. Itu meninggalkan lubang kecil di celananya namun ia tidak punya waktu untuk memperdulikannya.
Hanya celana tidur, apa artinya jika di bandingkan dengan sepuluh pounds perdetik?
"Kenapa kau terkejut?" Sehan bertanya dengan santai. Membayangkan wajah terkejut Catalina, ia tidak bisa menahan senyum. Ia tahu gadis itu sangat menyukai uang. Namun ia tidak ingin mengeksposnya.
"Siapa yang terkejut? Aku tidak. Aku hanya merasa sudah tidak mengantuk lagi. Sekarang, ayo kita berbincang. Kebetulan aku sedang membutuhkan teman bicara." Catalina berbicara seperti kereta api. Lupakan tentang rasa kantuk. Ia bahkan tidak berniat tidur malam ini.
Ia terlalu senang. Sangat senang sampai rasanya ingin mencium Sehan jika dia berada di sini. Membayangkan menjadi jutawan dalam sekejap, ia tidak bisa berhenti tersenyum.
Jika Sehan menghubunginya selama satu menit, maka ia akan mendapat enam ratus pounds. Jika dia menghubunginya lima menit, maka ia hanya perlu mengkalikan enam ratus pounds dengan lima menit. Tiga ribu pounds. Itu baru lima menit, bagaimana jika tiga puluh menit? Maka ia akan mengkalikan tiga ribu pounds dengan enam. Delapan belas ribu pounds.
Delapan belas ribu pounds adalah uang yang sangat banyak.
__ADS_1
Dimana lagi ia bisa mendapatkan pekerjaan yang membayar delapan belas pounds dalam setengah jam?
Jauh di dalam lubuk hatinya ia bahkan berharap Sehan meneleponnya berlama-lama. Tidak masalah jika dia menelepon sampai akhir zaman. Ia selalu bisa berbicara dengannya.