Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 42 • RGSA - Barang-barang Aneh Di Paperbag


__ADS_3

Sehan menurunkan kaki Catalina dengan hati-hati dan menyimpan kembali obatnya. Saat ia menaikkan wajah, ia terkejut selama beberapa saat ketika tatapannya bertemu dengan mata sebening kristal gadis itu.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau sudah jatuh cinta padaku?" Sehan sedikit menggodanya. Menggoda seekor harimau betina, terasa menyenangkan, dan ia kecanduan melakukannya.


Catalina diam selama beberapa saat sebelum mengangguk. "Kurasa," sahutnya. Ia mengalihkan pandangannya dan merenung sebentar. Seorang pakar psikologi menjelaskan bahwa cinta merupakan sebuah emosi yang terbentuk dari tiga perasaan, yaitu perhatian, kasih sayang dan keintiman.


Sejujurnya itu yang ia rasakan tiap bersama Sehan. Setiap detiknya, ia merasakan sesuatu meledak di dadanya. Dan ia menyukai perasaan di sayangi dan di pedulikan oleh pria itu.


Ia tidak tahu pasti jenis perasaan apa ini. Namun ia tidak seratus persen yakin bahwa yang ia rasakan adalah cinta. Apakah itu benar-benar cinta atau hanya ketergantungan, ia tidak bisa membedakannya dan ia masih perlu mencari tahu lebih banyak lagi tentang perbedaan kedua emosi itu.


Namun ia tidak berniat menutupi apapun dari Sehan.


Perasaan ini, ia yang merasakan. Mengatakan atau tidak, adalah pilihannya dan hasilnya mungkin tidak jauh berbeda. Lagipula, perasaan bisa berubah menjadi busa kapan saja. Semudah itu berubah dan ia cukup yakin sekarang ia hanya kebingungan.


Serangan Sehan semakin intens, sedangkan ia gadis yang kekurangan kasih sayang. Sehan menyanyinya, ia tidak sanggup menerimanya dan sedikit kampungan. Jadi, ya, ia hanya bingung. Benar-benar bingung.


Mendengar apa yang Catalina katakan, jantung Sehan melonjak dan hampir saja berhenti berdetak.


'Kurasa?'


Sehan menatap gadis di depannya dengan tatapan rumit.


Apa Catalina baru saja berkata 'kurasa aku jatuh cinta padamu?'


Matanya yang selalu dingin, rasional, terkendali dan bijaksana tampak bingung saat ini. Gadis di depannya juga tampak bingung. Namun berbeda dengan dirinya. Jika Catalina masih bingung dengan perasaannya sendiri, perasaannya sudah sangat jelas. Ia hanya bingung dengan jawaban Catalina.


Ada sedikit kebahagiaan, namun juga terselip sedikit ketakutan.


Ia takut apa yang ia dengar tidak nyata, ia takut itu hanya ilusi. Namun jelas-jelas ia mendengarnya mengatakannya. Tidak. Ia melihat Catalina mengangguk. Yang itu berarti gadis itu mengiyakan, mengakui jika dia jatuh cinta padanya.

__ADS_1


Menemukan kenyataan ini, Sehan tersenyum, sedikit salah tingkah.


Kejujuran Catalina, membuatnya sangat-sangat mencintainya.


Sehan menariknya dengan satu tangan, lalu menempelkan bibirnya di bibir Catalina. Ia bukan tipe orang yang suka menganiaya diri sendiri. Ada gadis yang mengaku jatuh cinta padanya, ia akan membalas perasaannya dengan baik.


Dalam dua puluh delapan tahun terakhir hidupnya, ia tidak pernah jatuh cinta dengan siapa pun. Ia berpikir cinta tidak ada artinya dan tidak ada gunanya. Jadi bagaimana jika ia tidak memiliki nafsu dan cinta?


Apakah itu benar-benar penting?


Ia tidak pernah berpikir bahwa cinta akan, suatu hari, menerobos ke dalam hidupnya dengan cara seperti ini.


Hidup bukan lagi tentang rencana-rencana yang dingin dan angka-angka yang sulit, tetapi dipenuhi dengan kelembutan, kerinduan, kehangatan, kemanisan, dan kepuasan. Gadis ini, telah membuatnya lengkap.


Catalina terkejut dengan ciuman Sehan. Ia mendorong Sehan sekuat tenaga dan bibir mereka terlepas.


Marah, Catalina menatap Sehan dan meraung, "Apa yang kau lakukan? Apa kau gila? Aku tidak melakukan apa pun untuk memprovokasimu, kenapa kau selalu seperti ini?"


"Bagaimana aku memprovokasimu? Aku tidak melakukan apapun, oke?" Catalina masih tidak menyadari jika pengakuan kecil yang sudah ia lakukan membuat Sehan sangat senang. Ia tidak tahu dirinya berperan dalam perubahan suasana hatinya. Jika tahu itu sangat berpengaruh untuk pria itu, ia bersumpah tidak akan mengatakan apapun.


