Rahasia Kecil Tuan Mu

Rahasia Kecil Tuan Mu
Bab 185 Dia Menghilang Tadi Malam


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Di pantai, kedua sosok itu mulai bergerak lagi.


Tapi kali ini, seorang pria menggendong gadis itu di punggungnya dan berjalan di bawah sinar bulan.


Hello! Im an artic!


“Berat badan ini, apa bos menyiksamu?” Ringannya mirip seperti seekor anak kucing, menekan di punggungnya sama sekali tidak ada beban.


“Bukankah semua perempuan suka kurus? Aku tidak boleh diet?”


Gu Anran memelototinya. Bagaimana pun, pria ini terus merasa tidak suka saat melihatnya.


Pertama kali melihatnya bagaikan seorang dewa. Setelah berinteraksi, belum sampai sehari, sudah merasakan bahwa orang ini sama sekali tidak seperti dewa. Malahan sikapnya begitu jahat.


Hello! Im an artic!


Dikatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya. Orang yang tidak tahu sifatnya, pasti akan mengira sifatnya begitu lembut bagaikan giok.


“Sudah tidak punya banyak daging, masih diet?” Jiang Nan mencibir, “tidak takut jadi seperti papan cuci?”


“Omong kosong, siapa bilang aku papan cuci?”


Ini sedikit berlebihan! Pria ini menertawainya tidak punya daging!


Meski tidak padat berisi seperti Gu Weizi, tapi setidaknya ukurannya juga B, oke?


Mengenai seorang gadis berusia 18 tahun, level ini sudah lumayan. Kenapa harus sampai CDEF?


Kakinya sakit sekali, malas untuk meladeni pria ini!


Mata Gu Anran jatuh pada rambut panjang Jiang Nan.


Rambut panjang itu diikat secara sembarangan di belakang kepalanya, beterbangan saat tertiup angin laut dan terlihat lumayan cantik.


Gu Anran tidak bisa menahan diri untuk mengambil sehelai rambutnya dan memainkan di ujung jarinya.


Jiang Nan mengerutkan kening dan seketika marah, menoleh untuk menatapnya, “Jangan sentuh rambutku!”


Tak disangka-sangka, rambut panjangnya dibungkus oleh tangan gadis itu. Saat Jiang Nan berbalik, Gu Anran telah menjambak rambutnya hingga dia kesakitan.


Keningnya semakin berkerut dan berkata dengan lebih tidak senang, “Lepaskan.”


Gu Anran mengabaikan amarahnya dan bertanya dengan penasaran, “Itu, apa rambut panjangmu ini mudah dirawat?”


Tampaknya sangat penurut, tapi bagi seorang pria, bukankah agak merepotkan?


Jiang Nan tidak menjawab, Gu Anran bertanya lagi, “Kenapa dipanjangkan?”


“Usil.”


“Kamu pasti anak pemberontak saat masih muda.”


“Tidak.”


“Kalau begitu, pasti belajar seni.”


“Belajar teknik mesin.”


“Apa mungkin…” Setelah memikirkannya, Gu Anran tiba-tiba tertawa, “kamu angka nol?”


Jiang Nan tidak mengerti apa maksud ucapan ini, “Hah?”

__ADS_1


“Kamu tidak pernah mendengarnya? Angka satu dan angka nol. Angka satu adalah pria tulen, maka angka nol? Hahaha…”


“Gu Anran, kamu cari mati ya?”


“Hahaha…”


Seorang pria yang berdiri di pinggir jalan menatap kedua sosok itu sepanjang perjalanan kembali ke pantai, suasana hatinya tidak terlukiskan.


Dia sangat ingin menoleh pada pria yang duduk di kursi belakang, tapi tidak berani.


Akhirnya, Jiang Nan merasakan suasana yang tidak beres. Dia meluruskan tubuhnya dan melihat ke arah depan.


“Kenapa? Kamu akhirnya sudah menjadi lurus?” Gu Anran tertawa saat pria itu menegakkan tubuhnya.


Tapi dia sangat cepat menyadari kalau suasana memang agak tidak beres.


Dia mendongak dan melihat ke depan. Meski sosok yang berdiri di pinggir jalan agak tidak jelas di malam hari, tapi samar-samar masih bisa terlihat.


Li Ye.


“Turunkan aku.” Li Ye sudah datang, siapa yang duduk di bagian belakang mobil, tidak sulit untuk ditebak.


Suasana seperti ini, tidak akan ada kalau bukan karena kehadiran Tuan Muda Mu.


Jiang Nan tidak bicara, dia juga tidak menurunkan Gu Anran.


Dia masih menggendong gadis itu dan berjalan ke pinggir jalan.


Mobil mereka diparkir di pinggir jalan, tidak jauh dari mobil Mu Zhanbei.


Li Ye langsung menyambut mereka, “Nyonya muda.”


Awalnya sedikit tidak bisa dimengerti kenapa Tuan Muda Kedua Jiang menggendong nyonya muda mereka.


Di dalam mobil yang tak jauh dari sana, pintu terbuka dan seorang pria jangkung turun dari kursi belakang.


Jiang Nan melihat pria itu berjalan ke hadapannya dan berkata dengan acuh tak acuh, “Telapak kakinya terluka.”


Mu Zhanbei tidak bicara, hanya mengulurkan tangan ke arah Gu Anran.


