Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 51 • RGSA - Gejala Cinta


__ADS_3

Harrison yang sudah membawa barang-barang milik Catalina di tangannya dan siap menyerahkannya kepada gadis itu, ketika melihat apa yang terjadi di lantai bawah, ciuman panas serta hasrat yang meluap, ia mengintip sebentar sebelum menutup matanya dan bersembunyi.


Namun ia tidak sepenuhnya bersembunyi,


Ia membuka jemarinya dan matanya mengintip di antara jemarinya. Kemudian sebuah senyum tersungging di bibirnya. Ia tahu anak muda memiliki banyak hal untuk dilakukan. Namun ia tidak menduga bosnya akan sangat agresif menyerang seorang gadis.


Menontonnya benar-benar menyenangkan.


Namun kesenangan itu segera berakhir saat ia melihat Ethan datang. Ia menepuk dahi. "Bocah itu datang di saat yang tidak tepat," gumamnya sebelum keluar dari persembunyiannya dan berjalan menuruni tangga.


Ketika ia sampai di sana, Ethan sudah melangkah pergi.


Ia berjalan dengan hati-hati dan berkata, "Permisi, saya membawakan barang yang Anda minta." Kepalanya tertunduk, tidak berani menatap keintiman di depannya.


Catalina yang masih bingung dengan maksud ucapan Sehan tentang memberi makan binatang buas, ketika mendengar suara Harrison, ia menoleh. "Terima kasih, Harrison. Kau bisa meletakannya di meja dan kau bisa pergi."


"Baik." Harrison membungkukkan badan lalu undur diri.


Catalina bangkit dari pangkuan Sehan dan mengambil barang-barangnya. "Kau tidak perlu merepotkan Kenny untuk mengantarku," ucapnya. "Aku bisa pulang sendiri." Dengan Kenny mengantarnya, ia akan merasa semakin tidak nyaman. Apalagi ia tidak mengabari Nick sejak tadi malam. Ia yakin Nick pasti sudah menghadang kepulangannya di pintu masuk kondominium.


"Kenapa?" Sehan bangkit dari duduknya dan memeluk Catalina dari belakang.


"Sehan, kenapa kau terus melakukan ini? Aku harus pergi." Catalina sudah mengenakan masker dan kacamatanya, siap pergi. Ia tidak mau terjebak di tempat ini apapun alasannya.


"Aku tidak mau kau pergi," sahutnya. "Apa alasan itu cukup?"


"Kita sudah membahas ini. Kau tidak boleh menarik kembali kata-katamu." Meski Sehan menyetujuinya, namun sejak awal Catalina dapat melihat raut keenggangan yang Sehan tunjukkan. Meski itu tidak terlalu jelas, namun ia bukan orang bodoh yang tidak menyadarinya.


Ia tahu namun ia diam saja.


Bukan karena ia tidak peduli, namun karena ia tidak bisa menggunakan hatinya untuk urusan ini.


"Tapi aku serius."


"Aku juga serius, Sehan. Sangat serius. Kau harus menghargai keputusanku, oke? Em?" Catalina menumpuk tangannya di atas tangan Sehan dan menepuknya perlahan. "Sekarang, biarkan aku pergi."


Sehan menghela nafas panjang sebelum dengan enggan melepaskan Catalina. "Aku sudah setuju kau pergi. Tetapi, biarkan Kenny mengantarmu. Aku baru merasa tenang jika kau pulang dengannya."

__ADS_1


Karena tidak punya pilihan, Catalina mengangguk tanpa ragu. Daripada terjebak di sini, di antar pulang oleh Kenny, masih beberapa persen lebih baik.


Setelah setuju dengan pengaturan satu satu lain, Sehan berjalan bersisian dengan Catalina keluar dari mansion. Di halaman, Kenny sudah menunggu dan begitu melihat mereka berdua keluar, ia segera membukakan pintu.


Catalina mengangguk kecil. "Terima kasih," ucapnya sebelum masuk ke dalam mobil. Ia mengaitkan sabuk pengaman dan menatap ke luar jendela.


Saat merasakan ada pergerakan di sampingnya, ia segera mengalihkan pandangannya dan detik berikutnya ia tercengang.


"Kau? Kenapa kau di sini?" Di luar dugaan, Sehan yang berjalan di belakangnya juga ikut masuk dan duduk di sampingnya. Membuatnya bertanya-tanya.


Jika tidak salah mengingat, tidak, ia ingat dengan betul Sehan berkata bahwa Kenny akan mengantarnya. Tapi, apa-apaan pria ini? Kenapa dia mengikutinya dan duduk di sini?


Sehan mengabaikan tatapan Catalina dan mengaitkan sabuk pengamannya dengan santai. "Ini mobilku," jawabnya. "Apa aku tidak boleh naik mobilku sendiri?"


Bibir Catalina berkedut. Oke, ia tahu ini mobilnya. Namun bukan itu maksudnya dan bukan itu jawaban yang ia inginkan. "Tidak, bukan itu maksudku."


"Lalu, apa maksudmu?"


"Aku pikir, kau tidak ikut?"


Sehan mengangkat bahu. "Kenapa aku tidak ikut? Aku harus pergi ke perusahaan. Kenny akan kehabisan waktu jika bolak-balik mengantarmu dan mengantarku. Jadi, Kenny akan mengantarmu kemudian pergi dengan ku ke perusahaan. Kau tahu, itu adalah solusi terbaik yang kupikirkan dengan hati-hati." Sehan menjelaskan layaknya jenius yang sedang melakukan presentasi.


