
Hello! Im an artic!
“Hm..Hm..” Gu Anran yang mengira bertemu dengan orang jahat melebarkan sepasang matanya, dalam sesaat ia memberontak.
Namun tangan pria itu sangat keras bagaikan besi merangkul pinggangnya dengan erat.
Hello! Im an artic!
Satu tangannya lagi menutup mulutnya, sama sekali tidak memberikan kesempatan padanya untuk berteriak minta tolong.
Gu Anran merasa dia sepenuhnya kehilangan tenaga untuk melawan, orang ini terlalu kuat, mengunci dirinya sampai-sampai tidak ada celah untuk keluar.
“Hm…” Tubuh ini tiba-tiba didorong ke sisi dinding.
Di jalan darurat di mana tidak ada cahaya lampu, meskipun menjulurkan tangan namun tak tampak jarinya, orang itu berdiri di hadapannya, bahkan bentuk kelima inderanya tidak terlihat dengan jelas.
Hello! Im an artic!
Telapak tangan besar pria itu akhirnya dilepas dari mulutnya, Gu Anran menghirup nafas dalam-dalam, hendak meminta tolong.
Namun detik selanjutnya, bibirnya kembali tertahan dengan bibir tipis pria itu.
“Hm?” Dia merasa kaget hingga matanya terbelalak, kedua tangan menahan di atas dadanya, sekuat tenaga melawan.
Ketakutan akan ditindas oleh orang jahat membuatnya kaget hingga seluruh tubuhnya menegang dan kaku.
Namun nafas dan baunya sepenuhnya terasa oleh indera sensornya di saat dicium olehnya.
Hatinya yang gemetaran karena ketakutan, dalam sesaat berubah menjadi tenang, akhirnya dia tidak merasa takut lagi.
Namun selanjutnya, ketakutan dia berubah menjadi merasa ditindas dan sedih, berubah menjadi tidak rela dan ikhlas!
Dengan tenaga mendorongnya keluar, namun tubuhnya bagaikan Gunung Tai menekan tubuhnya di sisi dinding, menekan sangat erat.
Melawan? Di hadapannya, itu merupakan hal yang tidak mungkin terjadi.
Tangan pria yang satu memeluknya, tangan satunya lagi mulai dari lehernya meraba terus menuju ke bawah…
“Hm…” Gu Anran mengepalkan tangannya dan memukuli tubuhnya, ingin menghentikan gerakannya yang kelewatan dan gila ini.
Di sini adalah jalan darurat, kapanpun akan ada yang masuk!
Namun dia malah di tempat ini melakukan hal yang kelewatan padanya, seandainya dilihat orang…
Kerah gaun malam sudah ditariknya, saat ini bila ada orang yang masuk pasti bisa melihat bagiannya yang terpampang keluar.
Gu Anran sangat marah hampir meneteskan air mata, pria ini, sungguh sudah terlalu kelewatan!
Dirinya sama sekali tidak bisa mendapatkan kehormatan sedikitpun darinya.
Sebenarnya dia menganggap dirinya ini sebagai apa? Alat baginya untuk bermain dan bersenang-senang?
Akhirnya, saat pria itu hendak memperdalam ciumannya, Gu Anran membuka mulutnya lalu dengan kuat menggigit bibirnya.
__ADS_1
Bau darah, dalam sesaat menyebar dan berdesir di antara mulut kedua orang ini.
Gu Anran juga tidak menyangka dia bisa menggigit sekuat itu hingga membuatnya berdarah.
Dia terperanjat dan panik sehingga melepaskannya, namun pria itu seakan tidak merasakan sakit sedikitpun, terus memperdalam ciumannya…
Ciuman ini sedikit kelewatan, namun yang lebih keterlaluan adalah tangannya.
Sampai pada saat pria itu merasa tidak bisa menahannya lagi, takut hilang kendali langsung melakukannya di sini, baru melepaskannya dan mundur dua langkah.
Gu Anran dengan panik menarik kembali gaunnya, setelah mendapat kebebasan dia berbalik badan hendak pergi.
“Jalan setengah langkah lagi, segera kulakukan hal itu bersamamu di sini!” Suara pria begitu serak, bahkan nafasnya masih terengah-engah.
Gu Anran kaget dan merasa ketakutan, segera menarik kembali kaki yang baru dilangkahkan keluar barusan, melototi sosok bayangan di tengah kegelapan, wajah penuh dengan kemarahan!
“Mu Zhanbei, kamu sudah sangat keterlaluan!”
“Aku menyentuh wanitaku sendiri, di mana keterlaluannya?” Orang ini, tentu saja adalah Tuan Muda Pertama Mu!
Coba tanya saja siapa lagi yang berani menggunakan cara seperti ini untuk menyandera seorang wanita?
Hanya ada Tuan Muda Pertama Mu yang bernyali sangat besar!
“Orang gila!” Meskipun Gu Anran sangat marah, namun tetap tidak lupa bahwa dia selama ini tidak suka bercanda.
Jika saat ini dia hendak kabur, dalam kemarahannya dia sungguh bisa membereskannya di sini!
“Aku bukan wanitamu, kita sudah memutuskan janji pernikahan!”
“Benarkah?” Nafas pria itu masih belum teratur, jelas masih terdengar suaranya yang serak dan tidak beraturan.
Tapi, dia selangkah maju ke dapan, badannya yang tinggi besar sekali lagi menempel kemari.