Gu Anran juga tidak mengatakan apa-apa, dia melepaskan rambut panjang Jiang Nan.


Semua orang baru memperhatikan kalau gadis ini sedari tadi terus memainkan rambut orang lain.


Gerakan ini, sedikit aneh. Bukankah agak terlalu intim?


Li Ye tidak berani mengatakan apa-apa, hanya bisa menundukkan kepala dan menunggu.


Gu Anran mengulurkan tangannya. Awalnya berniat untuk bertumpu pada lengan Mu Zhanbei dan turun dengan kekuatan sendiri.


Tak disangka-sangka, baru saja tangannya terulur, tubuhnya tiba-tiba menjadi ringan dan berada di udara.


Belum sempat berteriak, dia sudah jatuh ke sebuah dada yang kuat.


Namun, dada ini sepertinya agak dingin.


“Terima kasih.” Mu Zhanbei menatap Jiang Nan sekilas, memeluk Gu Anran secara horizontal dan berjalan menuju ke mobilnya.


Jiang Nan berjalan dengan lambat, sama sekali tidak berniat untuk mengejar mereka.


Li Ye tersenyum pada Jiang Nan, “Tuan Muda Kedua Jiang, kenapa Anda bersama dengan nyonya muda kami?”


“Kencan.” Jiang Nan melontarkan dua kata itu da pergi.

__ADS_1


Ken… can!


Li Ye terkejut dan buru-buru mengejar Mu Zhanbei, sebelum dia membuka pintu.


Begitu masuk ke dalam mobil, mobil Jiang Nan juga berhenti di sebelahnya.


Dia menurunkan jendela mobil dan menatap Gu Anran yang duduk di kursi belakang, tersenyum cuek, “Masih kurang dua jam, jangan lupa.”


Setelah selesai bicara, pedal gas diinjak dan mobil itu melesat pergi bagaikan anak panah. Menghilang dalam sekejap mata.


Dua jam, apa harus dihitung juga? Begitu perhitungan? Kenapa sama sekali tidak selaras dengan penampilannya?


Tampak seperti dewa? Kenapa begitu tidak pengertian?


Gu Anran menatap mobil di depannya yang sudah pergi, mengerutkan kening dan sedikit sedih.


Tanpa terduga, dia sepertinya merasakan garis pandang yang dingin dan agung sedang tertuju padanya.


Saat memalingkan kepala, dia tiba-tiba bertemu pandang dengan mata sedingin es milik Tuan Muda Mu.


Sorot mata itu terlihat agak dingin, tapi bukan yang dinginnya sampai membuat orang merasa tidak nyaman. Tidak berbeda dengan biasanya dan Gu Anran sudah biasa.


Namun, ada semacam kilat yang tidak dapat dilihat Gu Anran hingga membuatnya gelisah.


“Tuan Muda Mu.” Gu Anran memanggilnya dengan lembut, tapi juga tidak tahu kenapa setiap kali dirinya berada di hadapan pria ini, selalu seperti orang yang di kelas rendah.


Ada semacam, perasaan seperti tertangkap basah selingkuh?


Tidak, dia dan Jiang Nan tidak melakukan hal-hal yang memalukan. Tidak peduli tertangkap basah atau tidak.


“Tuan Muda, sekarang…” Li Ye ragu-ragu sebentar sebelum berkata, “kembali ke Kediaman Mu?”


“Rumah sakit.” Mu Zhanbei memalingkan wajahnya dan segera menyalakan rokoknya.


Li Ye buru-buru membuka jendela mobil. Nyonya muda tidak suka bau rokok, saat bersama dengan nyonya muda, tuan muda sudah lama sekali tidak pernah merokok.


Tampaknya, malam ini tuan muda… sedikit jengkel.


Mu Zhanbei melihat ke luar jendela, tapi Gu Anran malah menatap rokok di sela-sela jari pria itu.


Mu Zhanbei tidak candu pada rokok, hanya terkadang mengangkat tangannya untuk menyesap rokok, seolah berusaha menenangkan sesuatu.


Gerakannya sangat acuh tak acuh, tidak ada gerakan yang sangat elegan. Tapi temperamennya masih tetap begitu terhormat bagaikan seorang raja.


Mereka pun tiba di rumah sakit.


Setelah dokter memeriksa Gu Anran, dia segera mensterilkan dan membersihkan lukanya, lalu meresepkan obat untuknya.


Ketika akan pergi, Gu Anran tidak bisa menahan diri untuk menatap Mu Zhanbei, “Hari ini kepalamu masih pusing?”


“Tidak pusing.” Mu Zhanbei menjawab dengan ringan, cuek dan juga dingin.


Benar saja, tubuhnya terlihat sudah sembuh dan tidak membutuhkan dirinya lagi. Bahkan sikapnya juga sudah menjadi dingin.


Tuan Muda Mu yang kemarin begitu lengket padanya, pada saat ini sudah sepenuhnya menghilang.


Mobil melaju perlahan di jalan. Setelah setengah jam, kembali ke Kediaman Mu.


Terhadap rumah ini, Gu Anran tanpa sadar memiliki penolakan.


Tapi, yang datang biarlah datang, menolak juga tidak ada gunanya.


Ketika turun dari mobil, dia berjalan di hadapan Li Ye dan bertanya, “Bagaimana keadaan nenek malam ini?”

__ADS_1


__ADS_2