Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 30 • RGSA - Mencuri Ciuman Lagi


__ADS_3

Catalina menghabiskan mienya dan hendak mengambil cangkir tehnya ketika ponselnya berdering. Ia menarik tangannya kembali dan bertukar pandang dengan Sehan.


"Terima saja," ujar Sehan, memecah keheningan di antara mereka. Ia juga sudah menyelesaikan suapan terakhir mienya. Dan ia mengambil cangkir tehnya dan meminumnya dengan elegan.


Bibir Catalina berkedut. Kapan ia meminta izin? Ia menatap Sehan bukan untuk meminta izin. Ia hanya ingin melihat bagaimana ekspresinya. Tetapi pria itu justru menangkap tatapannya dengan arti yang lain.


Apa pria itu bisa menjadi lebih tidak tahu malu lagi?


Catalina menghela nafas panjang. Sudahlah. Ia tidak akan perhitungan mengingat dia cukup baik memperlakukannya. Ups.. bukan. Maksudnya cukup baik memperlakukan Tatiana, ia tidak akan menjadi orang yang tidak tahu diri.


Catalina bangkit dan berjalan menuju benda pipih itu berada. Ia sudah menyingkirkan sepatu hak tingginya dan bertelanjang kaki di lantai. Kakinya yang panjang dan ramping, Sehan menatapnya tanpa kedip saat sosoknya yang bagus perlahan menjauh, kemudian ia menghela nafas gusar.


Belakangan ini ia sering kehilangan kontrolnya, sejak bertemu gadis itu. Gadis sial itu, apa sebenarnya yang dia gunakan padanya?


Catalina menoleh ke belakang, dan Sehan buru-buru mengalihkan pandangannya. Untuk beberapa alasan, Catalina merasa Sehan sedang mengawasinya. Namun melihat pria itu memandang ke arah yang lain, mungkin ia salah memahami sesuatu.


Catalina memutuskan untuk mengabaikannya dan fokus dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


Yang meletakan ponselnya jauh di sana adalah Sehan. Agar ia tidak bisa melakukan pengembalian dana. Jadi ia harus berjalan setidaknya beberapa langkah untuk mencapainya.


Melihat nama Nick tertera di layar ponselnya, Catalina segera menerima panggilannya tanpa ragu. "Halo," ucapnya dengan suara rendah. Orang seperti Sehan, mungkin memiliki pendengaran yang baik. Jadi ia harus lebih berhati-hati.


"Mereka ingin bertemu denganmu," ucap Nick dari balik panggilan tanpa berbasa-basi. Ia sedang menyesap winenya dan masih memakai pakaian yang sama yang ia pakai untuk menghadiri acara bersama Catalina.


Catalina mengerutkan kening. "Mereka?" 'Mereka' siapa yang Nick maksud?


"Keluarga angkat Tatiana."


"Oh." Catalina membulatkan bibirnya. Kenapa mereka tidak menghubunginya mungkin karena Nick menyembunyikan nomor ponselnya. Jika tidak, para sampah itu pasti akan menghubunginya secara pribadi, tidak melalui Nick.


Namun Nick cukup pintar untuk melindungi identitasnya agar tidak diketahui oleh siapapun.


Orang dengan pemikiran tajam serta rencana-rencana yang matang, benarkah hanya seorang manager?


Entah kenapa Catalina tidak mempercayainya.


Nick jelas tidak sesederhana yang terlihat.


"Hah, Oh? Apa itu? Aku ingin jawaban," Nick sedikit memaksa. Tidak. Sangat memaksa. Ia ingin jawaban yang jelas. Jika bisa, bilang bisa. Jika tidak, bilang tidak. Karena jika Catalina tidak bersedia, ia akan membuat alasan yang masuk akal untuk meyakinkan mereka.


"Tentu saja kami akan bertemu," timpalnya. "Aku harus bertemu dengan mereka." Dan mencari tahu apa yang mereka inginkan. Untuk bagian ini, Catalina tidak mengatakannya.

__ADS_1


Menunda sesuatu juga tidak merubah apapun. Ia justru penasaran, apa yang Tatiana lakukan tiap kali pulang ke rumah mereka. Apakah mereka akan menyambutnya seperti tuan Putri? Mustahil. Mereka jelas tidak menyayangi Tatiana dan hanya memanfaatkannya. Tidak memintanya membersihkan sepatu menggunakan lidahnya saja sudah untung.


