
Catalina melemparkan sepatunya dan tidak lama setelah itu tubuhnya mengikutinya jatuh dengan bunyi keras dan berguling sebentar sebelum mendarat dengan sempurna. Meski jatuh di dedaunan kering, mengingat betapa tinggi dinding yang ia lewati, ia merasakan tubuhnya tidak baik-baik saja.
Untungnya tidak ada benda-benda berbahaya, jika ada dan mengenai kepalanya, mungkin kepalanya bisa cedera atau mungkin gegar otak.
Catalina berdiri dan merenggangkan tubuhnya dengan gerakan ringan. Meski berhasil melarikan diri, namun tulangnya serasa remuk dan tubuhnya sakit semua. Mengingat betapa tinggi dinding yang harus ia panjat dan kemudian ia melompat, ia merasa seperti pencuri. Tidak peduli berapa banyak bahaya yang mengancam nyawa, yang penting bisa melarikan diri.
Benar-benar prinsip yang tidak masuk akal namun nyata adanya.
Setelah merasa lebih baik, Catalina menghela nafas panjang dan menatap dinding itu sekali lagi sambil membersihkan tubuhnya dan merapikan penampilannya. Untungnya hanya penampilannya saja yang berantakan, pakaiannya tidak terlalu kotor, jadi hanya perlu merapikannya sedikit, sudah baik-baik saja.
Sebelum pergi, Catalina memutuskan untuk menghitung hasil curiannya terlebih dahulu. Ia mengambil uang di bra-nya kemudian menghitungnya. Ada tiga lembar uang pecahan pounds dan masing-masing bernilai lima puluh. Jadi total ada seratus lima puluh pounds yang berhasil ia curi.
Sial.
Ia adalah orang yang bersih. Ia selalu menghasilkan uang dengan cara yang benar. Namun hari ini dan untuk pertama kalinya ia benar-benar mencuri. Sesuatu yang jelas tidak pernah ia bayangkan.
Tidak ingin terbelenggu akan rasa bersalah, ia mengambil sepatunya dan bergegas pergi. Ia tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi di sini karena orang itu bisa sadar kapan saja dan mereka bisa saja menemukannya.
Ia mengawasi sekeliling dan setelah memastikan semuanya aman, ia berlari sekuat yang ia bisa.
Karena rumah itu terletak di pinggiran kota dan letaknya cukup terpencil, ia yakin tidak akan menjumpai bus atau taksi. Jadi yang bisa ia lakukan hanya mengandalkan kekuatannya sendiri, hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Untungnya, ia terbiasa dengan hal semacam ini. Berlari, menghindar, menjauh, memukul, kehidupan keras yang tidak cocok untuk seorang gadis, ia melalui semuanya tanpa mengedipkan mata. Jadi jangan ditanya seberapa ahli ia dalam hal ini. Anggaplah sebagai makanan sehari-harinya.
Setelah mencapai jalan raya, Catalina menjadi jauh lebih tenang. Namun karena tidak tahu dimana keberadaannya sekarang, ia tidak mengendurkan kewaspadaannya. Ia tidak sedikit pun melambatkan langkahnya dan terus berlari.
Tidak tahu berapa lama atau berapa jauh ia berlari, namun bulir-bulir keringat mulai muncul di dahinya. Ia berhenti sebentar sekedar untuk mengambil nafas dan menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengejarnya. Dengan sepatu di tangan kanannya, ia kembali melanjutkan perjalanannya.
Ia kembali berlari dan berlari.
__ADS_1
Setelah melihat halte bus berjarak tidak jauh lagi, ia menjadi sedikit lebih tenang dan ritme larinya juga melambat. Dadanya naik turun dan ia mengusap keringat di dahinya.
Meski memiliki beberapa uang di tangannya, namun ia sama sekali tidak berniat untuk menggunakannya. Ia berjalan pelan dan saat melewati minimarket, langkah kakinya sama sekali tidak berhenti.
Ia tidak berkeinginan untuk membeli sesuatu. Meski kakinya sakit karena berlari dengan bertelanjang kaki, namun ia menghentikan dirinya agar tidak membeli sesuatu dengan uang yang ia curi dari bajingan itu. Lagipula ia membawanya sebagai cadangan kalau-kalau ada sesuatu yang mendesak. Jika tidak ada hal-hal seperti itu, maka uang itu akan tetap utuh.
Catalina mendudukan dirinya di halte dan meletakkan sepatunya di sampingnya.
Ia sangat lelah. Benar-benar lelah.
Belum pernah ia merasakan sensasi seperti ini setelah tinggal di sini. Dan sekarang akhirnya ia merasakannya. Jika di Valdes, ia tidak bisa lagi menghitung menggunakan jarinya berapa banyak hal seperti ini terjadi padanya.
Namun lain tempat lain cerita.
Setelah tinggal di sini, ia menjalani kehidupan yang cukup damai. Baru sekarang akhirnya ia merasakan apa itu kegelisahan. Kegelisahan karena beberapa hal. Salah satunya adalah karena Tatiana.
Catalina menyandarkan punggungnya dan melipat kakinya kemudian menatap ke depan, tenggelam dalam pikirannya.
Dia rela memberikan dirinya kepada siapapun yang berani membayarnya dengan harga mahal.
