Rahasia Gelap Sang Aktris

Rahasia Gelap Sang Aktris
Bab 29 • RGSA - Haruskah Ia Menghukumnya?


__ADS_3

Sehan adalah orang yang pemilih.


Entah apapun itu, semua harus lulus uji coba darinya sebelum bisa dinyatakan layak atau tidak. Daripada gelar di atas kertas, ia lebih suka melihat kemampuan seseorang secara langsung. Begitu juga dengan barang-barang. Selain merk, ia juga memperhatikan kualitas dan semua detail yang terkadang dilewatkan oleh orang lain.


Untuk gadis di depannya, Sehan juga sudah melakukan uji coba. Untuk memastikan apakah ia tertarik padanya atau tidak. Dan gadis itu memang terasa jauh lebih enak dari yang ia duga.


Sehan mendudukkan diri di samping Catalina dan menatap gadis itu sekali lagi dan mendapatkan tatapan intens darinya. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau jatuh cinta padaku?" ucapnya, sedikit menggoda.


Catalina tersentak. "Apa? Jatuh cinta?" Ia memutar bola matanya. Apa orang ini gila? Apa dia berpikir cinta bisa muncul hanya karena berciuman? Jika begitu, betapa nyaman hidupnya sampai berpikir mampu mengubah perasaan seseorang hanya dengan berciuman atau sentuhan fisik.


Namun ia tidak akan mengatakan apa yang ia pikirkan. Pria itu seorang pemarah, jika sedikit saja ia memancingnya dan tidak cocok di hatinya, ia takut pria itu akan langsung menusuknya dan melemparkan tubuhnya dari atap dengan dalih bunuh diri.


Dibanding apapun, kematian adalah yang paling ia takutkan.


Jadi ia tidak akan menyinggung pria itu untuk sementara.


"Ya," jawab Sehan. Meski tidak yakin dengan apa yang ia katakan, namun ia percaya tidak ada gadis yang mampu menolak pesonanya.


"Sulit untuk menentukan keadaan yang tidak logis seperti itu," ujar Catalina. Ia hanya seorang anak yatim piatu yang tidak pernah mendapatkan cinta dari siapapun. Baginya, cinta adalah sesuatu yang tidak murah. Itu adalah hal yang paling mahal di dunia ini. Seseorang mungkin harus membayar dengan semua yang mereka punya tetapi mereka masih tidak mampu membelinya.


Cinta juga sangat menuntut. Dibutuhkan hati, jiwa lalu meminta lebih.


Catalina adalah salah satu orang yang tidak memiliki kemewahan semacam itu dalam hidupnya. Dan alasannya bukan karena ia tidak memiliki apapun untuk ditawarkan. Ia memiliki tubuh yang sehat dan otak yang cerdas, ia mungkin bisa memiliki pacar jika mau. Hanya saja ia tidak ingin berbagi perasaan dengan orang lain yang kemungkinan hanya akan membelenggunya


Ia tidak menyukai kerumitan yang hanya akan mempersulitnya.


Melihat orang lain menikah, sebuah pertanyaan selalu muncul di benaknya. Apakah cinta sungguh membawa mereka pada pernikahan?


Tidak.


Hal yang membuat mereka menikah pasti bukan cinta melainkan saling menguntungkan. Hubungan semuanya dibangun di atas saling menguntungkan. Entah mereka menyebutnya cinta atau kebahagiaan, itu hanya keegoisan manusia.


Orang menjalin hubungan untuk mengisi kekosongan yang mereka rasakan di dalam hati. Mereka mencari kehangatan yang hilang dalam hidup mereka. Ini semua tentang manfaat. Semuanya seperti transaksi bisnis. Begitu mereka merasa kehangatan itu tidak cukup, mereka memilih untuk putus dan bercerai.


Sehan terkekeh. "Kau jelas menyukai ciumanku." Dan sekarang dia menyangkalnya? Benar-benar pembohong kecil yang menyebalkan.


Suara serak Sehan membuyarkan lamunan Catalina. Ia menoleh dan melihat pria itu masih menatapnya. "Aku tidak punya pengalaman lain untuk membandingkannya." Ia melotot. Itu ciuman pertamanya, oke? Benar-benar ciuman pertamanya. Jadi ia tidak tahu bagaimana rasanya berciuman. Apakah itu berbeda sensasi jika berciuman terlepas dari siapa pasangannya atau tidak.


Namun yang jelas, itu bukan cinta.


Ia tidak ingin dekat dengan orang berbahaya ini dan ia tidak suka dia mengganggu dunianya. Kalaupun ada, mungkin itu bukan cinta, tetapi nafsu.


"Apa maksudmu? Jangan bilang aku ciuman pertamamu?" Sehan sedikit memiringkan kepalanya, menunggu jawaban dengan tidak sabar.


"Apa itu penting?" Catalina jelas tidak suka dengan apa yang Sehan katakan. Memang apa salahnya jika itu ciuman pertamanya? Jika Sehan tidak menciumnya secara paksa, ia tentu tidak akan kehilangan ciuman pertamanya. Semua jelas salah pria itu. Tapi pria itu mengejek dan mencibirnya terus-menerus. Apa hati nuraninya tidak sakit?