Apa?


Membersihkan sepatu dengan lidahnya?


Tatiana tidak melakukan hal seperti itu, kan? Mereka tidak meminta Tatiana melakukan hal sehina itu, kan?


Catalina buru-buru menggelengkan kepala. Tentu saja tidak. Sebrengsek-brengseknya mereka, mereka tidak mungkin melakukan hal tidak bermoral seperti itu kepada putri angkatnya.


Tidak. Sebenarnya ia tidak begitu yakin mereka tidak melakukannya. Ia hanya sedang menghibur dirinya sendiri. Ia tidak sanggup menanggung rasa bersalah jika Tatiana benar-benar melakukan hal kotor yang bahkan tidak bisa ia bayangkan.


Ia takut. Sangat takut.


"Baiklah. Kau akan pergi besok malam."


Suara Nick membuyarkan ketakutan Catalina. Ia melirik sebentar ke belakang sebelum berbisik. "Apa yang biasa dia kenakan?" Ia merendahkan suaranya semakin rendah seiring kata yang terlontar.


"Gaun."


Catalina memutar bola matanya. Apakah gaun bunga-bunga itu? Jika iya, sayang sekali, ia sudah menyimpan semua barang-barang milik Tatiana dan hanya akan membongkarnya jika gadis itu bangun. Jadi, jelas ia tidak akan repot memporak-porandakan sesuatu yang sudah ia simpan dengan baik. Paling-paling ia akan membeli beberapa gaun yang sesuai dengan karakternya.


Catalina cemberut. "Kau pikir aku sudah mati?" Suaranya meninggi dan Sehan yang duduk di belakang menaikan sebelah alisnya. Penasaran dengan siapa Catalina bicara dan penasaran apa yang mereka bicarakan sampai suaranya meninggi.


"Maksudku panggilannya, bukan kau," jawab Nick santai.


"Pembohong."


"Aku sibuk, aku akan memutuskan panggilannya."


"Hei, jangan harap bisa la.." Catalina menjauhkan ponsel dari telinganya dan melihat panggilan sudah terputus, "ri." Ia melanjutkan kalimat yang tadi belum lengkap. "Sialan. Bajingan ini." Ia memaki dengan kesal.


Ia tidak tahu mengapa Nick menjadi sangat menyebalkan, namun ia pikir sejak pertama kali mereka bertemu, pria busuk itu memang sudah seperti itu. Hanya saja belakangan ini menjadi semakin parah.


Saat berhenti memikirkan Nick dan memikirkan gaun apa yang akan ia kenakan untuk menemui keluarga sampah itu, kepalanya menjadi pusing. Cukup pusing dengan Nick, masalah tentang gaun itu membuat rasa pusingnya meningkat hingga berkali-kali lipat.


Catalina memutuskan untuk melihat-lihat di internet. Beberapa toko brand ternama menawarkan gaun dan bersedia mengantar. Ia tidak perlu repot datang ke toko. Lagipula, datang sendiri ke pusat perbelanjaan itu sangat merepotkan. Jadi ia memutuskan untuk melihat-lihat di ponselnya dan menunggu barang-barangnya datang.


Benar-benar kemudahan yang menyenangkan.


Catalina sedang memilih beberapa gaun dengan serius saat pria marah di belakangnya memeluknya dari belakang. "Kau berani mengabaikanku, huh?" Sehan menggigit kecil bahunya sebelum meletakkan dagunya di bahunya dan nafasnya yang hangat mengenai Catalina. Pinggang Catalina yang ramping dan sosoknya yang bagus, sangat pas dalam pelukan.

__ADS_1


Seharusnya itu menjadi posisi yang sangat romantis karena selain intim, posisi itu seperti pasangan kekasih yang saling mencintai. Mungkin untuk orang lain, iya. Tapi tidak untuk Catalina.


Catalina tersentak. Ponselnya jatuh ke lantai dengan suara keras. Tangan Sehan di pinggangnya, juga kehangatan yang ia rasakan, membuatnya bergegas membalikkan badan tanpa memperdulikan apakah ponselnya selamat atau tidak.


Namun Sehan tidak membiarkannya.


