
"Apa dia gila? Kenapa dia memintaku bertanggung jawab? Haish.. sial." Catalina menggerutu sambil menjambak rambutnya. Sudah ia duga tidak mudah berurusan dengan orang kaya.
Selain bisa menemukan keberadaannya dengan mudah, bajingan busuk itu bahkan berani mengirimkan bunga.
Bunga?
Hah, lucu sekali.
Ia tidak percaya bajingan seperti dia berpikir bunga mampu meluluhkan hati wanita. Benar-benar pria yang tidak kreatif sama sekali.
Ketika Catalina membalikkan badan, ia melihat Sehan sudah memejamkan matanya. Ia tercengang selama beberapa saat sebelum akhirnya berjalan menghampirinya.
Berjongkok di samping ranjang, Catalina mengamati wajah tenang Sehan yang tertidur lelap. Tangannya terulur dan merapikan helaian rambutnya. "Apa kau sangat lelah? Berapa lama kau tidak beristirahat?" Catalina tidak tahu berapa lama perasaan bisa bertahan. Namun untuk saat ini, ketika melihat Sehan seperti ini, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri dengan berkata 'ia baik-baik saja'.
Kenyataannya ia tidak baik-baik saja.
Bukan dirinya, tetapi hatinya.
Setelah cukup lama mengawasi, Catalina bangkit dan mencium dahi Sehan sebelum pergi ke kamar mandi. Tanpa ia sadari, pria yang sebelumnya memejamkan mata, tiba-tiba membuka matanya.
Matanya yang dalam berkilat marah.
Ia tidak tahu bajingan mana yang berani memberikan bunga kepada kekasihnya. Namun ia tidak akan diam saja saat wanitanya di goda tepat di depan matanya.
Tunggu dan lihat apa yang akan ia lakukan untuk memberinya pelajaran.
***
Catalina meninggalkan Sehan selagi pria itu tidur.
Ia harus pergi ke lokasi syuting. Itu sebabnya ia terpaksa meninggalkan pria itu meski sejujurnya ia enggan meninggalkannya. Namun ia sudah menyiapkan makanan jika sewaktu-waktu Sehan bangun.
Untungnya hari ini ia tidak harus beradu peran dengan Lexus. Ia hanya harus berakting dengan Julie. Dan semua berjalan lancar bahkan lebih cepat dari jadwal.
"Fred, aku harus kembali ke hotel sekarang, bolehkah?" Karena menyembunyikan iblis besar di kamarnya, Catalina meminta izin untuk kembali ke hotel. Ia sedikit mengkhawatirkan pria itu. Ia hanya ingin melihat apakah dia sudah bangun dan memakan makanannya atau belum, tidak lebih.
Fred berpikir sebentar. "Karena kau melakukan tugasmu dengan baik, maka baiklah, kau punya waktu sembilan puluh menit untuk menyelesaikan urusanmu."
__ADS_1
Sembilan puluh menit?
Oke. Sembilan puluh menit sudah lebih dari cukup.
"Terima kasih, Fred. Kau yang terbaik." Selesai mengatakan itu, Catalina segera meninggalkan lokasi syuting dengan Stacey. Ia bahkan tidak mengganti pakaiannya dan masih mengenakan seragam sekolah karena ingin cepat sampai ke hotel dan tidak ingin membuang sembilan puluh menitnya yang berharga.
Setibanya di hotel, Catalina menyingkirkan Stacey terlebih dahulu sebelum membuka pintu dan masuk ke kamarnya dengan hati-hati.
"Sehan, kau sudah bangun?" Catalina menutup pintu dan berkata dengan suara lembut. Berpikir Sehan masih di sini, rasa lelah setelah beberapa jam bekerja, hilang seketika.
Mungkin ini yang dinamakan kekuatan cinta.
Pembodohan yang nyata.
Namun anehnya, ia bersedia dibodohi, dengan senang hati.
Benar-benar hidup yang sulit di prediksi.
Namun tampaknya Catalina salah perhitungan. Karena yang datang dan menyambutnya bukan suara pria yang familiar, bukan pelukan hangat atau ciuman lembut di bibir, tetapi keheningan.
Tidak mendapat jawaban, Catalina mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Sehan, apa kau masih di sini?" Ia kembali buka suara karena tidak ada yang menanggapi perkataannya.
Selain sunyi, kamarnya juga kosong.
Catalina menggigit bibirnya. Kemana perginya iblis itu?
