
Sambil menahan perasaan aneh, Catalina mencubit perut Sehan. "Sehan," panggilnya dengan suara rendah.
"Ya?" Sehan menyahut cepat. Merasakan cubitan Catalina di perutnya, ia menunjukkan ekspresi meminta pengampunan.
"Berhenti," ucap Catalina lagi sambil menghentikan cubitannya.
"Berhenti? Hentikan apa? Aku tidak melakukan apapun," Sehan menjawab tenang sembari menunjukkan wajah tampan tanpa dosa.
"Apapun yang kau pikirkan sekarang, hentikan!" bisiknya di telinga pria itu. Pikiran cabul Sehan, tidak mungkin ia tidak tahu. Pria yang bahkan memintanya memakai lingerie, bisa melakukan hal yang tidak lazim untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Dan ia yakin Sehan akan melakukan yang lebih parah jika tidak di cegah.
Sehan mengusap puncak kepala Catalina dengan sentuhan kegembiraan. "Kau benar-benar mengerti aku." Namun tentu saja ia tidak serius untuk merealisasikannya. Setidaknya tidak untuk saat ini.
Mengerti pantatmu! Raung Catalina di dalam hati. Sebenarnya miliknya sudah tidak sakit lagi. Namun jika ia mengatakannya, ia yakin Sehan tidak akan membiarkannya pergi. Dan bisa jadi pria busuk itu akan menahannya dan mengulanginya lagi dan lagi.
Ia tidak ingin menanggung resiko tidak bisa berjalan jika pria itu benar-benar menyerangnya seperti binatang buas.
Ia tidak mau. Titik.
Melupakan tentang itu, Catalina melirik meja makan dan ketika melihat begitu banyak makanan tersaji di atas meja, sebelah alisnya terangkat. "Kenapa makanannya banyak sekali? Apa kau selalu seperti ini?" tanyanya. Orang kaya benar-benar menjalani hidup dengan nyaman. Lapar tinggal makan, tidak perlu banting tulang dan bekerja keras hanya untuk sepotong roti.
Inilah kehidupan yang Catalina inginkan.
Namun untuk mencapai keinginan itu, agaknya cukup sulit. Jalan masih panjang dan berliku. Ia bahkan tidak yakin bisa menjalani kehidupan seperti itu jika kehidupannya sekacau ini.
"Tidak," jawab Sehan. Ia mempersilahkan gadis itu duduk kemudian membantunya dengan kursinya.
"Terima kasih," ujar Catalina. "Lalu, apa karena aku?" Catalina tidak bisa memikirkan alasan lain lagi. Jika Sehan tidak terbiasa seperti ini, kenapa hari ini kebiasaan itu berubah, satu-satunya alasan mungkin karena dirinya, karena kehadirannya.
Sehan mengangguk. "Uh huh." Ia mengibaskan tangan, meminta semua orang untuk pergi. Setelah semua orang undur diri, termasuk Harrison, menyisakan ia dan Catalina berdua saja.
Catalina tercengang. "Kenapa?" tanyanya heran. Matanya berkedip seperti kelinci kecil dan tidak menyadari bahwa Harrison dan para pelayan menginginkan dirinya menjadi nyonya di rumah ini. Pikiran sempit Catalina, tidak bisa berpikir ke arah sana.
"Sepertinya semua orang ingin membuatmu nyaman tinggal di sini," ucap Sehan lagi. Bahkan tanpa instruksi darinya, orang-orang begitu bersemangat dan serius memperlakukan Catalina.
Ya, Catalina memang istimewa.
Tidak heran semua orang begitu menyayanginya, termasuk dirinya.
Catalina mengusap tengkuknya. Ia hanya orang yang secara kebetulan di bawa pulang oleh Sehan karena tidak sengaja bertemu di jalan. Jadi ia benar-benar tidak mengharapkan mereka memperlakukannya secara berlebihan.
"Jangan pikirkan hal lain saat bersamaku," celetuk Sehan. "Sekarang makan makananmu."
Catalina mengangguk. "Uh huh. Semuanya tampak lezat." Ia mengambil pisau dan garpunya kemudian memakan apapun yang ia inginkan tanpa malu-malu.
