Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 44 • RGSA - Sekelebat Rasa Nyeri


__ADS_3

"Tidak. Kau tidak perlu menjawab." Sehan kembali berbicara tanpa menunggu jawaban Catalina. Ia tidak siap jika yang terlontar dari bibir Catalina adalah sebuah penolakan. Ia tidak ingin ditolak. Ia tidak mau ditolak.


Catalina tercengang. Ia tidak menolak segala hal yang Sehan lakukan, bukankah itu sudah cukup jelas? Ia membiarkan dia membuka handuknya dan tidak mengusirnya, seharusnya dia tahu apa jawabannya. Kenapa dia mendadak bersikap sopan kepadanya? Bukankah biasanya dia bermuka tebal dan tidak tahu malu?


Untuk beberapa alasan ia ingin memukul kepalanya dan membuat otaknya kembali ke tempat semula agar kecerdasannya kembali. Dia yang seperti ini, tidak seperti Sehan yang ia kenal.


Namun saat melihat kegelisahannya, ia juga tidak bisa tenang. Ia menyentuh wajahnya dan membelainya. "Hei, tenanglah!" Sambil menatapnya, ia melanjutkan. "Aku ingin menjawab 'iya'. Kenapa kau begitu gelisah?" Untuk pertama kalinya ia bersikap lembut bahkan berinisiatif menyentuh pria itu. Dan rasanya, tidak seburuk dalam bayangan.


Sejujurnya, itu justru menyenangkan.


Interaksi internal yang biasanya di lakukan oleh pria dan wanita, keintiman, apakah rasanya seperti ini? Begitu menyenangkan bahkan dengan sentuhan kecil?


Sehan terperanjat. "Apa? Kau bilang apa?" Tidak percaya dengan apa yang didengar, ia mengulang pertanyaannya. Secercah harapan muncul di depannya dan dunianya terasa jauh lebih indah. Telapak tangan Catalina di wajahnya sangat lembut. Dan gadis ini agak jinak saat ini.


Dia yang seperti ini membuatnya ingin membawa dunia kepadanya. Ia bisa memberikan apapun yang dia inginkan. Ia bisa melakukan apapun yang ia mau. Ia hanya ingin menyayangi dan memanjakannya.


Catalina menarik kerah kemeja Sehan kemudian berbisik di telinganya. "Aku bilang, aku juga menginginkanmu." Karena sudah seperti ini, biarkan ia menjadi egois sekali saja.


Jika suatu hari nanti Sehan tahu ia bukan Tatiana, ia siap menanggung resikonya, ia siap pergi dari kehidupannya. Untuk saat ini, biarkan semuanya seperti ini. Ia akan menikmatinya. Setidaknya selagi masih terasa enak, ia akan menikmatinya dengan senang hati.


Sehan mengusap rambutnya ke belakang dan gagal menyembunyikan kebahagiaannya. Ia menatap Catalina dan tidak menyangka setiap aliran darah dalam tubuhnya menginginkannya seperti ini.


"Kalau begitu, aku tidak akan membuatmu kecewa." Sehan melepas kemejanya dengan cepat dan melemparkannya secara asal kemudian ia memeluknya dan menciumnya.


Catalina menerima semua yang Sehan lakukan secara terbuka. Ia bahkan tidak menyadari kapan Sehan melepas celananya. Semua gerakan itu dilakukan olehnya tanpa menurunkan intensitasnya.


Terperangkap lengah, Sehan melepaskan kain tipis yang menutupinya dan membuka area pribadinya dan melihat wilayah yang telah lama ia dambakan. Ia dengan terampil menyapu setiap tempat sensitif yang membuat Catalina mengerang.


Tidak cukup dengan tangan, ia juga menggunakan mulutnya.

__ADS_1


Pancing yang di pasang oleh Sehan dengan kesabaran luar biasa, Catalina ditarik ke dalam mimpi lembut ini secara sadar atau tidak sadar. Dan meski terperangkap, Catalina tidak mau memikirkannya. Ia bukan orang yang mudah menyerah, jika ia berkata menginginkan Sehan, maka ia tidak akan melepaskan keinginan itu.


Setelah cukup lama, dengan enggan Sehan mundur dari area itu. Namun ia tidak meninggalkan Catalina sepenuhnya. Sebaliknya, ia pindah dari satu tempat ke tempat yang lain dan menyapu seluruh tubuhnya yang tidak lagi tertutup apapun.


Catalina tidak sempat menikmati keindahan tubuh Sehan atau mengagumi ketampanannya. Hasrat membutakannya. Ia meremas kepala Sehan. Kebutuhan meliuk-liuk di dalam dirinya, bangkit, menjadi panas dan ganas.


Melihat Catalina sudah siap, Sehan berkata sambil mengarahkan miliknya kepada gadis itu, "Aku akan memasukannya sekarang." Miliknya sudah menegang dan sangat siap mengunjungi rumah barunya. "Mungkin akan terasa sakit pada awalnya, namun itu hanya sebentar. Aku janji kau akan baik-baik saja setelahnya," imbuhnya. Ia tahu Catalina masih bersih. Sangat bersih. Dan ia juga tahu gadis itu mungkin akan kesakitan saat miliknya mendesak masuk.


Namun, meski sakit, tidak ada jalan untuk kembali. Satu-satunya cara untuk menjeratnya hanya dengan mengambil miliknya yang paling berharga.


