Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 11 • RGSA - Bertemu Tunangan Tatiana ^^


__ADS_3

Catalina berdiri di depan lemari cukup lama. Ia memperhatikan isinya lekat dan sebelah alisnya terangkat.


Kebanyakan pakaian Tatiana memiliki warna cerah dengan motif bunga atau gaya yang menggemaskan. Itu memang cocok untuk kepribadian Tatiana. Menggambarkan kebahagiaan dan keramahan. Seperti peri kecil yang menari-nari menebar benih di musim semi. Keceriaan dan tawa itu begitu menyenangkan. Dengan hanya mengingatnya, seseorang dengan mudahnya akan tersenyum.


Namun tidak untuk Catalina. Kebalikan dari Tatiana, ia sama sekali tidak cocok dengan pakaian yang terlampau ceria dan imut seperti itu. Itu sebabnya ia menghindari warna-warna cerah dengan motif bunga-bunga lucu dan memilih untuk memakai pakaian netral, seperti putih, hitam, cokelat atau abu-abu. Warna-warna cerah sebenarnya tidak masalah di kulitnya, namun itu tidak sesuai dengan kepribadiannya.


Tidak lucu jika perangainya seperti Medusa namun pakaiannya seperti Hello Kitty. Itu akan melukai harga dirinya dan merusak image yang selama ini ia bangun.


Jika hanya di tinggal di rumah, tidak masalah ia memakai apapun karena tidak ada yang akan melihatnya. Namun jika keluar, ia harus sedikit memilih pakaian.


Setelah mengobrak-abrik lemari, akhirnya Catalina menemukan kemeja putih polos dan juga celana jeans panjang. Itu adalah pakaian sederhana yang paling bisa ia pakai dari banyaknya pakaian Tatiana. Beberapa gaun dengan warna netral memang ada, namun ia merasa pakaian itu terlalu berlebihan karena ia hanya akan datang untuk pemotretan. Pun ia akan berganti baju lagi dengan pakaian yang mereka siapkan.


Untuk sepatunya, Catalina memilih boots berbahan kulit bertumit tujuh cm.


Untungnya, ia dan Tatiana memiliki ukuran sepatu yang sama. Tidak hanya itu, ukuran pakaian pun sama. Jadi tanpa harus membeli apapun lagi, ia bisa memakai semua barang milik Tatiana. Dan semoga Tatiana tidak marah karena barang-barangnya dipakai olehnya.


Catalina keluar dari kamar dan mengambil bukunya sebelum memasukannya ke dalam tas. "Ayo pergi, aku sudah siap."


Nick mengangguk dan bangkit dari duduknya. Kemudian mereka bersama-sama keluar dari Kondominium dan naik mobil menuju tempat pemotretan.


Tiga puluh menit kemudian mobil menepi dari jalan raya dan berbelok memasuki sebuah hotel. Mereka turun dan segera menuju ke tempat pemotretan yang sudah di tata sedemikian rupa.


Pemotretan dilakukan untuk sebuah brand ternama milik desainer terkenal. Dan karena pakaian yang dirilis adalah pakaian musim dingin, set di atur sesuai tema. Begitu melihat Nick datang dengan seorang gadis cantik di sampingnya, fotografer segera melambaikan tangan.


Nick dan Catalina berjalan menuju fotografer kemudian melakukan basa-basi sebentar sebelum Catalina masuk ke ruang ganti untuk dirias dan berganti pakaian.


Selesai berganti pakaian, Catalina segera menuju set untuk melakukan sesi pemotretan. Catalina mendengarkan arahan fotografer lalu berpose sesuai yang fotografer minta. Baik ekspresi wajah atau posenya, semuanya sempurna.


Itu membuat fotografer sangat puas. "Bagus, Tatiana," pujiannya. "Kau melakukannya dengan baik." Ia adalah Will, fotografer tampan berusia tiga puluh lima tahun. Ia sangat berpengalaman dan pernah bekerja dengan begitu banyak artis atau model. Meski baru pertama kali bertemu dengan aktris yang kabarnya baru memulai karir setelah dua bulan koma, namun ia tidak kecewa karena gadis ini sangat berbakat.


Catalina mengangguk kecil. Mendapat pujian, ia semakin bersemangat. Meski sejujurnya ia cukup terkejut bisa melakukannya, namun ia tidak mau menunjukkan keterkejutan itu kepada siapapun.


"Sekarang ganti posenya." Will kembali memberikan arahan.


