Rahasia Kecil Tuan Mu

Rahasia Kecil Tuan Mu
Bab 330 Sesuatu Yang Sudah Direncanakan Atau Hanya Sebuah Kebetulan?


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Saat merasa ada yang tidak beres dengan keadaan dan situasi di sekitarnya, Gu Anran mengambil langkah, dan menepi.


Namun, orang itu masih saja tidak berhati-hati, dan menabrak lengan tangannya.


Hello! Im an artic!


Merasa sakit, Gu Anran mengkerutkan dahi, langsung bergerak mundur beberapa langkah, menatap orang itu.


“Maaf, maaf…” gadis itu juga menatap Gu Anran, dengan wajah penuh rasa bersalah.


“Maaf, aku sudah hampir telat, maaf.”


Dia memutar balik badan dan pergi, Gu Anran mempercepat langkah kaki mengejarnya, menarik tangannya: “Berhenti!”


Hello! Im an artic!


Terasa rasa sakit dan perih dari lengan tangannya, ternyata terluka karena tergores!


Namun, bekas lukanya tidak terlalu besar, dia juga sepertinya tidak sengaja melukainya.


Apa benda yang sebenarnya ada di tangan gadis ini?


“Kamu… apa yang ingin kamu lakukan?” gadis ini ditarik olehnya, membuatnya mengkerutkan dahi karena merasa sakit.


Gu Anran mengularkan tenaga yang cukup besar, menganggukan kepala melihat tangan gadis tersebut.


Tidak ada senjata apapun di tangannya, yang menggores lengannya tadi, mungkin adalah jari ataupun cinci di tangannya.


Cincin… mengapa cincin, seketika memutar pikirannya.


Cincin, sengaja untuk melukai ke tubuhnya, darah…


“Kamu…”


“Gu Anran, kamu lagi-lagi menindas orang lain!” Tidak jauh darisana, beberapa siswi sekolahnya berjalan dengan cepat menghampirinya.


Gu Anran sekilas tertegun, gadis itu berusaha melepaskan tangannya.


Setelah dilepaskan, bukan langsung berjalan menuju gedung pembelajaran, melainkan, malah berlari dengan cepat menuju pintu belakang sekolah!


Barusan bilang hampir terlambat, dan terlihat seperti buru-buru karena kelas akan segera dimulai, namun sekarang malah meninggalkan sekolah?


Ada yang tidak beres!


Gu Anran ingin mengejarnya, namun dihadang oleh beberapa siswi sekolah tadi.


Siswi jurusan lain itu, biasanya tidak begitu sering bersosialisasi, untuk apa menghadangnya?


“Minggir!”


“Mengapa harus minggir, memangnya ini jalan yang kamu buat?” beberapa gadis menghadang di depannya, tidak memberinya jalan.


“Apa yang sebenarnya ingin kalian lakukan?” Gu Anran masih ingin pergi mengejarnya.


Namun saat ia mengangkat kepala dan melihat, gadis yang tadi melukainya, sudah naik ke atas mobil, dan pergi.


Tidak bisa dikejar lagi!

__ADS_1


Tetapi orang-orang ini, sudah jelas semua ini sudah direncanakan sebelumnya.


“Siapa yang ingin melakukan sesuatu denganmu? Sudah masuk kelas, masih berdiam disini saja? sana pergi.”


Setelah melihat gadis itu menaiki mobil dan pergi, beberapa gadis itu juga langsung bubar seketika.


Gu Anran melangkah dengan cepat mengejar ke arah gerbang sekolah, sudah tidak ada lagi mobil yang dinaiki oleh gadis itu tadi.


Bahkan plat nomor mobil itupun belum sempat ia lihat dengan baik, bagaimana bisa ia kejar?


Mengapa harus sengaja melukainya?


Cincin, digoreskan…


Seketika, Gu Anran mengepal keras tangannya!


Gu Weizi! Dia berhasil mengingatnya, pantas saja merasa sangat tidak asing dengan cincin yang ia pakai tadi.


Sebelumnya, di kedai kopi yang terletak di depan sekolah, Gu Weizi tiba-tiba mengajaknya keluar, dan tiba-tiba mengatakan hal aneh dengannya.


Dia pernah berusaha mendekatinya beberapa kali kala itu, namun ia selalu saja gagal.


Kala itu, melingkar sebuah cincin yang sangat mirip dengan cicin barusan di jemarinya.


Kapan peristiwa itu terjadi?


Tidak jauh dari sana, bel gedung sekolah telah berbunyi, Gu Anran tidak berdaya, hanya dapat berjalan menuju gedung sekolah.


Akhirnya, saat ia hampir sampai di gedung sekolah, seluruh waktu terjadinya peristiwa yang bersangkutan berhasil ia ingat.


Gu Weizi datang mencarinya, mengenakan cincin tersebut di jarinya, dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menyentuhnya.


Seperti yang dikatakan Axin saat masih hidup, Gu Weizi menyuapnya, mendorong nenek Mu ke taman bunga di belakang rumah, “Kebetulan” mendengar Ye Shuixin sedang berbicara dengan orang lain…


Gu Weizi pada awalnya pasti tidak mengetahui hubungannya dengan nenek Mu, namun setelah beberapa peristiwa dan masalah yang terjadi, pada akhirnya membuat dirinya diyakini sebagai cucu dari nenek Mu.


