
"Bagaimana?" Catalina bertanya setelah lebih dari setengah jam menunggu Nick di dalam mobil. Karena bosan, sepanjang waktu, ia melihat berita ekonomi Rusia. Dan ya, ia menemukan sesuatu yang cukup menarik tentang beberapa perusahaan besar di sana.
Nick mengaitkan sabuk pengamannya. "Semua berjalan lancar. Dan dalam tiga hari, para pemain dan kru akan berkumpul untuk perkenalan," jawabnya. "Kau juga harus ikut, Catalina. Kau pemeran wanita kedua. Meski bukan pemeran wanita utama, peranmu sangat penting di serial ini." Serial yang akan Catalina perankan menceritakan tentang penghancuran sebuah keluarga yang dilakukan oleh pemeran wanita kedua karena dendam. Orang tua pemeran wanita kedua meninggal karena ibu si pemeran utama pria. Dan ya, Catalina memerankan peran itu. Dia harus menjadi gadis remaja yang normal, namun memiliki kepribadian mengerikan yang tidak di ketahui orang lain.
Itu memang sesuai dengan karakter Catalina yang sebenarnya. Kejam dan tidak berperasaan. Tidak heran gadis itu bisa meyakinkan produser, sutradara, serta teman lamanya yang merupakan penulis naskahnya. Ternyata itu makanan sehari-harinya.
Catalina mengangguk. "Baiklah," ujarnya. "Berikan aku informasi tentang para pemain dan kru. Aku perlu informasi tentang mereka." Siapa tahu di antara para pemeran atau kru, ada yang mengenalinya? Jika ia tidak tahu apapun tentang mereka, mereka bisa curiga ia bukan Tatiana.
"Aku akan memberikannya besok," ujar Nick. "Ingat, kau harus sedikit mengubah sikap agar tidak di musuhi siapapun." Industri hiburan, tempat yang rumit dan terkadang mengerikan. Banyak hal terjadi dan beberapa orang hancur karena menyinggung orang yang tidak boleh di singgung.
Bukan berarti Nick tidak bisa menyelesaikan hal sepele itu. Ia hanya terlalu malas untuk melakukannya. Itu sebabnya ia tidak ingin Catalina membuat ulah karena ia enggan membereskannya.
"Aku tahu." Catalina menghidupkan mesin mobilnya lalu melajukannya secara perlahan. Setelah berkumpul dengan arus mobil di jalan raya, ia menggunakan kecepatan sedang. "Lagipula, kapan aku tidak menjaga sikap? Aku cukup sadar diri. Aku hanya aktris kecil, mana berani aku menyinggung orang?" Berurusan dengan Sehan saja sudah membuatnya pusing. Ia tidak mungkin menyinggung orang lagi dan menambah musuh. Bisa-bisa, ia gagal menjadi aktris dan harus menjadi budak Sehan seumur hidup.
Membayangkan hidup di bawah kaki Sehan dalam belenggunya, persetan dengan gaji super besar, siapa yang sudi bekerja untuk orang seperti itu? Jika itu ia, ia lebih memilih kembali ke Valdes dan menjalani hari-harinya dalam kesulitan.
"Terserah apa yang kau katakan," Nick enggan bicara lagi. Catalina adalah gadis paling tidak tahu malu yang pernah ia kenal. Selain tidak pernah mengakui kesalahan yang dia lakukan, dengan tidak tahu malunya dia justru menyalahkan orang lain demi membenarkan diri sendiri.
Keadaan hening untuk sementara waktu sampai suara Catalina memecah kesunyian. "Nick," panggilnya.
"Mm?"
"Pemeran utama pria, bukan orang yang ku kenal, kan?" Yang Catalina takutkan, itu adalah Lexus. Ia benci berurusan dengan orang-orang dari keluarga Geffrey. Mengingat bagaimana Sehan mengancamnya agar menjauhi Lexus, maksudnya sudah sangat jelas. Ia tidak boleh bermain peran dengan pria dari keluarga Geffrey itu.
Entah apa alasannya.
