
Bahkan setelah pesawat lepas landas, Nick masih belum muncul juga.
Catalina menggertakan gigi.
Meski ingin marah, pada akhirnya Catalina tidak melakukan apapun. Ia berusaha memaklumi, dan ia memang memakluminya. Namun bukan berarti rasa penasaran di hatinya menjadi reda. Mungkin surut untuk saat ini, tapi tidak tahu nanti.
Cemas, Catalina sempat berpikir untuk menghubungi Nick sekedar memastikan keadaan pria itu, namun ia sedikit ragu hingga akhirnya Stacey menghentikan sepenuhnya keraguannya. "Nona, demi keamanan, tolong matikan ponsel Anda."
Catalina menatap layar ponselnya sebentar sebelum memaksa tangannya untuk mematikan ponselnya dan menyimpannya di sakunya. Kemudian ia mengalihkan pandangannya, menatap ke luar jendela.
Sudah ia duga keanehan pria itu bukan hanya karena perasaanya yang terlalu sensitif. Pria itu memang sedikit aneh, namun keanehan itu lebih menjurus pada misterius, bukan aneh seperti orang gila.
Catalina duduk dengan tenang dan sepanjang perjalanan ia membaca buku dan menemukan banyak kosakata baru serta penjelasan tentang 'cinta'.
Cinta murni tanpa nafsu
Mungkin di era kerajaan, cinta murni tanpa nafsu masih berlaku. Namun tidak untuk saat ini. Dikatakan bahwa jika mencintai maka biarkan tubuh bertemu tubuh karena reaksi tubuh adalah yang paling jujur.
Bukan 'dikatakan', itu adalah kesimpulan.
Begitu kata cinta terlontar, hasrat untuk memiliki tiba-tiba menggebu-gebu dan satu-satunya hal yang bisa dilakukan untuk meredakannya adalah melakukan kontak fisik.
Itu yang ia pelajari dari bagaimana ia dan Sehan berhubungan intim. Menghabiskan malam panas bersama, lalu tidur saling memeluk hingga fajar menyingsing, itu adalah nafsu yang di dasari cinta.
Bahkan jika harus menahan sakit, ia tetap memberikan kegadisannya kepada pria itu karena cinta.
Benar-benar pembodohan.
Meski menyadari itu pembodohan namun pada akhirnya ia tetap melakukannya.
Begitu pesawat mendarat di kota tujuan, Catalina segera pergi ke hotel yang sudah di sediakan. Karena datang bersama Stacey, Stacey membantunya banyak hal termasuk membawa kopernya. Meski ia bersikeras untuk melakukannya sendiri, namun Stacey menolak mendengarkannya.
Karena Stacey juga memiliki tas di punggungnya, Catalina mengizinkan gadis itu membantu namun dengan koper kecilnya. Koper berukuran sedang, akan ia urus sendiri.
Memang ia tuan putri, membawa koper saja tidak bisa?
Stacey benar-benar meremehkannya.
Berjalan menyusuri koridor mencari nomor kamar hotel yang akan ia tempati, setelah menemukan pintu kamarnya, Catalina buka suara, "Stacey, apa kau akan tinggal satu kamar denganku?"
"Tidak, Nona. Saya akan tinggal di kamar yang sudah Nick siapkan."
"Kalau begitu, selamat beristirahat." Catalina mengambil kopernya dari tangan Stacey. "Terima sudah membantu." Dengan satu kalimat itu, Catalina masuk ke kamarnya, meninggalkan Stacey yang masih berdiri di depan pintu, terpaku.
***
Karena syuting akan dilakukan besok pagi, Catalina tidur dari sore. Ia tidur sangat nyenyak sampai tidak menyadari ponselnya bergetar dan bergetar berulang kali.
Setelah banyak pesan dan panggilan terabaikan, pada akhirnya getar terakhir mengganggu tidurnya.
__ADS_1
Ia yang masih mengantuk mengambil ponselnya dengan marah dan melihat pesan setelah menggeser sedikit bagian atas ponsel sekedar untuk melihat notifikasi.
[Sayangku]
Baiklah, pesan pertama hanya satu kata.
[Sayangku]
Baiklah, pesan kedua juga masih satu kata.
[Sayangku]
Pesan ketiga, itu masih satu kata.
Pesan keempat, pesan kelima, keenam, ketujuh..
Sial.
Ada total lima belas pesan berturut-turut. Apakah pria ini hanya tahu cara mengirim satu kata ini, atau apakah dia mengirim satu kata karena dia bermasalah dengan fungsi pesan teks?
Apa yang terjadi padanya?
Ada apa dengannya?
Apa yang salah???
Lihat, pesan yang sama lagi.
Sa-ya-ng-ku.
Apa dia tidak tahu cara menulis? Atau apa dia menulis dan menyimpannya di konsep kemudian menyalin dan menempelnya lalu mengirimkan padanya?
Pria ini benar-benar menguji kesabarannya.
Catalina menggertakan gigi dan diliputi amarah. Ia tahu bahwa orang sial ini pasti sedang mengerjainya. Ia segera mengirim pesan teks dengan cepat.
[Ada apa]
Ia bahkan tidak menggunakan tanda tanya di akhir kalimatnya karena terburu-buru, takut pria itu menggila lagi.
Setelah beberapa saat, Catalina mendapat pesan balasan.
[Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan kau berada di sana]
Catalina tercengang. Orang ini, apa maunya? Kenapa dia mengirim begitu banyak pesan saat semuanya baik-baik saja? Apa yang salah dengan otaknya?
