Rahasia Kecil Tuan Mu

Rahasia Kecil Tuan Mu
Bab 162 Maaf


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Ketika Li Ye berjalan kembali ke Paviliun Wangjiang dengan sedih, Mu Zhanbei masih duduk di dalam mobil.


Buku catatan masih terbuka di atas meja kecil yang telah dimodel ulang. Dia terlihat seperti bekerja dengan sepenuh hati. Saat Li Ye pergi untuk mencari Gu Anran, dia juga terlihat tidak terlalu peduli.


Hello! Im an artic!


Tapi Li Ye tahu, tuan muda ini hanya acuh tak acuh di permukaan saja. Sebenarnya, dia sangat peduli pada nyonya muda.


Kalau tidak, tadi jelas-jelas dia sudah naik mobil dan sudah mau pergi, kenapa begitu mendengar kabar tentang nyonya muda, dia malah berlagak sedang kerja dan tetap tinggal di Paviliun Wangjiang.


Melihat Li Ye kembali sendirian, Mu Zhanbei mengerutkan kening, “Mana orangnya?”


“Nyonya muda bilang masih ada urusan, dia pergi dulu.”


Hello! Im an artic!


“Kamu tidak bilang padanya kalau aku hanya mengundangnya minum secangkir teh?” Kerutan di keningnya semakin dalam.


“Sudah. Saya juga bilang tidak suka teh, minum kopi juga boleh. Tapi nyonya muda bilang, dia tidak suka minum teh dan juga tidak punya kebiasaan minum kopi.”


Mu Zhanbei tiba-tiba membuka pintu mobil dan bersiap turun dari dalamnya.


Li Ye tidak tahu apa yang ingin tuan mudanya lakukan, dia berkata, “Nyonya muda sudah pergi.”


Mu Zhanbei memasang wajah yang suram, pintu kursi pengemudi yang telah dia buka dan kakinya telah turun sebelah pun dia naikkan kembali.


“Tuan Muda, Anda mau pergi ke mana? Ke Kantor? Saya…”


Suara pedal gas diinjak agak memekakkan telinga, Li Ye menatapnya dengan tatapan tertegun. Dia menyaksikan tuan mudanya itu mengendarai mobil keluar di depan matanya.


Dia… sepertinya ditelantarkan lagi.


Tuan muda sedang ingin mengejar nyonya muda? Kalau memang begitu peduli, kenapa bukan tadi dia sendiri saja yang menunggu gadis itu di halaman?


Untuk apa berlagak tenang?


Mu Zhanbei cemberut di sepanjang jalan. Setelah mengemudikan mobilnya keluar dari Paviliun Wangjiang, dia melaju perlahan ke gerbang depan.


Kediaman Mu terlalu besar, gadis ini tidak mungkin sudah keluar dari pintu gerbang.


Benar saja, setelah menunggu beberapa di gerbang depan, barulah dia melihat Gu Anran yang berjalan keluar perlahan.


Gu Anran sepertinya tidak melihat mobil yang terparkir di samping, tentu saja dia tidak memperhatikan siapa yang ada di dalam mobil itu.


Kediaman Mu sungguh besar, dia sudah terengah-engah berjalan kemari dari rumah utama.


Dulu dia diusir oleh Tuan Muda Mu. Jika sekarang dia pergi ke garasi dan minta sopir untuk mengantarnya ke depan, rasanya agak memalukan.


Oleh karena itu, meski dia tahu bahwa Vila Keluarga Mu dibangun di tengah gunung, dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri dan bertekad untuk terus berjalan.


Lain kali, dia harus mengambil ujian SIM dan mengemudi sendiri kemari.


Tidak jauh setelah dia berjalan keluar dari gerbang utama, ada sebuah mobil mewah sederhana yang melaju di belakangnya.


Dengan bunyi berdecit, mobil itu berhenti di sampingnya.


Bukankah ini mobil mewah yang tadi diparkir di depan gerbang?

__ADS_1


Gu Anran menyipitkan matanya dan melihat jendela mobil yang turun perlahan.


Mu Zhanbei?


Tiba-tiba, matanya penuh dengan kewaspadaan dan juga rasa asing.


Mu Zhanbei masih merasa tertusuk oleh tatapan mata Gu Anran yang acuh tak acuh. Sudah beberapa hari berlalu, bagaimana gadis ini melewatinya?


Selalu sengaja untuk tidak mencari tahu tentang kabar Gu Anran, tapi sebenarnya dia sangat ingin tahu apa yang gadis ini lakukan dan bersama dengan siapa saja.


Berpikir bahwa gadis ini setidaknya akan meneleponnya beberapa kali untuk melaporkan keadaannya di kampus.


Tanpa diduga, sudah beberapa hari berlalu dan bahkan tidak ada satu panggilan telepon pun.


“Ini tengah gunung, apa kamu berencana untuk berjalan turun seperti ini?” Mu Zhanbei bertanya, berusaha keras untuk mempertahankan wajah gunung es tanpa ekspresinya itu.


“Tidak masalah, aku bisa jalan.” Gu Anran menanggapi dengan cuek.


“Dua jam, apa kamu juga bersedia berjalan?”


Gadis ini, jelas-jelas masih marah dengannya!


“Bukankah siang nanti masih ada kelas?”


“Mungkin saja nanti akan ada taksi yang lewat. Siang nanti saya memang ada kelas, tapi Tuan Muda Mu tidak perlu cemas karena saya bisa naik taksi.”


“Di jalanan ini, tidak akan ada taksi. Kamu masih mau merajuk sampai kapan?”