Entah karena Tatiana pecandu obat-obatan terlarang atau karena Sehan tidak ingin Lexus berhubungan dengan tunangannya sendiri, entahlah. Hal seperti itu, hanya Sehan yang tahu.
__ADS_1
Nick diam sebentar. "Seharusnya, bukan," jawabnya.
Catalina memiringkan sedikit kepalanya. "Kau terdengar tidak yakin?"
"Aku bukan tidak yakin. Aku hanya tidak tahu siapa dia," jelasnya.
Catalina sedikit bingung. "Katakan, kenapa kau tidak tahu?"
"Karena pemeran utama pria masih rahasia."
"Oh." Catalina membentuk huruf O dengan bibirnya.
"Kabarnya dia adalah aktor terkenal yang hebat," Nick menambahkan.
Catalina tercengang. "Aktor terkenal yang hebat?" Siapapun dia, asal bukan pria dari keluarga Geffrey, tidak apa-apa. Ia tidak keberatan bahkan jika dia semenyebalkan Nick.
"Ya." Nick mengangguk. "Kau harus mempersiapkan diri dengan baik, " ujarnya. "Maksudku jika pemeran utama pria sehebat dan seterkenal itu, kau bisa belajar banyak hal darinya."
Keadaan kembali hening.
Catalina sibuk dengan kemudinya. Saat mobil berhenti di lampu merah, sesuatu yang penting tiba-tiba terlintas di benaknya. "Nick." Ia memanggil Nick sekali lagi.
"Mm. Apa lagi?"
"Em.. apakah Tatiana menggunakan obat-obatan terlarang atas kemauannya sendiri? Atau.. ada orang lain yang memaksanya?" Jika Tatiana memakai atas keinginannya sendiri, baik-baik saja maka. Bukan ia memperbolehkan. Menggunakan obat semacam itu jelas dilarang, tidak peduli apa alasannya. Ia hanya berpikir, setidaknya ia tidak perlu repot mencari siapa pelakunya.
Tetapi jika Tatiana menggunakannya karena desakan orang lain, jika Nick mencurigai Sehan atas kecelakaan Tatiana, seharusnya Nick juga mencurigai orang lain untuk kecanduannya terhadap obat terlarang.
__ADS_1
Orang seperti Sehan, Catalina yakin Sehan bisa melakukan lebih dari sekedar menjejalkan obat-obatan terlarang kepada Tatiana. Namun, di satu sisi, ia tidak yakin pria itu melakukan hal seperti itu. Daripada menggunakan cara kotor, biasanya orang seperti Sehan lebih memilih cara licik.
Dan dengan menghabisinya, semua beres hanya dengan satu sentuhan. Tidak perlu repot menggunakan cara-cara tidak efektif yang hanya akan memberikan efek jangka panjang apalagi jika itu sampai bertahun-tahun.
Lagipula untuk seorang pebisnis, hal semacam itu kurang efisien karena memakan banyak waktu. Mereka menyukai sesuatu yang instan. Jadi daripada memberinya obat-obatan, lebih baik langsung menghabisinya.
Intinya, bukan Sehan pelakunya. Pasti ada orang lain yang melakukannya jika Tatiana mengkonsumsi obat-obatan karena desakan orang lain. Tetapi, jika bukan Sehan, lalu siapa? Mungkinkah orang tua angkat Tatiana?
Nick tersentak. Ia diam untuk sementara waktu sebelum akhirnya menjawabnya. "Entahlah. Aku tidak yakin. Dia hanya berkata harus menggunakannya. Dia tidak mengatakan alasan apapun. Dan itu di mulai sekitar dua tahun yang lalu, saat dia berusia delapan belas tahun." Nick ingat betul pada saat itu ia mengetahuinya dari hasil tes darah Tatiana. Hasilnya terbukti bahwa gadis itu positif menggunakan obat-obatan terlarang.
Setelah menekannya untuk waktu yang lama, Tatiana mengakui jika dia menggunakannya. Saat ia bertanya apa alasannya, dia hanya menjawab harus menggunakannya. Dan saat ia bertanya siapa yang menyuruhnya menggunakannya, dia berkata dia melakukannya atas keinginannya sendiri, tidak ada yang meminta atau memaksanya.
