
Hello! Im an artic!
Gu Anran tidak memiliki sebuah persiapan, sebuah tamparan telah membuatnya terbanting ke samping.
Mu Xueer masih ingin menamparnya, dia pun menaikkan tangannya dan hendak menamparnya lagi.
Hello! Im an artic!
Akan tetapi Li Ye mengambil langkah dan berdiri tepat di depannya lalu membawa Gu Anran ke belakang tubuhnya, “Nona Liu…”
“Menyingkir!” Mu Xuer sama sekali tidak mendengarkannya. Ia sudah mengepalkan tangannya dan kali ini dia pun menjatuhkan kepalan tersebut ke wajah Li Ye.
Sebuah suara tamparan yang terdengar sangat jelas. Kini wajah Li Ye dan Gu Anran sama-sama memiliki sebuah bekas telapak tangan yang perlahan memerah.
Li Ye tidak merubah tangannya, dia tetap tidak melepaskannya dan berpegangan terus pada Gu Anran.
Hello! Im an artic!
“Aku minta padamu untuk menyingkir! Mengerti tidak? Menyingkir dari hadapanku!”
Mu Xuer sudah terlihat menggila. Dia melepemparkan beberapa pukulan kepadanya.
Semua pukulan itu dia jatuhkan di wajah Li Ye.
Li Ye hanya menahannya dengan tenang tanpa berkata apapun dan tetap tidak melepaskannya.
Semua orang yang ada di dalam ruang rawat inap ini sudah di bawa keluar oleh para petugas.
Kakek hanya ingin menemani nenek seorang diri, sehingga meskipun seluruh anggota Keluarga Mu bersedih akan tetapi mereka tidak punya pilihan lain selain pergi meninggalkan mereka.
Sejak keluar dari ruang rawat inap pandangan semua orang tertuju ke arah Gu Anran.
“Si ****** in yang mendorong nenek ke danau!” Sahut Mu Xiaoran.
Dia sudah mendorong Li Ye dan tidak melepaskannya namun kini dia kembali melakukan hal yang sama.
Li Ye terlihat sama seperti sebuah manusia kayu yang selalu saja melindungi Gu Anran.
Tanpa menunggu kakek, apapun yang dia katakan tetap tidak akan membuat dia melepaskannya.
Tidak tahu siapa dia namun dia mengambil sebuah kursi yang ada di samping lalu melemparkannya ke arah Li Ye.
Terdengar sebuah suara kursi yang kini telah hancur. Li Ye masih terlihat sama seperti sebuah kayu. Dia masih diam dan tetap melindungi Gu Anran.
Bibir bagian atasnya terkena lemparan kursi dan terlihat jelas darah terus mengalir dari sana akan tetapi dia tetap berdiri dengan tegak di depan dan tidak mundur.
Nyonya sudah meninggal, semua orang kini merasa sangat sedih. Li Ye bisa memahami kegilaan yang sedang mereka alami saat ini.
Karena dia bisa memahaminya maka di saat seperti ini dia tidak bisa pergi. Kalau dia pergi maka bagaimana dengan Nona?
Tubuhnya kuat dan sepertinya menerima sebuah tekanan bukanlah masalah baginya namun tubuh Nona lemah dan ditakutkan kalau dia tidak bisa menahan segala tekanan ini!
“Li Ye, menyingkir kamu! Biarkan orang jahat itu keluar dan menjelaskan semuanya dengan jelas kepada seluruh anggota keluarga!”
__ADS_1
“Li Ye kalau kamu masih tidak menyingkir maka jangan salahkan aku jika aku tidak bertindak segan lagi padamu!”
“Li Ye! Menyingkir!”
Pada akhirnya di tengah keributan ini terlihat ada dua orang berpakaian lengan panjang keluar dari ruang rawat inap.
Kakek sudah bisa menerima segalanya. Dua orang terakhir yang berada di sebelah nenek adalah Mu Zhanbei dan Mu Fengjin.
Dia berjalan ke arah Gu Anran. Setiap langkah yang dia ambil sudah seperti sebuah langkah diantara hidup dan mati.
Berat, melelahkan, dingin, semua hal ini membuat orang sekitar merasa ketakutan.
Dia menatapnya dari belakang tubuh Li Ye, dia terlihat seperti seorang wanita yang sangat ketakutan. Tidak ada kehangatan dari mata yang dingin itu.
Akhirnya dia sudah sampai di hadapan Gu Anran. Tatapan matanya yang dingin itu terus tertuju padanya.
Li Ye menggerakkan tangannya dan menyentuh darah yang ada di wajahnya lalu pada akhirnya dia pun menyingkir.
“A Bei saat kecelakaan itu terjadi pada nenekmu hanya ada wanita ini yang bersama dengannya! Dia adalah pembunuh!”
Mu Shiru tahu. Saat ini dia ingin mengurus Gu Anran atau mungkin haruskah dia meminta Mu Zhanbei untuk mengurusnya.
Kalau Mu Zhanbei tidak bersedia maka tidak akan ada cara untuk mendekatinya!
Semua perhatian orang-orang tertuju pada Mu Zhanbei.
Saat ini Gu Anran berada diantara hidup dan mati. Kini dia hanya bisa bergantung pada ucapan Tuan Mu!
Gu Anran menaikkan kepalanya lalu melihat ke arah Mu Zhanbei yang sama sekali tidak terlihat ramah.
Akhirnya setetes air mata mulai mengalir dari matanya.
