
Catalina meletakan tasnya di kursi lalu pergi ke meja yang penuh dengan peralatan serta barang-barang yang digunakan untuk penyeduhan teh. Melihat semua itu, ia tidak sedikit pun merasa pusing. Sebaliknya ia justru sangat bersemangat.
Jangan menganggap ia tidak bisa dan juga jangan meremehkan kemampuannya, Nick mengeluarkan cukup banyak uang untuk membayar tutor hanya untuk mengajarinya cara menyeduh teh yang baik dan benar. Mulai dari teh hijau hingga teh hitam, dari yang tidak pekat hingga yang pekat, ia bisa melakukan semuanya. Hanya saja, ia menggunakan tata cara tradisional.
Pertama-tama yang Catalina lakukan adalah mendidihkan air. "Apakah Anda menyukai teh hitam atau teh hijau?" tanyanya. Suaranya yang tenang memecah keheningan.
Cara penyeduhan teh hitam dan tah hijau berbeda. Jika teh hitam menggunakan suhu air sekitar seratus derajat Celcius, maka teh hijau hanya sekitar tujuh puluh atau delapan puluh derajat Celsius. Karena jika terlalu panas, teh hijau akan rusak.
"Teh hijau tidak buruk," jawab Raphael.
"Lalu apakah Anda menyukai yang pekat atau tidak?" tanyanya lagi. Ia bertanya bukan untuk membuatnya terlihat profesional. Namun ia bertanya agar teh yang ia buat sesuai dengan yang Raphael inginkan.
"Jangan terlalu pekat."
"Baiklah." Karena Raphael menginginkan teh hijau yang tidak terlalu pekat, Catalina akan menggunakan air bersuhu sekitar tujuh puluh lima derajat Celsius.
Sambil menunggu air panas dalam teko, Catalina menuang daun teh ke dalam poci. Ia menggunakan daun teh sekitar sepertiga bagian poci. Dan ketika air sudah panas, ia menuang perlahan air dalam teko ke dalam poci. Ia tidak menuang banyak air. Ia hanya menggunakan sedikit untuk sekedar merendam teh.
Setelahnya ia langsung membuang air seduhan teh pertama.
Setelah itu ia baru benar-benar menuang air panas untuk menyeduh teh dalam poci. Ia melakukannya perlahan dengan gerakan tangan memutar untuk memastikan panasnya merata dan air mengenai setiap bagian teh.
Ia menunggu selama dua setengah menit sebelum menuangnya lagi ke dalam poci yang lain dan meninggalkan daun teh di poci sebelumya, membuat air tehnya sangat jernih. Kemudian ia meletakannya di nampan bersama dengan dua cangkir teh kecil.
Catalina menyeduh teh dengan cara tradisional karena seperti itu tata cara yang tutor ajarkan. Ia bahkan tidak menggunakan saringan atau teh celup. Meski cara yang ia gunakan terlalu merepotkan, demi mendapat kesan yang baik dari orang tua Sehan, ia tidak keberatan untuk melakukannya.
Catalina membawa nampannya dan meletakannya di atas meja di depan Raphael. Kemudian ia menuang teh dalam poci ke dalam cangkir. Ia sengaja tidak menggunakan pemanis tambahan karena pemanis tambahan dapat merusak nutrisi yang terkandung di dalam teh hijau.
__ADS_1
Setelah selesai, Catalina berdiri di samping meja dengan kepala tertunduk.
"Duduk!" perintah Raphael.
Catalina duduk dengan patuh dan menyembunyikan wajah puasnya dengan baik. Ini adalah hal yang ia tunggu. Minum teh sambil melakukan basa-basi yang menyenangkan. Karena biasanya dalam basa-basi orang tua, mereka akan membawa-bawa kejadian di masa lalu untuk membandingkan masa sekarang dan masa dulu.
Ia tidak memukul rata semua orang tua seperti itu, namun yang seperti itu pasti orang tua. Jadi, ia akan menunggu dengan sabar sampai Raphael mengenang kembali pertemuannya dengan Tatiana. Karena dengan begitu, ia akan tahu asal muasal pertunangan sialan itu.
Raphael menyesap tehnya dan terkejut selama beberapa saat. Sebelum Catalina bahkan menyadarinya, ekspresi terkejutnya sudah tidak ada. Raut wajahnya kembali tenang dan alami seolah yang tadi terkejut bukan dirinya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Raphael memulai pembicaraan. Ia meletakkan cangkir tehnya lalu mengawasi Catalina dengan tatapan rumit.
"Saya sangat baik. Bagaimana dengan Anda?" Catalina membalikkan pertanyaannya.
"Seperti yang kau lihat. Usiaku semakin bertambah dan aku semakin tua." Raphael tersenyum kecil.
Jika bersama Tatiana, pria itu pasti sangat cocok. Tidak heran kenapa dia memilih Tatiana dan tidak ragu mengklaimnya sebagai calon menantunya. Ternyata mereka sebelas dua belas.