Ia menahan tangan Catalina dan mempererat pelukannya. Ia tidak akan membiarkan gadis itu melakukan apa yang dia inginkan. Salah satu tangannya meraba tubuh bagian depan Catalina dan dengan lembut membelainya dan berkata tanpa malu-malu, "Gadis kecil, apakah menurutmu perasaan ini tidak buruk?" Ia sedikit menggoda.


Catalina ingin mati. Pria sialan ini benar-benar menyentuhnya. Apakah ia setuju? Apakah ia memperbolehkannya untuk menyentuhnya?


Catalina menggunakan seluruh kekuatannya untuk membalikkan keadaan. Meski gerakannya berantakan dan tidak terlalu sempurna, namun itu berhasil membuatnya terlepas dari rengkuhan pria itu. "Bajingan, beraninya kau!"


Sehan memandangi gadis di depannya dengan tatapan rumit. Sialan. Dia membiarkan Nick menyentuhnya namun dia marah saat ia menyentuhnya, begitu? Dia memang anak serigala kecil yang tidak bisa dibesarkan dengan baik. Kesal, detik berikutnya ia meraihnya dan mencium mulut gadis itu.


Catalina sangat marah. Ia tidak tahu bagaimana menggambarkan suasana hatinya saat ini. Bagaimana mungkin pria ini menjadi sangat tidak tahu malu?


Dia mencuri ciumannya, lagi dan lagi.


Catalina hanya tahu pria ini kejam, menakutkan, luar biasa dan memiliki latar belakang yang bagus. Ia tidak berharap dia akan menjadi orang yang berkulit tebal. Tidak. Itu adalah level tertinggi dari berkulit tebal.


Dia adalah bajingan cabul yang tidak bermoral.


Meski mereka bertunangan, namun secara harfiah ia bukan tunangannya. Ia hanya seorang pejalan kaki yang menumpang lewat. Ia tidak tahu apapun namun harus menanggung beban moral yang mungkin suatu hari bisa membuatnya gila.


Catalina mengulurkan tangan dan mendorongnya dengan paksa. Namun ia bukan tandingan Sehan. Ia sangat marah di dalam hatinya. Tidak ada yang tahu apa yang ia pikirkan, ia mengangkat kakinya dan menendang bagian tengah kaki Sehan.


Untungnya Sehan bereaksi tepat waktu. Ia memiringkan sedikit tubuhnya dan menghindari serangan Catalina. Secara alami ciuman di bibirnya juga terpisah.


"Lihat, kau sangat pemarah," ucap Sehan sambil mengusap ujung bibirnya menggunakan ibu jarinya. Di sana masih ada luka gigitan yang di tinggalkan gadis itu. Namun bukan rasa sakit yang ia rasakan, melainkan rasa puas yang tak terdeskripsikan.


Pemarah? Catalina kehilangan semua kata-katanya. Dicium, dipeluk, dan disentuh oleh pria itu, apa ia harus senang? Ia sungguh tidak mengerti lagi jalan pemikiran pria itu.


Mata kecil Catalina lurus seperti mata Sehan. Tatapannya dipenuhi permusuhan dan kemarahan. Namun itu hanya membuat Sehan tertawa. Oh, gadis kecil ini masih tahu apa yang ia katakan.


"Bajingan!" Catalina memaki dengan kebencian yang mengalir di setiap aliran darahnya. Ia memberikan kelonggaran pada ciuman Sehan sebelumnya karena pria itu cukup baik dan perhatian. Namun ia menarik kembali hal-hal baik yang pernah pikirkan.


Iblis, tetaplah iblis. Tidak ada yang bisa mengubah fakta itu.


Sehan tersenyum miring dan berkata dengan acuh tak acuh. "Aku akan pergi. Dan itu ciuman selamat malam." Melihat Catalina masih marah, ia tidak berniat untuk memprovokasinya lagi. "Selamat tinggal, Tatiana. Kuharap kau tidak merindukanku." Selesai berkata ia berbalik dan mengambil jasnya sebelum berjalan menuju pintu dan siluetnya segera menghilang di balik pintu.


Setelah kepergian pria itu, tubuh Catalina luruh di lantai. "Sialan." Kemudian ia menyembunyikan wajahnya dan menangis terisak.

__ADS_1


__ADS_2