"Kau memprovokasiku dengan segala cara yang mungkin. Apa alasan itu cukup?"


Catalina tidak bisa berkata-kata. Ia kehabisan cara untuk menghadapi pria menyebalkan ini. Dia bahkan semakin pandai berperilaku dan bertutur genit. Bertingkah cabul seperti bukan pemimpin Geffrey Group.


Meski melepaskan ciumannya, Sehan tidak rela melepaskan pelukannya. Ia mendekapnya erat dan memperlakukannya seperti harta karunnya. "Katakan, apa kau jatuh cinta padaku?" tanyanya. Kegembiraan di hatinya masih belum usai, dan ia tidak berniat menyembunyikannya.


"Hei, aku tidak bilang jatuh cinta padamu. Aku hanya bilang, kurasa aku jatuh cinta padamu." Catalina memperbaiki perkataan Sehan yang kurang tepat. Apa pria itu tidak bisa membedakan 'kurasa' dan tanpa kurasa?


Sehan tersenyum tipis. "Kau tahu, kau hanya ragu. Kau belum sepenuhnya meyakini apa yang kau rasakan. Padahal itu sudah sangat jelas." Ia bukan orang bodoh yang tidak tahu perbedaan kalimat yang Catalina ucapkan. 'Kurasa' menunjukkan bahwa gadis itu masih tidak yakin apakah dia mencintainya atau tidak. Namun tidak masalah, ia akan segera membuatnya yakin bahwa perasaannya tidak bercanda.

__ADS_1


Jika Catalina tidak yakin dengannya, semua yang ia lakukan mungkin tidak cukup jelas untuknya. Mungkin ia tidak cukup memanjakan dan menyayanginya, atau mungkin caranya menunjukkan tidak benar. Itu sebabnya gadis itu tidak mempercayainya.


Namun karena sekarang ia yakin perasaan Catalina hanya untuknya, ia tidak akan setengah-setengah dalam mengejarnya.


Ia akan berusaha. Jika Catalina masih tidak yakin, ia akan berusaha keras. Jika gadis itu tetap tidak yakin, ia akan menghamili dan membuatnya menjadi miliknya sepenuhnya.


Itu adalah rencana termudah yang bisa ia pikirkan.


Catalina hendak bicara ketika suara ketukan terdengar dari arah pintu. Ia menutup mulut dan menelan kembali perkataannya. Ia hanya melirik Sehan dan menangkap tatapan pria itu begitu lembut menatapnya. Takut itu hanya ilusi, ia memalingkan wajahnya.


"Tuan, Nona, makan malam sudah siap." Suara Harrison terdengar dari arah pintu.


"Mm, kami akan segera turun," jawab Sehan.


"Baik," Harrison menjawab kemudian melangkah pergi. Ia tidak ingin mengganggu pasangan muda yang sedang dalam masa panasnya.


Sehan menatap gadis di pelukannya dan tersenyum nakal. "Apakah kau mau memakai ini atau memakai pakaian? Atau kau juga bisa memilih untuk tidak berpakaian."


Catalina melotot. Pilihan pertama dan kedua terdengar seperti perkataan manusia. Namun perkataannya selanjutnya sangat tidak tahu malu dan ia yakin perkataan seperti itu hanya bisa diucapkan oleh orang cabul bermuka tebal.


Melihat wajah merah Catalina, Sehan tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya. Setelah itu ia menunjukkan paper bag pemberian Kenny. "Kau bisa memakai ini jika mau. Jika tidak, tawaran agar kau tidak berpakaian juga masih berlaku."


Catalina mendengus. Ia meraih paper bag dari tangan Sehan lalu bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke kamar mandi. Ia masih marah bahkan setelah lepas dari pria itu. Namun ekspresi marahnya berubah menjadi malu ketika melihat isi paper bagnya.


"Apa ini?" Ia berseru. Mengeluarkan satu persatu barang-barang aneh dari paper bag, dahinya mengernyit. Bajingan mesum itu, benar-benar ingin ia memakai ini? Apa dia gila? Apa otaknya sudah berpindah ke pantat?


Catalina membuka pintu kamar mandi dan kepalanya mengintip. "Hei, kau serius ingin aku memakai ini?" Ia tidak menunjukkan barang-barang aneh itu kepada Sehan, namun ia berharap pria itu tahu apa maksudnya.


"Uh huh." Sehan mengangguk. "Kau bisa memakainya," lanjutnya. Pakaian tidur yang Kenny pilih pasti memiliki kualitas yang baik. Dan hanya itu yang bisa ia pikirkan, set pakaian bentuk pull-over dengan celana panjang. Ia tidak bisa memikirkan kemungkinan lain karena sedari awal ia tidak memiliki niat mesum.

__ADS_1


Catalina menutup pintunya dan dadanya berdebar. Si sialan itu serius ingin ia memakainya? Ia mengangkat salah satu lingerie kemudian tertawa getir.


Dasar cabul.


__ADS_2