Rahasia Kecil Tuan Mu

Rahasia Kecil Tuan Mu
Bab 467 Kontak Batin Ayah Dan Putri


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Tubuh tinggi pria itu mendekat pada Gu Anran.


Merasakan suhu tubuh pria di belakangnya meningkat, jantung Gu Anran tiba-tiba bergetar, raut wajahnya berubah.


Hello! Im an artic!


Bajingan ini, pagi-pagi, bahkan di depan kedua anak, bagaimana bisa dia… begitu lancang!


Tubuhnya bisa-bisanya…


“Lepaskan aku!” Dia merendahkan suaranya, menarik tangan yang ada sekeliling tubuhnya.


“Merindukan selama dua tahun, seketika tidak bisa mengendalikannya, maaf.”


Hello! Im an artic!


Mu Zhanbei tidak berpikir untuk sembarangan di depan anak-anak namun benar-benar tidak mengendalikannya.


“Mami.” Tiantian memanggil dari kamar mandi.


Gu Anran mendorong Mu Zhanbei dengan keras lagi, “Cepat lepaskan, Tiantian memanggilku.”


Mu Zhanbei akhirnya melepaskannya, dan mengikutinya ke pintu kamar mandi.


Gu Anran membersihkan Tiantian, lalu menggosok giginya. Setelah itu, dia memberikan sikat gigi baru kepada Mu Zhanbei, “Bersihkan dirimu.”


“Tidak bantu aku?”


“Pergi!”


“……” Dua tahun tidak bertemu, keberaniannya benar-benar menggemuk, beraninya menyuruh dia pergi.


Namun, Mu Zhanbei sedikit patuh hari ini. Dia mengambil sikat gigi, lalu pergi ke kamar mandi, menyikat gigi dan mencuci wajahnya.


Sepuluh menit kemudian, ayah dan anak bertiga duduk di sisi meja makan, duduk dengan tenang.


Gu Anran mengeluarkan empat mangkuk bubur, mie goreng, dan roti dari dapur.


Dia mengurus sarapan Tiantian, kedua pria dalam keluarga itu mengurus mereka sendiri.


Saat memakan suap pertama, hati Mu Zhanbei terasa asam.


Setelah dua tahun, kembali mencicipi masakan wanitanya, seluruh orang mulai terasa sedikit melayang, dan curiga bahwa semuanya masih dalam mimpi.


Rasa yang familiar, perasaan yang familiar, tapi bertambah dua bocah kecil hari ini.


Sebuah sarapan, bubur dan mie goreng, pada dasarnya tidak akan dia sentuh, tetapi dia merasa bahwa ini adalah sarapan paling enak dalam hidupnya.

__ADS_1


Seorang pria, tidak peduli betapa keren dan hebatnya dia di luar, ternyata yang paling dia inginkan adalah pulang ke rumah, ada seorang wanita dan satu atau dua orang anak.


Kemudian sekeluarga bersama, sarapan sambil membicarakan rencana hari ini. Hari seperti ini, sudah cukup sempurna.


Setelah Gu Anran menyuapi Tiantian sampai kenyang, dia membawa peralatan ke dapur.


Mu Zhanbei mengemasi sisanya dan berjalan ke pintu dapur, hanya untuk mendengarnya sedang menelepon, “Ya, benar-benar maaf, Kepala devisi, pengasuh di rumah cuti, memang tidak ada yang menjaga anak…”


Entah apa yang dikatakan orang di sana, Gu Anran terus meminta maaf, “Setelah menemukan pengasuh, aku akan berinisiatif lembur, mengejar kembali ketertinggalanku. Aku pasti akan bekerja meski di berada rumah akhir-akhir ini. Kepala devisi, tenang saja, tidak akan menyeret orang di belakang.”


Dia masih berpikir untuk mempekerjakan babysitter lain…


Tatapan Mu Zhanbei semakin dalam.


Dia tidak pernah berpikir untuk kembali ke Beiling bersamanya. Apa yang ia katakan tadi malam, dia tidak memikirkannya.


Setelah Gu Anran menutup telepon, dia berbalik dan melihat Mu Zhanbei berdiri di pintu dapur sembari memegang mangkuk.


“Hm…” Dia tertegun sejenak, seketika tidak tahu harus berkata apa padanya.


“Kau pergi kerja saja, aku akan menjaga anak.” Dia berjalan masuk dan meletakkan mangkuk di wastafel.


Ingin mencuci piring, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.


Gu Anran mengambil spons, berjalan ke sisinya lalu mengambil deterjen, dan melakukannya sendiri.


