
Malam harinya.
Hujan turun membasahi bumi.
Malam yang panjang segera di isi dengan lebatnya air yang jatuh dari langit, membasahi segala yang ada di bawahnya.
Catalina baru saja keluar dari rumah sakit ketika rintik hujan jatuh di kepalanya. Bukannya menghindar dan berteduh, ia justru menengadahkan tangan. Menampung air hujan dengan telapak tangannya.
Catalina memutuskan untuk meninggalkan Tatiana dengan perawat untuk malam ini, namun tanpa di duga, hujan turun tiba-tiba. Membuatnya terjebak di antara dinginnya malam dan basahnya hujan.
Ia melepaskan masker yang menutupi wajahnya lalu berjalan pelan meninggalkan rumah sakit. Menerobos gelapnya malam dengan hujan yang mengguyur adalah pilihan paling tepat untuk meluruhkan rasa lelah di hatinya.
Berjalan menyusuri trotoar, ada banyak hal yang ia pikirkan.
Kecelakaan yang menimpa Tatiana dan membuatnya koma, juga kecelakaan yang menimpanya di Newcastle upon Tyne, adalah ulah Pamela. Meski Sehan hanya menutupi kecelakaan Tatiana dan tidak menutupi kecelakaan yang menimpanya, namun ia tidak tahu alasan kenapa Sehan membantu Pamela menutupi kejahatannya.
Tidak.
Sebenarnya masuk akal.
Pamela adalah tunangan Lexus. Lexus adalah adik Sehan. Kejahatan yang Pamela lakukan, masuk akal jika Sehan membantu menutupinya. Justru aneh jika pria itu tidak terlibat. Lagipula daripada orang lain, orang yang jelas-jelas akan menjadi anggota keluarga adalah yang terpenting.
Apalah artinya nyawanya, apalah artinya nyawa Tatiana, semua itu tidak penting untuk Sehan. Sama seperti bagaimana ia ingin melindungi Tatiana, Sehan juga melakukan hal yang sama. Pria itu juga ingin melindungi Lexus, sepenuh hati. Dibanding adiknya sendiri, dibanding saudara yang terikat dengan darah, orang lain hanyalah kerikil yang menggelinding. Sama sekali tidak penting.
Itu benar-benar bukan hal yang aneh.
Namun kenyataan itu terlalu lucu untuk dirinya. Sangat lucu sampai ia tidak bisa lagi tertawa.
Di awal pertemuannya dengan Nick, Nick pernah berkata, kemungkinan besar Sehan terlibat dalam kecelakaan Tatiana. Ia juga sempat berpikir begitu. Namun tiba-tiba ia menjadi buta, tidak tahu arah, tidak dapat melihat kenyataan yang ada di depannya. Ia justru terpesona dan jatuh cinta padanya.
Jika yang Sehan tutupi adalah kasus orang lain, bukan masalah besar. Namun itu adalah kasus yang menimpa Tatiana. Sangat aneh jika ia tidak membenci orang yang jelas-jelas menutupi kasus kecelakaan yang menimpa saudara kembarnya, sangat bodoh jika ia tidak membenci orang yang jelas-jelas membela penjahat.
Bahkan jika ia bodoh dan tidak punya otak, bahkan jika ia dungu dan terbelakang, ia masih bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Dari sudut pandangnya, ia menganggap apa yang Sehan lakukan adalah dosa besar.
Membela Pamela yang berniat membunuh Tatiana adalah dosa yang tidak terampuni. Dan ia tidak akan pernah memaafkan siapapun yang terlibat di dalamnya bahkan jika Sehan adalah orang yang ia cintai.
__ADS_1
Tidak akan pernah.
Sementara Catalina tenggelam dalam kebencian, di ruang CEO di perusahaan Geffrey, tidak kunjung mendapat kabar dari Catalina, Sehan mulai gelisah. Meski tahu alasan mengapa Catalina tidak menghidupkan ponsel karena sedang sibuk menjaga saudara kembarnya, namun alasan itu tidak lantas membuatnya tenang.
Semakin memikirkan, ia justru semakin gelisah.
Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan jarinya mengetuk lututnya dengan tempo lambat. "Catalina," gumamnya. Selain helaan nafas panjang, hanya nama itu yang terlontar dari mulutnya. Juga hanya sosok itu yang terlintas di benaknya. Ia merindukan gadis itu. Sangat merindukannya.
Namun, apakah semuanya baik-baik saja?
Apakah alasan Catalina tidak menghubunginya murni karena merawat Tatiana, bukan karena membencinya? Bukan karena marah padanya? Bukan karena tidak ingin melihat wajahnya?
Sehan berhenti mengetuk dan memijit di antara alisnya.
Omong-omong, Catalina belum tahu jika ia menghapus bukti kecelakaan Tatiana dan menutupi keterlibatan Pamela dalam kasus itu, kan?
