
Victoria Condominium bukan kondominium terbaik di kota ini. Ini hanya kondominium tingkat menengah. Namun jangan ragukan kualitasnya. Tempat ini sangat aman dan tidak mudah di jangkau paparazi. Itu sebabnya Nick memilih tempat ini sebagai hunian pribadi Tatiana setelah lepas dari agensi.
Nick membawa Catalina ke lantai tertinggi begitu turun dari mobil. Dan ia memandu Catalina untuk masuk setelah menempelkan kartu akses.
Catalina tidak menduga Nick sudah menyiapkan semuanya. Tidak hanya paspor, tiket pesawat, rumah sakit, bahkan tempat tinggal pun sudah ada. Ya, meskipun itu milik Tatiana, setidaknya pria itu perlu memperhitungkan dan mempertimbangkan baik-baik sebelum benar-benar memutuskan memberikan semua itu padanya.
Catalina tahu alasannya.
Demi uang, si sialan itu benar-benar penuh persiapan.
"Kau menyukainya?" tanya Nick setelah memasuki kondominium yang akan menjadi tempat tinggal Catalina. Meski bukan kondominium terbaik namun tempat ini cukup baik. Tidak kalah dari hunian lain. Tempat ini aman dan strategis. Bangunannya bagus dan setiap unitnya memiliki desain yang pasti di sukai anak muda. Mulai dari furniture hingga dekorasi, menggunakan material dengan kualitas terbaik.
Sekilas lihat, orang akan langsung tahu betapa berkelasnya tempat ini. Setidaknya untuk orang seperti dirinya atau Catalina, tempat ini lumayan. Tapi untuk seorang konglomerat, tempat ini mungkin terlihat biasa saja atau bahkan mungkin tidak ada artinya.
Catalina menaikan sebelah alisnya. "Kau yakin mengajukan pertanyaan seperti ini kepada orang miskin?" Bahkan jika itu adalah bangunan bobrok, ia akan menganggapnya mewah. Begitulah pemikiran orang yang sudah bertahun-tahun tinggal di tempat kumuh. Melihat tempat ini, ia serasa masuk ke istana. Dan saat melihat penampilannya, seketika ia merasa lusuh.
Pakaiannya, sial, ini adalah pakaian terbaiknya, tapi masih saja terlihat kumal. Apa kabar ia yang tidak makan selama dua hari hanya untuk membeli pakaian sial ini?
Tahu ini tidak berarti, ia tidak akan membelinya dan menahan lapar sampai mau mati.
Sangat memalukan.
Ia akan segera membuangnya begitu mendapat pekerjaan. Dan ya, ia tidak sabar menantikan itu. Ia ingin menjadi kaya. Sangat kaya sampai tidak tahu dimana harus menyimpan uangnya.
Tahu apa yang Catalina pikirkan, Nick terkekeh. "Aku suka dengan imajinasimu," ujarnya. "Aku juga tidak sabar melihat kau menjadi kaya." Ia serius dengan apa yang ia katakan. Selain menjadikannya sebagai pengganti, ia juga ingin membuatnya kaya. Sangat kaya sampai tidak tahu bagaimana cara menghabiskan semua kekayaannya.
__ADS_1
Catalina mendudukkan diri di sofa. Kepalanya tertunduk lesu. "Tapi bukan hal yang mudah, kan?" tanyanya. Menjadi kaya, bukankah mimpi itu terlalu tinggi? Untuk orang lain mungkin tidak, namun untuk dirinya, iya. Sesulit ia mencari pekerjaan, maka sesulit itu pula menghasilkan uang.
"Jangan terlalu memikirkannya. Setelah kau mengasah kemampuanmu, kau bisa menghasilkan banyak uang. Dan setelah jalan itu terbuka, semua akan menjadi sangat mudah," ujar Nick sembari meletakan pantatnya di sofa.
"Benarkah?" Bukan Catalina meragukan Nick, ia meragukan dirinya sendiri. Sebatas mana kemampuannya, ia paling tahu lebih dari siapapun. Ia takut tidak memiliki bakat yang dimiliki Tatiana.