“Kamu…jika kamu berbuat sembarangan lagi, aku akan berteriak! Biarkan semua orang melihat sebenarnya seberapa brengseknya Tuan Muda Pertama Mu yang dikabarkan berwibawa, tampan dan dingin itu!”
“Kamu berteriak, maka aku akan langsung merobek pakaianmu, kamu boleh mencobanya.” Dia tidak marah, bahkan dia tersenyum ringan.
Gu Anran sungguh hampir muntah darah dibuat kesal olehnya, si brengsek ini! Si brengsek ini!
“Sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan?” Dia mengeratkan kepalan tangannya, sungguh takut karena sesaat tidak tahan lalu meninju ke arah wajahnya.
“Ingin melihat bagaimana kamu menggoda pria lain.” Sorot mata mendarat padanya.
Di tengah kegelapan, Gu Anran tidak dapat melihat dengan jelas wajahnya, namun sebaliknya dia bisa melihatnya dengan jelas!
Gaun malam seperti ini menonjolkan setiap garis setiap bagian tubuhnya dengan sangat jelas.
Saat pria melihat dirinya seakan melihat dia sedang telanjang.
Dia sangat kesal, marah dan merasa frustasi karena terhadap tubuhnya itu sama sekali tidak ada cara untuk menahannya.
Saat pertama kali melihatnya di tempat tadi, dia sudah tidak tahan hendak merobek pakaian wanita ini hingga tak bersisa! Lalu dengan kuat menekan dan menahan dirinya di bawah badannya sendiri.
__ADS_1
Bahkan orang seperti dirinya yang sudah terbiasa tidak mencari wanita, begitu melihatnya hampir saja kehilangan kendali, terlebih lagi beberapa bajingan yang mesum itu.
Memangnya dia tidak tahu dengan berpakaian seperti ini betapa menariknya dia?
Atau mungkin, dia memang sudah tahu dan sengaja melakukannya?
“Semalam baru saja meninggalkanku, malam ini sudah begitu terburu-buru masuk ke dalam pelukan pria lain? Sudah tanya pendapatku tidak?”
“Perlukan aku menanyakan pendapatmu lagi? Mantan tunangan?”
Kata-kata pria itu sungguh mempermalukannya, namun Gu Anran bukan saja tidak marah sebaliknya tersenyum begitu menawan.
Mantan tunangan, hehe, sebutan ini cukup ironis!
Karena sudah merupakan hubungan lama, lalu sekarang masih ada kualifikasi apa untuk ikut campur dalam kehidupannya?
Pria ini, terbiasa berada di puncak, terbiasa mengenggam dunia ini, lalu sekarang terbiasa tidak rasional dan berlogika?
Mu Zhanbei menyipitkan matanya, menatap wajahnya yang bersih dan rupawan itu.
Saat bersama dengannya, dia membuat wajahnya begitu tidak enak dilihat.
Begitu meninggalkannya, segera membuat dirinya begitu cantik seperti dewi langit.
Orang mengatakan demi menyenangkan orang yang disukai wanita akan berdandan dan mementingkan penampilannya, anak ini sedikitpun tidak berpikir untuk menyenangkannya karena merasa tidak perlu?
“Kamu suka dengan Jiang Nan?” Pertanyaan ini ditanyakan Mu Zhanbei dengan lembut, namun pada kenyataannya hawa dingin sekujur tubuhnya membuat orang hampir saja kekurangan nafas.
Gu Anran awalnya sangat ingin menganggukkan kepala memberitahu dia bahwa dirinya menyukai Tuan Muda Kedua Jiang, sangat sangat suka, hendak menghapuskan auranya!
Namun, setelah merasakan hawa dingin di sekujur tubuhnya, kata-kata yang sudah siap dilontarkan berubah menjadi, “Tidak suka.”
“Bagus sekali.” Jika dia bilang menyukai Jiang Nan wajah indah dan cantik itu, dia segera merusak wajah Tuan Muda Kedua Jiang dengan kedua tangannya sendiri, lihat apalagi yang bisa disukainya.
“Tuan Muda Pertama Mu, aku sudah harus pulang, tolong lepaskan.”
Gu Anran tahu kekejamannya, saat ini juga tidak ingin berdebat dengannya, berdebat dengannya sama sekali tidak ada akhir yang baik.
Dia hanya ingin pergi, firasat memberitahunya bahwa terlalu berbahaya bersama dengan pria ini.
“Bulan depan aku akan pergi.” Mu Zhanbei tiba-tiba membuka topik pembicaraan, dengan pelan berkata, “Mungkin, akan sangat lama.”
Jantung Gu Anran tiba-tiba bertabrakkan, ke mana ia akan pergi?
Ingatan kehidupan lalunya, pernah terjadi sesuatu pada Tuan Muda Pertama Mu, hampir saja kehilangan nyawa.
Di suatu tempat yang sangat sangat jauh dan sebelum dia pergi, juga pernah berkata seperti ini pada orang lain.
Dia akan pergi bulan depan, mungkin, akan sangat lama.
Namun, lawan bicaranya adalah nenek, bukan dirinya, dia tidak sengaja mendengarnya saat dia sedang menjaga nenek di sampingnya.
Dia mendadak merasa sedikit panik lalu menarik lengan bajunya, “Apakah ke Ali Han? Bisakah jika tidak pergi?”
__ADS_1