Catalina mengganti posenya dengan cepat.


"Tahan sebentar. Bagus." Selesai mengambil gambar, Will meminta Catalina untuk mengganti posenya lagi. "Ganti lagi."


Catalina kembali mengganti pose.

__ADS_1


"Kau melakukannya dengan baik, Tatiana," ujar Will sembari melihat hasil bidikannya. "Sekarang ganti style yang kedua." Ia memberikan arahan agar set dan model segera di atur untuk style yang kedua.


Catalina masuk ke ruang ganti dan segera berganti pakaian.



***


Tiga jam kemudian sesi foto berakhir.


Rombongan berjalan keluar dari set dan berjalan menuju lobi bersama-sama. Mereka melambaikan tangan dan berpisah. Menyisakan Catalina dan Nick yang bersiap pergi sebelum ponsel Nick berdering.


Nick mengambil ponselnya dan menerima panggilannya. "Halo. Apa? Kau di sini? Kebetulan aku juga berada di sini. Baiklah. Aku akan datang ke sana. Tunggu aku sebentar." Selesai berkata, Nick segera menutup panggilannya. Ia menatap Catalina. "Aku ada urusan sebentar. Apa kau tidak keberatan menunggu di lobi?"


Catalina mengerutkan kening. "Kau yakin itu hanya sebentar?" Jika Nick berkata 'hanya sebentar', Catalina perlu mempertanyakannya. Masalahnya, 'hanya sebentar' versinya berbeda dengan versi Nick. 'Hanya sebentar' di kamus Nick, kebalikannya dari sebentar. Itu lama, sangat lama.


"Empat puluh menit," jawabnya. Kemudian Nick menggelengkan kepala. "Tidak, tidak, hanya tiga puluh menit. Ya. Tiga puluh menit."


Catalina menunjuk Nick tepat di hidungnya. "Kau yakin hanya tiga puluh menit?"


Nick mengangguk. "Sangat yakin."


"Pergilah!"


Catalina berjalan menuju sofa lalu mendudukkan diri pada salah satu sofa. Sambil menunggu, ia mengambil buku dari dalam tasnya. Merupakan novel romantis yang ditulis dalam bahasa Rusia asli.


Untung ia membawanya sebelum pergi. Jadi ia tidak akan bosan menunggu selama apapun Nick pergi.


Ia mulai membacanya dan seketika fokusnya terpusat ke bukunya. Terserap ke dunia novel, Catalina gagal menyadari keadaan sekitar sampai tangan besar seorang pria meraih bahunya dari belakang.


Catalina terkejut. Tubuhnya menegang.


Menyadari bahaya sedang mengancam, Catalina meraih pergelangan tangan itu lalu bangun dan melakukan gerakan memutar. Mengakibatkan tangan si penganiaya terpelintir.


Sehan terkejut. Matanya berkontraksi dan diam-diam kaget dengan kekuatan besar yang di kemas di balik tangan kecil itu. "Sial. Jadilah baik," desisnya. Ia tidak menduga akan di serang seperti ini. Apalagi di serang oleh seorang gadis yang kelihatannya lemah. Namun daripada lemah, gadis itu seperti harimau betina yang akan menggigit mangsanya.


Catalina tersentak dan melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Sehan sebelum bergerak menjauh. Matanya tajam dan penuh antisipasi saat menatap pria di depannya.


Siapa pria ini?

__ADS_1


Kenapa pria ini tiba-tiba menyentuh bahunya secara diam-diam?


Untuk beberapa alasan, Catalina merasa pria ini berbahaya. Dia mengenakan setelan bisnis yang tajam, terlihat kuat dan tampan. Sekilas lihat ia langsung tahu pria itu bukan orang sembarangan, bukan orang yang bisa ia pukul sekalipun ia adalah korbannya.


Sehan menghela nafas panjang sambil menggerakkan tangannya yang nyeri akibat serangan mendadak Catalina. "Apa kau ingin membunuh tunanganmu?" Suaranya dingin. Ia sangat marah sampai rasanya ingin meniadakan gadis sial ini.