Catalina semakin marah. Pria itu, apa bisa sekali saja tidak membuatnya kesal? Ia menekan nomornya dan segera menghubunginya
Sekali dering, panggilan diangkat.
__ADS_1
Sebelum Catalina berbicara, Sehan di ujung telepon berkata, "Kenapa kau menelepon? Apa kau merindukanku begitu cepat? Baru tadi pagi kita terpisah, sekarang kau merindukanku?"
Catalina membatu. Ia menjauhkan ponselnya untuk memastikan bahwa panggilan terhubung ke orang yang tepat. Dan benar, itu memang Sehan. Tapi, siapa yang merindukannya? Apa dia yakin memiliki otak yang waras? Dia tidak lupa, kan, dia mengirimnya pesan seperti orang gila?
Sial. Seperti yang diharapkan, benar-benar tidak ada alasan untuk berbicara dengan orang seperti ini.
"Permisi, Tuan Geffrey yang terhormat, apa kau memiliki sesuatu untuk di katakan?" Catalina berbicara sambil menahan amarahnya. "Jika ada, ayo cepat katakan. Aku tidak sabar untuk mendengarnya."
Tidak ada angin, tidak ada hujan, cuaca di luar bahkan sangat bagus, tiba-tiba orang ini bertingkah aneh dan membuatnya kesal setengah mati. Jika ada yang harus dilakukan, maka seharusnya ia memblokir nomornya.
“Sayangku, kenapa kau sangat marah saat bangun tidur? Apa tidurmu tidak nyenyak? Apa seseorang mengganggumu?"
Mengganggu pantatmu! Yang menganggu itu kau! Kau! Meski sangat ingin mengatakan itu, Catalina memilih untuk menahannya di ujung lidah. Pria itu sangat kaya, dan yang terpenting dia murah hati, jadi ia tidak bisa memusuhi orang yang merupakan dermawannya.
"Ya, seseorang yang tidak tahu malu memang terus menggangguku. Tapi tidak apa, aku juga harus bangun untuk makan malam," jawab Catalina pada akhirnya. Untuk kalimat pertama, ia sengaja menegaskannya. Untuk kalimat selanjutnya, ia sudah tidak marah lagi karena perutnya kebetulan sudah lapar.
Di balik panggilan, Sehan tersenyum kecil. Melihat ruang kerjanya yang luas namun begitu sunyi, tiba-tiba ia berpikir untuk membawa Catalina ke sini. Dengan kehadiran gadis itu, mungkin akan membuatnya memiliki banyak hal yang harus dilakukan. Kesibukan yang menyenangkan.
"Besok aku akan pergi ke luar negeri. katakan jika kau menginginkan sesuatu, aku akan membelikannya untukmu," ucap Sehan. Meski hanya satu hari, namun ia akan menyempatkan membeli hadiah jika Catalina memintanya. Bahkan jika gadis itu tidak meminta, ia tetap akan membelikannya.
Catalina terkejut. "Ke luar negeri? Mendadak sekali?" Ia gagal menfokuskan diri pada kata-kata terakhir Sehan tentang hadiah. Fokus utamanya justru terpusat pada kata-kata 'pergi ke luar negeri'.
"Mm. Kenapa? Sekarang kau mengkhawatirkan ku?"
"Huh huh. Tentu saja aku mengkhawatirkan mu," jawab Catalina dengan suara rendah. Meski enggan mengakui secara terang-terangan, namun hati tidak bisa berbohong.
Perasaannya tidak cukup kuat namun nyata adanya.
Berusaha bersembunyi dari perasaan itu adalah hal yang sia-sia. Jadi karena tidak bisa menghindar, maka ia akan menikmatinya.
Sehan tersenyum kecil. "Perasaan dikhawatirkan olehmu, lumayan juga."
"Sehan, aku serius," Catalina sedikit merajuk. "Kau harus menjaga dirimu baik-baik, oke? Aku tidak ingin pria yang mengambil kegadisanku pergi dan tidak kembali."
"Hei, aku hanya pergi untuk urusan bisnis. Bukan pergi ke medan perang? Kau takut aku tergoda gadis lain, huh?"
Catalina diam dan tidak menjawab. Ya, ia memang takut. Takut Sehan tergoda dengan gadis lain setelah tidur dengannya. Mungkin perasaan ini yang dinamakan.. cemburu.
Rasa sakit hanya dengan membayangkannya.
Rasa benci dan takut diduakan.
Jika bukan cemburu, lalu apa?
Sepertinya ia memang cemburu.
Diamnya Catalina adalah jawaban. Dan Sehan tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan karena dicemburui oleh gadis yang ia sayangi. Ia berada di atas awan. Benar-benar senang.
"Kau benar-benar harimau betina yang pendendam. Kau satu-satunya gadis yang ku miliki. Memiliki gadis yang luar biasa sepertimu, bagaimana mungkin aku tergoda dengan gadis lain yang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganmu? Tidak ada sesuatu dari diri mereka yang bisa mengalahkanmu. Kenapa kau tidak tahu itu?" Kata-kata yang terlontar dari mulutnya bukan sekedar kalimat penghiburan. Ia serius tentang kesetiaannya dan serius tentang rasa sayangnya. Ia tidak mungkin mengkhianati sesuatu yang sudah ia patenkan di dalam hatinya. Tidak akan pernah.
__ADS_1