
Catalina tercengang.
Ia tertegun dan terdiam seperti idiot.
Mendapat kabar seperti ini, seharusnya ia berjingkrak seperti orang gila. Namun anehnya ia tidak melakukannya dan entah kenapa ia tidak melakukannya. Ia justru membeku di tempatnya seperti orang bodoh.
Kelinglungan itu terjadi cukup lama dan Catalina baru membalas jabatan tangan dokter ketika Nick membantu menggerakkan tangannya. Tiba-tiba ia tersadar dan buru-buru bicara, "Dia benar-benar sudah sadar? Sungguh?" tanyanya dengan tidak percaya.
Tatiana sadar?
Dia benar-benar sudah sadar?
Catalina tidak tahu apa yang ia pikirkan. Namun seluruh pikiran dan hatinya di penuhi kebahagiaan. Kebahagiaan yang tak terlukiskan. Mimpi yang ia pikir hanya mimpi, sekarang menjadi nyata. Betapa bagusnya. Mungkin kah angin mulai berhembus ke arah yang semestinya?
Gadis yang ia pikir tidak akan bisa bertahan, ternyata mampu melewati semua ini. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia pernah berkata akan memberikan semuanya kepada Tatiana jika gadis itu sadar, namun sekarang setelah Tatiana sadar, ia justru tidak tahu harus berbuat apa.
Dokter mengangguk. "Benar, Nona Tatiana sudah sadar. Tetapi kami masih harus memantaunya. Untuk sementara dia mungkin tidak akan berbicara atau bangun. Namun itu bukan masalah besar. Ini hanya masalah waktu. Dia sudah lama tidak sadarkan diri dan tubuhnya sudah lama tidak bergerak. Dia membutuhkan lebih banyak waktu untuk beradaptasi pasca koma." Dokter menjelaskan dengan serius meski tidak ada yang bertanya. "Juga, dia akan melakukan serangkaian terapi jika keadaannya mulai membaik," imbuhnya.
Catalina mengangguk cepat. "Tentu. Baik-baik saja maka," balasnya. Tidak peduli berapa banyak waktu yang Tatiana butuhkan untuk memulihkan diri, untuk membetulkan kondisinya, tidak peduli berapa banyak terapi yang akan Tatiana jalani, ia akan selalu berdiri di sampingnya dan tidak akan pernah meninggalkannya. "Lalu, apakah aku bisa melihatnya dari dekat? Dan menyentuhnya?" Catalina melanjutkan. Ia tidak berada di sini untuk menonton. Ia ingin memeluknya, menceritakan sebuah kisah, menyanyikan sebuah lagu, ia ingin melakukan segala yang bisa dilakukan untuk mempercepat pemulihannya.
Siapa tahu dengan kehadirannya di sini, Tatiana memiliki lebih banyak keinginan dan bisa pulih lebih cepat?
__ADS_1
"Ya, tentu. Anda bisa menjaganya di sisinya. Ajak dia bicara dan buat lebih banyak rangsangan agar dia segera terbiasa dengan kehidupan barunya setelah bangun dari koma," dokter kembali menjelaskan.
"Baik, terima kasih," ucap Catalina.
"Kalau begitu, kami permisi." Kedua dokter undur diri. Tidak lama berselang, kedua perawat juga turut undur diri. Menyisakan Catalina dan Nick yang saling berpandangan, dan juga Tatiana yang masih terbaring di ranjangnya.
Setelah kepergian dokter dan perawat, Catalina berjalan menuju Tatiana dengan jantung yang berdegup kencang. Antara gugup dan senang, ia tidak lagi bisa membedakannya. Namun sudah jelas ia merasakan kedua emosi itu.
Sementara Nick, ia berjalan di samping Catalina dan menggenggam tangannya, sama gugupnya. Namun ia tampak jauh lebih tenang di banding Catalina yang terang-terangan menunjukkan kegugupannya.
Setelah mencapai ranjang tempat Tatiana berbaring, Catalina memang melihat mata Tatiana terbuka. Benar-benar terbuka, lebar. Gadis yang biasanya hanya tidur dan tidur ketika ia datang, sekarang sungguh-sungguh membuka matanya.
Catalina melepaskan genggaman tangan Nick dan menggenggam jemari Tatiana dengan hati-hati. Infus yang tertanam di punggung tangan Tatiana adalah salah satu yang terpenting dalam menopang kehidupannya selama koma.