"Siapa yang ingin membunuh? Aku hanya bergerak secara alami. Itu reaksi normal saat orang jahat mencoba menyentuh seorang gadis lemah," sahut Catalina. Ia merasa refleknya sangat bagus dan ya, seharusnya lengan pria itu patah. Namun itu tidak terjadi karena ia hanya menggunakan sedikit kekuatannya. "Lagipula kau tidak akan mati hanya karena aku sedikit menyentuh pergelangan tanganmu. Eh?" Tiba-tiba sesuatu yang janggal terlintas di benaknya. "Tunggu! Apa?" Catalina memotong perkataannya sendiri. "Tu, tu, tu, tunangan?" Ia tergagap. Mendengar kata 'tunangan' meluncur bebas dari mulut pria itu, jantungnya hampir jatuh ke lantai. Andai jantungnya tidak cukup kuat, ia pasti sudah mati akibat ulah pria ini.


"Mm," jawab Sehan. "Kau lupa?" Sehan membungkuk lalu mengambil buku yang terjatuh di lantai. Ia membolak-balik halaman buku dan mengerutkan kening. Tidak bisa membaca satu kata pun. "Kau, bisakah membaca semua ini?" tanyanya.


Catalina terkejut sekali lagi. Namun bukan pertanyaan terakhir yang mengaduk perasaannya. Tetapi pertanyaan pertama. Pertanyaan sederhana seperti 'kau lupa?' tapi itu terngiang di telinganya tanpa henti tanpa jeda.


Apa maksudnya itu? Sebuah pikiran tiba-tiba terlintas di kepalanya. Sepertinya ia harus menghubungi Nick untuk mencari tahu.


Masalahnya ini bukan kekasih, tetapi tunangan.


TU-NA-NGAN.


OMG, halo?


Apa ini semacam kutukan? Kenapa tiba-tiba ia punya tunangan?


Sebelah alis Sehan terangkat. Apa yang gadis sial itu lakukan? Biasanya gadis itu malu-malu dan tidak berani menatap matanya. Tapi sekarang, tidak hanya berani menatapnya, dia bahkan berani tidak menjawab pertanyaannya dan yang terburuk, gadis itu berani mengabaikan dirinya?


Apa gadis itu sudah bosan hidup?


"Aku mengalami masalah di otakku. Tunggu sebentar, aku harus menghubungi seseorang." Catalina menghentikan Sehan yang hendak bicara kemudian mengambil ponselnya lalu berjalan pergi menjauhi Sehan. Ia menekan nomor Nick lalu memanggilnya.


Di lain tempat, Nick sedang berbincang santai dengan teman lamanya saat ponselnya berdering. Melihat nama yang tertera di layar, ia memutuskan untuk mengabaikannya. Masalahnya, ia baru duduk di sini sekitar sepuluh menit. Dan ia bilang akan kembali dalam tiga puluh menit. Jarak dari sepuluh ke tiga puluh masih ada dua puluh. Yang itu berarti ia masih punya dua puluh menit waktu yang tersisa untuk berbicara dengan teman lamanya.


Di lobi, Catalina hampir membanting ponselnya. Ini sudah ke tiga kalinya ia menghubungi Nick. Tapi pria busuk itu terang-terangan menolak panggilannya.


Setelah panggilan keempat, baru terdengar suara dari ujung telepon. "Halo, ada apa? Kenapa kau menghubungiku? Apa ada Alien yang datang menyerangmu? Atau ada mayat hidup yang berkeliaran di sana? Haish.. sudah kubilang jangan menggangguku. Aku hanya pergi sebentar." Suara Nick meninggi, setengah berteriak.


Catalina menjauhkan ponsel dari telinganya saat mendengar ocehan Nick yang panjangnya melebihi kereta api. Setelah raungannya mereda, ia baru mendekatkan kembali ponselnya dan berbicara. "Kenapa kau menolak semua panggilanku? Apa kau tahu, aku baru saja mendapat masalah?"


"Katakan, ada masalah apa? Apa kau memukul orang? Tunggu! Kau tidak memukul orang, kan?" Nada marah Nick berubah khawatir. "Sudah kubilang, jangan membuat ulah, Catalina. Kau meminjam nama Tatiana. Setidaknya jangan hancurkan citra yang sudah Tatiana bangun dengan susah payah."


"Siapa yang memukul orang? Aku tidak."

__ADS_1


Nick menyentuh dadanya, menghela nafas lega. "Syukurlah kau tidak memukul orang. Kau membuatku takut setengah mati."


Catalina menggelengkan kepala, tidak mengerti lagi jalan pemikiran Nick. Ketika ingat alasan kenapa ia menghubungi Nick, ia kembali meluruskan pembicaraan ke tema semula. "Katakan, apa aku juga punya tunangan?"


__ADS_2