
Benci diawali dengan perasaan iri yang menjelma menjadi dengki. Jika iri masih berada dalam tataran perasaan, dengki diwujudkan dalam tindakan.
Entah dimana dan kapan waktu pasti rasa benci itu muncul, entah apa penyebabnya, Catalina tidak tahu. Bukan ia yang menjalani kehidupan itu. Jadi ia benar-benar tidak mengerti sebanyak apapun ia memikirkannya.
Namun sebenarnya hal itu pula yang ingin ia cari tahu.
Catalina duduk di atas karpet di balik laptop dan mulai mencari informasi tentang keterlibatan Tatiana dengan orang itu. Di belakangnya, Nick sedang memakan mie instan dan sesekali menyuapi Catalina dengan mie pedasnya.
"Aneh," gumam Catalina. Dalam perspektif happiness, membenci sesungguhnya adalah orang yang sedang tidak bahagia. Namun ia tidak melihat hal semacam itu dari orang itu.
Keluarganya kaya, karirnya bagus, dia juga memiliki wajah menawan dengan postur proporsional. Teman-temannya banyak dan kebanyakan dari mereka berasal dari kalangan atas. Dari postingan media sosial, dia juga tampak sangat-sangat bahagia.
Sebanyak apapun Catalina memikirkan, ia masih tidak bisa menemukan alasan kenapa dia begitu membenci Tatiana. Dia dan Tatiana memiliki kehidupan yang berbeda. Mereka berasal dari lingkup yang berbeda. Mereka juga tidak pernah terlibat dalam hal pekerjaan atau dalam hal apapun. Lalu, darimana kebencian itu muncul?
Harus ada api untuk memunculkan asap.
Setidaknya itu adalah proses yang benar.
Jadi, apa yang memprakarsai kebencian itu?
"Apanya yang aneh?" tanya Nick sambil menyuapkan potongan daging ke dalam mulut Catalina.
"Mereka tidak pernah terlibat dalam pekerjaan atau hal apapun," jawab Catalina sembari mengunyah daging di mulutnya. Dagingnya empuk dan bumbunya meresap sempurna. Ia menoleh ke belakang. "Bagaimana kau memasaknya?" Ia penasaran kenapa daging yang Nick masak sangat enak. Ia ingin membuatnya, jika memungkinkan.
"Aku merebusnya bersama mie," jawab Nick, singkat.
"Tapi kenapa enak sekali?" Catalina bangkit dan duduk di samping Nick. "Berikan padaku!" imbuhnya sambil merebut mangkuk milik Nick dan mulai memakan isinya.
Nick menghela nafas panjang. Ia hanya bisa pasrah ketika makanannya di ambil oleh Catalina. "Aku membelinya di restauran lalu menambahkannya pada mie instan yang ku rebus." Namun ia tidak keberatan untuk menjelaskannya. Ia baik hati, bukan? Tentu saja. Tidak hanya baik hati, ia juga murah hati.
__ADS_1
"Pantas rasanya enak." Seketika Catalina melupakan tentang 'pelaku' yang sedang ia cari tahu. Namun itu hanya sebentar. Karena baru satu suapan mie masuk ke dalam mulutnya, ia kembali teringat perihal itu. Sambil mengunyah, ia buka suara. "Apa mereka sungguh tidak memiliki hubungan apapun?"
"Apa yang kau temukan, itu lah hasilnya," jawab Nick.
"Jadi, darimana kebencian itu muncul?" Catalina benar-benar tidak mengerti. Orang itu sempurna dan ya, tidak ada yang pantas dicemburui dari seorang Tatiana. Sungguh tidak ada bagian dari diri Tatiana yang menarik. Maksudnya, Tatiana biasa saja. Dibandingkan dengan orang itu, mereka seperti Cinderella dan itik buruk rupa.
"Kau sungguh bertanya padaku? Bukankah sesama wanita jauh lebih mudah memahami?"
"Kau pikir begitu?"
"Tidakkah?"
Catalina memutar bola matanya sebelum akhirnya mengangguk. "Memang, kebencian adalah hal alami yang dimiliki semua wanita, terutama yang berada di usia sembilan belas hingga dua puluh tiga tahun." Ia menjeda kalimatnya. "Kau tahu, kebencian wanita pada wanita lain tersembunyi sebagai mekanisme alami. Wanita cenderung mudah berprasangka buruk dan kasar pada wanita lain, terutama jika wanita itu secara nyata lebih baik ketimbang dirinya. Katakanlah lebih kaya, lebih seksi, lebih cantik dan sebagainya. Dan poin-poin itu akan membuat wanita lain membencinya. Itu yang aku baca di sebuah artikel."