"Percayalah, semua tidak sesulit yang kau pikirkan," sahut Nick. "Tapi kau juga harus tahu, kesuksesan membutuhkan pengorbanan. Kau hanya harus menjadi pintar dan mengubah pola pikirmu." Pola pikir orang sukses biasanya lebih terbuka, tidak takut mencoba hal-hal baru, tidak takut keluar dari zona nyaman, visioner, berani mengambil resiko, gigih, memiliki target, mendengarkan intuisi, mengubah kebiasaan dan mencintai diri sendiri. Dengan pola pikir seperti itu, orang tidak takut mencoba dan tidak takut gagal. Catalina juga harus menerapkannya jika benar-benar ingin mengubah keadaan.
"Kau terdengar cukup meyakinkan," timpalnya.
"Itu sangat menyakinkan, tahu!"
Catalina terkekeh. "Kau benar. Itu sangat meyakinkan. Masalahnya ada padaku. Aku tidak tahu apa aku memiliki bakat seperti yang dimiliki Tatiana atau tidak."
"Kau bisa menciptakan bakatmu sendiri, lalu mengasahnya. Kau tahu, banyak orang tidak bisa berakting, namun pada akhirnya mereka menjadi pemain film. Mereka belajar dari guru akting dengan sungguh-sungguh dan siapa yang mengira mereka menjadi artis terkenal. Bukankah itu melebihi ekspektasi?" Nick sangat menggebu-gebu saat mengatakan ini. Menemani seseorang dari nol menjadi sepuluh, itu adalah tantangan besar dalam hidup. Dan ada banyak manager yang bisa melakukan itu. Meski ia bukan salah satu yang menemani aktrisnya dari nol, namun bukan berarti Tatiana memulainya dari empat atau lima. Jujur saja, gadis itu memulainya dari satu. Nol dan satu tidak memiliki perbandingan yang jauh. Bahkan bisa dibilang tingkat kesulitannya setara.
"Hei, aku tidak memintamu untuk meniru gaya Tatiana. Aku hanya memberikan beberapa referensi. Kau bisa memilih gayamu sendiri dan menjadi dirimu sendiri. Kau bisa bersikap seperti apa dirimu sehari-hari, karena hanya wajah dan tubuhmu yang aku butuhkan, selebihnya terserah kau." Pertama tidak akan ada yang curiga dengan perubahan Tatiana karena dia mengalami cedera kepala, dan kedua tidak akan yang peduli akan hal itu.
Mau Tatiana berubah atau tidak, tidak akan ada yang memikirkannya dan tidak akan ada yang peduli. Jadi, mengkhawatirkan hal seperti itu benar-benar tidak ada gunanya.
"Uh, benarkah?" Catalina agak terkejut dengan penuturan Nick. Menjadi dirinya sendiri, bisakah? Ia takut itu kurang meyakinkan atau justru mencurigakan.
"Tentu," sahutnya. "Kau koma dan ada sedikit masalah dengan kepalamu. Mereka akan percaya apalagi jika itu vonis dari dokter. Kau hanya perlu bertingkah alami dan berlaku seolah ini adalah kehidupan keduamu."
"Semua tidak semudah kau berbicara, bodoh!" maki Catalina. Bertingkah alami dan berlaku seolah ini adalah kehidupan keduanya? Benarkah semudah itu bertindak seperti itu? Jika memang iya, ia tidak akan secemas ini.
__ADS_1
"Jangan terlalu khawatir. Tidak akan terlalu sulit jika sudah memulai."
"Benar-benar cara yang menyentuh untuk meludahkan omong kosong," Catalina menimpali. Ada garis tipis antara percaya diri dan terlalu percaya diri, dan menurut pendapatnya, Nick telah melampauinya.
"Ayolah, kau hanya terlalu takut. Setelah semua ini, kau tidak mungkin mundur dan jadi pecundang, kan?" Nick mencibir. "Apa kau ingin kembali ke Alaska dan tinggal di tempat reyot itu lagi? Ayolah, kau bisa hidup enak dan menikmati semua kemewahan ini. Dan ya, kau tidak perlu takut ketahuan. Kau dan aku akan menghasilkan banyak uang lalu pensiun sebelum mereka tahu. Setelah itu kau bisa pergi kemanapun yang kau mau bersama Tatiana. Tinggal di tempat yang kalian inginkan dan hidup bahagia selamanya." Nick menceritakan dongeng paginya dengan bangga.