Catalina memutar bola matanya. Dua tahun itu waktu yang lama. Ada sekitar tujuh ratus tiga puluh hari. Dan selama itu, apa saja yang Nick lakukan? Kenapa dia tidak melakukan apapun untuk menghentikannya?
Tahu apa yang Catalina pikirkan, Nick buru-buru menjelaskan. "Jangan tanya kenapa aku tidak menghentikannya," ujarnya. "Aku sudah melakukannya. Namun karena keinginan untuk berhenti tidak datang dari dirinya sendiri, aku tidak bisa melakukan apapun. Aku hanya bisa membantunya menutupi rahasia itu." Bukan berarti ia tidak berusaha. Ia sudah melakukan beberapa upaya penyembuhan. Seperti mengundang dokter dan beberapa orang yang ahli dalam bidang rehabilitasi. Namun ternyata, itu masih tidak cukup. Akhir kisahnya, sudah tertebak. Tatiana gagal. Gagal total.
Catalina menghela nafas panjang. Obat-obatan seperti itu memang bersifat candu, membuat penggunanya sulit untuk berhenti karena muncul rasa ingin mengonsumsi secara terus-menerus. Jika seseorang tidak memiliki keinginan untuk berhenti, kecuali polisi datang menjemputnya, dia tidak akan pernah berhenti. Begitu sulit lepas dari hal-hal seperti itu. Tidak heran Nick gagal membuat Tatiana kembali ke jalan benar. Karena memang sesusah itu.
Meski Catalina tidak pernah berurusan dengan hal-hal seperti itu, ia membacanya di beberapa artikel. Apalagi sejak tahu saudari kembarnya menjadi penggunanya, ia makin sering mencari tahu. Dan itu benar-benar tidak ada manfaatnya sama sekali, yang ada hanya kerugian. Selain harganya yang mahal, penggunaannya juga dilarang. Itu sebabnya ia lebih memilih rokok daripada hal-hal yang melanggar hukum.
Beberapa saat kemudian, Catalina membelokkan mobilnya ke rumah sakit dan menghentikannya di tempat biasa di sudut tersembunyi. Setelah memakai masker, kacamata hitam, topi, dan jaket, ia dan Nick segera turun dari mobil dan pergi ke ruang tempat Tatiana di rawat.
Seperti biasa, gadis itu terbaring tak berdaya di atas ranjang. Hanya peralatan medis yang setia menemani di sekitarnya selama dua puluh empat jam tanpa henti.
Wajah tenangnya menunjukkan betapa nyenyaknya dia tidur. Seolah apapun tidak bisa membangunkannya dari tidur panjangnya.
Entah apa yang dia mimpikan. Entah itu sesuatu yang indah atau sesuatu yang buruk. Namun melihat bagaimana ekspresinya, mungkin mimpi itu sangat indah sampai gadis itu tidak memiliki keinginan lagi untuk bangun.
__ADS_1
Catalina tersenyum kecil saat melihat wajahnya. Kemudian ia mengusapnya perlahan dan berbisik di telinganya. "Tatiana, bagaimana kabarmu hari ini? Aku tahu kau baik-baik saja," celetuknya dengan suara rendah. "Kau tahu, menyerah itu hal yang mudah. Tapi, itu tidak pantas untukmu. Kau orang yang pantang menyerah. Aku percaya kau bisa melewati ini. Aku percaya kau bisa melakukannya." Ia mengakhiri perkataannya dan menanamkan ciuman kecil di dahinya. "Aku menyayangimu, Tatiana. Sangat. Jadi, cepat bangun dan peluk aku."
Selesai mengatakan beberapa patah kata, Catalina duduk sebentar di sofa dan menatap sosok cantik yang masih setia memejamkan mata. Mengawasi Tatiana dari jarak yang sangat dekat, adalah cara terbaik untuk mengisi daya tiap kali ia kelelahan. Hanya dengan melihatnya dan membiarkan beberapa emosi menumpuk, ia bisa melalui hari-harinya dengan penuh semangat tanpa sedikit pun keluhan.