Rahasia Kecil Tuan Mu

Rahasia Kecil Tuan Mu
Bab 302 Hanya Tersisa Dia Di Dunia Ini


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Yang Yi tidak mengatakan apapun. Setelah melihat Jiang Nan dan Gu Anran bersama, dia mulai menghembuskan nafas dan pergi.


Rasanya, hubungan Tuan Kedua Jiang dan Ran Ran sangatlah rahasia.


Hello! Im an artic!


Tapi, saat Ran Ran melihat Tuan Kedua Jiang, tatapan yang lebih tenang juga terlihat olehnya.


Ran Ran dan Tuan Kedua Jiang… mungkin sekarang masih tidak ada apa-apa. Tapi, jika hubungan seperti ini bisa mencapai tingkatan seperti ini, perasaan ini mungkin bisa terus berlanjut.


Tian You… mungkin hanya bisa meninggalkan helaan nafas.


“Ada apa?” Jiang Nan melihat wajah Gu Anran sambil mengerutkan alis.


Hello! Im an artic!


Wajah yang terlihat berpura-pura untuk kuat lagi. Mereka sudah lama menjadi teman dan sekarang Jiang Nan juga sudah bisa mengenal Gu Anran lebih dalam.


“Ingin menangis.” Dia juga tidak tahu sejak kapan dirinya mulai bisa belajar kurang ajar di depan Tuan Kedua Jiang.


Setelah menyadarinya, pasti sudah terbiasa.


Jiang Nan tidak berkata, mengendarai mobil keluar dari taman Grup Jiang.


Gu Anran tidak tahu ke mana dia mau pergi, lagipula, dia tidak akan mencelakainya.


Dia yang sekarang, sudah tidak ada keamanan lagi.


Gu Anran sendiri tidak tahu siapa yang membantu Gu Weizi dan mengendalikan semua hal ini.


Sedangkan Mu Zhanbei sudah tidak memercayainya lagi.


Dia juga tidak mungkin bakalan percaya dengan dirinya lagi…


Tidak tahu berapa lama, mobil berhenti. Jiang Nan turun dan membuka pintu mobil untuknya.


“Turunlah.” Dia berkata kepada Gu Anran sambil mengulurkan tangan.


Gu Anran sendiri tidak tahu di mana dirinya sekarang, tidak peduli apakah hatinya atau yang ada di depan matanya, semuanya hanya sesuatu yang begitu luas.


Setelah mengulurkan tangan dan meletakkannya di dalam genggaman Jiang Nan.


Tanpa menunggu dia turun dari mobil, Jiang Nan tiba-tiba menariknya dengan pelan sehingga membuat Gu Anran keluar dari mobil.


Dalam sekejap mata langsung digendong oleh Jiang Nan.


“Jiang Nan…” Melihat wajahnya, dia memiliki perasaan tidak tahu di mana dirinya berada.


Sampai Jiang Nan berhenti, dia menurunkan Gu Anran dan Gu Anran baru menyadari bahwa mereka datang ke tepi pantai.


Yang ada di depan mata adalah lautan yang luas, angit laut yang menghembuskan tubuh terasa sejuk.


Ternyata, cuaca sudah mulai sejuk. Musim gugur sudah hampir selesai dan memasuki musim dingin.


Tanpa disadari, kehidupan manusia sudah melewati satu musim.


“Kamu lihat.” Jiang Nan memandang ke lautan yang begitu luas, “Saat kamu merasa tidak ada jalan lagi, datanglah melihat lautan.”


“Kenapa… harus melihat lautan?”

__ADS_1


“Karena lautan sangat besar. Tidak peduli ke mana kamu ingin pergi, semuanya bisa.”


“Tapi, aku tidak bisa berenang.” Gu Anran memuncungkan mulutnya dan berkata dengan nada sedih.


Kenapa semua masalah seperti melawan dirinya?


Kenapa dirinya yang sudah menguasai segala hal dari awal dan malah menjadi pembohong terbesar di pertengahannya?


Kenapa… dia malah tidak memiliki jalan lagi?


“Jika tidak bisa berenang, aku akan mengajarimu. Bagaimana?”


Jiang Nan membungkuk, melepaskan sepatunya, jaketnya dan melemparkan dirinya ke dalam lautan.


“Sini, aku ajari kamu.”


“Jiang Nan…” Gu Anran yang belum sempat selesai berkata, sudah ditariknya ke dalam air hanya dalam sekejap mata.


“Jiang Nan!” Gu Anran terbelalak. Cuaca seperti ini, pakaian seperti ini… Dia mengajarinya berenang?


“Kenapa? Bukannya ingin mengajarimu berenang? Kamu kemari, aku ajari.”


Jiang Nan tersenyum padanya. Senyuman ini, sangatlah indah saat disinari oleh cahaya matahari.


Gu Anran merasa sedih dan terbengong melihatnya.


Pria ini, sangat bodoh! Benar-benar bodoh!


Tiba-tiba dia berjongkok, memeluk kedua kakinya dan air mata pun perlahan mengalir keluar.