Catalina menggeleng. "Kau benar-benar. Aku ingin menyumpal mulutmu yang cerewet itu." Ia tidak bisa mengatakan apapun lagi. Lebih tepatnya tidak mungkin. Semua yang Nick katakan, benar. Ia tidak ingin jadi pengecut dan tidak ingin kembali ke tempat kumuh itu lagi, dan yang terpenting ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Tatiana. Apakah keluarga angkat Tatiana adalah pelakunya, ia membutuhkan lebih banyak informasi.
"Bagus kau mendengarku," Nick berujar. Kemudian ia meletakan kartu bank dan ponsel model terbaru di atas meja. "Lalu ini kartu bank dan ponselmu. Kau bisa menggunakannya mulai sekarang."
Catalina tercengang. Kartu bank, dan.. ponsel? Untuknya?Apa itu sungguh-sungguh miliknya? Ia takut menerimanya. Takut Nick hanya meminjamkannya dan akan memintanya kembali suatu hari nanti.
"Hei, kartu bank ini atas namamu, bukan milik Tatiana atau milikku. Jika kau bekerja, uang hasil pembayarannya otomatis masuk ke akun bankmu dan menjadi milikmu. Lalu untuk ponsel, dan semua kebutuhanmu di sini, termasuk pakaian, jika kau tidak menyukai selera fashion Tatiana, aku akan menghitungnya sebagai hutang. Aku akan memotongnya tiap kali kau mendapat pembayaran atas pekerjaanmu. Bagaimana? Kau setuju?" Sebrengsek-brengseknya ia, ia bukan orang yang licik. Ia cukup adil dan bijaksana. Ia tidak akan mengambil kesempatan dan memanfaatkan para gadis untuk memenuhi egonya. Dan yang terpenting, ia bisa dipercaya.
"Wah, aku sangat tersentuh." Catalina mengambil kartu bank dan ponselnya tanpa malu-malu. Mempercayai Nick, Mungkin ia bisa melakukannya mulai dari sekarang.
Siapa suruh Nick begitu baik?
Ketika dihadapkan dengan godaan yang sangat besar, ia dapat meninggalkan semua moral dan keraguan. Hal-hal seperti itu tidak akan ada untuk orang miskin. Apa gunanya kesombongan dan karakter pantang menyerah untuk orang miskin? Beberapa dari mereka terus berjuang hanya untuk bertahan hidup.
Untuk orang seperti ia yang takut menjadi miskin, bahkan tidak berbicara tentang kesetiaan atau kepercayaan, ia bahkan bersedia menjadi sugar baby'nya karena dia memberikan kartu, ponsel, membiarkan ia tinggal di kondominium, dan membiarkan ia menjadi dirinya sendiri tanpa perlu mengkhawatirkan apapun.
Melihat antusiasme Catalina, Nick menggelengkan kepala. "Ish ish ish, kau mengatakan aku tidak tahu malu, sekarang lihat, siapa sebenarnya yang tak tahu malu." Ia mencoba membalikkan ejekan Catalina.
"Hei, tidak bisakah kau memaklumi kebahagiaan orang miskin? Memiliki uang dan ponsel baru adalah kebahagiaan kami. Apalagi sekarang aku juga tinggal di kondominium, aku bahkan tidak pernah bermimpi namun aku berhasil mendapatkannya. Ah, sial, jika aku bangun, apa semua ini akan hilang? Tidak. Ini bukan mimpi. Aku akan menjadi kaya, membalas dendam lalu membawa Tatiana pergi." Catalina berbicara sendiri seperti orang gila. Melihat keadaan Tatiana, memang membuatnya sedih. Namun tidak lantas membuatnya terpuruk, ia justru harus bangkit, demi gadis itu.
__ADS_1
Nick menghela nafas panjang. "Teruslah mengoceh seperti orang gila. Kau bisa melakukan itu." Ia tidak akan melarang. Selama Catalina tidak merugikannya, bukan masalah besar.