
Catalina menguap.
Ia baru saja masuk ke kondominium dan meletakkan ponselnya di meja saat bel pintu berbunyi. Berpikir itu adalah Nick, ia berbalik dan membuka pintu. Namun apa yang memenuhi garis pandangnya, mengejutkannya.
Ia mengerutkan kening saat melihat siapa yang datang.
Pria itu tampak tinggi dan rapi dalam setelan bisnis mahalnya. Wajahnya yang tampan memasang ekspresi dingin dan kesal.
Jantung Catalina berdebar kencang.
Untuk apa pria sombong sialan itu datang ke sini?
Ketika Sehan melihat gadis itu membuka pintu dan terlihat santai dengan pakaian pesta yang seksi, ia menjadi lebih kesal. Dia berdandan sangat cantik dan memperlihatkan separuh dadanya dan lekuk tubuhnya kepada orang lain. Apakah dia memang selalu seperti itu? Memprovokasinya lagi dan lagi?
Sehan bergegas masuk dan menutup pintunya, kemudian ia menatapnya lekat ketika berhasil mencapainya. Gadis ini, gadis di depannya, bukan Tatiana. Namun secara fisik, mereka sama persis. Ia tidak tahu apakah ada perbedaan lain di antara mereka selain kepribadiannya atau tidak. Namun ia lega jika gadis yang menarik ini bukan Tatiana.
"Darimana kau?" Sehan buka suara setelah beberapa saat mengawasi sosok cantik di depannya. Mengenakan gaun pesta, gadis itu mungkin baru kembali dari sebuah acara. Namun yang mengganggunya, kenapa gadis itu tidak memilih pakaian yang lebih tertutup?
Wajahnya sangat cantik, mengingat seberapa mengesankan kepribadiannya sekarang, ia yakin ada banyak orang yang memperhatikan. Terlebih, fakta bahwa dia bukan Tatiana, ia semakin tercekik saat membayangkannya.
Jika itu Tatiana, ia tidak akan peduli. Entah apa yang dia kenakan, entah dia hidup atau mati. Namun sejak kemunculan Catalina di depannya, dia berhasil mencuri perhatiannya dengan semua yang gadis itu lakukan.
Tatiana yang tidak berguna, berubah menjadi Tatiana yang mengejutkan.
Namun ternyata bukan begitu.
Catalina yang menarik berpura-pura menjadi Tatiana, sedangkan Tatiana, dia masih terbaring koma di rumah sakit.
Catalina terpaku. Sebelah alisnya terangkat dan suaranya yang rendah tidak menjawab pertanyaannya. "Oh, hai, halo, kau datang?" Tidak ada angin tidak ada hujan bahkan cuaca di luar juga sangat bagus, tapi kenapa pria ini tiba-tiba muncul di kondominiumnya dan membawa badai bersamanya?
Saat melihat ke belakang pria itu dan pintu tertutup rapat, Catalina tahu ini bukan hal yang baik.
Kedatangannya yang tiba-tiba saja sudah aneh, belum lagi dia yang tampak kesal, ia ingin menelepon Nick untuk meminta bantuan, namun ponselnya ada di atas meja. Ia tidak yakin bisa meminta tolong kepada siapapun jika bahaya mengancam.
"Jawab aku dulu, darimana kau? Kenapa kau mengabaikan ku?" Sehan sedikit memaksa. Ia tidak suka dengan bagaimana cara gadis itu memperlakukannya. Bicaranya sangat lembut bahkan tersenyum manis kepada Ethan. Tapi kenapa dia memperlakukannya seolah ia adalah musuhnya?
Berbicara tentang logis, Catalina jelas memiliki hutang kepadanya. Gadis itu belum memberikan kompensasi yang sesuai. Jika harus menjilat, seharusnya gadis itu menjilatnya, bukan menjilat Ethan atau orang lain. Tapi kenapa, gadis itu selalu mengabaikannya dan marah tiap kali melihatnya?
Bibir Catalina berkedut, berusaha mengendalikan amarahnya. Dia pikir dia siapa? Berani sekali dia meminta ia untuk menjelaskan? Apa mereka dekat? Tidak. Mereka tidak dekat. Meski mereka bertunangan, itu adalah Tatiana, bukan ia. Pun hubungannya dengan Tatiana juga sangat buruk. Jadi kenapa pria itu bertingkah begitu akrab dengannya?