"Apa kau serius?" Sehan bertanya padanya, kaget, tidak percaya. Catalina berusia dua puluh tahun. Dia sangat cantik dan menarik. Mustahil dia tidak pernah berciuman sebelumnya.


Namun bukan berarti itu tidak mungkin.

__ADS_1


Beberapa orang memang tidak pernah berciuman. Bukan karena mereka tidak bisa melakukannya, mereka hanya bisa menginginkannya.


Sehan menatap bibir Catalina dan tanpa sadar menjilat bibirnya. Ia ingin mencicipinya lagi. Bibir itu, ya.. ia menyukai pengalaman menjadi yang pertama untuk Catalina dan ia ingin mengulangi perasaan puas yang tak terdeskripsikan yang muncul di hatinya.


"Haruskah kau mengejekku?" Catalina cemberut.


"Bagian mana dari perkataanku yang mengejek? Aku hanya bertanya dan kau bisa menjawabnya," ujar Sehan.


Catalina mengabaikannya, bergumam pada dirinya sendiri. "Aku mungkin harus mencari pria lain untuk dicium agar memiliki lebih banyak pilihan untuk perbandingan." Meski ia tidak tertarik untuk urusan cinta atau hubungan fisik, namun tidak ada salahnya dalam mengejar pengetahuan.


Ia ingin tahu bagaimana keinginan yang kuat untuk berhubungan intim itu datang. Apakah dengan ciuman dan sentuhan kecil bisa merangsangnya? Juga, ia ingin tahu tanda-tanda seseorang saat terangsang.


Untuk seorang pria, mungkin bisa dengan mudah mengetahuinya karena mereka memiliki sesuatu yang bisa berdiri. Namun ia seorang wanita, ia tidak memiliki barang seperti itu. Jadi ia perlu bukti nyata yang terpampang di depan mata sebelum mempercayainya.


"Jangan berpikir untuk mencari pria lain dan menciumnya," Sehan berujar marah. Apa-apaan dengan mencium pria lain untuk di jadikan perbandingan? Kucing kecil ini benar-benar tidak patuh.


Catalina mengedipkan matanya. "Kenapa?" Tidak ada salahnya dalam mengejar pengetahuan, kan? Juga, apa pria itu tidak pernah mendengar jika pengalaman adalah guru terbaik? Ia perlu memiliki banyak pengalaman agar mengetahui banyak hal, agar tahu arti hidup.


"Pokoknya tidak boleh." Sehan mengulurkan tangannya dan menyentuh kepala Catalina sebagai cara untuk menghibur. "Jadilah patuh," ucapnya. Namun kucing kecil yang terlalu patuh juga tidak menyenangkan. Terlalu biasa karena tidak memiliki tantangan, terlalu biasa karena mudah ditaklukkan. Semua boleh dia lakukan, asal jangan berani memikirkan pria lain.


Catalina menyipitkan mata dan menatap Sehan dengan curiga.


"Jangan menatapku seperti itu," ucap Sehan. "Sekarang makan makananmu. Kau pasti tidak makan apapun di acara itu, kan?"


Melihat dua cangkir teh dan dua mangkuk mie di atas meja, Catalina tidak menduga pria sialan itu menganggap kondominiumnya seperti rumahnya sendiri. Muka besinya benar-benar tidak bisa ditembus oleh siapapun, oleh apapun.


Ia tersentak. "Bagaimana kau tahu?" Ia menatap Sehan dengan tatapan heran. Semua hidangan yang tersaji di sana tidak sesuai lidahnya. Rasanya sangat aneh dan ia hanya meminum beberapa teguk wine mahal. Bukan ia pilih-pilih makanan. Ia memakan apapun yang ada. Orang miskin, apa lagi yang bisa dipilih?


Namun ia benar-benar tidak suka hidangannya dan takut perutnya akan sakit jika memaksa memakannya.


Tetapi, darimana pria itu tahu hal semacam itu? Acara itu jelas diperuntukkan untuk pemeran dan kru serial itu. Orang luar tidak boleh ikut selain investor.


Tetapi tentu saja itu tidak penting. Yang terpenting adalah, "Kenapa kau tahu aku baru pulang dari acara?" Catalina menatap Sehan sampai matanya hampir keluar. Ia semakin heran. Apa Sehan mengikutinya? Apa dia meminta orang untuk memata-matainya? Ia menatapnya curiga.


Tahu apa isi kepala Catalina, Sehan menaikan sebelah alisnya. "Kau curiga aku mengikutimu? Kau curiga aku memata-mataimu?"


Catalina mengangguk tanpa ragu. "Tentu saja, apa itu masih harus ditanyakan?"


"Lihat pakaianmu, kau bahkan tidak menggantinya." Sehan menunjuk pakaian Catalina dengan pandangannya. Melihat pakaiannya, orang bodoh sekalipun akan tahu dia baru pulang dari sebuah acara. Apa gadis itu sungguh harus menanyakan pertanyaan bodoh itu?