Mungkin itu terdengar licik atau bahkan egois, namun ia tidak peduli. Sejak kapan ia, Sehan, peduli pada orang lain? Apalagi dia adalah gadis yang ia inginkan.


Catalina mengangguk kecil. Ia dapat merasakan milik Sehan mencari jalan masuk dan beberapa saat kemudian ia merasakan sesuatu sobek di dalam sana.


Ia masih setengah sadar saat merasakan desakan Sehan. Karena menginginkannya, ia menyambut pria itu. Dengan sekelebat rasa nyeri menyilaukan yang membuatnya menjerit, Sehan menyatukan tubuh mereka, memeluknya tanpa bergerak.


Sehan menunggu dengan sabar dan menciumnya ringan di dahi. "Apa kau baik-baik saja?" Melihat wajah kesakitan Catalina, ia tahu ia sudah berhasil memasukinya.


Catalina mengangguk. Meski sakit, ia baik-baik saja. Hanya saja sensasi ini terasa aneh. Milik Sehan bukan sesuatu yang bisa diterima tubuh. Ukurannya terlalu besar untuk menetap di dalamnya. Dan ia tidak menyangka benda itu benar-benar berada di sana.


Setelah Catalina sedikit tenang, Sehan melanjutkan langkah selanjutnya. Ia melihat miliknya yang sepenuhnya masuk ke dalam Catalina sebelum menggerakkan pinggulnya perlahan.


Sekarang bukan lagi rasa sakit, tetapi ada kenikmatan.


Tubuh bertemu tubuh.


Bereksperimen dengan otot yang baru ditemukan.


Mendesak seiring setiap gerakan.

__ADS_1


Catalina mencengkeram bahu Sehan ketika Sehan bergerak mempercepat tempo. Rasa sakit itu menjadi samar tertutupi dengan rasa nikmat yang baru pertama kali ia rasakan. Dan ia membutuhkan stabilitas agar tidak terombang-ambing pada porosnya.


Keringat membasahi. Mereka mengutuk dan memuja di waktu yang sama. Sementara warna-warna indah semakin intens dan dunia seolah ikut berguncang.


Otot-otot Catalina terkontraksi, gejolak itu semakin liar dan dunia sudah lepas kendali. Tidak ada yang mampu menghentikan mereka. Keduanya melayang-layang ke tepian indah antah-berantah.


Ketika Sehan membawanya lebih tinggi, tekanan luar biasa nikmat berkembang menjadi pusaran demam. Catalina meraih puncak yang menghantam dirinya. Membuat kepalanya terbentur. Ia tidak memikirkan apa-apa. Seluruh pikirannya terpusat pada serangkaian gelombang pasang yang menerjang setiap bagian dirinya. Membuatnya lemas dan pusing.


Sehan juga tidak jauh berbeda. Ia mendapatkan apa yang ia inginkan dan merasakan nikmat yang tak terdeskripsikan.


Butuh beberapa saat untuk kembali, agar nafasnya melambat, agar detak jantungnya tenang. Namun tetap saja tubuhnya bersenandung dan pikirannya mendengung dengan ketakjuban atas apa yang baru saja terjadi.


Sehan mencium bibir Catalina. "Terima kasih, kau sangat luar biasa." Ia mencium dahinya sebelum menarik miliknya secara perlahan. Tidak lama setelah itu, darah mengalir keluar bercampur dengan cairan putih kental miliknya yang ia keluarkan di dalamnya.


Warna merah dan putih yang bercampur begitu kontras. Cairan itu jatuh di sprei dan menjadi bukti bahwa Catalina sudah resmi menjadi miliknya.


"Jangan menatapnya seperti itu. Orang seperti aku juga bisa merasa malu," celetuk Catalina. Ia kelelahan. Ia bahkan tidak menoleh saat mengatakannya. Namun ia tahu Sehan sedang menatap cairan yang keluar di antara pahanya. Menatapnya seolah hal semacam itu baru pertama kali dia jumpai.


Padahal, ia jelas bukan wanita pertamanya.


Namun karena Sehan adalah pria pertamanya, ia merasa sedikit malu. Tetapi ia tidak bisa melakukan apapun bahkan sekedar menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia tidak memiliki tenaga yang tersisa. Selain itu, bagian di antara pahanya juga masih terasa sakit.


Ia hanya ingin memejamkan mata dan tidur.


Sehan mengulas senyum tipis. "Kau tidak perlu malu. Di masa depan, kita akan lebih sering melakukannya." Ia membaringkan tubuhnya di samping Catalina lalu menarik Catalina ke sisinya sebelum menarik selimut dan menutupi tubuh mereka berdua. Di bawah selimut, ia memeluknya erat.


"Pria tercela," Catalina memaki. Di saat seperti ini pun, dia masih punya waktu untuk menggodanya. Benar-benar tidak tahu malu.


Sehan mencium bahunya. "Makian itu, tidak buruk," timpalnya, puas. "Tapi makan malam sudah siap, haruskah aku meminta mereka membawanya ke sini?" Melihatnya tidak berdaya, ia tahu Catalina hanya perlu memejamkan mata untuk tertidur. Namun gadis itu akan kelaparan jika tidak mengisi perutnya.

__ADS_1


Catalina tidak menjawab. Nafasnya mulai teratur dan ia sudah lama pergi ke alam mimpi.


__ADS_2