"Kau dan aku tidak dekat, jadi tidak ada hak bagimu untuk menuntut hal yang tidak mungkin dariku," jawab Catalina. Suaranya tenang, namun tangannya sedikit mengepal. Sejujurnya ia merasa sedikit takut dengan Sehan sekarang. Dan ia berpikir, mengalahkan orang ini, apakah mungkin?
__ADS_1
Tidak mungkin.
Mendadak ia ingat apa yang Ethan katakan. Ia hanya seorang gadis. Seberapa banyak kekuatan yang ia miliki, tidak bisa di bandingkan dengan kekuatan seorang pria. Apalagi, dia adalah Sehan. Iblis pencipta lubang neraka.
Sehan terkekeh. "Kau lupa siapa dirimu?" tanyanya.
Dahi Catalina mengerut. Siapa dirinya? Ia Catalina, oke? Bukan Tatiana. Dan ia tidak mungkin melupakan siapa dirinya.
"Kau tunanganku," Sehan menambahkan.
Catalina tertawa. "Tunangan? Apa kau bercanda? Itu hanya perjanjian omong kosong yang kau bahkan tidak peduli. Untuk apa sekarang kau mengungkitnya?" Bukankah Sehan yang menolak pertunangan itu? Lucu sekali mendengarnya mengungkitnya setelah Tatiana terbaring koma karena pria itu.
Wajah Sehan mengeras mendengar ini. Memang, ia tidak menginginkan pertunangan itu. Tatiana terlalu lemah dan tidak punya pendirian, sehingga gadis seperti itu tidak pantas untuknya. Namun ia tahu dia bukan Tatiana, dan ia tahu Catalina berbeda.
Melihat Sehan tidak menjawab, Catalina tahu itu mengenai titik kelemahannya. Ia berkata, "Apa aku benar?"
"Tatiana, jangan menguji kesabaranku," geramnya. Meski tahu dia bukan Tatiana, namun Sehan tidak ingin membuka kedoknya sekarang.
Catalina menghela nafas panjang. "Begini, aku tidak berniat menguji kesabaranmu atau orang lain," ucapnya. "Sekarang, katakan padaku, mengapa kau datang? Apa yang kau inginkan dariku?" Ia sedikit membentak.
Secara teknis, Sehan tidak kekurangan apapun. Uang, rumah, mobil, makanan, pria itu tidak membutuhkan apapun lagi. Semua ada dan tersedia. Datang ke tempatnya dan mengejutkannya, apalagi yang dia inginkan? Kompensasi? Ya, tentu saja. Namun kompensasi apa yang dia minta? Apakah nyawanya? Apa dia ingin membunuhnya?
Wajah Catalina yang memerah karena marah, membuatnya semakin menarik di mata Sehan. Kalimat terakhirnya bergema di telinganya seperti kaset rusak, menggumamkan hal yang sama sampai berulang-ulang. Apa yang ia inginkan? Apakah Catalina benar-benar menanyakan ini?
Sehan menarik Catalina dengan kasar ke dadanya. Tangan kanannya menjambak segenggam rambut di belakang kepalanya. Lengan kirinya melingkari pinggang rampingnya dan sedetik kemudian, mulutnya membentur bibirnya.
Catalina benar-benar tercengang oleh ciuman itu. Sebelum ia menyadari apa yang sedang terjadi, lidah pria yang terbakar itu telah mencapai lidahnya yang halus dan lembut, sehingga bibir dan lidahnya penuh dengan aroma khas pria itu.
Catalina menggeliat dalam pelukannya, melawan agresi yang tiba-tiba. Ia memukul pundaknya dan mencoba mendorong kepalanya menjauh. Ia ingin membebaskan diri namun Sehan terlalu kuat.
Catalina mundur ke belakang, berusaha keras untuk menyingkirkannya. Namun pria itu mencondongkan tubuh ke depan bersamanya sampai akhirnya ia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke atas meja.
Saat ia akan jatuh, sebuah tangan memegang bagian belakang kepalanya dan meletakkan kepalanya dengan lembut di atas meja untuk berjaga-jaga jika kepalanya terbentur permukaan yang keras.
Namun, invasi pria itu tidak berhenti.
Catalina berusaha keras untuk mendorong pria itu, namun alih-alih melepaskannya, Sehan justru melepaskan kancing jasnya hingga ia dapat merasakan dadanya yang kokoh.