Dan pada akhirnya, dia juga menangis dengan suara yang keras.


Tidak mudah untuk melewatinya, tapi malah dijatuhkan oleh orang yang tidak ia ketahui.


Pusaran badai ini, menggunakan kekuatannya untuk menelan dia sepenuhnya!


Bahkan dia juga tidak bisa melewatinya dan juga tidak bisa berdiri lagi!


Informasi yang ada di sistem rumah sakit sudah diubah oleh seseorang. Data-data ini, bagaimana bisa dicari kembali?


Tidak bisa dicari lagi!


Orang yang begitu hebat di belakang itu, dia tidak bisa melawannya. Dia sangat lelah, benar-benar ingin mengenal kalah!


Tapi, bagaimana boleh mengenal kalah?


Kalau dia kalah, dia tidak bisa membuktikan lagi identitasnya.


Kalau dia kalah, kematian nenek tidak akan bisa dibuktikan selamanya.


Kalau dia kalah, Gu Weizi dan orang-orangnya pasti akan senang dan kabur. Mereka sudah mencelakai nenek dan masih bisa bersenang-senang menikmati hidup!


Tidak! Dia tidak boleh kalah!


Tapi, di mana jalan keluarnya?


“Uh…”


Bayangan yang kurus, tubuh yang kurus diterpa oleh angin yang hampir menyiksa dirinya.


Jiang Nan kembali dari laut, berada di hadapannya dan berjongkok.

__ADS_1


Gu Anran langsung memeluk dia, menengadahkan kepalanya ke bahu dan menangis terisak-isak.


Kepalan tangan Jiang Nan yang besar dengan lembut mengelus rambutnya.


Jika tidak bisa menahan tekanan itu, menangislah. Dia akan melindunginya, selamanya.


Gu Anran juga tidak tahu sudah berapa lama ia menangis. Dia menangis sampai lelah, dirinya pun ketiduran.


Mungkin, sebagian karena terlalu lelah dan sebagiannya lagi mungkin karena pingsan.


Jiang Nan menggendongnya kembali ke mobil. Memastikan nafasnya yang masih stabil dan tidak apa-apa dnegan dirinya, dia baru membiarkan Gu Anran tidur.


Semalam, dia tidak tidur dengan nyenyak. Saat bangun di pagi hari, matanya membengkak dan terdapat lingkaran hitam di matanya.


Dirinya tampak begitu pucat seharian. Tapi, akhirnya dia bisa tidur dengan tenang seketika.


Jiang Nan menurunkan kursi di sebelah supir. Gu Anran pun berbaring, mencari pose yang lebih nyaman untuk tidur.


Dia juga menurunkan kursinya, memalingkan kepala melihat dia.


Keduanya berada di posisi yang saling bersampingan. Padahal mereka terlihat begitu dekat, tapi rasanya sangat begitu jauh.


Sebenarnya, dia ingin mengulurkan tangannya, tapi malah tidak bisa.


Dia melihat wajah Gu Anran yang begitu kecil, putih, lemah tapi tampak kuat.


Jelas sekali dia terlihat lemah, tapi dia terus bersikeras tidak ingin menundukkan kepala terhadap takdir.


Jiang Nan dengan tenang melihatnya. Tidak tahu berapa lama, wanita yang ada di depan matanya itu tiba-tiba membuka mata dan menatapinya.


Saat mereka saling bertatapan, Jiang Nan langsung merasa bersalah.


Dengan tidak sengaja dia mengalihkan pandangannya. Tapi saat bertatapan dengannya, dia malah tidak ingin menoleh ke mana-mana.


Gu Anran melihatnya, bibir yang tipis, wajah yang terlihat tidak bersalah membuatnya terasa membara.


Seolah-olah seluruh dunia ini sudah menghilang. Di dunia ini, hanya tersisa dia seorang.


Tiba-tiba, Gu Anran menaikkan alisnya dan tersenyum kepada Jiang Nan!


Nafas Jiang Nan tidak teratur. Tidak tahu apa yang dia senyumkan, dirinya hanya tahu bahwa senyuman ini, sangat manis dan indah.


Sepertinya dalam sekejap waktu, senyuman itu sudah masuk ke dalam hatinya.


Anak ini, sebenarnya apa yang dia senyumkan?


“Jiang Nan…” Dia berbisik memanggilnya. Suaranya itu membawa sebuah hawa menawan yang tidak bisa ditolak dan langsung memasuki hatinya.


Kenapa memanggil namanya? Pada malam seperti ini, panggilan itu menghancurkan kesunyian di malam hari!


Seluruh dunia, seolah hanya tersisa suaranya saja.


Ternyata namanya enak didengar ketika diucapkan dari mulutnya.


Jiang Nan, Jiang Nan, Jiang Nan…


Bibir tipisnya, terlihat menawan sehingga memukul jantungnya.


Jiang Nan menatapi bibir Gu Anran dan terlihat seperti bukan dirinya.


Menatapi bibir itu, tanpa disadari, dia mulai bersandar ke Gu Anran…

__ADS_1


__ADS_2