Nick mendekatkan sebuah kursi lalu menekan bahu Catalina agar gadis itu tidak mempersulit dirinya sendiri. Gadis itu duduk dengan patuh dan mulai menyentuh wajah Tatiana.
Tatiana yang sudah sadar, dapat merasakan sentuhan lembut di wajahnya. Kehangatan ini, kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia tahu sentuhan itu berasal dari Catalina. Saudarinya. Saudari kembarnya. Saudari yang sudah lama tidak ia temui, juga satu-satunya orang yang sangat ingin ia temui.
Ia ingin melakukan sesuatu.
Ia ingin memeluknya. Namun tubuhnya terlalu lemah. Bahkan untuk mengangkat tangan pun ia tidak bisa. Setetes bening jatuh dari sudut matanya. Ia sangat sedih. Menjadi tidak berdaya benar-benar menyesakkan. Tetapi ia bersyukur karena ini bukan lagi mimpi. Ini adalah kenyataan. Kehadiran Catalina di sini adalah sebuah kenyataan. Kenyataan yang indah.
__ADS_1
Ia menahan diri untuk tidak bersedih setelah menyadari hal itu.
Karena apapun yang terjadi padanya, bagaimanapun kondisinya, apapun keadaannya, ia yakin Catalina tidak akan pernah meninggalkannya.
Catalina mengusap air mata yang jatuh di sudut mata Tatiana dan mengulas senyum tipis. "Tatiana, akhirnya kau bangun. Jangan bersedih. Kumohon," ucapnya sambil menoleh ke samping dan Nick mengangguk kecil. Mempersilahkan agar Catalina bebas mengatakan apapun yang ingin ia katakan. "Aku sangat senang, jangan merusak kebahagiaan ini," imbuhnya.
Tatiana menggerakkan jemarinya, dan Catalina segera menggenggamnya. "Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau merasa lebih baik? Mana yang sakit? Bagian mana yang tidak nyaman?" Catalina memberondong beberapa pertanyaan kepada Tatiana dengan tidak sabar.
Tatiana sangat ingin membalas perkataannya. Namun ia benar-benar tidak bisa. Tenggorokannya kering. Bahkan setelah dokter yang tadi memeriksanya memberinya minum, ia masih merasakan kering di tenggorokannya. Membuatnya tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun meski ia sangat ingin.
Melihat pandangan Tatiana tampak lemah seolah akan tertidur lagi, Catalina kembali buka suara, "Kau tahu, ini sudah jam empat pagi. Dan aku tidak akan membiarkanmu tidur. Maksudku, aku takut jika kau memejamkan mata, kau akan kembali tertidur, lama, sangat lama sampai membuat orang di sekitarmu putus asa." Ia menjeda sebentar perkataannya. "Jika kau mau, mari kita tidak tidur sampai nanti, sampai aku yakin tidurmu hanya sebentar, tidak berjam-jam, tidak berhari-hari, tidak berminggu-minggu, tidak berbulan-bulan," lanjutnya sambil menahan air mata yang sudah terkumpul di matanya agar tidak jatuh.
Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah kenyataan yang masih membuatnya tidak tenang. Ia takut jika Tatiana memejamkan mata, gadis itu tidak akan bangun lagi.
Seperti ketakutan yang selama ini menerornya. Ketakutan yang sama masih belum pergi bahkan setelah Tatiana sadar. Ia tahu mungkin ia membutuhkan pertolongan psikiater. Namun ia cukup yakin psikiater juga tidak akan banyak membantu karena satu-satunya cara untuk membuatnya lebih baik adalah Tatiana.
Jika seseorang bisa menjamin Tatiana tidak akan koma lagi, mungkin keadaan mentalnya akan membaik detik itu juga.
Nick menyentuh bahu Catalina dan menepuknya pelan. "Tatiana akan membaik. Percayalah," ucapnya.
"Apakah menurutmu begitu?" Ia bertanya dengan suara rendah.
__ADS_1
Nick mengangguk. "Tentu. Aku sangat yakin."
Catalina mengulas senyum tipis. "Itu adalah hiburan terbaik yang pernah kudengar." Selama ini ketakutan itu hanya dirinya yang tahu. Ia menyembunyikannya dengan sangat baik karena ia tahu itu adalah kelemahannya. Dan ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya kepada orang lain. Tetapi Nick, pria itu selalu tahu apa yang ada dalam benaknya. Ketakutan, kecemasan, serta kegelisahannya, pria itu tahu semuanya. Dan dia selalu mencoba membantunya meredakannya.