Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 46 • RGSA - Sudah Terlambat Untuk Malu


__ADS_3

Hari berikutnya.


Pagi hari, Catalina menggeliat dalam tidurnya.


Ia membalikkan badan dan memeluk sesuatu yang ada disampingnya. Saat menyentuhnya, ini tidak terasa lembut. Daripada boneka milik Tatiana, ini lebih seperti tubuh seseorang.


Tubuh?


Seseorang?


Tunggu!


Catalina tersadar. Tidak perlu menoleh atau mencari tahu, ia tahu siapa dia. Sehan, siapa lagi jika bukan pria itu? Ia tidur di salah satu kamar milik pria itu di mansion dan mereka melakukan hubungan **** tadi malam.


Tapi pertanyaannya, kenapa dia masih di sini? Dan kenapa dia tidur di sampingnya?


Catalina membuka mata perlahan. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Sehan. Pria itu menatapnya dan tatapan mereka bertemu.


Meski terkejut, Catalina tidak mau repot-repot berteriak. Mereka sudah tidur bersama dan melakukan hubungan percintaan yang lebih dari sekedar ciuman. Jadi, tubuh bagian mana lagi miliknya yang belum dilihatnya? Juga, tubuh bagian mana lagi milik Sehan yang belum dilihatnya?


Merasa malu, sudah terlambat.


Jika malu, ia tidak mungkin membuka pahanya saat Sehan memintanya. Sudah sama-sama telanjang dan melihat tubuh satu sama lain, bukankah agak aneh jika sekarang baru merasa malu?


Bagaimana cara Catalina memeluknya, juga tidak menarik diri meski sudah sepenuhnya sadar, Sehan berkata, "Lihat, kau sangat bersemangat, bukan?" Tangannya meraih ujung rambut Catalina kemudian memainkannya. Rambutnya yang panjang sangat halus. Sangat nyaman membelainya dan sangat menyenangkan memainkannya.


Suara serak Sehan terdengar begitu magnetis. Catalina yang mendengar seperti terserap ke dalam pusaran hasrat yang menipu. Pria itu jelas sedang menggodanya. Namun perkataannya selanjutnya tidak terdengar seperti perkataan manusia.


"Apa semalam tidak cukup sampai sekarang menginginkannya lagi?" Sehan melanjutkan perkataan yang tadi belum selesai diucapkan.

__ADS_1


Catalina membulatkan matanya saat mendengar ucapan Sehan. Perkataan itu benar-benar perkataan iblis. Memang kapan ia menginginkannya? Apa dia mendengar ia mengatakan jika ia mau lagi? Tidak, kan? Tentu saja tidak. Ia memang tidak mengatakannya.


"Apakah diammu adalah persetujuan?" Tidak mendapat jawaban, Sehan kembali buka suara. Ia hanya ingin menggoda dan tidak berniat untuk menidurinya meski sejujurnya ia sudah menginginkannya.


Gadis itu kesakitan, baiklah, itu adalah alasan kenapa ia menahan diri dan menekan hawa nafsunya.


Lagipula ia hanya ingin melihat bagaimana reaksi gadis itu jika mengungkit kejadian menakjubkan semalam. Apakah wajahnya akan memerah karena marah atau memerah karena malu? Membayangkannya, ia merasa gadis itu sedikit manis.


"Jangan berani memikirkan hal itu!" Catalina berteriak. Ia bahkan tidak berani bertindak gegabah karena masih sangat kesakitan. Jika tidak, ia pasti sudah menendang pantatnya dan mengusirnya keluar dari sini.


Sehan tersenyum tipis. "Kau pikir aku pria tidak bermoral? Melihat bagaimana kau masih kesakitan, kalau pun kau yang memintanya, aku juga tidak akan memberikannya lagi." Ia serius. Berhubungan **** dengan Catalina bukan semata-mata karena ia ingin menyalurkan gairahnya.


Tidak. Bukan seperti itu konsep hubungan **** dalam benaknya.


Daripada hubungan ****, ia bahkan lebih senang menyebutnya hubungan intim. Hubungan yang lebih dari sekadar fisik. Melibatkan emosi, perasaan, dan komunikasi. Sederhananya, semuanya mengenai keintiman dan kenyamanan kedua belah pihak. Terlebih, ia juga tidak mungkin menjadi egois dengan hanya menuruti keinginannya sendiri.


Ia memikirkan Catalina jauh lebih banyak daripada ia memikirkan dirinya sendiri. Jadi kenyamanan Catalina adalah prioritas utamanya karena dengan begitu gadis itu akan merasa aman dan tidak takut untuk mengulangi rasa sakit di bagian bawahnya lagi.


Sehan menjepit dagu Catalina kemudian menciumnya ringan di bibir. "Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?"


Catalina merengut. "Tapi bercandamu benar-benar tidak lucu." Semua yang Sehan katakan, seolah ia adalah gadis mesum yang meminta lagi dan lagi. Padahal nafsu siapa yang paling besar? Dan juga, siapa yang membeli kain-kain tipis itu?


