
Karena akan pergi bekerja ke perusahaan, Catalina memilih pakaian paling sederhana yang ada di lemari. Dan pilihannya jatuh pada kemeja polos lengan panjang berwarna pink muda, dan rok span berwarna putih pendek, lalu sepatu bertumit tinggi berwarna senada dengan roknya.
Ia membiarkan rambutnya tergerai begitu saja dan memakai beberapa aksesoris kecil seperti anting panjang dan juga kalung. Sedangkan cincinnya, ia masih memakai cincin pemberian Sehan.
Setelah dirasa cukup dan tidak berlebihan, Catalina memakai masker dan kacamata hitam sebelum meraih tasnya lalu bergegas pergi.
Ia menghentikan taksi dan taksi segera membawanya pergi ke perusahaan Geffrey. Tidak lupa ia mengirim pesan teks kepada Sehan.
[Aku sedang dalam perjalanan dan akan segera tiba]
Menerima pesan teks dari Catalina, Sehan yang sedang mendengarkan penjelasan Kenny sambil membaca dokumen, segera menutup dokumennya.
"Tuan, apa ada sesuatu yang tidak membuat Anda puas?" tanya Kenny ketika melihat bosnya tiba-tiba menutup dokumennya dengan tidak sabar. Ia sedang membacakan laporan mingguan dan sejauh ini hasilnya cukup baik. Ia tidak tahu apa yang membuat bosnya begitu terburu-buru.
"Rapikan mejanya dan sisakan dokumen yang dikirim dari Rusia," Sehan memberikan perintah.
"Baik." Kenny segera merapikan meja kerja Sehan. Menyingkirkan semua dokumen ke samping dan menyisakan beberapa dokumen dari Rusia sesuai instruksi. "Apa yang akan Anda lakukan dengan dokumen ini?" tanyanya kemudian.
"Kami akan mendiskusikan nya," jawab Sehan.
"Apa? Kami?" Kenny tercengang. Ia tidak tahu apa yang Sehan maksud dengan 'kami'. Benar-benar tidak tahu. Apakah maksudnya mereka berdua? Sehan dan dirinya?
Mengabaikan keterkejutan Kenny, Sehan bangkit dari duduknya. "Sekarang aku harus turun dan menjemputnya secara pribadi." Ia meraih jasnya kemudian memakainya.
Kenny tercengang sekali lagi. Menjemputnya secara pribadi?
Tadi 'kami', sekarang 'menjemputnya secara pribadi', sebenarnya apa yang terjadi? Mungkinkah ada tamu penting yang akan datang?
Setelah mendapatkan kesimpulan itu, Kenny bertanya, "Kenapa saya tidak tahu Anda memiliki tamu penting?" Karena Sehan berinisiatif menjemputnya secara pribadi, yang datang pasti lah tamu yang sangat penting.
Tetapi, kapan Sehan membuat janji? Lewat siapa dia membuat janji? Dan, siapa yang membuat janji dengannya? Kenapa ia sebagai asisten, tidak tahu apapun?
"Kami baru saja membuat janji. Janji temu pribadi." Sehan bergegas pergi setelah mengatakan itu. Meninggalkan Kenny yang masih berdiri kebingungan dengan pikiran kacau.
***
Tidak lama kemudian, taksi yang Catalina tumpangi berhenti di depan perusahaan Geffrey.
__ADS_1
Ia memberikan sejumlah uang sebelum membuka pintu dan turun.
Begitu turun, pemandangan yang tersaji adalah sesuatu yang familiar.
Bukan karena pemiliknya adalah Sehan, tetapi karena ia pernah datang ke sini satu kali ketika Sehan menangkapnya untuk bertanggung jawab. Ketika Sehan memberikan kemejanya dan ia membuangnya ke tempat sampah. -bab 16-
Kejadian itu benar-benar terekam di memori otaknya sebagai insiden paling buruk sepanjang masa. Setidaknya pada saat itu ia berpikir seperti itu. Berpikir bahwa Sehan adalah iblis jahat yang tidak tahu malu dan kejam.
Tetapi sekarang entah kenapa penilaiannya untuk Sehan berbanding seratus delapan puluh derajat. Pria yang sebelumnya ia jauhi seperti wajah, sekarang ia merindukannya. Pria yang ia pikir sampah, ternyata ia menyukainya.
Lucu bukan?
Namun seperti itulah perasaan manusia. Mudah berubah dan tidak tertebak.
Ketika Catalina hendak mengambil ponsel untuk menghubungi Sehan, ia melihat pria itu berdiri di depan resepsionis.
Berdiri di sana, keberadaan pria itu benar-benar menonjol. Wajahnya yang tampan, postur tubuhnya yang tinggi, ditambah setelan bisnis mahal, memperkuat eksistensinya sebagai pemimpin perusahaan.
Seperti bagaimana novel menggambarkan pemeran utama pria, dia tampak kuat, berkuasa dan mendominasi.
Catalina tersenyum dan berjalan menuju pria itu.
Catalina mengangguk. "Uh huh. Aku datang."
"Aku senang kau datang. Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu," ucap Sehan lagi. Ia melonggarkan sedikit pelukannya dan menciumnya lembut di dahi.