Jantung Gu Anran terasa tercekat dan dia segera berjalan ke depan.


Bahkan, dia benar-benar mengabaikan keberadaan Mu Zhanbei! Tanpa menyapa sedikit pun, dia pergi begitu saja!


Gadis ini keberaniannya sudah mulai besar ya?


Dia sangat marah, dan yang lebih menjengkelkannya lagi adalah dia bahkan sudah mengendarai mobilnya dan mengikuti gadis itu tanpa pikir panjang.


“Apa kamu ingin membuatku malu di hadapan semua anggota Keluarga Mu?”


“Di sini tidak ada anggota Keluarga Mu.” Gu Anran sama sekali tidak peduli padanya.


Dulu pria ini memperlakukannya seperti itu, kemudian mengusirnya. Sekarang, dia tidak marah lagi, hanya berharap agar pria ini jangan mengganggu dia lagi.


Pria ini hanya perlu pura-pura tidak melihatnya saja, apa maksudnya mengejar kemari?


“Di sini, masih wilayah Keluarga Mu.” Mu Zhanbei tidak ingin bertengkar dengannya, “masuk ke dalam mobil.”


Gu Anran tidak bicara, juga tidak mempedulikannya. Mu Zhanbei pun berkata dengan tidak senang, “Kalau kamu masih ingat kesepakatan di antara kita.”


Gu Anran menarik napas dalam-dalam dan akhirnya menghentikan langkah.


Dia berjalan ke kursi belakang, membuka pintu dan masuk ke dalamnya.


Masih tidak bersedia untuk duduk bersamanya!


Pria itu masih marah, tapi jarang-jarang gadis ini akhirnya tidak melawan dan masuk ke mobilnya. Saat ini, dia tidak ingin merusak ketenangan ini.


Gadis kecil ini hanya merajuk. Dia seorang pria dewasa, apa masih harus terus berdebat dengannya?


Mobil berjalan di jalanan tengah gunung, meluncur menuruni gunung tanpa tergesa-gesa.

__ADS_1


Mu Zhanbei bahkan dengan sengaja memperlambat laju kendaraan, membiarkan mobil melaju perlahan di jalan.


Tapi, suasana di dalam mobil agak sedikit berat.


Sesekali melihat dari kaca spion, gadis ini hanya menoleh ke samping dan fokus pada pemandangan di luar jendela.


Bahkan, tidak ada sedikit pun niat untuk memulai pembicaraan dengannya.


Beberapa hari tidak bertemu, apa tidak ada yang ingin gadis ini katakan padanya?


Setelah beberapa menit, Mu Zhanbei akhirnya tidak tahan lagi dan memecah keheningan, “Kapan kamu akan pindah kembali?”


“Apa Tuan Muda Mu memperbolehkan saya pindah kembali?” Nada bicaranya sedikit kasar, “bukankah Tuan Muda Mu sudah meminta saya untuk pergi jauh-jauh?”


“……”


Katanya perempuan itu pikirannya sempit, Mu Zhanbei akhirnya sudah mengalaminya secara pribadi.


Hal yang sudah begitu lama, kenapa masih mengingatnya dalam hati?


Mu Zhanbei mengatupkan bibir bawahnya, berusaha untuk membuat nada bicaranya terdengar sedikit lebih dingin, “Sebenarnya… aku hanya kelepasan bicara saja.”


“Ternyata Tuan Muda Mu juga bisa kelepasan bicara?” Hehe, kelepasan bicara ini sungguh cukup menyakitkan hati orang.


Mata Mu Zhanbei sedikit berkedut. Gadis ini, sekarang tubuhnya seperti tertutupi oleh duri dan sulit untuk diajak berinteraksi.


Tapi, kalau terus mengalami kebuntuan seperti ini, dia benar-benar tidak nyaman.


Sudah beberapa hari, dia tidak tahu bagaimana gadis ini melewati hari-harinya di kampus.


Tapi, hari-hari yang dia sendiri lewati memang agak berantakan.


Tidak bisa tidur di malam hari, bahkan lebih suka bekerja sepanjang malam. Sesampainya dia sudah mengantuk sama matanya tidak bisa terbuka lagi, barulah dia pergi berbaring sebentar.


Tapi setiap kali memejamkan mata, dia akan teringat pada air mata yang mengalir di kedua sudut mata gadis ini.


Gadis ini tidak suka menangis, tapi dia menangis di bawah tubuhnya.


Apakah sikapnya hari itu sungguh telah menyakiti gadis ini?


“Hari itu…”


“Tuan Muda Mu, turunkan saya di perempatan depan saja sudah boleh. Sudah ada bus dan saya bisa langsung kembali ke kampus.”


Gu Anran memotong ucapannya dan menunjuk pada persimpangan di depan.


Mu Zhanbei tiba-tiba merasa frustasi. Sejak kapan mobil ini sudah dikendarai sampai di jalan raya?


Tahu begini, harusnya dia mengemudi dengan lebih lambat.


“Hmm.” Dia menjawab dengan samar, tapi ketika melewati persimpangan, dia tidak terlihat berniat untuk berhenti.


“Tuan Muda Mu?” Gu Anran tercengang. Persimpangan sudah lewat, bukankah pria ini sudah setuju untuk menurunkannya di persimpangan?


Pria ini mau apa lagi?


“Kalau begitu, Anda juga bisa turunkan saya di jalan depan itu.”


“Kita sejalan, aku antarkan kamu ke kampus.”

__ADS_1


“Tidak perlu, saya bisa sendiri…”


“……Maaf.”


__ADS_2