Kesal, Catalina menggigit bibir pria itu dengan keras, dan rasa anyir darah segera menyebar ke bibir dan lidah mereka. Namun Sehan tidak berhenti. Marah karena digigit, ia menggeram dan menciumnya lebih dalam, menghisap bibirnya dengan keras.
Dada Catalina bergemuruh. Ia sangat marah hingga ingin memukul pria sial itu. Ia akan membunuh penjahat ini. Beraninya dia menganiaya nya di dalam kondominiumnya sendiri?!
Ciuman panjang itu membuat Catalina terengah-engah dan sedikit pusing. Ia mengendur sedikit, mencoba menentukan sensasi yang dia rasakan saat ini. Ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Dan ini, ciuman pertamanya.
__ADS_1
Sial.
Ini benar-benar ciuman pertamanya.
Merasakan perlawanannya melemah, tentu saja Sehan tidak membiarkan kesempatan ini lolos darinya. Keinginan kuat untuk memiliki Catalina berhasil membulatkan tekadnya.
Lidahnya meliuk-liuk di dalam mulutnya yang manis, menyerangnya, menghisapnya, membuatnya merintih.
Catalina menutup matanya. Ia kehilangan kemampuannya untuk berpikir. Yang bisa ia rasakan hanyalah pria itu menciumnya tanpa alasan.
Merasakan gadis itu mulai kehilangan nafas, Sehan meninggalkan bibirnya, mengulurkan tangan dan menyeka darah di bibirnya, tampak gembira. Kemudian ia menariknya agar gadis itu bisa duduk tegak. Dan ia menolak untuk melepaskan gadis ini.
Marah, Catalina memelototinya. "Lepaskan aku!"
Sepetak kemerahan mewarnai bibir tipis pria itu, dan ia tersenyum, persis seperti monster yang mempesona. "Tidak," jawabnya.
"Lepaskan aku sekarang juga!" ulangnya.
Mereka saling melotot selama beberapa saat sebelum Sehan dengan enggan melepaskannya.
Catalina dengan cepat membuat jarak di antara mereka dan mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.
Sehan mengusap rambutnya, berusaha mati-matian untuk menenangkan binatang dalam dirinya. Ia kehilangan kendali. Sial. Ia benar-benar kehilangan kendali.
Hari-hari yang membuatnya frustasi karena gadis itu, membuatnya memikirkannya terus-menerus. Membuat suasana hatinya suram setiap hari. Ia ingin tahu lebih banyak tentang gadis itu tetapi gadis itu terus mengabaikannya. Saat ia tahu Catalina dan Tatiana adalah orang yang berbeda, ia tidak tahan lagi sehingga ia secara impulsif bergegas pergi kondominiumnya dan menyuap beberapa orang agar memiliki akses untuk datang.
Dan sekarang, ia menciumnya secara paksa.
Benar-benar menciumnya.
Dan setelah dipikirkan kembali, ia pasti sudah gila.
Catalina menarik napas dalam-dalam, memaksa dirinya untuk tenang dan berkata dengan serius, “Aku melakukan sesuatu yang bodoh dan menyinggungmu berkali-kali sebelumnya. Tapi aku tidak memiliki niat apapun. Tolong jangan melakukan sesuatu secara impulsif," ucapnya.
Sekarang lihat, siapa sebenarnya yang murahan?
Sehan berkali-kali mengatakan ia murahan, namun dia sembarangan mencium gadis yang bukan pacarnya. Jika bukan murahan, lalu apa?
Apa pria itu tidak malu menjilat ludahnya kembali?
Sehan mengulurkan ujung jarinya dan menyeka helaian rambut gadis itu di belakang telinganya dan menunjukkan sentuhan kegembiraan. "Kau pikir itu berguna? Bukankah sudah terlambat?" Bukan ia tidak mengingatkan sebelumnya untuk tidak memprovokasinya. Ia sudah mengingatkan berkali-kali untuk tidak melewati batasnya. Namun gadis itu tidak mendengarkan. Sekarang, dia menyalahkannya? Hebat. Sangat hebat.
Catalina menjadi sangat marah hingga ia sedikit menggigil. Ia sudah berusaha sangat keras untuk menjauh dari pria berbahaya ini. Tapi kenapa pria itu tiba-tiba mulai menggodanya?
__ADS_1