“Lihat, kau bahkan tidak bisa cuci piring. Bisakah aku tenang menyerahkan anak-anak padamu?”


“Kau…” Gu Anran hendak meronta tanpa sadar.


Dia membenamkan wajah di lekukan lehernya dan menghirup aroma unik dari tubuhnya, “Kembali ke sisiku, tidak baikkah?”


“Tidak baik.” Gu Anran masih ingin meronta, tetapi dia seperti plester kulit anjing, tidak bisa melepaskannya.


“Mu Zhanbei, jangan keterlaluan, kita sudah tidak ada hubungan.”


Mu Zhanbei tidak bicara, hanya memeluknya dan membenamkan wajah di lekukan lehernya, lalu memejamkan mata.


Gu Anran benar-benar ingin menendangnya, bagaimana dia bisa begitu seenaknya!


“Bagaimana jika nanti mengajak anak untuk keluar bermain?” Dia tidak pernah menjalani kehidupan ada istri dan anak seperti ini.


Untuk putranya ditinggalkan di taman kanak-kanak sama seperti melemparkannya ke tempat kerja, hari-hari dimana putra tidak ada, harus dibiasakan sejak usia dini.


Bagaimanapun, Mu Qihao di masa depan, tidak akan punya banyak waktu untuk dihabiskan bersama keluarga.


Mu Zhanbei telah membuat rencana terperinci untuk masa depan sekeluarga berempat.


Anak laki-laki harus bekerja dan mencari uang. Jika anak perempuan cukup dimanjakan saja. Dia tidak perlu melakukan apapun di masa depan.

__ADS_1


Sedangkan istri, tentu saja, sama seperti anak perempuan, dimanjakan, dinafkahi, memiliki apapun yang dia inginkan.


Hati Gu Anran tergerak.


Bawa anak keluar untuk bermain… Dia tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, akan membawa anak pergi bermain bersama tuan muda Mu.


Entah kenapa sangat, sangat ingin, dorongan itu tiba-tiba muncul di hati.


Dua orang membawa Tiantian, seperti keluarga sungguhan.


Namun, begitu memikirkan kata ‘keluarga’, ia merasa gelisah.


Merasa bersalah pada Mu Tianyou…


“Hari ini tidak ada waktu.” Dia mendorongnya lagi, masih tidak bisa melepaskan tangan yang melingkari pinggangnya.


“Bukankah kau sudah meminta izin?” Mu Zhanbei tiba-tiba melepaskannya, berjalan ke ruang tamu, menatap Tiantian yang duduk di kursi.


“Nanti papa dan mami akan mengajakmu pergi bermain, oke?”


“Oke!” Tiantian langsung tersenyum manis!


Ketika Gu Anran keluar dari dapur, dia melihat Mu Zhanbei menggendong Tiantian sambil menatapnya.


“Tiantian bilang ingin pergi bermain, dia akan menangis jika tidak.”


“Dia tidak akan menangis.” Gu Anran memutar bola mata padanya.


Tiantian tidak cengeng sejak kecil, entah betapa lucu dan patuhnya dia.


Tidak sangka, mulut Tiantian merata, benar-benar menangis, “Main, main! Wuuu…”


Gu Anran membeku di tempat. Apakah putrinya diajari yang tidak baik? Kenapa bisa menangis begitu saja?


Mu Zhanbei dengan cepat melembutkan suaranya, dengan pelan membujuk, “Jangan menangis, kita akan pergi bermain, mami sudah setuju.”


Tiantian tersedu-sedu, menatap Gu Anran penuh harap.


Gu Anran benar-benar ingin mencekik pria yang tampak tidak bersalah ini. Hantu tahu apa yang dia katakan pada Tiantian tadi, sehingga putrinya tahu bagaimana menggunakan tangisan untuk mendapatkan apa yang diinginkan!


“Kau akan mengajarinya menjadi buruk!” Gu Anran mengerutkan kening, melototinya.


“Tiantian begitu menurut, tidak akan buruk.” Mu Zhanbei menunduk dan mencium sudut kening Tiantian, “Katakan, benar tidak?”


“Tiantian pintar.” Ayah dan putri berkomunikasi lebih rapi dibandingkan Gu Anran, sang mami.


Dia telah bersama Tiantian selama setahun lebih, bahkan belum bisa mengendalikan emosi Tiantian dengan begitu hebat. Bagaimana Mu Zhanbei melakukannya?


Kedua orang ini bersama, bisa-bisanya memiliki kontak batin yang luar biasa!

__ADS_1


Orang bilang, anak perempuan adalah kekasih ayah di kehidupan sebelumnya… apakah benar?


__ADS_2