Dia sungguh ingin menarik nenek akan tetapi dia tidak bisa menariknya, dia tidak bisa menariknya!
“Sungguh bukan aku!” Gu Anran hendak berlutut, dia sudah tidak bisa menahannya lagi.
Sejak awal hingga saat ini semua orang selalu berkata bahwa nenek sudah mati namun sampai saat ini dia masih tidak bisa menerimanya.
Dia tidak bisa memberikan respon apapun.
Ini sudah seperti sebuah mimpi. Selama satu jam lebih dia masih berbincang dengannya, nenek masih tersenyum padanya namun tak disangka kini dia sudah meninggal.
Apakah dia benar-benar sudah meninggal?
Akan tetapi hingga saat ini dia masih belum melihat nenek.
Apakah dia benar-benar…sudah tiada?
Dia tidak berani untuk mempercayainya dan juga tidak bersedia untuk mempercayainya.
Bagaimana mungkin dia mengatakan bahwa seseorang yang baik seperti itu benar-benar sudah tiada?
Kenapa bisa seperti ini?
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar sebuah suara pintu rawat inap yang terbuka, terlihat perawakkan kakek yang keluar dari sana.
Kakek sudah terlihat tenang ketika berdiri dihadapan semua orang, wajahnya yang tertekan tidak menunjukkan ekspresi apapun.
“Kakek, si ****** inilah yang membunuh nenek!” Mu Xuer bergegas menghampirinya lalu memegang lengan baju kakek.
“Aku sudah mendengarnya dari para penjaga. Saat kejadian itu terjadi hanya dia sendiri yang ada di sana, Cui Er juga bisa menjadikannya sebagai barang bukti!”
Pandangan kakek tertuju pada Gu Anran kemudian lanjut ke arah Cui Er.
Mulut Cui Er terlihat datar, dia juga tidak tahu apakah dia merasa sedih atau terkejut akan tetapi air mata kini mulai menghilang dari wajahnya.
“Kakek pada saat itu…pada saat itu nenek memintaku untuk pulang dan mengambil kue. Baru saja aku hendak pergi kejadian itu langsung terjadi pada nenek.”
Walaupun hari yang dilalui bersama nenek tidak panjang namun nenek adalah sosok orang yang sangat baik hati. Sebanyak atau sekurang apapun Cui Er, dia masih mempunyai perasaan terhadapnya.
Dia pun kembali berkata, “Pada saat itu sebenarnya hanya ada Nyonya…”
“Dia bukanlah seorang Nyonya! Kakak sudah menyebarkan beritanya bahwa dia sudah bercerai darinya!” Ujar Mu Xuer dengan nada tinggi.
Mu Xiaoran juga menangis lalu berkata, “Kenapa kamu membiarkan orang luar untuk menemani nenek sendirian? Sesuatu telah terjadi pada nenek maka kamu juga harus bertanggung jawab!”
Cui Er terkejut bahkan sampai menjatuhkan dirinya sembari terisak-isak dia berkata, “Maaf, Kakek maafkan aku. Aku salah, maaf…”
Seharusnya dia tidak meninggalkan nenek. Tidak peduli bagaimana caranya, yang pasti dia harus selalu berada di sisi nenek dan menjaganya!
Ini adalah salahnya, sungguh kesalahannya! “Hm…”
Kakek melihat ke arah Cui Er yang berlutut di lantai itu dengan suara berat dia berkata, “Pada saat itu apa yang kamu lihat?”
“Aku melihat…” Cui Er berusaha untuk mengingat kembali kejadian waktu itu. Dia tidak tahan dan melirik ke arah Gu Anran.
“Aku melihat kursi roda nenek yang tergelincir ke pinggir danau. Tuan….Nona Ran Ran mengejar kursi rodanya, kelihatanya seperti…seperti ingin menarik itu kembali.”
“Seperti?” suara Mu Xuer kembali terdengar tajam.
“Bagaimana mungkin dia bisa menggunakan kata ini? Ada apa dengan matanya? Apakah dia tidak bisa melihat dengan jelas?”
“Aku…maaf, hm…maaf. Karena jaraknya terlalu jauh maka aku tidak bisa melihatnya dengan jelas…”
“Kalau begitu bukankah kamu tidak bisa melihatnya apakah Gu Anran hendak menarik nenek untuk kembali atau mendorong nenek ke sana?”
Ucapan Mu Xiaoran ini membuat Cui Er membesarkan kedua matanya lalu melihat ke arah Gu Anran yang terlihat terkejut.
“Pada saat itu….Nona Ran Ran memutar tubuhnya, kedua tangannya berada di atas kursi roda…”
Akan tetapi dia sungguh tidak melihatnya dengan jelas apakah Gu Anran hendak menarik atau mendorong kursi roda itu!
Karena nenek juga bersikap baik kepada Gu Anran sehingga Cui Er juga tidak yakin. Gu Anran adalah orang baik.
Akan tetapi mungkinkah dia yang mendorong nenek?
Semua orang melihat ekspresi Cui Er yang tidak berkata apapun. Hal ini tentu membuat semua orang sudah bisa menebaknya.
__ADS_1
Sebenarnya Gu Anran hendak menolong atau membunuh orang. Cui Er sendiri pun tidak yakin mana yang benar.
Shi Ran mengerutkan keningnya lalu dengan suara yang kecil berkata, “Akan tetapi…kalau tidak ada dorongan dari luar maka ini terlihat janggal…bagaimana mungkin kursi roda itu bisa bergerak sendiri ke dalam danau?”