__ADS_1
Melihatnya makan begitu lahap, Sehan gagal menyembunyikan senyum. Daripada gadis yang pilih-pilih makanan, ia lebih suka gadis yang tidak membuang-buang makanan dan memakan apapun yang ada tanpa mengeluh.
"Kau menyukainya?" tanya Sehan. Ia juga mulai memakan makanannya dengan senang hati. Belum pernah ia merasa begitu menginginkan mencicipi makanan. Dan berkat kehadiran Catalina dengan nafsu makannya yang besar, secara tidak sadar menular padanya.
"Iya, ini sangat enak." Semuanya adalah makanan yang dulu tidak pernah ia makan, dan sekarang semua itu ada di hadapannya, bagaimana mungkin ia masih mempertahankan sikap jual mahal? Sekali lagi, hal semacam itu benar-benar tidak berlaku untuk orang miskin.
***
Setelah sarapan berakhir, Catalina pamit untuk pulang.
Ia bahkan tidak sempat pergi lantai atas untuk mengambil masker dan kacamata hitam. Ia kehilangan banyak waktu di meja makan karena terselip percakapan yang tak terhindarkan.
"Harrison, bisa kau ambilkan tas, masker dan kacamata hitam untukku?" tanya Catalina ketika melihat pria itu datang dengan beberapa pelayan untuk menyingkirkan piring kotor. Ia sudah bangkit dari duduknya dan bersiap pergi ketika teringat barang-barang itu.
"Akan saya ambilkan. Bisakah Anda menunggu sebentar?" jawab Harrison.
"Mm. Pergilah!" Catalina mengangguk dan Harrison bergegas pergi dan naik ke lantai dua setelah membungkukkan sedikit badannya.
Melihat kepergiannya, Catalina menghela nafas panjang.
Akhirnya, ia bisa meninggalkan tempat ini.
Meski tempat ini indah dan menyenangkan, ia merasa berdosa karena sudah membohongi banyak orang. Bahkan jika dipikir sekali lagi, ia benar-benar jahat.
Sehan masih duduk di tempat yang sama dan sedang memeriksa email yang masuk ke ponselnya ketika pembicaraan itu terjadi. Meski matanya fokus menatap ponsel, namun telinganya mendengar percakapan yang dilakukan oleh Catalina dan Harrison dengan sangat jelas.
"Kau benar-benar akan pergi, eh?" tanya Sehan di sela-sela kecupannya.
Catalina membeku. Tubuhnya yang semula santai, tiba-tiba sekeras batu. Semua pelayan yang membereskan piring-piring di atas meja memang sudah pergi. Menyisakan dirinya dan Sehan saja. Tapi meski begitu, tidak bisakah pria ini sedikit menahan diri?
Dorongan seksual yang menonjol di pantatnya menjadi bukti jika pria itu menginginkannya lagi. Dan kenyataan itu membuatnya takut untuk bergerak.
Posisinya yang berada di pangkuannya membuatnya merasakan dengan jelas seberapa besar keinginan pria itu. Dan ia takut membayangkan jika dia benar-benar mengulangi keintiman yang tadi malam terjadi.
Melakukan yang pertama, cukup menyakitkan.
Ia bahkan takut mengulanginya lagi.
"Kenapa kau tidak menjawab, huh?" Sehan masih melakukan hal yang sama. Kali ini kecupannya bahkan sudah berubah menjadi gigitan-gigitan kecil. Karena Catalina adalah seorang aktris, ia tidak berani meninggalkan gigitan cinta di kulitnya. Ia melakukannya dengan hati-hati. Namun saat menyadari dia akan pergi jauh, ia menyesal tidak melakukannya.
Seharusnya ia melakukannya untuk menandai wilayahnya dan mengklaim kepemilikannya. Jika begitu, pria yang ingin mendekat pasti tidak berani mendekat.
"Apa aku boleh menggigit di sini?" Sehan kembali berbicara. Mulutnya sudah berada di lehernya dan siap menggigit jika Catalina memperbolehkan.
__ADS_1
"Ja, jangan lakukan itu, Sehan," Catalina tergagap dan mencegah dengan suara halus. Ia tentu tidak bodoh dengan gigitan yang Sehan maksud. Tubuhnya sangat berharga. Setidaknya itulah yang Nick katakan. Jadi ia tidak boleh melukainya apalagi itu dilakukan oleh seorang pria.