Semoga saja belum.
Tidak.
Semoga saja gadis itu tidak tahu. Tidak pernah tahu. Lagipula Tatiana sudah sadar. Gadis itu bangun, seharusnya segalanya menjadi jauh lebih baik.
Ya, segalanya pasti akan menjadi lebih baik.
***
Hujan masih belum reda juga.
Catalina menggigil kedinginan setelah berjalan kaki lebih dari lima belas menit di bawah guyurannya. Ia tidak memiliki arah tujuan. Ia tidak tahu kemana akan pergi. Ia hanya berjalan kemana kaki membawanya.
Melihat deretan pertokoan di pinggir jalan, Catalina menghentikan langkah kakinya. Berdiri di antara toko pakaian dan toko makanan, adalah Tattoo Studio. Terpikir sesuatu, Catalina melanjutkan langkah dan membuka pintu Tattoo Studio tanpa ragu.
"Apakah masih buka?" tanya Catalina ketika berhasil masuk ke dalam.
"Astaga, Nona! Apa yang terjadi padamu?" Mengabaikan pertanyaan Catalina, salah seorang pegawai Tatto Studio yang sedang bersih-bersih memekik ketika melihat Catalina masuk dengan tubuh basah kuyup. Ia mengambil handuk dengan cekatan lalu berjalan menuju Catalina dan memberikan handuk bersih itu kepadanya. "Keringkan dirimu dengan ini," ucapnya.
__ADS_1
"Terima kasih," ujar Catalina sembari menerima handuk pemberiannya lalu mulai menyeka tubuh serta rambutnya.
"Duduklah! Aku akan membuatkan minuman hangat untukmu," ucapnya sebelum pergi menuju mesin pembuat kopi dan membuatkan secangkir kopi untuk Catalina.
Catalina mendudukkan dirinya tanpa mengalihkan pandangannya dari wanita yang tampak sibuk mengutak-atik mesin pembuat kopi. Ia bertanya-tanya, manusia yang ia jumpai secara sengaja atau tidak sengaja kebanyakan adalah orang-orang yang baik.
Ia pikir keberuntungan benar-benar berpihak padanya.
Namun ternyata ia keliru.
Beberapa orang baik memang ia jumpai, namun tidak sedikit juga manusia jahanam yang datang lalu menorehkan luka padanya tanpa sedikit pun belas kasihan, tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Benar-benar hidup yang tidak bisa di prediksi.
Selesai membuat secangkir kopi, si pegawai Tatto Studio segera berjalan menuju Catalina dan meletakkan cangkir kopinya di atas meja di depan Catalina. "Minumlah selagi hangat," ucapnya.
Catalina mengangguk. "Terima kasih," ucapnya. Ia mengambil cangkir kopinya dan memperhatikan wanita itu lekat. Dia adalah seorang wanita yang mungkin berusia sekitar dua puluh delapan tahun dengan banyak tato di tubuhnya. Dari apa yang dia lakukan, juga keramahan itu, ia menduga wanita itu adalah tattoo artist yang bekerja di sini.
"Jangan sungkan," timpalnya ramah.
Catalina menyesap sedikit air di dalam cangkir sebelum meletakkan kembali cangkirnya ke tempat semula. "Apakah tempat ini sudah tutup?" tanyanya kemudian.
"Belum namun kami sedang bersiap-siap untuk tutup," jawabnya. Ia dan satu rekannya sedang mempersiapkan diri untuk tutup. Ritual rutin sebelum meninggalkan studio adalah membersihkan setiap sudut ruangan sampai bersih. Dan mereka sedang melakukannya sebelum pergi.
"Bisakah kalian menunda sebentar lagi? Aku membutuhkan bantuan kalian," ujar Catalina. Ia berniat untuk membuat dua tato di tubuhnya. Satu di lengan dan satu di belakang telinga. Ia yang sebelumnya belum memiliki gambaran apapun, bahkan sekarang ia sudah mendapatkan konsep untuk kedua tatonya.
Wanita bermanik mata biru itu mengerutkan kening, terkejut sekaligus bingung.
"Aku akan membayar tiga kali lipat," ujar Catalina lagi.
Raut bingung si wanita berubah menjadi senyum kecil. Membayar seorang tattoo artist untuk membuat sebuah tato bukan lah sesuatu yang murah. Ditambah gadis itu bersedia membayar tiga kali lipat. Ia yang mendengar, tidak mungkin tidak tertarik. Apalagi, ini adalah Tatto Studionya. Tidak akan ada melarang jika studionya tutup lebih terlambat dari biasanya.
"Itu bisa di bicarakan," ucap wanita itu kemudian.
Catalina menghela nafas lega. "Bagus. Baik-baik saja maka."
__ADS_1