Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 98 • RGSA - Tega Menusuk Dari Belakang


__ADS_3

Sedang sibuk berpikir, suara Nick selanjutnya menyadarkannya.


"Tetapi, apa kau yakin sudah sepenuhnya percaya pada pria itu?" tanya Nick kemudian. Selalu ada rahasia yang tersembunyi dengan sangat baik, selalu ada yang di rahasiakan dari masing-masing orang. Tidak tahu apa niatnya, tidak tahu apa motifnya. Entah karena tidak ingin kehilangan orang yang di sayangi atau karena takut menghadapi kenyataan. Masing-masing orang punya alasan tersendiri. Namun Nick tidak pernah menerima alasan apapun.


"Apa maksudmu?" Catalina balik bertanya.


"Aku bertanya, apakah kau percaya padanya? Sepenuhnya?" Nick mengulangi pertanyaannya.


Catalina terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab, "Ya, aku mempercayainya."


"Sungguh?"


Catalina mengangguk.


"Sangat?"


"Uh huh, tentu saja," jawab Catalina. Ia selalu mempercayai Sehan, sangat mempercayainya.


"Baiklah, kau sangat percaya padanya. Sangat, sangat, sangat. Namun.." Nick menjeda sebentar kalimatnya sembari menyentuh dagu. "Apakah kau yakin dia sudah jujur padamu, tentang segala hal? Sudah kah kau bertanya padanya, 'apakah kau yakin tidak menyembunyikan apapun dariku'? Sudah kah?"


Catalina tercengang. "Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Jangan berbelit-belit. Kau membuatku pusing." Sekarang ia tidak tahu kemana arah pembicaraan Nick. Ia tidak tahu sandi morse yang pria itu maksud. Benar-benar tidak tahu.


Nick berdehem. "Ehm, dengar!" Nick menekan sesuatu di laptopnya dan menunjukkan hasil rekaman yang di tangkap oleh kamera pengawas di beberapa titik di sekitar ruang tempat Tatiana di rawat. Di situ menunjukkan seorang pria yang masuk ke dalam menggunakan pakaian dokter ketika Tatiana masih koma. "Aku tidak tahu apakah kau mempercayaiku atau tidak, tapi percayalah.. beberapa orang masuk ke ruang perawatan Tatiana untuk memastikan keadaannya." Nick memfokuskan layar pada wajah yang keluar dari ruang perawatan lalu menghilang di sudut yang tidak terdapat kamera pengawas. "Ini tidak terjadi satu atau dua kali. Ini sudah terjadi beberapa kali," imbuhnya.


Kenapa Nick melakukannya, kenapa ia membiarkan mereka masuk padahal ia mengetahuinya dan bisa mencegahnya, ia punya alasan tersendiri. Selain orang-orang itu tidak menyakiti Tatiana, semakin kuat sebuah bukti, semakin Catalina percaya dengannya.


Meski kepercayaan itu tidak terlalu penting, namun orang yang sedang jatuh cinta seringkali buta. Orang yang sedang jatuh cinta tidak akan percaya dengan apa yang dikatakan orang-orang yang menyayanginya di sekitarnya. Dia akan lebih mempercayai instingnya, dia lebih mempercayai dan mengklaim bahwa kekasihnya adalah yang paling benar. Ia akan mempercayai itu sampai kenyataan benar-benar menamparnya.

__ADS_1


Namun menunggu kenyataan menamparnya, membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebelum Catalina mengetahuinya dari orang lain, ia tidak keberatan untuk memberitahunya sekarang.


"Mereka dokter, kan?" tanya Catalina dengan bodohnya. Karena mereka mengenakan pakaian dokter, tentu saja mereka dokter yang merawat dan memeriksa Tatiana. Setidaknya itu yang ia pikirkan sampai perkataan Nick selanjutnya menyadarkannya.


"Dokter yang aku bayar, tidak mungkin aku tidak mengenalinya," sahutnya.


