Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 101 • RGSA - Alasan Untuk Menangis


__ADS_3

Karena pakaian Catalina basah kuyup, Natasya, wanita pegawai Tatto Studio memberikan kimono handuk untuk Catalina kenakan. Sembari merealisasikan konsep yang Catalina diinginkan, Natasya menghabiskan enam puluh menit waktunya untuk mendesain dua gambar yang sesuai kemudian melakukan serangkaian prosedur sebelum pengaplikasian tato.


Catalina mengikuti serangkaian prosedur itu tanpa banyak bertanya dan setelah semua prosesi terlalui, ia berbaring di ranjang dan siap dengan tato kecil di belakang telinganya.


"Kau belum pernah di tato?" tanya Natasya sembari mempersiapkan peralatan tatonya. Ia adalah tatto artist profesional. Jadi semua yang ia lakukan dan segala peralatannya sudah memenuhi standar yang ada. Mulai dari jarum hingga tinta, semua memiliki kualitas terbaik serta sangat aman di gunakan.


"Belum," jawab Catalina. Ia belum pernah di tato karena takut dengan rasa sakitnya. Ia tidak berani melakukannya sampai hari ini, sampai rasa sakit yang sangat menyakitkan datang dan membuatnya bertekad untuk melawan rasa sakit di hatinya dengan rasa sakit di fisiknya.


"Mungkin akan sedikit menyakitkan," ucap Natasya. "Apa kau siap?" Meski kedua tato yang Catalina inginkan tidak berukuran besar, namun rasa sakit karena di tato bukan berarti tidak ada. Entah tato besar atau kecil, rasa sakitnya sama. Yang membedakan hanyalah berapa jumlah jarum yang di gunakan. Semakin banyak maka semakin sakit.


"Mm." Catalina mengangguk.


"Baiklah, mari kita mulai." Natasya memulai tato pertamanya di belakang telinga.


Merasakan jarum menusuk lapisan kulitnya, Catalina memejamkan mata. Rasa sakit yang tak terduga, benar-benar sesuai perkiraannya. Dan setetes bening meluncur dari sudut matanya.


Tiba-tiba ia menangis.


Tangis yang tidak terjeda.


Melihat air mata terus mengalir dari mata Catalina, Natasha bertanya, "Apa sangat sakit?" Meski tahu bahwa itu cukup menyakitkan, namun ia tidak menghentikan pergerakannya. Tidak peduli apakah Catalina menangis atau tidak, tidak peduli apakah Catalina kesakitan atau tidak, di tato memang cukup menyakitkan. Dan ia tidak memiliki belas kasihan untuk itu.


Catalina mengangguk. "Sangat menyakitkan. Benar-benar menyakitkan." Catalina sangat sadar ketika merasakan rasa sakit itu. Namun dengan rasa sakit ini, ia memiliki alasan untuk menangis. Padahal rasa sakit terbesar yang ia rasakan bukan berasal dari apa yang Natasya lakukan, tetapi dari apa yang Sehan lakukan.


Ia ingin menemui pria itu dan bertanya mengapa dia melakukan ini. Ia ingin ke sana dan menanyakan sendiri apa alasannya. Ia ingin melakukannya. Sangat ingin. Namun ia menolak keras keinginan itu. Tidak peduli apa, ia tidak bisa menerima alasan apapun.


Ia takut akan kembali goyah jika melihatnya.


Ia tidak bisa menemuinya.


Benar-benar tidak bisa.

__ADS_1


Kecuali setelah ia benar-benar siap. Sebelum itu terjadi, sebelum ia mengeraskan hatinya, ia tahu segala alasan yang Sehan berikan akan ia terima tidak peduli meski alasan itu tidak masuk akal. Ia tidak bisa menjadi bodoh lagi. Sudah cukup kebodohannya, cukup sampai di sini.


"Haruskah aku memberimu permen?" tanya Natasya, tidak pandai menghibur orang.


Masih dengan air mata yang menetes, Catalina terkekeh. "Aku tidak suka makan manis," jawabnya.


Ketika tato pertama selesai dengan gemilang, tato kedua di mulai. Tato kedua terletak di lengan. Merupakan beberapa patah kata dengan bahasa Portugis yang ditulis menggunakan font latin. Ukurannya tidak terlalu besar, warnanya juga hanya hitam, tidak menggunakan warna lain.


Butuh waktu lama untuk menyelesaikan kedua tato itu. Dan ketika selesai, hujan di luar sudah reda. Pakaian milik Catalina juga sudah kering. Sebelum keluar dari studio, Catalina berkata, "Seperti yang ku katakan sebelumnya, aku tidak ingin data apapun tentang diriku dan kita tidak pernah bertemu."


Natasya mengangguk. "Aku mengerti," ucapnya. "Tidak akan ada data tentang dirimu. Juga tidak akan ada dirimu di kamera pengawas. Kau tidak pernah datang ke sini."