Catalina menerima ciumannya dengan senang hati dan berkata, "Aku juga merindukanmu. Kau pikir aku tidak?"
Sehan tersenyum dan mengusap puncak kepala Catalina dengan sentuhan kegembiraan. "Aku tahu. Aku tahu kau merindukanku sebanyak aku merindukanmu." Ia percaya ketika seseorang sedang jatuh cinta, sembilan puluh sembilan persen pikiran akan selalu mengedepankan untuk mengingatnya. Wajahnya, senyumnya, semua tentangnya. Karena indahnya merindukan menjadi komposisi serta memperkuat fondasi cinta.
"Lalu, apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya.
"Menjemputmu," jawab Sehan.
Catalina tercengang. "Kenapa? Bukankah kau sibuk? Kau bisa meminta Kenny untuk turun atau aku bisa naik sendiri." Catalina tidak tahu seberapa sibuk Sehan namun pria itu tetap meluangkan waktu untuk menjemputnya secara pribadi.
Apakah ia boleh bersikap egois dan berpikir pria itu menganggap kehadirannya cukup spesial? Bisakah ia memiliki pemikiran seperti itu?
Masalahnya, ia terlanjur berpikir seperti itu. Merasa dirinya di istimewakan. Dan merasa dirinya cukup berarti bagi pria itu. Jadi sekalipun bukan itu maksud Sehan, ia tetap akan menganggapnya seperti itu.
__ADS_1
"Kenapa aku harus meminta Kenny melakukannya? Kau wanitaku. Aku tidak mungkin meminta pria lain untuk menjemputmu," sahutnya. "Apa menurutmu, aku terlalu egois?" Hanya dengan mendengar bahwa Catalina akan datang saja, ia bahagia setengah mati. Jika Catalina tidak menolak, ia pasti akan menjemputnya secara pribadi ke kondominium. Jadi karena gadis itu bersedia datang ke sini sendiri, ia tidak mungkin membiarkannya mengalami ketidaknyamanan.
Catalina tersenyum. "Ya. Kau sangat egois."
"Pujian itu tidak buruk," Sehan menimpali. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Catalina kemudian berbisik, "Lalu, apakah kau datang ke sini untuk bekerja atau menggodaku?"
Catalina terperanjat. "Menggodamu? Kapan aku melakukannya?" Ia tidak tahu kapan ia melakukan hal-hal tidak senonoh yang bisa membangkitkan gairah hingga Sehan menyebutnya 'menggodanya'.
Apakah ia telanjang di depannya?
Apakah ia menciumnya dengan ganas?
Apakah ia mengenakan lingerie?
Tidak. Jawabannya tidak. Ia tidak melakukan satu pun dari tiga hal itu. Ia bahkan bersikap sopan dan sangat manis. Entah Sehan melihatnya dari mana hingga merasa ia menggodanya, ia juga tidak tahu.
"Ya, sekarang kau menggodaku, kan?"
"Tidak. Aku tidak melakukannya," Catalina segera membantahnya. Sudah ia bilang, ia tidak melakukannya, oke? Sehan ini keras kepala sekali.
"Lalu kenapa kau berpakaian seperti itu? Bukankah kau ingin menggodaku?" Sehan melirik dada Catalina yang menonjol di balik kemeja yang dia kenakan. Itu sangat bulat dan besar. Ia menyukai perasaan menyentuhnya dan tiba-tiba merindukan melakukan hal-hal itu.
"Dasar cabul." Catalina refleks menutup dadanya dengan satu tangannya sementara tangan yang lain mencubit perut Sehan. "Berhenti! Berhenti memikirkan hal-hal mesum."
"Baiklah, baiklah, aku akan berhenti," Sehan menyerah dengan cepat. "Tapi, kau menyukainya, bukan?" Meski menyerah, bukan berarti ia akan berhenti. Ia senang menggodanya dan senang melihat wajahnya memerah. Dia sangat manis.
"Kau berkata seolah hanya aku yang menyukainya? Memang kau tidak?" Catalina melepaskan cubitannya namun bersamaan dengan itu, tas yang menggantung di lengannya tiba-tiba meluncur jatuh, menimbulkan bunyi yang cukup keras hingga ia sendiri terkejut.
"Oow. Sepertinya kau menjatuhkan barang-barangmu." Daripada Catalina, Sehan jauh lebih tenang meski kenyataannya ia juga terkejut. Menundukkan kepala dan melihat barang-barang Catalina berserakan di lantai, ia segera berjongkok dan bersikap seperti pria sejati dengan membantu Catalina mengambil barang-barangnya.
Melihat Sehan berinisiatif membantunya, Catalina juga berjongkok dengan hati-hati kemudian mengambil tasnya. "Kau tidak perlu melakukannya, kan?" celetuknya sambil mengambil ponselnya lalu memeriksanya.
"Kenapa tidak perlu?" tanya Sehan. "Kau yang seharusnya tidak perlu melakukannya, biar aku saja." Ia sudah berhasil mengambil dompet serta beberapa kartu yang berserakan. Ketika tangannya hendak meraih benda yang lain, ia terkejut saat melihat dua bungkus barang dengan kemasan berwarna hitam tergeletak di sana.
Tangannya membeku di udara.
Barang ini..
Mungkinkah..
__ADS_1