Ada bekas piring Sehan di kondominiumnya saja, Nick sudah kebakaran jenggot. Apa jadinya jika Nick tahu ia tidur dengan Sehan?
Bisa-bisa pria itu mengikutinya hidup-hidup.
"Kenapa?" tanya Sehan. "Aku ingin melakukannya."
"Hei, dengar, akan sangat merepotkan jika mereka tahu aku memiliki tanda yang ditinggalkan seorang pria." Setidaknya alasan itu masuk akal dan semoga Sehan bisa menggunakan otaknya untuk berpikir.
"Lalu kapan aku bisa melakukannya?" Sehan merajuk dan menyembunyikan wajahnya di leher Catalina seperti kucing kecil yang kehilangan mainannya.
Catalina tercengang. Melihat Sehan yang biasanya acuh dan dingin tiba-tiba bertingkah seperti itu, perasaannya menjadi rumit dan hatinya luluh seketika.
Ia menoleh dan menangkap tatapan kesepian dari sorot mata pria itu. Entah itu hanya halusinasinya atau bukan, namun ia benar-benar merasakannya.
Ia membelai wajahnya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan darinya kemudian memiringkan sedikit kepalanya dan mencium ringan di bibirnya. Kemudian ia menjauhkan wajahnya dan berujar, "Apa sekarang merasa lebih baik?" Mungkin pria itu perlu sedikit penghiburan. Namun karena tidak pandai menghibur, sentuhan fisik menjadi pilihannya.
Merasakan kehangatan bibir Catalina di bibirnya, Sehan merasakan kehampaan ketika Catalina menarik bibirnya kembali. Kehangatan yang semula ada, membekas dan perasaannya yang semula sedingin es, menghangat seperti mentari di awal musim semi.
Catalina yang berinisiatif menciumnya, menjadi penghiburan tersendiri untuknya. Dan sikap serakahnya muncul secara alami. Tiba-tiba hasrat untuk menguasai Catalina sepenuhnya terbentuk di hatinya.
Gadis ini adalah yang ia cari selama ini.
Gadis ini adalah yang ia butuhkan.
"Kenapa kau diam saja?" Catalina kembali buka suara. Tangannya melingkar di leher Sehan dan tubuhnya bergelayut manja seperti rubah betina yang mencari mangsa.
Namun niatnya melakukan itu bukan untuk menggodanya, ia hanya ingin bertingkah manis agar Sehan melepaskannya.
Tetapi kata 'manis' yang Catalina maksud, bagi Sehan bukan lagi sekedar 'manis', tetapi menggoda.
Sehan menatap gadis yang menempel manja padanya dan seketika suasana hatinya menjadi jauh lebih baik.
Menyadari gadisnya mulai bertingkah nakal dan kehilangan kepolosannya, Sehan tidak bisa menahan diri untuk tidak menggodanya, "Kenapa kau bertingkah mesum pagi-pagi begini, em?" tanyanya. Suara magnetisnya membawa godaan yang tidak bisa disembunyikan.
"Kau lah yang berpikir mesum," sahut Catalina. Ia menegakkan tubuhnya dan memaksa dirinya untuk tenang. Sialan pria ini. Ia bertingkah manis, oke? Bagaimana mungkin itu mesum? Pria ini sepertinya tidak bisa membedakan kata 'manis' dan 'mesum'.
"Begitukah?" Sehan terkekeh. "Kau masih mengatakan tidak bertingkah mesum, lalu siapa yang menciumku terlebih dulu? Dan juga, siapa yang menempel padaku seperti gurita?"
Catalina melotot. Kecupan yang ia lakukan hanyalah cara untuk menghibur sekaligus menyenangkannya. Kecupannya juga lembut, bukan karena nafsu. Ia murni hanya ingin membuat perasaannya membaik, tidak ada niat lain.
Tindakan menempel padanya juga tidak untuk menggoda. Sekali lagi ia tekankan, ia hanya bertingkah manis karena biasanya pria menyukai gadis yang manis, lembut dan manja seperti teratai putih hingga seorang pria ingin melindungi dan memberikan dunia kepadanya.
__ADS_1
"Kau pikir aku akan percaya meski kau memelototiku?" Selesai berkata, Sehan mencengkeram tengkuk Catalina dan sedikit mendongak sebelum menanamkan ciuman di bibirnya.
Satu kecupan, jangan harap itu cukup.