Catalina mengangguk. "Terima kasih, Nat. Sampai jumpa." Dengan begitu, Catalina keluar dari Tatto Studio dengan perasaan lega di hatinya. Ia naik taksi dan segera taksi membawanya ke motel terdekat. Tidak ingin menginap di hotel, juga tidak ingin kembali ke kondominium, Catalina memutuskan untuk menginap di motel yang letaknya cukup terpencil.


Dua hari, adalah waktu yang ia habiskan untuk menenangkan diri.


Selama dua hari, Catalina memikirkan banyak hal.


Setiap malam yang ia habiskan di motel, rokok selalu setia menemaninya. Ia sengaja tidak minum alkohol karena kulitnya baru saja ditato, ia takut alkohol akan merusaknya. Itu sebabnya ia menahan diri untuk tidak meminumnya meski dua botol alkohol berada di kamarnya.


Dalam pelariannya dari dunia, ia benar-benar menjalani hidup seperti yang ia inginkan. Ia tidak mandi. Ia makan mie instan dan mie instan lagi. Ia juga tidak memakai pakaian bagus dan tidak merias diri. Karena tidak menemui siapapun selama kurun waktu itu, ia sangat santai menjalani hari-harinya.


Bisa dikatakan, ini adalah kehidupan yang ia inginkan.


Jauh dari dunia.


Jauh dari hingar-bingar.


Jauh dari hiruk pikuk.


Hanya dirinya sendiri. Tidak ada orang lain.

__ADS_1


Tidak ingin berjalan kaki, Catalina memutuskan untuk naik taksi. Di tengah perjalanan, ia mengambil ponselnya dan menghidupkannya. Ponselnya tahan air, jadi meski cukup lama hujan mengguyurnya dan tidak ia isi dayanya, ponselnya masih menyala ketika di gunakan dan tidak ada masalah dengan itu.


Catalina segera mencari nomor Nick dan menghubunginya.


Dengan satu panggilan, pria itu menerima panggilannya. "Halo," ucap Nick dari balik panggilan.


"Hai, Nick."


"Ada apa? Kau sudah lelah bertingkah seperti gelandangan?" Nick terkekeh. Sungguh aneh cara orang lain menghibur diri. Mereka hanya merasa ingin menghilang dari dunia karena terlalu kecewa dengan ekspektasi, dan mereka memiliki cara tersendiri untuk mengobati rasa sakit itu.


Namun apa yang Catalina lakukan, membuat Nick ingin menertawakannya.


Tidak ada gunanya melarikan diri. Kekacauan yang ada, seharusnya di hadapi bukan di tinggalkan. Begitulah cara mengakhiri permasalahan dengan satu ketukan.


Catalina tercengang. "Darimana kau tahu?" Ia bertanya sambil menjauhkan ponsel dari telinganya. Sekedar untuk melihat apakah pria di balik panggilan benar-benar Nick atau bukan. Namun pria itu benar-benar Nick.


"Kau benar-benar menanyakan pertanyaan bodoh ini?"


"Lupakan!" ujar Catalina. Nick, apa yang tidak pria itu tahu? Sungguh konyol menanyakan pertanyaan ini padanya. Pria itu seperti memiliki banyak mata dimana-mana. "Bagaimana kondisi Tatiana selama aku tidak ada?" tanyanya.


"Katakan langsung ke intinya," ucap Nick, tidak ingin membuang waktu. Ia tahu menanyakan kabar Tatiana hanyalah basa-basi. Dan itu tidak penting sama sekali.


Catalina mendesah. Pria ini, sejak kapan dia menjadi begitu menyebalkan? Tidak. Sebenarnya sedari awal Nick sudah menyebalkan. Hanya saja belakangan ini menjadi semakin parah.


"Mari kita bertemu," ujar Catalina langsung ke intinya. "Kapan kau punya waktu dan dimana kau ingin bertemu?"


"Sekarang di kondominiummu," sahut Nick, cepat.


"Oke." Dengan begitu, Catalina mengakhiri panggilan. Ia menjauhkan ponsel dari telinganya lalu melihat ada beberapa notifikasi pesan masuk di ponselnya. Tahu itu adalah pesan teks dari Sehan, Catalina mengabaikannya. Ia kembali mematikan ponselnya dan menyimpannya di tasnya.


Untuk saat ini, ia tidak ingin berhubungan dengan pria itu. Di masa depan ia juga tidak ingin. Jadi pertama-tama yang harus ia lakukan adalah mematikan ponselnya. Karena jika ia memblokir nomornya, pria itu bisa datang kepadanya kapan saja.

__ADS_1


Bertemu dengannya di saat seperti ini terlalu merepotkan.


Ia tidak ingin kembali tergoda atau ia akan terjerumus semakin dalam.


__ADS_2