"Baiklah, aku yang paling menginginkanmu, aku yang paling menyukaimu, dan aku yang paling bernafsu," Sehan mengalah bahkan mengakui kesalahannya dengan cepat. "Sekarang, kau puas?" Sehan mengusap wajah Catalina dengan sentuhan kegembiraan.


Ia senang gadis itu bermanja-manja padanya. Namun di sisi ia merasa gadis itu bisa pergi kapan saja dari genggamannya jika ia tidak bergegas mengikatnya. Ia harus bergerak cepat menangkap hatinya kemudian menguasainya. Karena dengan begitu, ia tidak perlu khawatir gadis itu akan melarikan diri karena sejauh apapun dia pergi, dia akan kembali lagi padanya.


Catalina mengangguk. "Itu terdengar lebih baik." Ia merapatkan kemudian membenamkan diri dalam pelukan pria itu. Seperti yang ia katakan sebelumnya, ia tidak akan mundur jika sudah memilih jalan.


Sama seperti bagaimana ia tidak mundur meski tahu jika menggantikan Tatiana taruhannya adalah hidupnya. Itu juga berlaku untuk keputusan mendadak yang ia ambil kemarin malam

__ADS_1


Karena sudah menyadari bagaimana perasaannya untuk pria itu, dan juga memutuskan untuk berhubungan **** dengannya, ia tidak bisa acuh dan menganggap seolah tidak ada apapun yang terjadi.


Sulit untuk bersikap biasa saja jika perkenalan mereka bukan lagi sekedar jabatan tangan. Milik mereka sudah berkenalan secara pribadi, mustahil mempertahankan sikap pura-pura bodoh karena mereka sudah terikat secara emosional.


Apalagi Sehan adalah pria pertamanya.


Pria pertama yang mencium dan memasukinya. Mau bagaimana ia menampik, perasaannya cukup rumit untuk pria itu.


Ditambah, ia adalah penganut prinsip 'selagi masih terasa enak, ia akan menggigit dan menikmatinya'. Kecuali jika itu sudah tidak enak lagi, ia akan pergi dan meninggalkannya tanpa penyesalan.


Sehan mencium dahi Catalina dan menikmati keindahan tubuhnya yang menempel padanya. Tidak tahu sejak kapan ia menjadi semesum ini, namun miliknya sudah berdiri sedari tadi. Miliknya ingin mengunjungi sesuatu lalu mengeluarkan benih bayinya di sana. Namun saat mengingat Catalina masih tampak sakit di bagian bawahnya, ia menekan kuat-kuat keinginannya.


Ia adalah orang yang sabar dan bijaksana. Selagi ada harapan, ia akan menunggu tidak peduli berapa lama waktu berlalu. Sebaliknya, jika tidak ada harapan, ia akan menciptakan harapan itu sendiri.


Lagipula, hubungan mereka baru saja di mulai. Mereka masih punya banyak waktu. Ia masih punya banyak kesempatan. Tidak sekarang, ada nanti atau esok hari. Tidak esok hari, ada lusa dan seterusnya. Tidak perlu tergesa-gesa karena ia yakin yang kedua bisa dilakukan setelah luka sobek di dalam Catalina pulih.


"Sehan, apa aku boleh memanggilnya seperti itu?" Catalina berpikir bagaimana hubungan mereka akan berlanjut. Namun ia tidak memikirkan sampai ke tahap yang tidak bisa ia jangkau. Untuk saat ini ia hanya ingin memiliki hubungan yang baik dengannya, tidak lebih.


"Tidak," tolak Sehan.


"Kenapa?" tanya Catalina. Apakah memanggil namanya sangat berlebihan? Bagi pria itu, mungkin iya. Jadi, apa ia sudah sangat berlebihan terhadapnya? Iya. Kau terlalu meninggikan dirinya sendiri, Catalina. Sehan jelas tidak menganggapmu penting.


Mungkin saja Sehan hanya menganggapnya sebagai salah satu dari sekian banyak wanita yang pria itu miliki. Meski tahu dan menyadarinya, entah kenapa rasa sakit tiba-tiba datang dan menyadarkannya bahwa keindahan ini hanya ilusi. Semakin indah, maka semakin palsu.


Catalina merasakan hawa dingin di hatinya sebelum Sehan berbisik di telinganya, "Kenapa harus memanggil dengan namaku? Kau bisa menanggil Sayangku, Cintaku atau Kekasihku," jawabnya. "Terserah kau mau memilih yang mana. Tapi.." Ia menyentuh dagu, berpikir. "Suamiku juga tidak buruk. Kau juga bisa menggunakan itu."


Suara yang lembut dan dalam terdengar di telinganya. Suaranya seperti arus listrik. Tubuhnya tersentak dan bahkan telinganya seperti mati rasa.


"Kenapa?" Catalina merespons dengan bingung.

__ADS_1


Sehan mengerutkan kening. "Kenapa? Kenapa kau bertanya? Bukankah sudah jelas kau dan aku saling menyukai? Jika sudah seperti itu, panggilan apa lagi yang bisa kau gunakan?"


Catalina tenggelam dalam pikirannya. Pria ini, sebenarnya apa yang dia katakan?


__ADS_2