Catalina bungkam. Ia menatap Nick dengan tidak percaya. Kurang lebih ia tahu maksud tersirat dari perkataan Nick. Juga alasan kenapa Nick menunjukkan rekaman kamera pengawas itu kepadanya.


Satu pertanyaan yang cukup mengganjal, jika si penyusup bukan dokter, lalu siapa?


Tidak.


Bukan itu yang terpenting. Yang paling penting adalah.. untuk apa mereka masuk secara diam-diam ke ruang perawatan Tatiana dengan berpura-pura menjadi dokter? Apa tujuan mereka? Apa yang mereka inginkan?


Satu yang pasti.. kedatangan mereka jelas untuk memeriksa sesuatu. Dan jika tebakannya benar, seseorang sudah tahu ia bukan Tatiana. Seseorang tahu jika ia Tatiana palsu.


"Sekarang kau mengerti apa yang ku maksud?" tanya Nick ketika melihat reaksi Catalina tampak terkejut lalu berubah menjadi tertekan.


Catalina mengangguk. "Ya, seseorang tahu jika aku bukan Tatiana." Dan itu masalah terbesarnya. Jika seseorang tahu ia bukan Tatiana dan menyebarkannya ke publik, rencana yang sudah ia susun rapi di benaknya bisa hancur berantakan. "Sekarang, apa yang harus ku lakukan? Siapa orang itu? Siapa yang tahu jika aku bukan Tatiana? Harus kah aku menyingkirkannya?" Tiba-tiba pemikiran ini muncul dalam benaknya. Ia tidak bisa membiarkan rencananya berantakan. Tidak peduli bagaimana dan apapun caranya. Semua tidak boleh gagal. Bahkan jika ia harus membunuh orang, ia tidak peduli.


Nick terkekeh. "Kau yakin ingin menyingkirkannya?"


"Tentu," jawab Catalina tanpa ragu. "Aku tidak bisa melihat semuanya hancur. Tatiana sudah sadar. Hanya selangkah menuju kemenangan. Jika dia mengacaukan segalanya, aku tidak keberatan untuk menyingkirkannya." Catalina sudah bertekad. Dan tidak ada yang bisa menghentikan tekad itu.


"Bahkan jika orang itu adalah Sehan?"


Mendengar nama Sehan di sebutkan, Catalina yang hendak mengatakan sesuatu, menutup kembali mulutnya. Ia menatap Nick. "Apa? Apa kau bilang? Sehan? Bagaimana mungkin kau menjadikan Sehan sebagai contoh? Jangan bercanda. Itu tidak lucu sama sekali." Catalina tidak suka urusannya di sangkut pautkan dengan Sehan. Semua tidak ada hubungannya dengan pria itu. Benar-benar tidak ada.

__ADS_1


"Aku tidak menjadikannya sebagai contoh," ucap Nick. "Aku serius, Catalina. Sangat serius," imbuhnya. Dan seketika ekspresi wajahnya berubah serius.


Melihat keseriusan Nick, senyum tipis yang tersungging di bibir Catalina membeku. Wajahnya yang semula manis dengan senyuman, kini mengencang dengan gigi menggertak. Ia bangun dari duduknya. "Nick, dengar, ini tidak lucu," ucapnya, tersulut emosi. Sudah ia katakan jika ia benci nama Sehan di sebut dalam setiap pembicaraan.


Sehan tidak tahu apapun, terlepas dari hubungan di antara mereka, itu tidak ada hubungannya dengan Tatiana atau pun orang-orang yang tertangkap di kamera pengawas. Kecuali..


Mata Catalina membulat.


Sesuatu tiba-tiba terlintas di benaknya dan ia berbalik, menatap Nick. "Apa mereka orang yang Sehan kirim? Kau berpikir begitu?" Catalina tertawa. "Ayolah, Nick. Kau tidak mungkin berpikir mereka adalah orang yang Sehan kirim, kan?" Catalina kembali tertawa. Tawa yang sangat keras. Namun daripada tawa bahagia, itu lebih seperti tawa yang di paksakan. Tawa untuk membungkus fakta yang mulai terkuak. Tawa untuk menutupi hati yang mulai retak.