Namun dia tidak mendapatkan darah dari dirinya langsung, bagaimana dia bisa mengetahuinya?


Gu Anran semakin berfikir semakin membuatnya gelisah, berdiri seorang diri di depan gedung sekolah, angina berhembus tiada henti.


Gu Weizi memang gagal mengambil cairan darah dari dirinya, namun beberapa waktu yang lalu… dia bertemu dengan seseorang…


Tiba-tiba, seperti kehilangan seluruh tenaga dalam dirinya.


Jantungnya berdebar keras tanpa henti, gemetar hebat, kesakitan yang dirasakan… terus-menerus.


Dia memegang dadanya tepat di bagian jantung dengan kuat, hanya merasa tangan dan kakinya tidak memiliki tenaga sama sekali.


Bersusah payah berjalan masuk ke dalam, namun masih harus menopang dinding, agar tidak membuatnya jatuh tersungkuh di lantai.


Hari itu, Gu Weizi tidak berhasil, namun tidak lama setelah dia meninggalkan kedai kopi di seberang sekolah, ia bertemu dengan seseorang.


Dia bukan hanya bertemu dengan orang itu, namun juga terluka karena kancing di kemeja seseorang tersebut, darah mengalir di atas kancing kemejanya…


Jiangnan.


Mengapa harus dia?


Tidak mungkin, ini pasti hanya sebuah kebetulan, tidak mungkin itu dia!

__ADS_1


Dia bisa mencurigai siapapun, tapi, bagaimana bisa mencurigai Jiangnan?


Dia tidak bisa melakukannya, tidak seharusnya mencurigainya!


Dialah yang selalu menjaga dan tidak pernah meninggalkannya, dikala ia berada di masa tersulit di dalam hidupnya.


Dia yang memberikan sandaran dan semangat penuh, saat ia sudah tidak memiliki harapan untuk hidup di dunia ini lagi, memberikannya keberanian untuk menjalani hidup.


Semua orang boleh menghianati dan meninggalkannya, tapi tidak dengannya.


Dia adalah Jiangnan! Adalah teman yang paling ia percaya! Yang paling ia percaya!


Barusan tadi, saat dia hampir tiba di sekolah, bukannya dia mengangkat sebuah telefon masuk?


Saat itu tidak terlalu memperhatikan, sekarang, seperti mengingat sedikit isi pembicaraan dari telefon itu.


“…Baik, segera tiba, jalankan menurut rencana…”


Sekarang jika diingat-ingat, setiap kalimat yang diucapkan benar-benar membuat gelisah, setiap kalimat membuatnya merasa kecewa!


Tidak mungkin, tidak mungkin Jiangnan!


Tetapi, selain Jiangnan hari itu, sama sekali tidak ada orang lain yang berkontak fisik dengan dirinya.


Juga tidak ada orang lain, yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan cairan darah miliknya.


Mengapa harus dia… bagaimana caranya untuk percaya?


“Halo, kamu tidak apa-apa kan?” entah dari tingkatan berapa kakak kelas ini menghampirinya, dan bertanya.


Gu Anran baru menyadari, ternyata dia menepi seorang diri di bawah sudut tangga gedung sekolah, entah telah duduk berapa lama.


Dia menggelengkan kepala, bahkan tidak ingin mengangkat kepalanya: “Tidak apa-apa.”


“Putus cinta?” karena dia selalu memeluk kedua kakinya, menenggelamkan kepala di antara kedua kakinya, tidak dapat ia lihat dengan jelas siapa kakak kelas itu.


Dia tertawa, berkata: “Hanya putus cinta saja, sebenarnya bukan masalah yang serius, angkat kepalamu, hari tetap berlalu.”


Putus cinta? Ternyata dirinya saat ini, terlihat seperti disia-siakan dan putus cinta.


Ternyata, dia memang begitu menyedihkan.


Kakak kelas itu sepertinya cukup bersabar, membujuknya: “Kalian ini anak-anak kecil, sedikit-sedikit berselisih, semuanya memiliki jodoh yang baik, ada kalanya hanya karena sebuah kesalah pahaman, langsung menuntaskan hubungan.”


“Ada orang yang berkata, jangan pernah membuat sebuah keputusan, dalam keadaan sedih dan marah, setidaknya, setelah perasaan terasa tenang, baru memikirkannya secara perlahan, atau tidak, kamu akan menyesal seumur hidup.”


Kakak kelas itu masih melanjutkan perkataan, namun dia sudah tidak mengingatnya lagi.


Hanya teringat perkataannya : jangan pernah membuat sebuah keputusan, dalam keadaan sedih dan marah.


Dia merasa sangat sedih saat ini, keputusan yang ia buat saat ini, kemungkinan adalah suatu kesalahan.


Mungkin saja, ini hanya sebuah kesalah pahaman.


Waktu berlalu, kakak kelas itu merasa sepertinya tidak berhasil membujuk dirinya, hanya dapat menghela nafas, dan pergi.


Gu Anran akhirnya mengangkat kepala, mengeluarkan ponsel, menelefon Jiangnan.


“Kenapa? Bukannya harusnya masih dalam kelas?” di sisi telefon, Jiangnan mengkerutkan dahi, mengetahui dengan baik jam pelajaranya.

__ADS_1


Gu Anran memegang telefon, tidak lama kemudian, berkata perlahan: “Aku sedikit tidak enak badan, aku… ingin bertemu denganmu.”


__ADS_2