Catalina mengikuti arah pandang Sehan dan mengumpat di dalam hati. Sial. Ia hampir saja membenturkan kepalanya ke dinding karena kebodohannya, namun ia berhasil menghentikan dirinya supaya tidak melakukan hal bodoh agar tidak membuat Sehan berpikir ia terlalu kasar.


Bagaimanapun ia tidak tahu bagaimana Tatiana bertingkah saat bersama Sehan. Atau.. haruskah ia mengubah kata-kata itu menjadi pertanyaan?


Bagaimana Tatiana bertingkah saat bersama Sehan?


Tatiana dan Sehan tidak pernah bersama. Berbicara pun tidak pernah. Mereka hanya bertunangan karena suatu alasan dan ya, Sehan tidak menginginkannya. Jadi Sehan tidak mungkin menyadari perbedaan di antara mereka, kan?


Tentu saja.

__ADS_1


Sehan tidak akan menyadarinya.


Kenapa ia harus khawatir Sehan mencurigai sesuatu sementara pria itu tidak tahu apapun tentang Tatiana? Juga, ada Nick di sampingnya.


Nick manager yang kompeten, pria itu jelas tidak akan membiarkan bajingan seperti Sehan mengetahui kebenarannya dan merusak rencana yang sudah dia susun.


Sehan mengetuk dahi Catalina. "Apa yang kau pikirkan, huh?" Melihat Catalina lebih banyak melamun, ia berpikir Catalina mungkin sedang memikirkan semacam konspirasi. Namun daripada konspirasi, mungkin lebih pantas disebut antisipasi.


Gadis itu pasti akan bertindak lebih berhati-hati mengingat betapa cerobohnya dia saat ini. Mungkin dia tidak akan bertingkah konyol lagi di masa depan dan memperhatikan betul-betul apa yang akan dia lakukan di kemudian hari.


Namun itu bukan sesuatu yang ia harapkan. Ia suka Catalina yang seperti ini. Ia suka dia yang seperti ini.


Tunggu!


Kapan ia bilang suka terhadap gadis itu?


Ia hanya tidak suka melihatnya menggoda pria lain, oke? Ia ingin memilikinya untuk dirinya sendiri dan ia ingin dia menjadi apa adanya dirinya.


Apakah itu masuk ke kategori 'suka'?


Ah, benar-benar.


"Apa aku terlihat seperti sedang berpikir?" tanya Catalina. Ia hanya sedikit bingung dan tidak nyaman dekat dengan orang ini. Namun, pria itu memikirkannya bahkan membuatkan semangkuk mie dan secangkir teh.


Dia adalah Sehan Geffrey, pemimpin perusahaan Geffrey. Meski keberadaannya di sini sebagai tunangan Tatiana, namun tetap saja tidak pantas untuk orang seperti dia.


Sudah sebaik itu, bagaimana caranya mengusirnya? Bukankah ia tidak memiliki alasan untuk melakukannya?


Sial.


Sepertinya ia benar-benar terjebak di sini sebagai umpan meriam. Pemeran utama tetap Tatiana dan Sehan, ia hanyalah pengganti yang sewaktu-waktu bisa di buang jika sudah tidak dibutuhkan.


Benar-benar hidup yang sulit.


Berpura-pura menjadi Tatiana saja sangat sulit, belum lagi berpura-pura menjadi tunangan bagi orang seperti ini, ia yakin akan mati cepat atau lambat bahkan tanpa Sehan membunuhnya.


Sehan mengabaikannya. Ia mengambil semangkuk mie dan memberikannya pada Catalina. "Makan atau.. haruskah aku menyuapimu?" Suaranya sedikit menggoda.


Namun Catalina tidak mungkin tergoda. Ia ingat dengan jelas siapa ia dan ia tidak ingin hanyut akan suasana yang tidak seharusnya. Ia mengambil mangkuknya dengan cemberut dan menyuapkan mie ke dalam mulutnya dengan kesal. Setelah mie berdesakan masuk ke mulutnya, ia mengangguk kecil. Rasanya, lumayan. Tidak terlalu buruk.


Hanya mie, semua orang bisa membuatnya bahkan dengan mata terpejam. Terkadang ia bahkan tidak merebusnya, hanya menyeduh menggunakan air panas karena tidak mau repot dan itu sudah sangat enak. Jadi, makanan sehari-harinya jelas bukan sesuatu yang istimewa.


Dan ia gagal menyadari perubahan wajah Sehan.


Sehan jelas tidak senang.


Mie buatannya adalah yang paling enak karena di buat secara pribadi olehnya menggunakan tangan yang biasa menandatangani proyek jutaan dolar. Namun bukannya mendapat pujian, gadis itu justru biasa saja saat memakannya seolah itu hanya mie yang dibuat oleh orang biasa.


Tahu kah dia, memakan mie buatannya adalah suatu kehormatan? Menganggapnya biasa saja bahkan menyamakan dengan buatan orang biasa adalah kejahatan. Apa yang harus dilakukan untuk penjahat adalah menghukumnya. Jadi, haruskah ia memberikan hukuman padanya?

__ADS_1


__ADS_2