Pertama, Kenny bukan supir dan seingatnya Sehan mempunyai supir pribadi. Dan kedua, Sehan tidak mungkin hanya mempunyai satu mobil, bukan? Orang seperti Sehan, yang rumahnya saja sangat mewah, siapa yang akan percaya jika dia meludahkan alasan itu?


Benar saja, setelah pengemudi masuk dan duduk di balik kemudi, dan Kenny duduk di samping pengemudi, keraguan Catalina segera terkonfirmasi.


Catalina menatap Sehan dan rasa ingin memukul berkembang menjadi lebih besar. Ini benar-benar pembohongan publik. Di depan jelas ada Kenny dan pengemudi, yang artinya jika Sehan memberikan instruksi, mereka bisa mengemudikan dua mobil yang berbeda. Namun ya, Sehan memiliki pola pikir yang sedikit rumit, dan ia akan menganggap Sehan ingin bersamanya sedikit lebih lama.


Setelah Sehan memberikan arahan, mobil pergi meninggalkan mansion dan melaju mulus di jalan raya.


"Berikan kakimu," ucap Sehan di tengah keheningan.


Catalina terperanjat. "Kakiku?" Ia bertanya seperti orang bodoh.


Sehan mengangguk. "Tentu saja, kau pikir aku meminta kaki Kenny?"


"Pft." Di kursi depan, Kenny berusaha menahan tawa. Sejak mengenal Catalina, selera humor bosnya benar-benar meningkat pesat. Padahal ini baru berjalan selama beberapa hari, bagaimana jika beberapa bulan? Mungkin orang itu sudah menjadi komedian.

__ADS_1


Catalina tersenyum malu. Hampir saja ia menjadi bahan tertawaan karena Sehan. Sambil menutup mukanya, ia melepaskan sepatunya dan tubuhnya menyusut di kursi setelah memberikan kedua kakinya pada Sehan.


Sehan mengeluarkan obat luka dari saku celananya kemudian memeriksa kondisi lecet di kaki Catalina sebelum mengaplikasikan obatnya dengan hati-hati. Kemudian ia berujar, "Kau tidak perlu memakai sepatu jika luka ini masih sakit. Kau tahu, aku tidak suka tindakan menyiksa diri sendiri." Suaranya yang serius sama persis dengan ekspresi wajahnya. Dingin dan yang tampak dari sorot matanya adalah kebencian.


Entah apa atau siapa yang Sehan benci namun jelas bukan Catalina.


Sehan membenci semua orang yang turut andil dalam kasus terlukanya Catalina. Keluarga Atkinson, Trent Chatsfield, dan mereka semua.


Merasakan kehangatan tangan Sehan di kakinya, melihatnya begitu lembut dan teliti, hati Catalina berdebar-debar.


Ini adalah gejala cinta.


Dan ia mengakui itu.


Ia mencintai Sehan. Sangat mencintainya.


Namun ia bukan orang yang bisa menikmati kemewahan semacam itu. Ia bukan orang yang layak. Lagipula, perasaannya mungkin hanya sebentar. Dan memutar arah perasaan bukan hal yang sulit untuknya. Ia akan menikmati perasaan ini selagi bisa, ketika sudah tidak bisa, ia akan mengubur perasaannya.


"Kau mendengarku?" tanya Sehan saat tidak mendapat jawaban apa-apa dari gadis yang duduk di sampingnya.


Catalina mengangguk. "Aku mengerti."


"Sekarang, berikan tanganmu." Sehan sudah selesai mengobati kaki Catalina dan sekarang ia meminta tangannya.


Catalina menurunkan kakinya dan menyerahkan tangannya tanpa ragu. Bola matanya tidak berpindah dari Sehan yang sedang mengobatinya. Ia benar-benar terpana bahkan hampir tanpa kedip menatapnya.


Setelah Sehan selesai mengobati, ia memberikan obat itu kepada Catalina. "Selagi aku tidak ada, kau harus mengobati lukamu sendiri. Kau mengerti?"


"Mm. Aku tahu." Catalina menerima obatnya dan memasukannya ke dalam tas. "Terima kasih, Hubby. Kau yang terbaik." Senyum mengembang di bibirnya, membuat wajah cantiknya semakin cantik. Jika ada yang bertanya ada apa dengannya, kenapa ia bertingkah manis, jawabannya, karena ia sedang jatuh cinta.


Hanya saja, Catalina tahu porsinya.


Catalina tahu kapan harus memulai dan kapan harus berhenti.


Sehan hampir tersungkur dari duduknya. Ia menatap Catalina dengan ekspresi tidak percaya. "Apa kau bilang? Hubby?" Apa ia salah dengar? Tidak mungkin. Pendengarannya sangat-sangat baik.


Catalina menggelengkan kepala, menolak untuk bicara. Sebaliknya, ia melepas sabuk pengaman dan mendekatkan tubuhnya pada Sehan kemudian meletakkan kepalanya di bahunya.

__ADS_1


Ia benar-benar menyukai momen seperti ini.


Dan ia berharap waktu berhenti di sini dan tidak berputar lagi.


__ADS_2