Jadi apakah sifat polos dan naif yang selalu orang katakan tentang dirinya hanya kedok? Apakah itu hanya tameng untuk menutupi kebusukan dirinya?
Catalina menutup wajahnya dan matanya memerah, hampir menangis. Ia tidak pernah merasa dirinya begitu hina bahkan dengan pekerjaan kasar yang selama ini ia jalani, dengan pakaian lusuh yang ia pakai dan apartemen bobrok yang ia huni. Namun setelah tahu jika saudari kembarnya ternyata berprofesi sebagai kunang-kunang, ia merasakan apa yang sebut nista.
Ia merasa tubuhnya sangat kotor meski yang tidur dengan banyak pria adalah adiknya. Mungkin alasan itu pula yang membuat Sehan membenci Tatiana dan melarangnya mendekati Lexus. Ternyata setelah tahu Tatiana seperti itu, ia pun membencinya. Sangat benci dan kebencian itu berasal dari dasar hatinya.
Namun ia tidak lupa alasan mengapa Tatiana seperti itu. Yaitu karena ketidakmampuannya. Andai ia bisa menjaga dan melindunginya, gadis itu tidak akan terperosok ke jurang dosa dan berkubang dengan banyak dosa lainnya termasuk mengkonsumsi obat-obatan terlarang.
Ia yakin kecanduannya terhadap obat-obatan itu juga berasal dari sana, dari pergaulannya dengan orang-orang yang tidak benar, dari lingkungan yang tidak baik.
__ADS_1
Namun hal-hal lain juga turut menambah kebingungannya. Salah satunya adalah Nick. Apakah pria itu benar-benar tidak tahu jika Tatiana menjalani hidup sebagai penunggu ranjang? Nick adalah managernya, dan seharusnya pria itu tahu segala sesuatu tentang Tatiana dari urusan pribadi hingga urusan umum. Mustahil pria itu tidak tahu apapun tentang artis di bawahnya.
Dan hal aneh lainnya adalah kenapa orang tua Sehan mengizinkan putranya yang berharga bertunangan dengan gadis seperti itu? Keluarga Geffrey bukan keluarga biasa. Jika mencarikan jodoh untuk putranya, mereka jelas akan memilih gadis yang baik dan berasal dari keluarga terpandang dan yang terpenting masa lalu dan asal-usulnya juga harus jelas.
Tapi kenapa mereka membiarkan putra sulungnya menikahi gadis malam? Mungkinkah mereka tidak tahu Tatiana gadis seperti itu? Namun apa mungkin mereka melewatkan detail sepenting itu? Atau apa mungkin mereka mengetahuinya namun membiarkannya?
Segala hal bisa terjadi dan segala kemungkinan bisa saja benar. Namun sebelum menemukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu, ia masih harus mencari tahu supaya mengetahui lebih banyak lagi.
Seorang pria tua yang tampak berusia enam puluhan duduk tidak jauh dari Catalina. Saat melihat seorang gadis tampak lelah dan tidak bersemangat, ia buka suara, "Merokok tidak baik untuk kesehatanmu. Tapi apa kau tahu, ketika kau merokok semua suara di kepalamu tiba-tiba menghilang dan apa yang kau rasakan hanyalah ketenangan."
Catalina tersentak. Ia menoleh. Pria tua itu, apa berbicara dengannya?
Pria tua itu mengeluarkan rokok dan korek dari saku jaketnya kemudian mengulurkannya kepada gadis itu. "Mau rokok?" ucapnya lagi.
Melihat seorang pria itu mengulurkan rokok kepadanya, ia tidak bisa menahan rasa penasaran. "Untukku?"
"Uh huh." Pria tua mengangguk.
Catalina tersenyum. Ia menggigit bibirnya dan rasanya ingin menertawakan dirinya sendiri. Mereka adalah orang asing. Ia tidak mengenal dia dan dia juga tidak mengenalnya. Tapi kenapa pria itu begitu baik dan peduli padanya?
Melihat rokok di tangannya, Catalina tahu itu hanya rokok murah yang biasa dijual di minimarket dengan harga yang paling murah, dan bahkan lebih murah dari yang biasa ia gunakan. Namun betapa baiknya pria itu, ia tidak keberatan menerimanya.
Ia mengambil satu batang dan menyulutnya kemudian mengembalikannya lagi kepada pria tua itu. "Terima kasih," ucapnya. Kemudian ia mengeluarkan tiga lembar uang yang ia miliki. "Untukmu!" Ia meletakan uangnya dan mendorongnya kepada pria itu.
Pria itu menatap uangnya kemudian menatap Catalina. Dan raut keheranan tercetak jelas di wajahnya.
"Kau bisa mengambilnya." ucap Catalina sambil menghisap rokoknya. Rasanya benar-benar buruk, namun hanya dengan mengingat kebaikan kecil orang itu, rasa tidak enak itu hilang dalam sekejap. "Aku tidak membutuhkannya lagi," lanjutnya. Lagipula ia benar-benar tidak membutuhkan uang itu. Ada orang yang baik hati dan peduli padanya, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membalas kebaikannya.
Pria tua menerima uangnya dan berterima sangat banyak sebelum bus berhenti dan membawanya pergi.
__ADS_1
Catalina menatap bus yang perlahan menjauh dan bibirnya melengkung membentuk sebuah senyum. Hanya orang yang pernah berada di titik yang sama yang bisa mengerti perasaan orang lain.