"Sekarang kau tahu alasan kenapa dia membencinya?" tanya Nick.
Catalina menggeleng. "Tidak. Aku tetap tidak mengerti."
"Tapi Tatiana tidak sehebat itu, Nick. Aku yakin pasti ada alasan lain di balik ini selain alasan-alasan super klasik itu." Catalina tetap pada pendiriannya. Rasa dengki hanya karena seorang wanita lebih kaya, lebih seksi, lebih cantik dan lain sebagainya, baginya alasan semacam itu masih kurang kuat untuk membunuh, melenyapkan dan menghabisi nyawa seseorang.
Setidaknya harus ada alasan yang benar-benar masuk akal dan yang benar-benar kuat untuk merencanakan hal jahat seperti itu. Jika tidak, jangan harap ia akan mempercayainya.
Nick menghela nafas lelah. "Jangan bahas itu, kau menghilangkan selera makanku," ucapnya.
"Kau tidak sedang makan apapun, Nick. Makananmu ada padaku." Catalina menunjukkan mangkuknya dengan tatapan mencibir. "Jadi bagaimana mungkin kau kehilangan selera makanmu? Apa kau bercanda?"
Nick mendesis. "Haish, kau benar-benar." Ia bangkit dari duduknya, memakai jaketnya, lalu melangkah pergi menuju pintu.
"Kau mau pergi kemana?" tanya Catalina ketika melihat Nick melangkah pergi.
__ADS_1
"Berjalan-jalan sebentar. Di sini bersamamu membuatku muak," jawabnya.
"Ingat untuk menghubungi ku jika ada sesuatu," Catalina setengah berteriak ketika mendengar suara pintu terbuka. "Aku sudah membeli ponsel baru. Dan aku sudah mengirim pesan ke nomormu." Imbuhnya masih dengan nada yang sama.
"Uh huh," sahut Nick sebelum melangkah keluar dan pintu tertutup kembali.
Catalina menjatuhkan pantatnya ke bawah dan kembali duduk di atas karpet. Ia juga kembali melakukan pencariannya di internet sambil sesekali menyuapkan mie ke dalam mulutnya.
Waktu baru menunjukkan pukul sepuluh malam.
Catalina sudah meminum obatnya dan rasa kantuk perlahan datang. Ketika mendengar bel pintu berbunyi, Catalina sedang menguap dan menikmati rasa kantuknya tanpa berniat untuk menghentikan pencariannya di internet. Ketika bel pintu berbunyi untuk kedua kalinya, ia masih mengabaikannya. Ketika bel pintu berbunyi untuk ketiga kalinya, ia mulai kehilangan kesabarannya dan bangun dengan malas.
Ia tidak tahu apa yang Nick lakukan sampai memainkan bel pintunya.
Apakah pria itu sangat senggang?
Namun 'senggang' bukan alasan karena ia merasa pria itu sudah kehilangan akal sehatnya.
Baru beberapa saat sejak si idiot itu pergi, dan dia sudah datang lagi dan memainkan bel pintunya. Jika tidak gila, lalu apa?
"Kenapa kau selalu membuatku kesal? Apa kau ingin ku pukul?" Catalina membuka pintu sambil berteriak. Memarahi Nick di balik pintu. Ia benci, kesal, marah dan semua rasa itu ingin ia lampiaskan dengan memukuli Nick.
"Apakah begitu?"
Namun sosok yang tampak ketika pintu sepenuhnya terbuka, juga suara yang tertangkap indera pendengaran, tidak tampak seperti Nick, suaranya juga tidak terdengar seperti suara milik pria itu.
Catalina memijit di antara pelipisnya. "Apakah aku sangat merindukannya sampai berhalusinasi?" gumamnya. Anehnya, ia tidak melihat Nick, melainkan Sehan. Sehan sedang sibuk, jadi tidak mungkin pria itu datang. Dan ia pikir, ia dalam pengaruh obat sampai pikirannya kacau dan penglihatannya bermasalah.
Pasti.
__ADS_1
Pasti karena pengaruh obat.
Di depan pintu, Sehan terkekeh. "Tidak. Kau tidak sedang berhalusinasi. Ini memang aku. Pria yang sangat kau rindukan." Selesai mengatakan itu, Sehan menarik pinggang Catalina lalu membawanya ke dalam pelukannya. "Aku juga merindukanmu. Sangat."