"Coba kau tebak?" Nick tidak menjawab menggunakan jawaban, tetapi menjawabnya dengan pertanyaan. "Apakah menurutmu, iya, atau tidak? Coba tanyakan pada hatimu, apa jawabannya."


Tawa Catalina berhenti dan tiba-tiba ekspresi wajahnya menegang. Tangannya secara perlahan mulai bergetar dan ia berusaha menyembunyikan getaran itu. "Jangan katakan itu, Nick. Jangan berani memikirkannya. Sehan tidak ada hubungannya dengan ini. Sehan tidak tahu aku bukan Tatiana. Sehan tidak tahu dan tidak akan pernah tahu dari awal sampai akhir. Iya, kan? Jawab aku, Nick! Katakan jika semua itu bohong! Cepat katakan!"


Catalina menatap Nick tanpa kedip. Menunggu dengan tidak sabar jawaban itu. Namun bahkan tanpa Nick menjawab, tanpa ia bertanya pada hatinya, ia sudah tahu apa jawabannya.


Benar. Sehan mengetahuinya. Pria itu tahu ia bukan Tatiana. Pria itu tahu namun berpura-pura tidak tahu dan memasang tampang malaikat di depannya. Pria itu berlaku seolah sangat mencintainya dan berkata 'cinta' dari waktu ke waktu. Rupanya ini, rupanya ini yang dia lakukan? Menusuknya dari belakang dengan cara yang paling menyakitkan?


Memikirkan betapa kejam Sehan kepadanya setelah ia memberikan semuanya untuk pria itu, tubuh Catalina ambruk di lantai. Dan air mata berbondong-bondong jatuh di pipinya.


Tahu Catalina sudah mendapatkan jawaban, Nick segera buka suara, "Akhirnya otakmu bisa berpikir juga." Nick melipat tangannya di dada dengan tenang. Tidak sedikit pun merasa bersalah. "Aku sempat khawatir kau tidak bisa memikirkan apapun karena di butakan oleh cinta. Tapi ternyata.. kau jauh lebih tanggap dari yang ku duga."


Catalina terdiam. Meski air mata terus mengalir dari matanya, namun ia tidak mengeluarkan suara. Hanya air mata yang menjadi saksi betapa terlukanya ia saat ini.


Ia benci mengakuinya. Namun mau tidak mau, ia tetap harus mengakuinya. Sehan, pria itu, pria yang sangat ia cintai, pria yang sangat ia sukai, namun dia juga menjadi pria yang menikamnya. Sehan tidak menarik belatinya setelah menancapkan nya, pria itu membiarkan nya menancap di sana hingga membuatnya mati rasa.


Catalina tidak tahu apa yang terjadi di hatinya. Namun itu sangat sakit. Sungguh menyakitkan sampai membuatnya menangis tanpa suara.

__ADS_1


Nick bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju Catalina. Ia berhenti di hadapannya kemudian berjongkok. Melihat Catalina tampak terpukul dengan kenyataan yang ada, ia menyeringai. Tangannya terulur lalu mencengkeram rahangnya. "Catalina, bangun! Bangun dari mimpi menjijikkan itu! Sekarang lihat aku baik-baik. Apa kau tidak ingin tahu alasannya? Apa kau tidak ingin tahu mengapa Sehan mengirim orang secara berkala untuk melihat kondisi Tatiana? Kau tidak ingin tahu mengapa Sehan yang sudah mengetahui identitasmu namun memilih untuk tetap membohongimu? Kau tidak ingin tahu kenapa wanita itu ingin membunuh Tatiana? Kau sungguh tidak ingin tahu tentang hal-hal itu? Kenapa kau hanya memikirkan luka mu sendiri? Kenapa kau tidak memikirkan luka orang lain?"


__ADS_2