Ia pergi ke kamar mandi untuk melihat barangkali pria itu berada di sana. Namun di kamar mandi juga tidak ada siapapun. Ia menoleh ke meja untuk melihat makanan yang tadi ia siapkan.
Untungnya makanan itu habis tak tersisa.
Catalina mengambil ponselnya dan mendudukkan diri di atas ranjang. Ia menekan nomor Sehan dan segera menghubunginya
Sekali dering, panggilan diangkat.
"Halo, kau sudah pergi?" Catalina berkata sambil meraba seprai yang terasa dingin. Sehan sudah lama pergi. Seharusnya dia mengatakannya agar ia tidak khawatir. Namun, haish, pria itu benar-benar pandai membuat orang lain cemas.
Di balik panggilan, Sehan tersenyum. "Ya, apa kau mencari ku?" Pesawat yang ia tumpangi baru saja mendarat setelah terbang kurang lebih satu jam lima belas menit. Dan sekarang ia sedang dalam perjalanan menuju perusahaan.
__ADS_1
Catalina menghela nafas panjang. "Uh huh, aku kembali namun tidak menemukan mu dimanapun." Ternyata benar jika dia sudah pergi. Kejam sekali tidak memberitahunya. Seharusnya pria itu menelepon atau mengirim pesan teks agar ia tidak perlu repot-repot kembali ke hotel.
Namun, benarkah itu yang membuatnya marah?
Sepertinya tidak sesederhana itu.
Alasan kekesalannya, mungkin karena tidak ada Sehan saat ia ingin sekali melihatnya. Dan daripada kesal, kata yang lebih tepat sebenarnya 'kecewa'.
"Maaf tidak memberitahumu. Aku takut mengganggumu sementara aku sangat terburu-buru. Aku benar-benar menyesal. Jangan sedih, oke?" bujuk Sehan.
Catalina terkekeh. "Jangan berlebihan. Jangan berlaku seolah aku menangisimu." Padahal ya, sejujurnya ia sedikit sedih karena pria itu pergi tanpa memberitahunya. Membuatnya merasa jika keberadaannya tidak begitu berarti.
"Memang kau tidak?"
"Haish," Catalina mendesis. Suasana hatinya berubah menjadi jauh lebih baik dalam waktu singkat. "Tuan Geffrey yang terhormat, ku sarankan, sebaiknya jangan terlalu percaya diri."
"Baik, Nona. Aku akan mengingat nasihatmu dengan baik," Sehan menjawab patuh tanpa sedikit pun menyanggah. "Agar kau tidak terlalu merindukanku, aku meninggalkan sesuatu untukmu."
"Meninggalkan sesuatu? Jangan bilang kau meninggalkan hatimu?" Belakangan ini Catalina sering menonton acara televisi dan sering sekali melihat pria merayu wanita dengan gombalan seperti ini dalam konteks komedi. Dan entah kenapa saat mendengar Sehan mengatakan meninggalkan sesuatu untuknya, yang pertama kali terbesit di benaknya adalah kalimat itu.
Sehan terkekeh. "Aku tidak pandai merayu. Dan kalaupun merayu, mungkin aku tidak akan menggunakan kata-kata seperti itu."
"Ya, tentu saja kau tidak akan menggunakan kata-kata itu. Kau akan menggunakan kata-kata yang jauh lebih buruk."
"Itu karena kau belum mengetahui kemampuanku."
"Wah, hebat. Akhirnya aku mengerti bakat terpendammu dalam merayu para gadis," Catalina mencibir. "Haruskah kita merayakannya?"
"Untuk apa merayakannya? Kau sudah salah mengartikan sesuatu. Yang benar, bukan para gadis, tetapi merayumu, hanya dirimu. Kau perlu menggarisbawahi nya agar tidak salah lagi." Sehan tidak keberatan mengoreksi perkataan Catalina yang tidak benar.
"Dasar pembohong." Meski terdengar kesal, namun hati Catalina sedikit luluh. Tidak hanya itu, wajahnya bahkan memerah dan jantungnya berdegup kencang.
Seperti yang sudah sering ia katakan, ini adalah gejala cinta. Nama penyakitnya adalah jatuh cinta.
"Siapa yang pembohong? Aku serius. Jika kau tidak percaya, buka laci pertama di meja samping ranjang. Kau akan mendapatkan hadiahmu karena sudah mencemaskan priamu."
Catalina tercengang.
__ADS_1
Laci pertama di meja samping ranjang?
Memang apa yang Sehan letakkan di sana?