"Kau benar-benar pandai menjilat," Raphael mencibir.
"Siapa yang menjilat? Saya mengatakan yang sebenarnya." Tidak. Ia memang sedang menjilat. Menjilat sambil menunggu Raphael menceritakan sesuatu yang ingin ia ketahui.
Raphael tertawa. "Sejujurnya saat melihatmu setelah sekian lama, aku merasa kau banyak berubah." Raphael mengalihkan pandangannya, melihat ke luar jendela. "Dulu saat kita bertemu untuk pertama kalinya dan dua pertemuan kita setelahnya, kau tidak seperti ini. Kau bahkan tidak bisa menyeduh teh. Sekarang, di pertemuan keempat kita, kau sudah banyak berubah. Tidak heran, Sehan tertarik padamu." Ia berkata dengan banyak kepuasan yang tersembunyi di matanya.
Ia sudah tua, kedua putranya belum ada yang serius tentang pernikahan. Dan di usianya, ia hanya menginginkan seorang cucu. Pun kedua putranya masih tidak bersedia memberikannya.
Jika putra bungsunya, dia masih cukup muda. Tapi tidak dengan putra sulungnya. Dia sudah berusia dua puluh delapan tahun. Sudah saatnya dia memilih pendamping dan membuat keluarganya sendiri. Namun kenyataannya, dia masih lajang dan selalu lajang. Membuatnya sebagai orang tua merasa khawatir.
__ADS_1
Ia sempat ragu dan berpikir ada yang salah dengan putra sulungnya. Itu sebabnya ia menerima tawaran pernikahan ketika keluarga Atkinson datang dan mendesaknya untuk membuat Sehan dan Tatiana bertunangan.
Selain Tatiana sudah menyelamatkan nyawanya ketika berada di pegunungan, ia merasa gadis itu tidak terlalu buruk meski sejujurnya ia tidak terlalu menyukainya. Jadi untuk memberikan muka pada keluarga Atkinson, ia menerima pertunangan itu. Dengan syarat, semua keputusan tetap berada di tangan Sehan.
Selain untuk membalas budi, ia hanya berharap Sehan memiliki kehidupan cinta yang manis.
Namun hubungan Tatiana dan Sehan ternyata jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan. Hanya satu pertemuan yang di atur untuk mereka, dan Sehan langsung menolak Tatiana. Membuatnya semakin cemas. Setelah itu ia membiarkan dan tidak terlalu peduli apakah pertunangan itu di lanjutkan atau tidak.
Tetapi ketika mendengar Sehan membawa pulang seorang gadis ke mansion, lalu membawanya ke pesta amal, ia baru menyadari bahwa gadis itu adalah Tatiana dan hubungan mereka ternyata tidak seburuk itu.
Catalina terdiam. Jadi Tatiana tidak bisa menyeduh teh? Tidak. Maksudnya, apakah teh seduhan Tatiana sangat buruk?
Sial.
Apa ia terlalu bersemangat dan membuat perbedaannya begitu jelas?
Catalina tidak tahu bagaimana cara membetulkan kekeliruan ini. Ia tidak tahu harus memperbaikinya dari bagian mana. Namun ia dapat menyimpulkan bahwa Tatiana yang sekarang alias dirinya, jauh lebih disukai daripada Tatiana yang sebenarnya.
"Lupakan tentang itu." Raphael mengibaskan tangan. "Sekarang angin berhembus ke arah yang lebih baik. Terlepas dari apakah pertunangan kalian terjadi atas desakan keluargamu atau tidak, tidak peduli apakah aku melakukannya sebagai balas budi karena kau sudah menyelematkan nyawaku atau tidak, asal Sehan menyukaimu maka itu sudah cukup."
Tidak perlu mengajukan tanya, tidak perlu menanyakan satu pun pertanyaan, Catalina sudah mampu membaca keseluruhan cerita. Mulai dari awal hingga akhir, semuanya sejelas siang hari. Jika ia masih tidak tahu, maka ia bukan manusia.
Kata-kata seperti 'pertemuan pertama hingga pertemuan keempat', 'desakan orang tuamu' hingga 'balas budi", kurang lebih ia sudah mendapatkan kata kunci untuk merangkai kata demi kata menjadi sebuah cerita.
Dimulai dari pertemuan pertama yang mana Tatiana menyelamatkan nyawa Raphael. Yoana yang mengetahui Tatiana sudah menyelamatkan anggota keluarga Geffrey, mungkin dia mendesak untuk menjodohkan Tatiana dan Sehan dengan dalih sudah mengorbankan nyawa untuk menyelamatkannya. Dengan kata lain, Yoana memaksa Raphael untuk membalas budi.
Kesepakatan pertunangan mungkin terjadi pada kali kedua pertemuan. Sedangkan kali ketiga pertemuan, mungkin ketika Tatiana gagal menyeduh teh. Pertemuan keempat adalah saat ini dan yang menemuinya adalah ia, Catalina.
__ADS_1